Apa yang kamu takutkan dari rasa kehilangan ketika tidak ada apa-apa di dunia ini sebenarnya milikmu.
— Marcus Aurelius.
Prokopton, demikian pempraktik Stoikisme disebut, yang harfiahnya berarti "pencari kebijaksanaan", didorong untuk merenungkan apa sih yang benar-benar sebagai milikmu? Bahkan tubuhmu pun tidak. Sesuatu yang kamu kira milikmu dan dirimu.
Tubuhmu bukan milikmu. Tubuhmu bukan kamu. Kamu tidak mengingini mengalami sakit, nyatanya juga bisa sakit. Kamu tidak ingin tua dan renta, nyatanya tetap menua dan renta. Kamu tidak mengingini kematian, nyatanya semua orang yang kita lihat diterjang kelapukan dan kematian. Kematian dan kelapukan, suatu hukum yang akan berlaku sama ke yang bertubuh dan berbentuk atau berwujud.
Artinya, semua bentuk yang terus berubah ini 𝗱𝗶 𝗹𝘂𝗮𝗿 𝗸𝗲𝗻𝗱𝗮𝗹𝗶 𝗸𝗶𝘁𝗮. Semua yang ada ini, ternasuk tubuh ini, adalah milik alam semesta dan di bawah kendali Semesta.
Dengan kata lain, bukan saja tubuhmu itu bukan milikmu dan bukan kamu yang sejatinya, bahkan orang-orang yang kamu terikat dan melekat secara emosional kepadanya seperti anak dan istrimu, ataupun orang tuamu dan kawan karib, tetangga dan kenalan, benda-benda yang kamu senangi dan sayangi yang mana kamu menambatkan kelekatan terhadapnya. Itu semua hakikatnya bukan milikmu. Mereka bisa pergi ataupun mati lebih dulu, bisa pula apa yang mereka lakukan dan ingini tak sesuai hasrat keinginanmu. Atau, benda-benda kamu senangi bisa rusak, raib, dan lapuk. Karena semua itu sejatinya bukan milikmu, karena semua itu 𝗱𝗶 𝗹𝘂𝗮𝗿 𝗸𝗲𝗻𝗱𝗮𝗹𝗶 𝗸𝗶𝘁𝗮.
Hanya ada satu hal yang benar-benar milik kita, benar-benar 𝗱𝗶 𝗯𝗮𝘄𝗮𝗵 𝗸𝗲𝗻𝗱𝗮𝗹𝗶 𝗸𝗶𝘁𝗮. Itu adalah persepsi pikiran dan persepsi emosional kita ketika melintasi kehidupan ini.
