Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...
Kematian bukan hal mudah untuk dibicarakan. Menengok usia kita, siapa yang belum pernah mengalami kehilangan orang-orang terdekat kita cintai telah mati entah itu keluarga, saudara, kawan karib, atau orang-orang meniliki tempat khusus dalam ingatan kita? Dalam Buddhisme, kematian sebagai keniscayaan alamiah sendiri bukan titik tekannya atau letak penderitaan itu. Melainkan ketidakterimaan kita terhadap keniscayaan alami itu, yang mana karena ketidakterimaan mental muncul maka kita merasakan beban emosional tak nyaman, ketidakpuasan atau penderitaan (dukkha). Kematian, bersama penuaan dan kemerosotan fisik karena keberadaan kita di dunia ini, adalah topik sentral dalam filsafat Buddhis. Dalam narasi arus utama pun dikisahkan Gautama meninggalkan zona nyaman serta kemewahan karena privilesenya sebagai seorang putra mahkota juga didorong dari fenomena tadi. Fenomena yang umumnya kita tak sukai. Kita secara mental seringnya tak terima kodrat alamiah itu terjadi ke orang dekat dan kita send...