Beberapa hari asyuiiik membaca buku ini di sela-sela berkebun, masak dan makan, ngopi, main game, meditasi ngasal, dan tidur. Buku bagus! Ini adalah sinopsis bab Pendahuluan dari Buku Pedoman Studi Abhidhamma Volume I oleh YM Sayādaw U Sīlānanda. Buku ini, bersama beberapa seri lainnya, adalah pemberian seorang kawan ketika berkunjung ke Jawa kemarin.
Abhidhamma adalah satu dari tiga bagian apa yang yang disebut Tipitaka (Pali) atau Tripitaka (Sanskrit). Banyak buku pengantar ditulis demi memudahkan pemula sebelum masuk menelaah langsung literatur Abidhamma yang terdiri dari 7 buku: Dhammasańganī, Vibhańga, Dhãtukathã, Puggalapaññati, Kathávatthu, Yamaka, dan Pațțãna. Sependek membaca bab awal ini, Abhidhamma sangat kental corak analitik.Di bagian awal bab yang kurang dari seratus halaman, beliau menjelaskan beberapa isu, misalnya seberapa penting Abhidhamma dibanding dua literatur lain Buddhis, yaitu Sutta Pitaka dan Vinaya Pitaka. Apakah Abhidhamma adalah filsafat atau psikologi, yang oleh beliau dikembalikan ke masing-masing pembaca untuk menelaahnya dan menilai sendiri. Juga, beliau memberikan gambaran pentingnya atau tidak memahami Abhidhamma dibanding beberapa pihak yang menekankan meditasi. Keduanya sama-sama penting, menurut saya. Menelaah ajaran Sang Buddha dalam literatur yang menjadi pedoman siswa Sang Buddha, yang terdokumentasi dalam Tiptaka, layaknya ranah ontologi. Sementara meditasi adalah ranah aksiologi. Jika saya cerna, meski sejauh baru membaca bab awal, Abhidhamma ada kaitannya dengan 3 Ciri Keberadaan. Mungkin.
Di bab pendahuluan ini kita pemula diberi modal pemahaman awal tentang kebenaran. Ada 2 kebenaran, yaitu kebenaran konvensional dan kebenaran hakiki. Kebenaran konvensional berbicara pada tataran realitas parsial, "ini kaki", "ini tangan", "ini hidung", "ini saya dan itu kamu". Dalam Pali diistilahkan sammuti-sacca dan kadang disebut paññati (konsep). Kita menganggap semua yang dirujuk istilah ini mandiri atau independen dari keberadaan lainnya. Kebenaran hakiki membahas realitas ultim (paramattha-sacca). Abhidhamma berbicara perihal yang disebut kedua.
Realitas ultim terdiri 4 hal. Pertama adalah Citta yang bisa diartikan kesadaran murni dari stimulus atau tiada terstimulus. Saya kadang memakai istilah "kesadaran asali". Kesadaran ini muncul bersamaan adanya stinulus, yaitu kebenaran hakiki kedua berikut. Kedua adalah Cetasika yang bisa diartikan suasana mental karena adanya faktor-faktor penstimulus. Cetasika muncul dan bergantung pada Citta. Analogi saya, Citta layaknya ruangan yang asalinya tiada apa-apa, kosong, hening. Cetasika adalah pajangan-pajangan dalam ruangan—pajangan yang muncul ketika ada stimulus. Ketiga adalah Rūpa yang bisa diterjemahkan materi yang dalam dirinya selalu berubah, impermanen, dan tidak statis (anicca). Rūpa meliputi mahluk hidup dan lainnya. Keempat, adalah Nirvana (Sanskrit) / Nibbana (Pali). Ini adalah summum bonum yang hendak direalisasi oleh para siswa Sang Buddha. Nibbana bisa diartikan, sebagai pegangan awal kita, kepadaman dari hasrat keinginan (ambisi menggebu/nafsu), pikiran dan niat jahat, dan terbebas delusi.
Abhidhamma mengajarkan ke kita bahwa apa pun yang berkaitan keserakahan, kebencian, dan delusi adalah hal jahat, adalah hal yang tidak baik. Apa pun yang berkaitan dengan lawan dari ketiga keadaan yang tidak baik ini, yaitu tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian (itu berarti cinta kasih) dan tanpa-delusi ... adalah hal yang baik (h. 38).
Keempat realitas hakiki ini akan dijabarkan lebih mendalam dan spesifik di bab-bab berikutnya. Udah gitu aja dulu, ya. Ahehehe.
