Banyak orang salah sangka terhadap banyak aspek dalam Buddhisme dengan cara menyederhanakan begitu saja aspek-aspeknya. Banyak yang berpikiran bahwa pempraktik ajaran Sang Buddha ingin tercerahkan, sehingga mereka bisa bahagia atau dalam keberkahan sepanjang waktu dalam kehidupannya. Jika sesuatu yang tak anda ingini terjadi pada anda sekarang, itu karena sesuatu yang anda lakukan sebelumnya. Banyak orang mengira bahwa menjadi Buddhis harus menjadi vegan, Sang Buddha mengajarkan untuk mengembangkan rasa welas asih (metta) bukan hanya kepada manusia saja melainkan ke seluruh mahluk—karenanya sudah barang tentu anda tak akan menemukan istilah "ini kelompok saya" dan "itu bukan kelompok saya" dalam ajaran ini.
Berikut beberapa poin yang disadur dan diadaptasi dari tulisan Barbara O'Brian demi menyesuaikan dengan apa yang kiranya secara umum menjadi kesalahpahaman di Indonesia.
Buddhisme Mengajarkan Tidak Ada Eksistensi Mandiri
Banyak yang bertanya-tanya, mengkritik, dan menentang ajaran Sang Buddha tentang tiada-diri. Mereka melempar pertanyaan, jika memang diri itu tidak eksis, lantas siapakah yang membayangkan sesuatu itu? Bagaimanapun ajaran Sang Buddha tidak mengajarkan bahwa diri itu tidak eksis. Ajarannya men-challange pemahaman kita tentang bagaimana diri dan segala eksistensi itu ada. Ajaran ini mengajarkan bahwa secara intrinsik eksistensi dan fenomena tiada subtansi. Buddhisme tidak mengajarkan bahwa sama sekali bahwa diri adalah tidak eksis. Sebagian besar munculnya kesalahpahaman ini terjadi manakala melakukan pembacaan apa itu anatta dan perkembangannya dalam Mahayana Buddhis, yaitu Sunyata (dalam ungkapan Jawa kuno disebut Kasunyatan).
Bagaimanapun Buddhisme tidak mengatakan bahwa diri itu tidak eksis. Buddhisme bukan mengajarkan doktrin non-eksistensi. Sebaliknya, mengajarkan bahwa kita memahami realitas dengan pandangan terbatas, juga sepihak atau dalam arti kita memandang realitas bukan apa adanya, melainkan bercampur dengan persepsi kita.
Buddhis kudu Mengimani Reinkarnasi
![]() |
| Seni dalam Tibetan yang diilhami Buddhisme (ilustrasi). |
Namun, ada doktrin Buddhis tentang kelahiran kembali. Menurut doktrin ini, energi atau pengondisian yang diciptakan oleh satu kehidupanlah yang akan terlahir kembali ke kehidupan lain, tapi itu bukan jiwa. "Orang yang meninggal di sini dan terlahir kembali di tempat lain bukanlah orang yang sama, atau orang lain," tutur Walpola Rahula, cendekiawan Theravadis. Namun begitu, kita tidak dituntut harus "beriman" pada kelahiran kembali untuk mempraktikkan jalan laku Buddhis. Banyak Buddhis yang memilih posisi agnostik dalam hal kelahiran kembali. (Saya pribadi memahami sebagai transformasi materi tertentu ke bentuk materi lain. Namun secara subtansial, transformasi itu adalah sama sebagai siklus transformatif.)
Buddhis Wajib Menjadi Vegan
Beberapa aliran Buddhisme secara tegas bertarak keras memakan segala makanan dari segala yang bernyawa, untuk menjadi vegan. Namun di sebagian besar aliran Buddhisme, vegetarianisme adalah pilihan dan diserahkan ke masing-masing pribadi, bukan perintah wajib. Dalam naskah-naskah awal (baca: buku suci) Buddhis, memberi informasi bahwa Sang Buddha sendiri bukan seorang vegan. Khusus bagi para bikkhu, jika mereka diberi daging, ia harus memakannya terkecuali ia tahu bahwa mahluk itu dibunuh khusus untuk menjamunya.
Karma itu ya Takdir
Istilah "karma" berarti "tindakan" dan bukan "takdir". Dalam Buddhisme, karma adalah semacam energi yang diciptakan oleh tindakan yang disengaja, melalui pikiran, perkataan, dan aksi perbuatan. Kita semua menciptakan karma setiap menit, dan karma yang kita timbulkan memengaruhi kita setiap menit. Karma adalah tindakan, bukan hasil. Jalan hidup anda tidak ditulis di perkamen langit. Anda dapat mengubah jalan hidup anda saat ini dengan mengokohkan kemauan dan tindakan, yang selama ini menjadi penghalang diri anda.
Karma Menghukum Siapa Saja yang Pantas Menerimanya
Karma bukan sistem keadilan dan pembalasan kosmis. Tidak ada hakim gaib yang bertugas mengirim karma untuk menghukum para pelaku kesalahan. Karma sama impersonalnya dengan gravitasi. Apa yang dilempar ke atas pastilah turun; apa yang kita lakukan adalah apa yang terjadi pada kita. Karma bukanlah satu-satunya kekuatan yang menyebabkan sesuatu terjadi di dunia. Jika banjir besar menyapu bersih sebuah masyarakat, jangan kira itu adalah karma yang entah bagaimana anda percayai sebagai penyebab banjir atau bahwa orang-orang di kelompok masyarakat tersebut pantas dihukum karena sesuatu. Peristiwa malang bisa terjadi pada siapa saja, bahkan kepada yang telah berbuat benar dan bajik sekalipun.
Pencerahan itu Bahagia Sepanjang Hidup
Orang-orang berkhayal bahwa "tercerahkan" seperti mengaktifkan atau memencet tombol bahagia dan seketika seseorang itu berubah dari bodoh dan menderita menjadi bahagia dan penuh damai, yaitu angapan bahwa dunia orang yang tercerahkan itu menjadi satu warna yang tiada lain selain kebahagiaan. Bahkan guru yang paling tercerahkan pun tidak melayang-layang di awang-awang kebahagiaan. Mereka masih hidup di dunia menjejak Bumi, naik bus, masuk angin, dan terkadang kehabisan bubuk kopi.
Istilah Sanskrit yang sering diterjemahkan sebagai "pencerahan" lebih tepat dipadankan "kebangkitan" atau "ketergugahan". Kebanyakannya mengalami tahap demi tahap, seringnya tanpa disadari dan tidak diprogram secara sistematis, bisa pula dalam jangka waktu yang panjang. Atau munculnya ketergugahan batin melalui serangkaian pengalaman "pengenalan" tiada sengaja. Namun begitu, hal tadi bukan gambaran keseluruhan bagaimana—yang bisa kita istilahkan—"ketergugahan spirit/batin" terjadi.
Buddhisme Menyuruh Kita Untuk Menerima Penderitaan
Anggapan semacam ini muncul dari kekeliruan pembacaan atas Kebenaran Pertama dari Empat Kebenaran Hakiki, yang sering diterjemahkan "Hidup adalah penderitaan". Orang membacainya dengan pikiran analitik. "Buddhisme mengajarkan bahwa hidup adalah penderitaan tiada akhirnya, saya tidak setuju." Yang harus digarisbawahi adalah bahwasanya Sang Buddha tidak berkomunikasi memakai bahasa Indonesia dan karenanya ia tak mengatakan "penderitaan".
Dalam naskah paling awal Buddhisme, kita mendapati bahwa beliau berkata bahwa hidup adalah dukkha. Dukkha adalah kosakata Pali memiliki banyak arti. Bisa berarti kesengsaraan pada umumnya, tetapi juga bisa merujuk pada segala sesuatu yang bersifat sementara atau tidak kekal atau impermanen, tidak lengkap atau tidak sempurna atau tidak utuh, atau suatu kondisi yang dikondisikan oleh hal-hal lain. Jadi, bahkan kegembiraan dan kebahagiaan sekalipun adalah dukkha karena hal itu datang dan pergi silih berganti. Beberapa pihak memadankannya dengan "penuh stres" atau "tidak memuaskan" sebagai pengganti "penderitaan" untuk transliterasi dukkha tadi.
Buddhisme itu Agama
![]() |
| Bikkhu bermeditasi (ilustrasi). |
Ada yang menyebut sebagai fiilsafat. Tidaklah apa. Namun begitu, filsafat di sini tidak seperti bayangan kita akan filsafat pada umumnya yang mana gambaran kita akan filsafat banyak dipengaruhi corak dan gaya filsafat Barat yang erat dengan metafisika, logika (bisa pula disebut mengoptimalkan akal), dan untuk merepresentasikan hasil dari kerja pikiran rasional itu kemudian dinyatakan dengan kata dan bahasa. Filsafat Buddhis, jika hendak didefinisikan demikian, adalah untuk meĺampaui bahkan pikiran rasional dan analitik yang dalam cara kerjanya adalah dualistik, ujung filsafatnya adalah untuk sadar mengalami langsung kehidupan, ini tidak butuh kata-kata. Atau, bisa juga disebut bahwa Buddhisme adalah ilmu pengetahuan pikiran. Baiklah. Ini adalah ilmu pengetahuan pikiran, jika anda menggunakan istilah ilmu pengetahuan dalam arti yang sangat luas.
Ritualnya Berdoa kepada Sang Buddha
Pada kenyataannya, Sang Buddha dipandang sebagai representasi manusia yang telah merealisasi pencerahan melalui usaha sendiri. Sentral ajaran Sang Buddha bukan untuk membahas Tuhan dan mencari tahu konsepsi Tuhan mana yang sahih dan untuk disembah dan meminta hal-hal. Beliau tidak secara spesifik mengajarkan bahwa Tuhan (God) atau Tuhan-tuhan/Dewa-dewa (gods) ada atau tidak ada. Dalam beberapa tempo, ketika ditanyai perihal semacam ini, beliau diam. Menciptakan konsepsi Tuhan dan menempatkannya dalam benak kita tidak membantu kita untuk merealisasi pencerahan.
"Buddha" juga merujuk terealisasinya pencerahan itu sendiri dan juga sifat-kebuddhaan, yaitu apa yang menjadi sifat asali semua wujud. Patung atau gambar ikonik Buddha dan makhluk tercerahkan lainnya sekedar bentuk apresiasi dan ekspresi hormat kita yang hampir mirip kita berikap hormat pada bendera, bukan Tuhan atau dewa yang bisa memberi nikmat dan tulah dan karenanya disembah-sembah untuk menyenangkannya.
Buddhis Menghindari Ikatan
Banyak yang beranggapan jika "ketidakmelekatan" dalam Buddhisme adalah berusaha untuk tidak mengingini dan tidak memiliki ikatan apa-apa, termasuk membangun ikatan hubungan dan memiliki pasangan. Namun bukan itu maksudnya.
Di balik ikatan ada dikotomi antara diri saya dan pihak lain. "Melekat" pada dikotomi semacam ini karena pemahaman tidak rampung. Buddhisme mengajarkan bahwa keterpisahan atau anggapan dikotomistik tentang diri dan lainnya adalah ilusi, yang pada kenyataannya tiada terpisah mandiri, melainkan seolah terpisah karena cara kerja pikiran kita mengonsepsi realitas.
Juga, Buddhis diajak menyadari bahwa anggapan dikotomistik akan senang-sedih adalah siklus mental yang tiada terpisah sebagai sensasi, selama ini kita menganggap hal itu terpisah di sudut berlainan secara diametral. Kita diajak menyadari sensasi-sensasi mental tadi, yang selama ini kita anggap dikotomistik dan keduanya terpisah satu sama lain, tiada lain tiada bukan adalah siklus mental dan tiada terpisah. Ketika seseorang secara seksama menyadari ini, tidak lagi melekati hal-hal dan berhasrat untuk tetapnya satu hal atau menolak hal lainnya. Bagaimanapun Buddhisme tidak bisa diartikan bahwa Buddhis tidak diperkenankan menjalin suatu hubungan dan ikatan saling kasih mengasihi.

.jpeg)

