Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan (dukkha). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.
Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami).
Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanyaMengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman
Kita secara emosional pasti menolak dan muncul gejolak dalam diri bahwa kelahiran dikatakan sebagai dukkha. Karena lahir dalam arti kelahiran organis ini adalah pintu yang membawa kita mengalami jenis penderitaan lainnya.Namun kita tak boleh grasa-grusu dengan menyimpulkan sebaliknya, dengan menarik kesimpulan kalau A hal negatif maka solusinya harus memilih bukan-A: kalau terlahir adalah penderitaan maka harus mengakhiri hidup. Tidak begitu. Dalam kehidupan ini kita bisa terbebas dari klasifikasi penderitaan jasmani tadi, juga tiga penderitaan hawa nafsu di atas.
Sang Buddha telah menawarkan toolkits untuk "kondisi antara" ini, yang kita dapat gunakan menyelesaikan tugas hidup yang sementara ini.
Dua Kelahiran Itu
Kalau kita membaca buku-buku Dharma, atau mendengar nasihat-nasihat Dharma dari para banthe yang mudah diakses di era internet baik di Youtube maupun video-video pendek di Reels, Threads, facebook, dan lainnya, istilah 'kelahiran' sering kali muncul.Mulanya membuat bingung. Karena ada ketidakjelasan maksud saya tangkap. Saya coba pelajari dan petakan konteks penggunaan frasa tersebut. Saya simpulkan kata ini memiliki 2 maksud dalam konteks berlainan. Setidaknya inilah yang saya tangkap dari dua makna dari kelahiran itu.
Kelahiran pertama adalah kelahiran organis. Kelahiran ini seperti kita ketahui bersama, yaitu kelahiran melalui proses persalinan. Kedatangan sosok manusia keluar dari rahim induknya. Seperti kelahiran kita semua dan gewan mamalia lainnya, yang mana kita tidak tahu persis kapan kita lahir: jam, hari dan tanggal, serta tahun. Sebab kita pertama terlahir belum memiliki kemampuan kesadaran yang sudah penuh untuk mengenal dunia, apalagi kemampuan mengada (bereksistensi). Alasan mengapa kita tidak tahu tanggal lahir kecuali diberitahu.
Kelahiran kedua adalah dalam arti kemampuan mengada atau bereksistensi. Yaitu suatu kemampuan dari kompleksitas organ otak kita mengenali dan membedakan, yang darinya juga muncul konsep pembedaan antara si aku dan bukan aku, dan kemudian karena kemampuan kognisi yang kompleks ini pula kita mampu mengidealkan kenyataan, muncullah hasratkeinginan atau nafsu keinginan, kenyataan kita alami harusnya bersesuaian apa yang menjadi hasrat diri. Inilah yang saya maksud tumimbal lahir dalam konteks filosofis.Kadang saya singkat sebut kemampuan bereksistensi. Ada yang mengistilahkan "kelahiran mental". Perihal kelahiran yang disebut nomer dua ini,
Mengatasi Kelahiran Filosofis
Buddhisme menawarkan teknik melampaui kelahiran filosofis imi, biasa diistilahkan kepamadaman, di mana yang saya renungkan adalah latihan—istilah puitisnya—melampaui gagasan tentang ruang dan waktu. Dengan berlatih meditasi bhavana, kita melatih otak kita untuk memunculkan habits tertentu, biasa diistilahkan mkndfulness. Suatu habits yang mirip-mirip intuisi. Dengannya, demikian itu yang dimaksud melampaui kelahiran (baik organis dan filosofis). Sebab, dalam mode demikian, otak kita pada mode non-intelek, sementara mati dan lahir juga ruang dan waktu adalah gagasan dan bersifat konseptual.
Dengan berlatih meditasi bhavana, kita melatih otak kita untuk memunculkan habits tertentu, biasa diistilahkan mkndfulness. Suatu habits yang mirip-mirip intuisi. Dengannya, demikian itu yang dimaksud melampaui kelahiran (baik organis dan filosofis). Sebab, dalam mode demikian, otak kita pada mode non-intelek, sementara mati dan lahir juga ruang dan waktu adalah gagasan dan bersifat konseptual.

