Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Buddhisme

Mengapa Ajaran Dharma Sang Buddha itu Sulit?

Menurut pengalamanku, mengapa ajaran Sang Buddha itu sulit? Jawabnya, kebenaran kehidupan itu di seberang hasrat atau nafsu atau keinginan kita. Misalnya, kita pengen wuenak terus, Buddhisme mengatakan kenyataan urip ono ora enakĆ©, malah akeh oranĆ©. Bahkan hidup kita diakhiri sakit. Kita ingin mudaaa terus, ajaran ini bilang kamu akan tua, sakit atau penyakitan, dan renta.  Kita ingin sehatttt terus, kalau perlu tidak mati, hidup kekal. Ajaran menyadarkanmu bahwa kamu pasti akan sakit serta penyakitan, dan mati. Dan menurutku, ide kekelan roh bermula dari ketidakmampuan menerima kenyataan bahwa hal-hal temporer, anicca . Ketika kita mengembangkan mental optimis bahwa semua hal tampaknya mudah. Ajaran ini mengatakan padamu ada banyak hasrat keinginan dan nafsu keduniawian yang kamu hasrati tak teraih. Kalaupun teraih, tak sepenuhnya akan membuatmu sepenuhnya senang. Setiap hal yang kamu nafsui pasti ada sisi tidak enaknya. Ketika kamu menginginkan dunia ini menyenangkan dan membaha...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...

Mencintai dan Berlalunya Kehidupan, Ajakan Berkontemplasi atas Kematian

Kematian bukan hal mudah untuk dibicarakan. Menengok usia kita, siapa yang belum pernah mengalami kehilangan orang-orang terdekat kita cintai telah mati entah itu keluarga, saudara, kawan karib, atau orang-orang meniliki tempat khusus dalam ingatan kita? Dalam Buddhisme, kematian sebagai keniscayaan alamiah sendiri bukan titik tekannya atau letak penderitaan itu. Melainkan ketidakterimaan kita terhadap keniscayaan alami itu, yang mana karena ketidakterimaan mental muncul maka kita merasakan beban emosional tak nyaman, ketidakpuasan atau penderitaan (dukkha). Kematian, bersama penuaan dan kemerosotan fisik karena keberadaan kita di dunia ini, adalah topik sentral dalam filsafat Buddhis. Dalam narasi arus utama pun dikisahkan Gautama meninggalkan zona nyaman serta kemewahan karena privilesenya sebagai seorang putra mahkota juga didorong dari fenomena tadi. Fenomena yang umumnya kita tak sukai. Kita secara mental seringnya tak terima kodrat alamiah itu terjadi ke orang dekat dan kita send...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Narasi Kontemporer 4 Kebenaran Disampaikan Guru Gautama

Beliau mengatakan bahwa kita sebagai mahluk dengan atribut mental seringnya jatuh pada suasana psikis yang tidak nyaman. Misalnya kegelisahan, bosan, sumpek, diselimuti amarah, iri, muak, dengki, mengelukan ini dan antipati itu, kebencian, putus asa, kekecewaan, rasa rindu, rasa kehilangan semisal kehilangan seseorang yang telah mati, dan ketidaknyamanan psikis lainnya.  Beliau tidak menyangkal bahwa rasa bahagia itu dapat kita alami. Namun bahkan ketika psikis kita mengalami rasa itu, munculnya rasa itu secara halus juga dibarengi rasa takut kehilangan rasa atau pengalaman psikis meringankan itu. Bahkan ketika flashback ke belakang, ke sepanjang hidup telah kita alami, saya yakin kita lebih mengalami yang oleh mental kita terasa tidak nyaman. Inilah yang diistilahkan dukkha (penderitaan atau ketidakpuasan). Pokoknya, semua kondisi psikis yang kita rasakan tidak nyaman.  Ketika kondisi psikis kita muncul hal-hal tadi, apakah terasa nyaman? Jawabnya tidak. Saya yakin bukan saya...

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Beberapa Poin tentang Pendekatan Buddhisme Sekuler

Buddhisme Sekuler, kadang diistilahkan Buddhisme Humanistik, adalah sebuah pendekatan kontemporer yang reinterpretatif, yang berkembang terutama di kultur masyarakat Barat. Dari perspektif ini, para penengok ajaran Buddha Sakyamuni mencari warisan kuno tentang bagaimana secara mental bernavigasi di dunia era kontemporer yang mana walau banyak invensi penunjang hidup dan pemenuhan aspek material relatif lebih mudah, ternyata bagi sebagian orang tetap tidak menghadirkan ketenangan. Pendekatan Intelektual Buddhisme Sekuler jika ditengok dari kecenderungan para pengusungnya memakai kerangka intelektual. Suatu pendekatan yang jika dicermati adalah kombinasi antara mengkaji kritis pernyataan-pernyataan (ajaran) Buddha Sakyamuni terhadap pengalaman-pengalaman hidup personal penengok ajaran itu. Para penengok ajarannya ini, dalam pendekatan sekuler, mencari sesuatu yang berharga. Karenanya, para penengok ajaran ini, dalam level beda-beda, tidak menerima ajaran sebagai dogma, tetapi hipotes...

Apakah Pikiran Bisa Diam Hening?

Apakah pikiran bisa diam hening,  tanpa ada aktivitas apapun? Saya renungkan tidak bisa. Kita tak bisa mengartikan ungkapan itu secara harfiah. Pikiran, sebuah produk dari kerja otak kita selain memberi reaksi emosional (merasakan) pengalaman-pengalaman dijumpai, pasti ada aktivitas sepanjang hidup seseorang. Bahkan saat tidur, otak Anda tetap beraktivitas. Sepertinya halnya jantung yang tidak pernah berhenti berdenyut selama hidup. Secara general kerja otak meliputi berpikir, berimajinasi, mememori, mengabstraksi dan menciptakan konsep, menganalisis, menduga dan meyakini, bereaksi secara emosional terhadap stimulus seperti suka dan benci, dan bahkan yang memerintah jaringan otot anggota badan kita bergerak tertentu adalah kerja otak. Bahkan berkedip. Bahkan ketika otak Anda dalam mode sleep. *** Apakah pikiran atau persisnya otak bisa diam atau hening, tiada apapun aktivitas berpikir? Kita harus ingat bahwa mungkin saja kita memiliki pemaknaan berbeda ketika mendengar kata "berpi...

Bedah Biografi Naratif Sang Buddha karya Sherab Kƶdzin Kohn

Secara rangka bangun berisi seperti umumnya kita baca, mengisahkan kelahiran, pencarian spritual untuk terbebas dari fenomena kelahiran dan hal yang sudah pasti mengikutinya, peristiwa tersibak tirai batin (Kebuddhaan), hingga menyajikan secara naratif tantangan Sang Tathagata mengajarkan tentang Dhamma. Juga berisi, seperti umumnya problematika keorganisasian, dinamika membangun sangha. Ketika beliau dihadapkan bibit perpecahan disebabkan satu siswa monastiknya, yang kemudian berbalik hendak mengkudetanya dari pimpinan sangha. Dialah Devadatta. Sebuah biografi epik, dipadukan dengan gaya dialog diantaranya. Walau begitu ada bagian-bagian yang tertulis dalam buku, hemat saya pribadi, cukup sekedar dibaca saja. Dibaca sambil lalu saja. Koreksi Filsosofis dan Sosial Dalam pembacaan buku ini, saya menggarismerahi bagian dalam uraian buku yang tampaknya menjadi antitesis dari pandangan reinkarnasi dan (walau tidak tidak dinyatakan terbuka oleh penulis) atman-anatman. Sebuah koreksi filosof...

š™€š™”š™žš™£š™œ š™”š™–š™£ š™’š™–š™Øš™„š™–š™™š™š™–, š—”š—½š—® š™Øš™žš™ š— š—®š—øš˜€š˜‚š—±š—»š˜†š—®?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam š˜“š˜¢š˜ÆĆ©š˜±š˜¢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk š˜„š˜Ŗš˜“š˜Ŗš˜Æš˜¢š˜°š˜Æš˜Ŗ dan š˜„š˜Ŗš˜±š˜¦š˜µš˜¢š˜Æš˜Ŗ. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". š˜Œš˜­š˜Ŗš˜Æš˜Ø š˜­š˜¢š˜Æ š˜øš˜¢š˜“š˜±š˜¢š˜„š˜©š˜¢ (baca: š˜øš˜¢š˜“š˜±š˜°š˜„š˜©š˜°) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur š˜¬š˜¦š˜®š˜£š˜¢š˜Æš˜Ø š˜­š˜¢š˜®š˜£Ć©) apapun sedang dijumpai. š™’š™–š™Øš™„š™–š™™š™š™– "Waspadha" (baca: waspodho) atau š˜Æš˜ŗš˜¦š˜±š˜¢š˜„š˜¢'š˜ÆĆ© adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak aš˜øš˜¢š˜³š˜¦ denga...

Apa Maksud Batin Hening, murni, Tak Terkondisi, dan Suci?

Ini adalah gambar bagus untuk penjelasan "batin suci". Candi secara kultural diasosiasikan oleh umumnya pikiran kita sebagai tempat yang  dihormati (saya menghindari istilah "suci, keramat  atau sakral" karena asosiasi makna kata itu bagi umumnya orang) secara budaya, sekalipun dalam konteks melihat apa adanya bahwa batu di sini ataupun di sana semisal di Arab sana, mau dipahat begini dan begitu atau disusun sedemikian rupa, adalah batu apa adanya batu.  Ketika umumnya persepsi pikiran kita terhadap tempat yang dihormati dalam konteks budaya, ketika menurut anggapan norma sosial ada perbuatan tak pantas, umumnya kita akan bereaksi. Ini gambar dari batin yang terkondisi oleh peristiwa dijumpai, yang menjadi stimulus untuk munculnya kondisi tertentu batin kita, seperti marah atau peluapan kekecewaan ke pelaku, misalnya. Ketika apa pun anda jumpai di kehidupan ini tidak lagi mengondisikan batinmu menjadi sedih dan bahagia, ataupun mengondisikan munculnya sensasi/rasa s...

Intisari Buku Mengenai Kelahiran Karya Ajahn Buddhadāsa

Sekalipun bukan perihal tujuan paling subtansial dari ajaran Buddhisme, menurut saya, kelahiran kembali adalah topik debateable dalam khasanah intelektual Buddhisme. Sebagai khasanah intelektual, karenanya kelahiran kembali atau kadang dipergunakan istilah "tumimbal lahir" lebih kentara penjelasannya sebagai proposisi filsafat, sekalipun Ajahn Buddhadāsa menerangkan dalam bahasa keseharian awam. Ajahn Buddhadāsa dalam seri nomor empat dari satu set buku Seri-seri Dasar Buddhis yang Kerap Disalahpahami ini menerangkan bahwa yang dimaksud kelahiran adalah "kelahiran mental", atau dalam istilah saya adalah keterusmenerusan bereksistensi (mengada), suatu kemampuan kognitif merasa bahwa ini aku dan selainnya bukan aku . Intisari Buku Dari pembacaan buku, berikut kiranya dapat disarikan dari pembacaan buku ini dalam sajian poin-poin paragraf. Pertama . Dari sudut historis dan kultural, Ajahn Buddhadāsa di awal buku menerangkan bagaimana pandangan spekulatif filosofis d...

Hidup dalam Kesaatkinian dan Manfaatnya oleh Ajahn Buddhadāsa

Ini adalah seri nomor tiga dari satu set Seri Dasar-dasar Buddhis yang Kerap Disalahpahami oleh Ajahn Buddhadāsa (1906–1993). Diterbitkan oleh Penerbit Dian Dharma pada 2024. Berdimensi 12,5 cm x 18,5 cm dan berketebalam 44 halaman. Buku ini membahas tentang pentingnya hidup dalam kesaatkinian, karena dalam ajaran Buddhisme hanya, yang oleh bahasa diistilahkan,  saat kini  yang benar-benar nyata, yang demikian adanya. Sebagai kebenaran non-konvensi. Kehidupan manusia dan semua mahluk bertalian erat dengan pencarian kebahagiaan. Hidup sendiri adalah nyata adanya pada kesaatkinian terus menerus. Anda bernafas pada saat kini terus menerus, bukan tadi ataupun nanti. Maka kebahagiaan bukan ditemukan pada—apa yang dikonsepsikan pikiran sebagai—masa lalu ataupun masa depan, dalam bentuk mengembangkan harap damba kuat. Mengapa Saat-Kini ? Manusia awam mengabaikan absurditas kehidupan dengan mengembangkan hasrat harapan. Munculnya hasrat harapan erat kaitannya dengan hidup kita yang r...

Beberapa Kesalahpahaman tentang Buddhisme

Karena tinggal di lingkungan non-Buddhis, kadang obrolan beralih ke Buddhisme. Mungkin ingin mengenal. Banyak hal ternyata disalahpahami. Ini, dari pribadi saya, memberi ide untuk menulis. Kesalahpahaman imi dapat dimaklumi karena banyak saudara kita penganut agama-kepercayaan Semitik, kepercayaan monoteisme dan menekankan ritual pengelu-eluan serta pemujaan, mengira semua agama secara basis fundamental adalah sama. Sebagian saya beri gambaran sependek saya tahu, sebagian lagi saya biarkan karena saking sulitnya. 1 / Dikira kepercayaan monoteisme Banyak mengira bahwa agama Buddha berpusat pada kepercayaan pada Tuhan Personal atau Tuhan antromorfik, yaitu sebuah sosok yang digambarkan pikiran bisa marah dan bisa tersipu-sipu jika dipuji via ritual. Tuhan digambarkan memiliki tabiat seperti manusia: marah, cemburu, narsistik, ngasih bonus kalau hatinya senang, suka ngamuk-ngamuk kalau tidak dituruti kemauannya, haus pujian, mengalami gangguan psikosis untuk selalu dijadikan pusat perha...

Intisari Buku Batin Sunya oleh Ajahn Buddadāsa

Buku berjudul Batin Sunya ini adalah seri nomor dua dari empat seri dalam paket buku Seri Dasar-dasar Buddhis yang Kerap Disalahpahami , diterbitkan oleh Penerbit Dian Dharna pada 2024. Adapun seri pertama, tentang Iddapaccayatā , menurut penangkapan pemahaman saya membahas semacam perenungan kosmologi Buddhis. Harus dicatat, tujuan puncak Buddhisme mengenai kosmologi bukan kemudian disusul bagaimana ini semua bisa ada? Atau siapa yang membuat? Tidak. Melainkan menyadari apa yang selama ini dianggap si-aku di antara semua keberadaan. Bukan berkutat dan berhenti pada perenungan spekulatif. Lebih dari itu, melampauinya.  Inti Sari Buku tipis berdimensi 12,5 x 18,5 cm dan ketebalan xiii + 87 halaman ini adalah transkrip ceramah Dhamma Ajahn Buddhadasa (1906-1993), seorang biksu dan guru Theravadin berpengaruh asal Thailand. Berikut inti sari buku dalam poin-poin. Sunya (Pali) atau suƱƱata (baca: sunyata) dalam Sansekerta secara terminologi, sebagaimana dalam buku ini, arti...

Resensi "Buddha & Dhamma-nya" Karya Bikkhu Boddhi

Buddhisme adalah sangat luas. Meliputi tradisi pengajaran, khasanah intelektual, hingga klenik (mistisisme), dan pengaruh-pengaruhnya terhadap aspek kultural di ruang budaya berbeda. Di antara ragam rupa yang mewarnai Buddhisme yang sedemikian ini, semua memiliki kesamaan pokok dan fundamental, yaitu Empat Kebenaran Mulia Beruas Delapan. Dan inilah ajaran paling fundamental dari ajaran Guru Siddharta Gautama. Sekilas tentang Bikkhu Boddhi Lahir di Broklyn, NY, pada 10 November 1944 dari orang tua Yahudi-Amerika. Dengan nama lahir Jeffrey Blocks, Banthe Boddhi adalah guru Theravadin. Ditahbiskan di Sri Lanka pada 1967 semasa masih manempuh pasca-sarjana. Mengutip dari Wikipedia, ia memperoleh gelar B.A. dalam bidang filsafat dari Brooklyn College pada 1966 dan meraih gelar PhD di bidang yang sama pada 1972 dari Claremont Graduate University. Ia adalah tokoh Buddhis yang memberi pidato utama pada perayaan resmi Waisak pertama PBB pada 2000. Ia juga pendiri organisasi Buddhist Global Reli...

Dogen Zenji

Dogen Zenji (1200-1253) adalah Master Zen dari Jepang, filsuf, seorang penulis puisi, dan pendiri tradisi Soto Zen di Jepang. Ia secara luas dianggap sebagai salah satu guru Zen terhebat dalam sejarah dan dihormati karena ajarannya yang mendalam tentang kesejatian realitas ( kasunyatan ) dan praktik meditasi. Biografi ini akan mengeksplorasi kehidupan dan ajaran Dogen, termasuk masa-masa awal kehidupannya, ketergugahan spiritual, perjalanan ke Tiongkok, karya-karya, dan ajarannya.  Masa-masa Usia Awal Dogen Dogen Zenji. Dilahirkan di tengah keluarga bangsawan tinggal Kyoto membuat Dogen kecil mendapat kualitas pengasuhan terbaik yang membentuk dirinya di kemudian waktu. Ayahnya adalah seorang pejabat teras pemerintah. Dogen dibesarkan dari lingkungan keluarga beruntung dengan akses terhadap pendidikan berkualitas dan peluang budaya. Di usia muda, Dogen dikirim belajar ke suatu kuil di daerahnya, tempat pertama kali ia mengenal Zen Buddhisme. Ia meminati apa yang diajarkan dan mulai...