Kematian bukan hal mudah untuk dibicarakan. Menengok usia kita, siapa yang belum pernah mengalami kehilangan orang-orang terdekat kita cintai telah mati entah itu keluarga, saudara, kawan karib, atau orang-orang meniliki tempat khusus dalam ingatan kita?
Dalam Buddhisme, kematian sebagai keniscayaan alamiah sendiri bukan titik tekannya atau letak penderitaan itu. Melainkan ketidakterimaan kita terhadap keniscayaan alami itu, yang mana karena ketidakterimaan mental muncul maka kita merasakan beban emosional tak nyaman, ketidakpuasan atau penderitaan (dukkha).Kematian, bersama penuaan dan kemerosotan fisik karena keberadaan kita di dunia ini, adalah topik sentral dalam filsafat Buddhis. Dalam narasi arus utama pun dikisahkan Gautama meninggalkan zona nyaman serta kemewahan karena privilesenya sebagai seorang putra mahkota juga didorong dari fenomena tadi. Fenomena yang umumnya kita tak sukai. Kita secara mental seringnya tak terima kodrat alamiah itu terjadi ke orang dekat dan kita sendiri. Beliau tergerak mencari jalan bagaimana terbebas darinya.
Buku ini adalah karya Ashin Visuddhacara, seorang guru spiritual tradisi theravada, berisi sekumpulan tema yang membicarakan tentang dua hal: sikap mental menghadapi kematian orang-orang terdekat dan kematian kita sendiri nanti.
Buku ini rabaan saya ditujukan ke khalayak umum, bukan kalangan Buddhis saja. Ya, karena memang memang kematian menimpa siapa saja dan bagaimana menghadapi keniscayaan alamiah ini adalah kebutuhan siapa saja. Tidak peduli Anda Buddhis, Kristen, Hindu, Yudaisme, Islam, ateis atau agnostik, berideologi libertarian atau komunis sekalipun.
Saya sebut ditujukan ke khalayak umum karena beliau tak menyuguhkan filsafat sulit perihal bagaimana melampaui kelahiran dan kematian, walau sekilas dan singkat disinggung dalam beberapa baris kalimat tak panjang. Fokus inti buku hanya bagaimana kita mengembangkan sikap batin mengikhlaskan (merelakan) ketika itu terjadi ke orang-orang terdekat dan saatnya terjadi ke diri kita.
Walau topiknya kematian yang umumnya orang dianggap tema gelap, secara bahasa pun penyajian buku ini bersifat kontemplatif dan ajakan persuasif.
Tidak lupa beliau juga mengisahkan kisah inspiratif bagaimana seseorang yang ia kenal penuh penerimaan akan ajalnya yang segera tiba karena penyakit yang menderanya.
Kita akan mati dan berlalunya satu persatu orang terdekat kita kenal, bagi saya pribadi, bukan membuat pesimis. Melainkan muncul kesadaran menolong batin diri kita sendiri, apa yang etis kita kerjakan dalam mengisi hidup kita ini.
Dengan merenungkan tema-tema utama yang acap kita baca dan dengar dalam tulisan dan ceramah Dharma, mekarnya kesadaran temporalitas akan diri ini akan menumbuhkan ringannya batin menjalani kehidupan ini apa pun kenyataan terjumpai entah itu menyenangkan atau sebaliknya, lapang atau sempit, kita secara mental dapat lapang menerima (ikhlas). Karena, seperti nasihat Sang Buddha, tak ada yang abadi (anicca).
