Beliau mengatakan bahwa kita sebagai mahluk dengan atribut mental seringnya jatuh pada suasana psikis yang tidak nyaman. Misalnya kegelisahan, bosan, sumpek, diselimuti amarah, iri, muak, dengki, mengelukan ini dan antipati itu, kebencian, putus asa, kekecewaan, rasa rindu, rasa kehilangan semisal kehilangan seseorang yang telah mati, dan ketidaknyamanan psikis lainnya.
Beliau tidak menyangkal bahwa rasa bahagia itu dapat kita alami. Namun bahkan ketika psikis kita mengalami rasa itu, munculnya rasa itu secara halus juga dibarengi rasa takut kehilangan rasa atau pengalaman psikis meringankan itu. Bahkan ketika flashback ke belakang, ke sepanjang hidup telah kita alami, saya yakin kita lebih mengalami yang oleh mental kita terasa tidak nyaman.
Inilah yang diistilahkan dukkha (penderitaan atau ketidakpuasan). Pokoknya, semua kondisi psikis yang kita rasakan tidak nyaman.Ketika kondisi psikis kita muncul hal-hal tadi, apakah terasa nyaman? Jawabnya tidak. Saya yakin bukan saya saja mengalami hal tersebut. Anda semua saya kira juga mengalami. Inilah kebenaran dari empat kebenaran dalam hidup pertama.
Namun beliau memberi kita jawaban bahwa munculnya gangguan dalam psikis kita ada sumbernya. Sumber munculnya ketidakpuasaan, ketidakterimaan, atau penderitaan.
Semua pengalaman psikis mengganggu dalam diri kita muncul karena kita bisa mempersepsikan secara emosional peristiwa-peristiwa kita hadapi dan alami. Melalui kontak indra terhadap hal, peristiwa, atau kenyataan kita jumpai.
Melalui kontak pancaindra, kontak indria ini diteruskan ke otak kita sebagai informasi. Otak memproses itu sebagai informasi dan—yang tak pernah kita sadari—sekaligus bereaksi terhadap peristiwa: sedih atau senang, benci atau suka, mengelukan atau antipati, nikmat atau menyengsarakan, melegakan atau menghimpit. Secara umum, dua spektrum ini reaksi psikis kita terhadap kenyataan-kenyataan dijumpai.
Sampai di sini kita seyogyanya mulai sadar bahwa hal-hal eksternal ( peristiwa dan benda) dalam dirinya itu netral, sebagaimana dan apa adanya begitu. Tetapi kerja otak kita-lah yang bereaksi secara alamiah terhadap kenyataan itulah sumber suka atau sedih dalam psikis diri kita, sumber ketidakpuasan/penderitaan. Inilah kebenaran kedua dan ketiga, yaitu sumber dan ada cara mengatasi gangguan psikis atau emosional yang mengganggu.
Walau juga harus diingat bahwa "reaksi secara alamiah" sebenarnya adalah insting yang sifatnya given dalam diri bukan saja pada manusia tetapi juga pada babi, kambing, dan tikus. Ini adalah bagian dari insting survival.
Namun kita karena tidak paham mekanisme ini dalam diri kita sebagai spesies dengan atribut merasa-aku-ada (kemampuan mengada atau bisa pula disebut awareness), psikis kita terayun ke dua spektrum tadi terus dan menerus sampai mati. Kita dibingungkan oleh kerja mental kita, oleh suasana psikis kita, oleh kerja pikiran kita, oleh reaksi kognisi kita, oleh kerja random otak kita.
Misalnya, memang bedanya kematian orang yang kita jumpai ketika dalam perjalanan dan kematian keluarga kita itu apa? Mengapa dalam diri kita muncul reaksi berbeda terhadap peristiwa yang sama? Saya dahulu merenungkan pertanyaan ini untuk beberapa tahun.
Kematian kakek adalah pengalaman yang menyakitkan, apalagi terjadi ketika keluarga saya sendiri ambruk. Mungkin Anda adalah kehilangan orang tua Anda. Inti kesamaannya adalah, kita kehilangan seorang figur, tempat secara emosional berlindung, itu menyakitkan apalagi kita sebagai manusia yang baru tumbuh dan belum dewasa secara mental. Belum siap menghadapi kehidupan ini mandiri sendiri.
Pada satu titik saya menyimpulkan bahwa kematian orang dekat dan orang yang kita temui di jalan tiada beda. Itu adalah kaidah atau jalannya alam. Itu adalah sunatullah. Itu adalah dharma.
Ini menggiring saya bertanya ke diri sendiri: mengapa mendapati kematian kakek memunculkan rasa sedih, rasa limbung secara psikis, dan rasa kehilangan tempat bernaung secara emosional; sementara saya tidak mengalami rasa apa-apa (suasana emosional netral) ketika menjumpai orang mati di jalan secara kebetulan?
Jawaban dari pertanyaan tadi adalah di paragraf keenam di atas. Ketidakmampuan mengindra apa adanya. Ini kebenaran keempat yang tentu ada aspek moral-etis sosial tercakup, karena kita adalah mahluk yang secara survival berkelompok atau berkoloni. sebagaimana tercakup dalam Jalan Mulia Delapan Ruas.

