Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Serba-serbi

Mengapa Ajaran Dharma Sang Buddha itu Sulit?

Menurut pengalamanku, mengapa ajaran Sang Buddha itu sulit? Jawabnya, kebenaran kehidupan itu di seberang hasrat atau nafsu atau keinginan kita. Misalnya, kita pengen wuenak terus, Buddhisme mengatakan kenyataan urip ono ora enaké, malah akeh orané. Bahkan hidup kita diakhiri sakit. Kita ingin mudaaa terus, ajaran ini bilang kamu akan tua, sakit atau penyakitan, dan renta.  Kita ingin sehatttt terus, kalau perlu tidak mati, hidup kekal. Ajaran menyadarkanmu bahwa kamu pasti akan sakit serta penyakitan, dan mati. Dan menurutku, ide kekelan roh bermula dari ketidakmampuan menerima kenyataan bahwa hal-hal temporer, anicca . Ketika kita mengembangkan mental optimis bahwa semua hal tampaknya mudah. Ajaran ini mengatakan padamu ada banyak hasrat keinginan dan nafsu keduniawian yang kamu hasrati tak teraih. Kalaupun teraih, tak sepenuhnya akan membuatmu sepenuhnya senang. Setiap hal yang kamu nafsui pasti ada sisi tidak enaknya. Ketika kamu menginginkan dunia ini menyenangkan dan membaha...

Hakikinya Kita Semua Ingin Mengalami Kebahagiaan

Ajaran Buddha, atau leluhur Jawa kuno biasa menyebut ilmu kebatinan (karena berurusan dengan batin/minds kita sendiri), dalam tradisi sufistik/tasawuf dalam islam diistilahkan ilmu hakikat/makrifat yang ditempuh melalui suluk ( lelaku /laku praktik), itu jika kita mampu menyederhanakannya, menurutku mudah.  Namun menjadi tidak mudah karena kita diajak menghadapi insting primitif kita. Insting primitif ini diistilahkan nafsu dalam islam. Sebangun dengan istilah Sang Buddha yang bisa kita katakan ilusi atta , ilusi alam bawah sadar berupa anggapan keterpisahan diri dan adanya sesuatu yang kekal di dalam susunan kompleks zat-zat alam semesta yang bersenyawa itu. Ilusi atta atau nafsu inilah sebab mengapa kita sulit merealisasi syukur dan ikhlas, istilahku. Butuh keberanian besar menghadapi rasa sakit yang muncul pada otak kita ketika ada seseorang memberi gambaran akan ajaran beliau.  Karena itu pula mengapa saya beberapa kali bertanya ke lawan diskusi ketika mereka bertanya ten...

Beberapa Poin tentang Pendekatan Buddhisme Sekuler

Buddhisme Sekuler, kadang diistilahkan Buddhisme Humanistik, adalah sebuah pendekatan kontemporer yang reinterpretatif, yang berkembang terutama di kultur masyarakat Barat. Dari perspektif ini, para penengok ajaran Buddha Sakyamuni mencari warisan kuno tentang bagaimana secara mental bernavigasi di dunia era kontemporer yang mana walau banyak invensi penunjang hidup dan pemenuhan aspek material relatif lebih mudah, ternyata bagi sebagian orang tetap tidak menghadirkan ketenangan. Pendekatan Intelektual Buddhisme Sekuler jika ditengok dari kecenderungan para pengusungnya memakai kerangka intelektual. Suatu pendekatan yang jika dicermati adalah kombinasi antara mengkaji kritis pernyataan-pernyataan (ajaran) Buddha Sakyamuni terhadap pengalaman-pengalaman hidup personal penengok ajaran itu. Para penengok ajarannya ini, dalam pendekatan sekuler, mencari sesuatu yang berharga. Karenanya, para penengok ajaran ini, dalam level beda-beda, tidak menerima ajaran sebagai dogma, tetapi hipotes...

Tindakan Religius: Ekspresi Budaya, Coping Mechanism, dan Korupsi

Ini buku membuka wawasan lebih jauh mengenai neurosains dan, alih-alih spiritualisme, fenomena tuhan antromorfis. Berjudul 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝘖𝘵𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢. Beliau memakai kata "𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺" pada judul buku. Membincangkan hubungan spiritualitas dengan kesehatan dan kedokteran. Namun rasa-rasanya ada yang belum jernih dikupas beliau mengenai istilah spiritualitas dengan religiusitas. Penjernihan Istilah Religiusitas terekpresikan dalam bentuk tindakan religius. Tidak semua tindakan religius ada hubungannya dengan spiritual dan apalagi spiritualisme, yaitu bertalian pertumbuhan batin seseorang menjadi longgar tiada beban dan berangkat dari itu ia berkembang menjadi baik, entah kepada diri sendiri dan efek lanjutannya atau fudhlah -nya kepada sesamanya dan mahluk lain.  Religiusitas yang terekspresikan dalam tindakan religius sebagian besarnya adalah sekedar ekspresi budaya. Sekedar tradisi. Kebingungan arti persis religius dan spiritual adalah jawaban mengapa, seper...

Menyelami Hakikat Esa

Untuk, setidaknya secara ide, mengerti apa sih maksud kata "esa", bisa merenungkan perumpamaan "kereta kuda" Banthe Nagasena ke Raja Minander I Soter (Milinda) dalam Milinda Panna . Beliau bertanya ke raja yang mengunjunginya itu. Kira-kira dalam bahasa kekinian adalah begini: manakah yang disebut kereta? Apa rodanya? Apakah as antara dua roda, tempat duduk sais, atau malah jari-jari roda? Atau yang mana?  Anda pasti menjawab bahwa kereta kuda terdiri dari bagian-bagian yang menyusunnya, yang mana tiap bagian itu tersusun oleh bagian-bagian lain hingga tiada terinci lagi. Jari-jari roda kereta kuda dari kayu, pasti! Dari mana kayu itu? Dari pohon. Dari mana pohon itu? Dari bibit pohon. Dari mana bibit pohon itu? Dari pohon sebelumnya. Dari mana pohon sebelumnya? Hingga kita bisa melacaknya ke sains bagaimana kehidupan ini muncul.  Tak ada yang datang dari kehampaan. Semuanya di-sini. Anda bukan di alam semesta, anda adalah alam semesta. Anda tiada datang, tiada perg...

Doa, Apa Gunanya?

Beberapa kali orang berkata, dilakoni karo ndungo. Saya jawab bahwa saya tidak berdoa. Orang awam sudah pasti merasa aneh. Saya maklum. Berdoa memang tak ada gunanya. Berdoa hanya menjauhkan kita dari mengenali kotoran batin kita sendiri, apalagi mengikisnya. Karena hanya dengan cara itu penderitaan dan ketidakpuasan kita menyusut dan lenyap.  Selama orang berdoa menghadapi tekanan kehidupan dan umumnya efek susulan berupa munculnya tekanan batin bagi awam itu, selamanya ia tak akan tahu dari mana sumber munculnya ketidakpuasan atau penderitaan. Ia akan hidup dalam kebingungan dan dibuat pontang-panting oleh batinnya yang penuh debu kotoran. Jika sudah tahu, mengapa berdoa? Klasifikasi Doa Kita dapat mengklasifikasikan doa dalam dua ranah. Pertama ranah budaya dan kedua ranah psikologis.  Yang pertama merujuk rumusan kata-kata khusus (mantra) dan bersifat formal serta baku yang harus dibaca pada bagian tertentu ritus ajeg dan berkala. Ini adalah doa dalam klasifikasi budaya. ...

Beberapa Kesalahpahaman tentang Buddhisme

Karena tinggal di lingkungan non-Buddhis, kadang obrolan beralih ke Buddhisme. Mungkin ingin mengenal. Banyak hal ternyata disalahpahami. Ini, dari pribadi saya, memberi ide untuk menulis. Kesalahpahaman imi dapat dimaklumi karena banyak saudara kita penganut agama-kepercayaan Semitik, kepercayaan monoteisme dan menekankan ritual pengelu-eluan serta pemujaan, mengira semua agama secara basis fundamental adalah sama. Sebagian saya beri gambaran sependek saya tahu, sebagian lagi saya biarkan karena saking sulitnya. 1 / Dikira kepercayaan monoteisme Banyak mengira bahwa agama Buddha berpusat pada kepercayaan pada Tuhan Personal atau Tuhan antromorfik, yaitu sebuah sosok yang digambarkan pikiran bisa marah dan bisa tersipu-sipu jika dipuji via ritual. Tuhan digambarkan memiliki tabiat seperti manusia: marah, cemburu, narsistik, ngasih bonus kalau hatinya senang, suka ngamuk-ngamuk kalau tidak dituruti kemauannya, haus pujian, mengalami gangguan psikosis untuk selalu dijadikan pusat perha...

Sekilas tentang Theodor W. Adorno

Theodor W. Adorno adalah salah satu filsuf dan kritikus sosial terkemuka di abad ke-20. Ia begitu tersohor di Jerman pascaperang, menelurkan banyak karya yang meliputi berbagai bidang. Mulai sosiologi, psikologi, dan musikologi. Selain berkecimpung di dunia akademis, ia bahkan menggubah musiknya sendiri. Tema pokok dalam seluruh keryanya adalah mengenai begitu banyaknya penderitaan manusia, khususnya yang disebabkan oleh struktur sosial masyarakat modern yang rusak ( corrupt ). Berikut sekilas mengenai beberapa fakta seputar kehidupannya sang filsuf. Lahir dan Tumbuh di Jerman Adorno menghabiskan tigapuluh tahun pertama hidupnya di Jerman. Lahir pada 1903 dengan nama lengkap Theodor Ludwig Wiesengrund. Ia adalah anak laki-laki semata wayang dari keluarga kaya. Ayahnya Oscar Alexander Wiesengrund adalah pedagang anggur dari keturunan Jewis dan ibunya Calvelli-Adorno della Piana adalah penyanyi klasik berbakat berdarah Korsika. Sebagai remaja yang mulai matang, Adorno belajar fi...

6 Tokoh Berpengaruh Mazhab Frankfurt

Teori Kritis adalah istilah yang cakupannya relatif luas, luasnya cakupan bisa dilacak kembali ke asal-usulnya. Ringkasnya, ini adalah bidang filsafat yang bertalian dengan sosiologi dan studi tentang kemasyarakatan secara umum Asal-usulnya merujuk kepada sekelompok ahli teori filsafat Jerman yang membedakan Teori Kritis dari teori sosiologi umum atau yang lebih tradisional, mengingat tujuan dan terapannya. Dikenal sebagai Mazhab Frankfurt ( Frankfurt School ). Ini adalah sekumpulan para intelektual dan cendekia yang hidup pada periode antara dua perang di Jerman. Setidaknya itu adalah periode bergejolak. Mazhab Frankfurt dan Teori Kritis Sebutan resmi Mazhab Frankfurt ( Frankfurt School) adalah Institut Penelitian Sosial. Di kemudian waktu institut ini menjadi musuh dari fasisme Jerman yang bangkit. Sebagian besar cendekianya terpaksa pergi ke luar Jerman. Sekalipun keadaan tersebut tidak menguntungkan mereka, karya yang dihasilkan oleh para aktor mazhab Frankfurt ini masih memiliki ...

5 Ide Filsuf tentang Kematian

Kepastian dari dilahirkan adalah mati. Kematian adalah keniscayaan tidak dapat disingkiri oleh perjalanan setiap yang disebut hidup. Entah kita mengartikan sebagai kelegaan membebaskan atau ancaman menakutkan tergantung bagaimana kita mempersepsikannya. Pemakaman di Desa Trunyan, Kintamani, Kab. Bangli, di Bali. Ironi eksistensi adalah bahwa kita dilahirkan untuk mengalami proses perubahan: menua, sakit, dan mati. Kita mengerti pada akhirnya hidup ini akan berakhir dan kesadaran eksistensial ini berhenti. Meski kita juga tidak tahu persisnya kapan dan bagaimana proses atau cara kematian kita itu. Pun kita buta tentang apa yang terjadi setelah kita mati. Kematian menjadi subjek penting dalam perenungan lintas generasi manusia. Banyak ide tentang kematian kita dengar, baik yang disampaikan oleh para klerik agama, terdengar dalam balutan mitologi di setiap lingkaran kebudayaan, ataupun para filsuf. Kematian  menjadi subjek penting kefilsafatan. Tulisan ini menyuguhkan beberapa ide par...

5 Falsafah Hidup Jawa Ini Membantumu Menemukan Esensi Hidup

Jawa sebagai sekelompok manusia yang dahulu pernah memiliki peradaban maju dan tinggi di berbagai bidang mulai pertanian dan kemaritiman, seni budaya meliputi seni pahat dan tari, arsitektur dan bangunan, hingga tata pemerintahan, bangsa Jawa seperti halnya lingkaran-lingkaran kelompok kebudayaan lain juga memiliki pandangan kosmologis dalam hal relasi eksistensi diri dengan alam atau jagad. Alih-alih bercorak kontemplasi spekulatif, pandangan falsafah hidup leluhur Jawa adalah realisme kontemplatif. Corak penghayatan falsafah Jawa ini lebih menekankan pada aspek spiritual eksplorasi internal daripada pengikatan diri pada sistem kepercayaan eksternal ( religion ) yang karakternya alih-alih dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan spiritual dan budi, tetapi ketertundukan buta yang sama sekali tak menyadarkan dan tak mendidik. Dari kesadaran relasi tadi, tindak-tanduk orang Jawa dicirikan simbolisme, misalnya sesajen dan upacara-upacara dalam mengekspresikan hubungan eksistensi denga...