Ketika ke Jawa kemarin bersua dan bercengkerama dengan banyak kawan. Sayang, tak bisa semuanya saya kunjungi. Maaf. Bukan kalian semua tidak penting bagi saya, tetapi waktu dan sangu terbatas. Kwkw.
Salah seorang kawan bertanya, seperti banyak ditanyakan ke saya langsung, Apakah saya sekarang Buddha? Enteng saya bilang, "Apa yang kamu lihat?"
Sepertinya, rabaanku, ia tak akan mengerti ucapanku karena pikiran masih berkubang konsepsi. Memang tidak mudah keluar dari labirin p(em)ikiran. Dengan kata lain, ia masih berkubang anggapan pikiran bahwa konsepsi sebagai nyata sebagaimana adanya. Meminjam istilah Sartrre, meski lebih subtil dari itu ucapanku, kerja pikirannya masih gagal membedakan antara etré en suoi dengan etré pour suoi. Gagal membedakan das sein dan das solen, istilah Heidegger. Gagal membedakan antara nyata sebagai dirinya sendiri dan nyata hanya sebagai tangkapan konsepsional pikiran. Gagal membedakan antara yang di pernukaan cermin dengan yang dipantulkan. Yang terpantul di permukaan cermin tentu bukan yang dipantulkan itu sendiri, bukan? Lalu, semua yang di pikiran kita itu apa?𝗞𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗽𝗶𝗸𝗶𝗿 𝗳𝗶𝗹𝘀𝗮𝗳𝗮𝘁 𝗕𝗮𝗿𝗮𝘁
Pemahaman berikut ini menolong saya untuk sampai fase sekarang. Semoga ini membantu Anda juga menyadari hakikat asali pikiran.
Dalam filsafat Barat kebenaran dikelompokkam tiga: empiris, subjektif, dan intersubjektif. Perihal pertama itu kebenaran yang benar-benar ada objeknya dan bisa dìbuktikan siapa saja yang inderanya normal. Misalmya kursi, batu, air, dan pohon. Benar-benar ada objek konkritnya. Namun yang patut diingat, ini bukan realitas ultim (the truth) atau kenyataan mendalam akan yang hakiki. Melainkan realitas parsial atau oukosia dalam istilah Aristoteles. Salah satu alasan kawanku tak akan sanggup menangkap maksud adalah, ia masih terjebak cara pikir subjek-objek, atau dengan kata lain masih mengandaikan keterpisahan hal-hal dan anggapan si subjek terpisah dengan objek dan lainnya. Juga yang di pikirannya adalah yang dipersepsikan itu sendiri. Pun, keterpisahan hanya eksis dalam pikiran, tidak pada kenyataan itu sendiri.
Cara kerja pengonsepan adalah pembingkaian indera kemudian ditransmisikan ke pikiran, mengandaikan adanya keterpisahan, dan penafian ketiadateroisahan sebagai dirinya sendiri, bahkan menafikan si aku sendiri (fokus satu titik). Ini harus dipahami seksama (dan kamu butuh studi mendalam untuk ini) karena poinnya adalah sarana memahami realitas ultim. Atau istilah Biksu Tom Sam Cong "isi adalah kosong; kosong adalah isi". Kita tak bisa mengatakan yin tanpa ada yang. KIta memahami 'kanan' karena pikiran-pinggir kita membuat pembanding 'kiri'—yang sejatinya tiada kanan dan kiri di kenyataan itu sendiri, melainkan hanya konsepsi pikiran kita dengan mengandaikan keterpisahan yang selama ini tidak kita sadari. Delusi akan diri yang eksis mandiri serta terpisah dari lainnya muncul bermula dari ketidaksadaran ini.
Perihal kedua adalah sakit gigi, encok linu, rasa menderita karena rasa cinta, sakit migrain, rasa keputusasaan, gelisah, tertekan dan sedih karena keluargamu sakit parah misalnya, ketidakpuasan, rasa menderita, dll. Ini adalah kebenaran subjektif. Atau, dalam istilah Ajahn Brahm, realitas eksklusif. Hanya kamu sendiri yang tahu itu benar ada atau tidak yang Anda merasakan.
Perihal ketiga adalah sesuatu seolah dianggap ada hanya karena kita bersama sepakat/setuju menganggap bahwa itu ada. Namun kesepakatan dan pengandaian tadi bukan berarti bisa menjadikan yang kita sepakati benar-benar nyata ada aktualnya. Sekedar pengandaian akan keberadaannya. Misalnya, batas desa, uang, buddha, subjek hukum berupa rechtpersoon semisal PT, dbl. Ada hanya dalam pikiran-pikiran, bukan ada nyata. Biasanya ini diciptakan untuk keperluan praktis mengatur kehidupan praktis, seperti subjek hukum tadi. Ini dikenal dalam teori fiksi. Atau vontoh laim, istilah "buddha" yang diciptakan untuk keperluan mengungkapkan sesuatu sebagai simbol berkomunikasi, yang tiada ada sebagai dirinya sendiri.
𝗞𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗲𝘀𝗲𝗷𝗮𝘁𝗶𝗮𝗻
Kebenaran itu persepsi. Persepsi itu kerja pikiran membingkai objek melalui cara melakukan abstraksi dan konsepsi, kemudian memberikan sebutan/penamaan. Cara kerja ini adalah mengandaikan keterpisahan realitas (yang sejatinya tiada terpisah). Tak ada kesejatian dalam kerja pikiran, tulisan, dan kata-kata. Sekalipun Anda melihat benda yang oleh bahasa kita disebut batu, itu yang berkelebat di kepala Anda bukan yang dipersepsikan itu sendiri, hanya kesan-kesan yang ditangkap sinaps-sinaps otak kita. Cekak kata, kesejatian atau kehakikian bukan pikiranmu, bukan kata-katamu, melainkan pikiran/mental dan fisikmu seutuhnya mengalami langsung. Mengalami makan mie ayam tidak sama dengan penceritaan pengalaman makan mie ayam.Untuk menyelam ke dalam kesejatian, anda harus mengalami sendiri. Selama belum keluar dari p(em)ikiran, masih berlari-lari tak berkeseudahan dalam pikiran, Anda tak akan menyadari kesejatian atau kehakikian. Padamnya subjek-objek.
Kaitan 𝗸𝗹𝗮𝘀𝗶𝗳𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗸𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻 𝗸𝗮𝘄𝗮𝗻?
Manusia suka defnisi. Dalam kesadaran sunya tiada bahasa. Kesejatian tak terbahasakan karena, di samping bukan kenyataan itu sendiri, bahasa (sebagai alat komunikasi) bekerja justru dengan cara dualistik, padahal yang dimaksud bukan dualistik. Gampangnya, setiap kata memiliki lawan kata. Akhirnya, sering pikiran umumnya terjebak pada keterpisahan. Padahal dalam kesadaran mendalam ini, sebut saja untuk keperluan tulisan ini, kelebatan "buddha" juga lenyap atau terlampaui. Anda tak menemui apa-apa selain kesadaran asali itu sendiri. Kesadaran ini melampaui keakuan yang biasanya kita kira si aku ini dari ujung rambut sampai ujung kaki dan ada sejak lahir serta hilang ketika mati. Atau, semoga bisa menolong sebagai jembatan awal ngudari puzzle pikiran: "buddha" itu hanya sekedar kebenaran intersubjektif dalam filsafat Barat tadi.
Memang, menurut pengalaman pribadi, menemukan kesadaran ini dalam diri kita seperti menggenggam kehampaan atau menggenggam tiada apa-apa. Namun bisa kita rasakan itu, sesuatu yang dicari-cari paling hakiki dalam hidup. Sementara berfilsafat sendiri seperti memanjat menara gading berlumur oli. Butuh waktu panjang menembusi kesadaran tiada-aku. Jika tertembusi, batin Anda relatif tak berombak lagi. Psikis Anda yang seringya terayun dari suka ke duka dan sebaliknya ngenol. Padam. Batin Anda telah pulang ke asalinya.
Mengapa terus menerus hidup dalam ilusi pikiran dan tercerabut dari kenyataan ini yang segera berlalu berganti? Mengapa tidak hadir segebap pikiran dan mental dan jasmani Anda pada tempat yang Anda di sini sekarang kini?

