Setiap tokoh besar sejarah mengekor pro-kontranya: cacat politik, nilai dianut dan heroisme, dan dilema moral berhitung dengan utilitas berkenaan nyawa-nyawa serdadu dikorbankan demi jumlah lebih besar secara matematis bisa diselamatkan. Tak terkecuali Winston Churchill dalam film ini digambarkan juga begitu. Mengirbankan 4000 serdadu di Calais demi mengukur waktu gerak maju NAZI ke Dunkirk, demi mengevakuasi 300.000 serdadu.
Churchill, Perdana Menteri Inggris yang naik kekuasaan dengan dukungan lemah di lingkaran partainya. Naik puncak kekuasaan pun di masa-masa sulit dan berbahaya—Inggris menghadapi invasi NAZI-nya Hitler dari Jerman. "Churchill menyeret bangsa ini ke medan perang," begitu pandangan politik kontra dari tokoh oposisi yang ia rangkul dalam kabinet perang.
Film Darkest Hour (2017) ini mengambil fokus di seputar dinamika politik yang terjadi di antara elit Inggris, ketegangan kabinet perang, dan Parlemen, menyikapi secara politik masa-masa invasi NAZI ke daratan Inggris, yang secara moral jatuh.Churchill punya tugas memompanya dan perlu berhitung realistis terhadap situasi baik domestik maupun eksternal.
Untuk yang kesekian kali saya menontonnya dalam mengisi waktu santa. Ada beberapa poin pelajaran tercatat dari menonton film ini yang menggambarkan realita politik riil, yang jika direnungkan pasti terjadi juga di dunia kita. Hanya saja anasir-anasir buram bagi orang-orang biasa seperti kita.
Pertama, film ini menggambarkan bagaimana tokoh dengan beban besar dan berat di pundaknya harus berani mengambil risiko. Berpedoman pada nilai-nilai yang ia pegang sebagai falsafah hidup dan pandangan politiknya. Film menggambarkan Churchill yang oleh lawan politiknya disebut tidak realistis, mengingat kekuatan: alat-alat militer NAZI yang menang telak dan kemampuan menyapunya yang efisien dan mematikan. Kenyataan prediksional yang segera sampai di Calais dan Durnkirk, pintu langsung ke Selat Inggris. Di seberangnya, Kerajaan Inggris dan kepualuan Britania Raya.
Kedua, tokoh besar harus belajar mendengar dan mempertimbangkan segala risiko yang hendak diambilnya. Di sini juga digambarkan walau Churchill adalah sosok kaku dan orator flamboyan dengan kata-katanya, tetapi pada satu aspek perenungannya ia juga dapat goyah oleh sekitar. Ia paham betul ke mana harus mencari jawaban dari kegoyahan itu. Ke publik langsung, alih-alih ke orang-orang parlemen. Turun ke lapangan dan mendengar pendapat mereka tentang apa yang harus ia pilih. Pelajarannya adalah, pendapat atau suara orang bawah atau rakyat dipimpinnya hampir dipastikan adalah polos, jujur, objektif, dan tanpa motif ada mau.
Ketiga, bagaimana script film menampilkan karakter Churchill yang gemar minum, temperamen meledak-ledak dan agak agresif, dan tertekan serta dilanda kecemasan. Maklum, berkuasa pada masa-masa genting dan ini akan memberi tekanan pada psikis jauh lebih intens. Dilema antara kesuksesan karir dan risiko historis bagi reputasinya. Semua politikus pasti terbersit hal ini, menabalkan peninggalan baik yang memonumenkan namanya sebagai layak dikenang sejarah.
Keempat, tak ada orang hebat lahir sendiri, ada orang-orang berpengaruh dan kuat di belakangnya mendukung. Tak terkecuali Churchill yang di sisinya ada istrinya yang berkarakter, sebagai kritikus, advicer, dan penyangga moral ketika ia secara spirit hendak ambruk menahkodai kabinetnya yang sudah ciut dan ambruk secara moral.
Kelima, film mengajarkan tentang kepemimpinan juga tentang keberanian mengambil keputusan sekalipun sulit berlandaskan prinsip-prinsip yang kamu telah renungkan dan pertimbangkan masak-masak dan silangkan itu dengan situasi yang ada yang menuntut respon segera dan menerima apapun risikonya, yang di dalam konteks film ini yaitu terhapusnya imperium monarki konstitusional Inggris sebagai taruhan.
Memutuskan dan menerima risiko ini berlaku juga bagi kita. Tak ada prinsip yang kita pertahankan tanpa menuntut sesuatu yang harus kita bayarkan.
Pada akhirnya, pembacaan saya film ini membangun narasi sebagai film yang mencitrakan positif Churcill di masa-masa sulit itu. Tentu saja film dalam beberapa dialog juga memberi gambaran tentang Churcill sebagai orang yang tidak sempurna keputusan politiknya—kampanye Galiopoli dimana kisaran 80.000 serdadu Inggris tewas dalam Perang Dunia I melawan Turki Ottoman (Turki Utsmani) yang notabene adalah sekutu Kekaisaran Prusia-Jerman (Blok Sentral). Tentu, sejarah myata tak berhenti di situ, untuk beberapa saat Inggris memang diinvasi NAZI, untuk kemudian momentuk balik ke Inggris dan sekutunya, bermula dari D-Day. Dan dari arah timur semakin bergerak majunya Tentara Merah-nya Stalin (Komunis Unj Soviet) menunu Berlin.Sebagai penutup di tulisan ini kita dapat belajar dari film ini bahwa tak ada orang hebat yang lahir dari masa tak sulit (masa kemudahan); masa mudah seringnya melahirkan pecundang. Tak ada nahkoda hebat yang tak pernah menghadapi gelombang-gelombang besar, walau sebagian banyak justru karam tenggelam. Begitu juga manusia dan kehidupannya.

