Aku tidak merasa sedih dengan hidupku. Hidupku tidak begitu konvensional. Tidak terlihat seperti yang aku kira.
– Edie Falcao
Oleh: Maureen Paraventi
Saya sadar apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Rekan kerjaku, Rose, yang sedang menjalani bulan madu keduanya, tetapi ia memiliki waktu luang untuk sekedar kumpul-kumpul sepulang dari kerja kami, tidak bisa pindah pembicaraan tentang pernikahannya dan sebaliknya, mulai berbicara tentang non-pernikahan saya. “Aku tidak paham. Kenapa kamu belum pernah menikah?” Tanyanya dengan nada heran.
Aku menghela nafas. "Kamu tahu, ini ketiga kalinya kamu menanyakan itu. Ingat? Kita sudah membahas soal itu di pesta Natal kantor tahun kemarin."
Tampak begitu bingung, dia menyesap minumannya, tidak siap untuk pindah topik obrolan. "Maksudku… kamu itu sangat menarik dan berkepribadian hebat. Bagaimana mungkin belum pernah menikah?"
Itulah yang dia katakan. Apa yang dia maksud adalah: Ada apa denganmu? Apakah kamu orang aneh? Tidak bisakah kamu mendapatkan seorang pria? Apakah kamu pembenci pria? Atau lesbi? (Tentu bukan hendak mengatakan ada yang salah dengan itu—dan hal-hal tadi tentu bukan alasan yang bisa diterima lagi untuk melajang, sekarang pernikahan sesama jenis adalah legal).
Mungkin saja aku membayangkan lebih banyak subteks daripada yang dimaksudkan Rose, dan jujur saja dia bukan orang pertama yang membuatku bingung mencari jawaban tentang status lajangku.
Secara rutin, orang-orang yang kutemui mengungkapkan keheranannya karena saya tidak pernah memiliki ikatan, mengambil risiko, berjalan menyusuri lorong menuju apa yang secara umum dianggap sebagai kehidupan yang membahagiakan selalu. Saya acapkali diminta menjelaskan diri—dalam mempertahankan pilihan hidup—ke orang-orang baru yang saya temui.
Orang-orang ramah yang hampir tidak pernah sungkan sama sekali untuk mengorek kehidupan pribadi kenalan barunya ketika tahu bahwa kenalan barunya adalah seorang perawan tua. (Ya, saya memiliki label itu.)
Saya sudah mengalami hal itu dengan atasan kerjaku, rekan kerja, seorang pria yang belum pernah bersua selama tiga puluh tahun terakhir di suatu acara reuni kelas, dentis, orang asing yang duduk di sebelahku dalam pesawat, ahli manikur, dan berbagai orang asing yang tanpa sengaja bersua di pesta-pesta.
Percakapan yang sopan tiba-tiba bisa berubah canggung jika aku membiarkan diriku menjadi perawan tua. (Baru-baru ini saya memiliki pengalaman berbeda dengan seorang penata rambut yang telah bercerai dan berjuang untuk membesarkan dua anaknya tanpa bantuan keuangan dari mantan suaminya. Ketika dia mengetahui bahwa saya belum pernah menikah, dia berkata, "Bagaimana kamu begitu beruntung?" Akan tetapi reaksi seperti ini adalah pengecualian.)
Orang menginginkan penjelasan. Cerita. Sesuatu yang membuat pilihanmu masuk akal bagi mereka. Lagian, bukankah semua orang sudah pasti tumbuh dewasa dan menikah?
Selama bertahun-tahun, saya mengucapkan beberapa alasan klise dengan maksud untuk membuat orang merasa terpuaskam ingin tahunya, misalnya "Saya belum ketemu pria tepat" atau "Saya sering berpindah-pindah kerja demi karier." Ketika penjelasan semacam itu mungkin telah memuaskan rasa ingin tahu mereka, itu selalu membuatku merasa telihat begitu buruk. Mengapa aku harus meminta pengampunan untuk menjadi siapa aku? Meyakinkan ke orang lain bahwa aku ini normal-normal saja (dalam banyak hal)?
Seiring bertambahnya usia, orang menjadi lebih ingin tahu dan menghakimi. Bagaimanapun, mawar itu mekar. Bahkan jika aku sadar dan berusaha keras untuk menemukan pasangan, saya telah menua dari tahun-tahun sebagai seorang pasangan, dari keranuman daya tarik saya.
Akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu merusak harga diri saya, menyebabkan saya bertanya ke diri sendiri dan pilihan saya.
Apakah saya telah melakukan kesalahan besar dengan tidak memprioritaskan pernikahan? Apakah orang lain lebih tahu sesuatu yang saya tidak tahu? Akankah saya suatu hari nanti sangat menyesal tidak memiliki embel-embel "Nyonya", di depan nama saya?
Melihat satu demi satu teman-teman yang menikah telah memupuk keraguan saya dan bertanya-tanya: “Apakah ada yang salah dengan saya?”
Saya tiba-tiba terbangun di tengah malam, diliputi perasaan takut yang menyakitkan, terpikir: "AKU LUPA MENIKAH!"
Ketika saya masih muda, saya berasumsi bahwa suatu hari nanti saya akan menikah dan memiliki keluarga. Saya sendiri tidak memiliki gambaran jelas seperti apa bentuknya, meski saya berkeyakinan tidak ingin melakukan banyak pekerjaan rumah tangga, seperti yang dilakukan ibu saya dulu. (Saya masih belum siap; saya akan membayar seseorang untuk membersihkan rumah saya). Saya tidak tertarik memasak—tugas hariannya yang lain—dan untuk menjadi ibu, saya lebih suka boneka Barbie ketimbang bayi mungil lucu.
Pernikahan adalah institusi yang luar biasa, bagi banyak orang. Saya memiliki banyak teman yang senang berbagi kehidupan mereka dengan pasangan yang penuh asmara—dan saya ikut bahagia untuk itu—tetapi pernikahan itu tidak cocok untuk semua orang. Mereka yang tidak menikah, karena alasan apapun, tidak boleh mengalami “malu karena beda”.
Bagi diri saya pribadi, ada baiknya melakukan kilas balik ke beberapa dekade ke belakang sebagai seorang lajang, untuk menyadari bahwa saya selama ini begitu ambivalen tentang pernikahan. Saya melihat pernikahan sebagai pilihan yang akan memengaruhi semua pilihan lain, pernikahan itu sebuah relasi kemitraan dengan banyak benefit akan tetapi merupakan hal yang akan mengikat saya dan membatasi gerak—setidaknya sampai batas tertentu—kemampuan saya untuk mengikuti impian saya sendiri.
Yang benar-benar saya inginkan adalah petualangan. Pernikahan tradisional orangtua saya berhasil bagi mereka, tetapi itu tidak menarik bagi saya, seorang anak generasi enampuluhan dan tujuhpuluhan yang melihat peluang-peluang baru terbuka bagi kaum perempuan, menawarkan kesempatan-kesempatan yang telah tertutup bagi ibu saya ketika kesempatan itu datang padanya.
Saya ingin karier yang menarik—lebih-lebih itu sesuatu di luar arus utama—dan saya tahu bahwa pernikahan akan membatasi pilihan saya. Ketika saya masih kecil, saya ingin menjadi agen mata-mata. Itu tidak terjadi, yang tentu itu berguna bagi Amerika, saya tidak bisa menyimpan rahasia. Bisa ditebak, saya harus pergi ke arah yang memungkinkan adanya banyak komunikasi dan menjadi radio personality.
Jika saya sudah menikah, saya tidak akan bisa mengejar karir saya dengan tetap melanglang ke seluruh penjuru negeri, membawa komedi dan komentar untuk pendengar radio di berbagai negara bagian. Saya harus menyiarkan dari belakang gajah di tempat sirkus, di atas balon udara terbang tinggi di langit, dan di dalam mobil melaju di arena pacuan kuda mengikuti bentuk lintasannya. Saya menjadi presenter band, seperti REO Speedwagon dan The Judds, di panggung konser dan tampil sebagai bintang tamu di acara TV lokal.
Di awal karir, ketika saya masih berkutat di pasar kecil ke pasar kecil lainnya, saya mendapat tawaran pekerjaan dari stasiun radio di San Francisco. San Fransisco! Dalam satu langkah, saya bisa mendapat lebih dari dua kali lipat gaji saya, yang tentu pada saat itu membuat saya berada di atas garis kemiskinan.
Yang terpenting bagi saya adalah kesempatan untuk bekerja dengan pelaku-pelaku pasar utama dan menjangkau lebih banyak pendengar ketimbang yang pernah saya dapat di Champaign, Illinois. Selain itu, saya bisa pergi dari Midwest ke kota-kota menarik lainnya di California.
Saya berpikir sebentar, dan kemudian berkata, "Ya!"
Saya tidak perlu bertanya ke suami apakah dia mau pindah. Itupun jika ia mau pindah atau mencari pekerjaan baru di Bay Area. Jika ia bersedia meninggalkan teman dan keluarga, meninggalkan tim softball-nya yang sekedar untuk hiburan, di mana dia sering bermain di base ketiga di setiap musim panas, meninggalkan taman yang dia rawat segenap hati di halaman belakang yang dulunya semak-semak.
Saya dapat membuat keputusan besar hanya berdasar apa yang ingin saya lakukan, dan itu begitu menyenangkan. Terkecuali wawancara kerja di tempat saya tuju, saya bahkan belum pernah ke San Francisco, tetapi saya antusias ketika berkemas-kemas dan berangkat untuk menjemput posisi baru di kota antah berantah itu.
Ironisnya, pekerjaan itu berubah dengan cepat, karena alasan yang tidak ada hubungannya dengan lokasinya. Setelah setahun, saya pergi ke tempat yang lebih hijau asri (Oke, Chicago), semudah saya pergi San Francisco. Dan, omong-omong, itu bukan ujung langkah saya.
Bayangkan, jika saya memiliki suami, meyakinkannya untuk pergi ke Bay Area demi memulai hidup baru di sana, dan dalam waktu setahun berubah dan mengatakan kepadanya bahwa saya telah berubah pikiran. Jika dia menolak untuk pindah lagi—yang akan sepenuhnya dapat diterima dari sudut pandangnya—saya mungkin akan terjebak tak berkesudahan dalam pekerjaan yang saya benci. Saya mungkin akan membawa kegetiran itu ikut pulang ke rumah setiap hari, itu akan memengaruhi pernikahan saya.
Tetap melajang memungkinkan saya untuk mengambil keputusan karier yang perlu saya buat saat itu juga. Memang tidak semua keputusan saya brilian; Saya tidak selalu punya banyak uang, tetapi apa yang saya miliki adalah milik saya sendiri untuk dilakukan sesuai keinginan saya, seperti halnya waktu yang saya miliki. Apapun tindakan yang saya ambil atau pilihan yang saya pilih untuk dikerjakan tak harus berkonsultasi, bernegosiasi dengan atau meminta izin dari siapa pun, dan saya menikmati itu.
Saya pergi ke mana pun saya ingin pergi berlibur, tidur larut malam ketika saya menyukainya dan berkomitmen pada proyek menarik yang menyita waktu saya. Saya berakting dalam drama dan bernyanyi dalam sebuah kelompok band. Saya telah berlari setengah maraton, melakukan perjalanan melintasi Eropa, dan bekerja sebagai asisten pribadi seorang bintang film. Pesta kostum Halloween tahunan saya yang legendaris.
Saya terus belajar hal baru; termasuk usaha saya saat ini adalah berlatih berbicara dalam bahasa Italia, bermain gitar bass, dan menjahit.
Poinnya adalah: menghabiskan waktu luang saya untuk melakukan apa saja yang saya sukai, tanpa harus mengakomodasi keinginan, kebutuhan, atau apa yang telah dijadwalkan orang lain.
Wanita yang sudah menikah, tentu saja, melakukan banyak hal juga, tetapi pencapaian mereka tidak dibayangi oleh “tetapi” yang lebih besar, seperti dalam “Dia mendaki Mt. Everest dan menemukan tata surya baru, tetapi dia tidak pernah menemukan pria yang tepat. Sedihnya." Seorang perawan tua dapat menemukan obat untuk kanker, menemukan cara untuk membalikkan perubahan iklim dalam seminggu, dan menemukan sepatu hak tinggi yang terasa seperti sandal yang nyaman, tetapi di pemakamannya, orang masih akan berbisik, “Dia tidak pernah menikah,” seolah-olah pilihannya itu membatalkan segala sesuatu lainnya.
Yang menarik adalah, bahwa sebagai masyarakat, gagasan kita tentang pernikahan dan keluarga telah mengalami pergeseran besar dalam beberapa dekade terakhir ini.
Pasangan birahial mungkin mengernyitkan alis beberapa masa lalu yang telah lewat. Sekarang, hal yang lumrah dan sering muncul dalam iklan TV. Perkawinan sesama jenis sekarang diakui—atau paling tidak sekarang ditolerir—hingga ke tingkat yang lebih baik. Mungkin Bibi Vivian butuh beberapa saat untuk menerima kenyataan bahwa keponakannya, Carolyn, akan bertukar sumpah dengan seseorang bernama Diane, tetapi Viv tidak akan terbersit akan pernikahan seperti itu.
Tapi bagaimana dengan orang yang tidak menikah sama sekali? Hari ini hal itu radikal.
Mengapa seseorang ingin menjalani hidup tanpa pasangan? Lagi pula, melajang melewati usia tertentu berarti kesepian dan sengsara, bukan? Dalam masyarakat yang tanpa henti mempromosikan berpasangan sebagai cara normal dan satu-satunya yang diinginkan orang-orang dewasa untuk melakoni hidup. Persepsi negatif (khususnya) tentang wanita melajang, tetap ada.
Persepsi negatif itu akhirnya menghampiri saya juga. Saya menjadi yakin bahwa saya adalah wanita terakhir yang belum menikah ketika berusia lebih dari empat puluh tahun (Ok, jumlahnya itu lebih dari lima puluh orang) di planet ini, dan saya telah membuat kesalahan besar dengan mengambil jalan yang jarang dilalui orang lain. Saya tidak dapat mendamaikan kehidupan yang bahagia, sibuk, dan begitu banyak teman yang saya miliki dengan persepsi orang lain. Mereka adalah orang-orang yang tidak begitu mengenal saya dengan baik, sepertinya tidak masalah.[]
***
Maureen Paraventi adalah penulis fiksi, nonfiksi, drama panggung, dan lagu yang bermukim di Detroit. Bukunya, The New Old Maid: Satisfied Single Women, tersedia di Amazon dan Chatter House Press. Ketika tidak menulis, Maureen bernyanyi bareng McLaughlin's Alley, yaitu band pop/rock/Irlandia yang sudah manggung di berbagai tempat di seluruh tenggara Michigan. Sumber naskah asli Tiny Buddha.
Komentar
Posting Komentar