Langsung ke konten utama

Beberapa Hal yang Mungkin Kita Salah Paham tentang Buddhisme

Banyak orang salah sangka terhadap banyak aspek dalam Buddhisme dengan cara menyederhanakan begitu saja aspek-aspeknya. Banyak yang berpikiran bahwa pempraktik ajaran Sang Buddha ingin tercerahkan, sehingga mereka bisa bahagia atau dalam keberkahan sepanjang waktu dalam kehidupannya. Jika sesuatu yang tak anda ingini terjadi pada anda sekarang, itu karena sesuatu yang anda lakukan sebelumnya. Banyak orang mengira bahwa menjadi Buddhis harus menjadi vegan, Sang Buddha mengajarkan untuk mengembangkan rasa welas asih (metta) bukan hanya kepada manusia saja melainkan ke seluruh mahluk—karenanya sudah barang tentu anda tak akan menemukan istilah "ini kelompok saya" dan "itu bukan kelompok saya" dalam ajaran ini.

Pasangan turis Barat berlatih meditasi Zen di kuil Zen Buddhisme Jepang (ilustrasi).
Berikut beberapa poin yang disadur dan diadaptasi dari tulisan Barbara O'Brian demi menyesuaikan dengan apa yang kiranya secara umum menjadi kesalahpahaman di Indonesia.

Buddhisme Mengajarkan Tidak Ada Eksistensi Mandiri

Banyak yang bertanya-tanya, mengkritik, dan menentang ajaran Sang Buddha tentang tiada-diri. Mereka melempar pertanyaan, jika memang diri itu tidak eksis, lantas siapakah yang membayangkan sesuatu itu? Bagaimanapun ajaran Sang Buddha tidak mengajarkan bahwa diri itu tidak eksis. Ajarannya men-challange pemahaman kita tentang bagaimana diri dan segala eksistensi itu ada. Ajaran ini mengajarkan bahwa secara intrinsik eksistensi dan fenomena tiada subtansi. Buddhisme tidak mengajarkan bahwa sama sekali bahwa diri adalah tidak eksis. Sebagian besar munculnya kesalahpahaman ini terjadi manakala melakukan pembacaan apa itu anatta dan perkembangannya dalam Mahayana Buddhis, yaitu Sunyata (dalam ungkapan Jawa kuno disebut Kasunyatan)

Bagaimanapun Buddhisme tidak mengatakan bahwa diri itu tidak eksis. Buddhisme bukan mengajarkan doktrin non-eksistensi. Sebaliknya, mengajarkan bahwa kita memahami realitas dengan pandangan terbatas, juga sepihak atau dalam arti kita memandang realitas bukan apa adanya, melainkan bercampur dengan persepsi kita.

Buddhis kudu Mengimani Reinkarnasi

Seni dalam Tibetan yang diilhami Buddhisme (ilustrasi).
Jika reinkarnasi didefinisikan sebagai perpindahan roh/jiwa yang diyakini kekal ke fisik tubuh baru setelah tubuh lama mati, maka tidak ada ajaran semacam itu dalam Buddhisme. Sang Buddha tidak mengajarkan ajaran reinkarnasi semacam itu. Untuk diingat bahwa beliau tidak mengajarkan bahwa roh/jiwa itu kekal dan berpindah tubuh.

Namun, ada doktrin Buddhis tentang kelahiran kembali. Menurut doktrin ini, energi atau pengondisian yang diciptakan oleh satu kehidupanlah yang akan terlahir kembali ke kehidupan lain, tapi itu bukan jiwa. "Orang yang meninggal di sini dan terlahir kembali di tempat lain bukanlah orang yang sama, atau orang lain," tutur Walpola Rahula, cendekiawan Theravadis. Namun begitu, kita tidak dituntut harus "beriman" pada kelahiran kembali untuk mempraktikkan jalan laku Buddhis. Banyak Buddhis yang memilih posisi agnostik dalam hal kelahiran kembali. (Saya pribadi memahami sebagai transformasi materi tertentu ke bentuk materi lain. Namun secara subtansial, transformasi itu adalah sama sebagai siklus transformatif.)

Buddhis Wajib Menjadi Vegan

Beberapa aliran Buddhisme secara tegas bertarak keras memakan segala makanan dari segala yang bernyawa, untuk menjadi vegan. Namun di sebagian besar aliran Buddhisme, vegetarianisme adalah pilihan dan diserahkan ke masing-masing pribadi, bukan perintah wajib. Dalam naskah-naskah awal (baca: buku suci) Buddhis, memberi informasi bahwa Sang Buddha sendiri bukan seorang vegan. Khusus bagi para bikkhu, jika mereka diberi daging, ia harus memakannya terkecuali ia tahu bahwa mahluk itu dibunuh khusus untuk menjamunya.

Karma itu ya Takdir

Istilah "karma" berarti "tindakan" dan bukan "takdir". Dalam Buddhisme, karma adalah semacam energi yang diciptakan oleh tindakan yang disengaja, melalui pikiran, perkataan, dan aksi perbuatan. Kita semua menciptakan karma setiap menit, dan karma yang kita timbulkan memengaruhi kita setiap menit. Karma adalah tindakan, bukan hasil. Jalan hidup anda tidak ditulis di perkamen langit. Anda dapat mengubah jalan hidup anda saat ini dengan mengokohkan kemauan dan tindakan, yang selama ini menjadi penghalang diri anda.

Karma Menghukum Siapa Saja yang Pantas Menerimanya

Karma bukan sistem keadilan dan pembalasan kosmis. Tidak ada hakim gaib yang bertugas mengirim karma untuk menghukum para pelaku kesalahan. Karma sama impersonalnya dengan gravitasi. Apa yang dilempar ke atas pastilah turun; apa yang kita lakukan adalah apa yang terjadi pada kita. Karma bukanlah satu-satunya kekuatan yang menyebabkan sesuatu terjadi di dunia. Jika banjir besar menyapu bersih sebuah masyarakat, jangan kira itu adalah karma yang entah bagaimana anda percayai sebagai penyebab banjir atau bahwa orang-orang di kelompok masyarakat tersebut pantas dihukum karena sesuatu. Peristiwa malang bisa terjadi pada siapa saja, bahkan kepada yang telah berbuat benar dan bajik sekalipun.

Pencerahan itu Bahagia Sepanjang Hidup

Orang-orang berkhayal bahwa "tercerahkan" seperti mengaktifkan atau memencet tombol bahagia dan seketika seseorang itu berubah dari bodoh dan menderita menjadi bahagia dan penuh damai, yaitu angapan bahwa dunia orang yang tercerahkan itu menjadi satu warna yang tiada lain selain kebahagiaan. Bahkan guru yang paling tercerahkan pun tidak melayang-layang di awang-awang kebahagiaan. Mereka masih hidup di dunia menjejak Bumi, naik bus, masuk angin, dan terkadang kehabisan bubuk kopi.

Istilah Sanskrit yang sering diterjemahkan sebagai "pencerahan" lebih tepat dipadankan "kebangkitan" atau "ketergugahan". Kebanyakannya mengalami tahap demi tahap, seringnya tanpa disadari dan tidak diprogram secara sistematis, bisa pula dalam jangka waktu yang panjang. Atau munculnya ketergugahan batin melalui serangkaian pengalaman "pengenalan" tiada sengaja. Namun begitu, hal tadi bukan gambaran keseluruhan bagaimana—yang bisa kita istilahkan—"ketergugahan spirit/batin" terjadi. 

Buddhisme Menyuruh Kita Untuk Menerima Penderitaan

Anggapan semacam ini muncul dari kekeliruan pembacaan atas Kebenaran Pertama dari Empat Kebenaran Hakiki, yang sering diterjemahkan "Hidup adalah penderitaan". Orang membacainya dengan pikiran analitik. "Buddhisme mengajarkan bahwa hidup adalah penderitaan tiada akhirnya, saya tidak setuju."  Yang harus digarisbawahi adalah bahwasanya Sang Buddha tidak berkomunikasi memakai bahasa Indonesia dan karenanya ia tak mengatakan "penderitaan".

Dalam naskah paling awal Buddhisme, kita mendapati bahwa beliau berkata bahwa hidup adalah dukkha. Dukkha adalah kosakata Pali memiliki banyak arti. Bisa berarti kesengsaraan pada umumnya, tetapi juga bisa merujuk pada segala sesuatu yang bersifat sementara atau tidak kekal atau impermanen, tidak lengkap atau tidak sempurna atau tidak utuh, atau suatu kondisi yang dikondisikan oleh hal-hal lain. Jadi, bahkan kegembiraan dan kebahagiaan sekalipun adalah dukkha karena hal itu datang dan pergi silih berganti. Beberapa pihak memadankannya dengan "penuh stres" atau "tidak memuaskan" sebagai pengganti "penderitaan" untuk transliterasi dukkha tadi.

Buddhisme itu Agama

Bikkhu bermeditasi (ilustrasi).
Tentu saja hal ini bergantung bagaimana anda mendefinisikan "agama". Jika anda mendifinisikan agama sebagai sesuatu yang pusatnya adalah sebagaimana dalam konsepsi teisme, yaitu berkaitan entitas mistis dan bisa memberi nikmat dan tulah, maka Buddhisme bukan agama. Meski Buddhisme tidak menuntut Tuhan atau dewa harus ada atau tidak, beberapa aliran Buddhisme, karena perkembangan budaya setempat, menempatkan kepercayaan pada entitas mistis, yang mana hal ini telah melewati kesederhanaan filsafatnya. Karena hal yang demikian ini, Buddhisme bisa disebut agama.

Ada yang menyebut sebagai fiilsafat. Tidaklah apa. Namun begitu, filsafat di sini tidak seperti bayangan kita akan filsafat pada umumnya yang mana gambaran kita akan filsafat banyak dipengaruhi corak dan gaya filsafat Barat yang erat dengan metafisika, logika (bisa pula disebut mengoptimalkan akal), dan untuk merepresentasikan hasil dari kerja pikiran rasional itu kemudian dinyatakan dengan kata dan bahasa. Filsafat Buddhis, jika hendak didefinisikan demikian, adalah untuk meĺampaui bahkan pikiran rasional dan analitik yang dalam cara kerjanya adalah dualistik, ujung filsafatnya adalah untuk sadar mengalami langsung kehidupan, ini tidak butuh kata-kata. Atau, bisa juga disebut bahwa Buddhisme adalah ilmu pengetahuan pikiran. Baiklah. Ini adalah ilmu pengetahuan pikiran, jika anda menggunakan istilah ilmu pengetahuan dalam arti yang sangat luas.

Ritualnya Berdoa kepada Sang Buddha

Pada kenyataannya, Sang Buddha dipandang sebagai representasi manusia yang telah merealisasi pencerahan melalui usaha sendiri. Sentral ajaran Sang Buddha bukan untuk membahas Tuhan dan mencari tahu konsepsi Tuhan mana yang sahih dan untuk disembah dan meminta hal-hal. Beliau tidak secara spesifik mengajarkan bahwa Tuhan (God) atau Tuhan-tuhan/Dewa-dewa (gods) ada atau tidak ada. Dalam beberapa tempo, ketika ditanyai perihal semacam ini, beliau diam. Menciptakan konsepsi Tuhan dan menempatkannya dalam benak kita tidak membantu kita untuk merealisasi pencerahan.

"Buddha" juga merujuk terealisasinya pencerahan itu sendiri dan juga sifat-kebuddhaan, yaitu apa yang menjadi sifat asali semua wujud. Patung atau gambar ikonik Buddha dan makhluk tercerahkan lainnya sekedar bentuk apresiasi dan ekspresi hormat kita yang hampir mirip kita berikap hormat pada bendera, bukan Tuhan atau dewa yang bisa memberi nikmat dan tulah dan karenanya disembah-sembah untuk menyenangkannya.

Buddhis Menghindari Ikatan
Banyak yang beranggapan jika "ketidakmelekatan" dalam Buddhisme adalah berusaha untuk tidak mengingini dan tidak memiliki ikatan apa-apa, termasuk membangun ikatan hubungan dan memiliki pasangan. Namun bukan itu maksudnya.

Ilustrasi.
Di balik ikatan ada dikotomi antara diri saya dan pihak lain. "Melekat" pada dikotomi semacam ini karena pemahaman tidak rampung. Buddhisme mengajarkan bahwa keterpisahan atau anggapan dikotomistik tentang diri dan lainnya adalah ilusi, yang pada kenyataannya tiada terpisah mandiri, melainkan seolah terpisah karena cara kerja pikiran kita mengonsepsi realitas.

Juga, Buddhis diajak menyadari bahwa anggapan dikotomistik akan senang-sedih adalah siklus mental yang tiada terpisah sebagai sensasi, selama ini kita menganggap hal itu terpisah di sudut berlainan secara diametral. Kita diajak menyadari sensasi-sensasi mental tadi, yang selama ini kita anggap dikotomistik dan keduanya terpisah satu sama lain, tiada lain tiada bukan adalah siklus mental dan tiada terpisah. Ketika seseorang secara seksama menyadari ini, tidak lagi melekati hal-hal dan berhasrat untuk tetapnya satu hal atau menolak hal lainnya. Bagaimanapun Buddhisme tidak bisa diartikan bahwa Buddhis tidak diperkenankan menjalin suatu hubungan dan ikatan saling kasih mengasihi.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...