Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental).
Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir kaum Buddhis kultural yang banyak di masyarakat Asia bagian timur.Dasar-dasar Agama Buddha ini adalah buku yang diadaptasi dari transkrip ceramah Santina di vihara Srilankaramaya, Singapura.
Buku ini secara umum berisi kupasan dari Empat Kebenaran Mulia dan delapan cabangnya, Karma, Tiga Ciri Umum Keberadaan, dan Kesalingtergantungan Keberadaan. Tiada lain itulah topik-topik dasar dan paling fundamental dalam Buddhisme. Sedikit pesan saya, walau buku ini Santina memakai pengungkapan yang familiar dengan cara kita berbahasa, Anda harus jeli sebab istilah-istilah teknis kebahasaan Buddhisme yang umumnya digunakan memiliki ontologinya sendiri, semisal istilah tumimbal lahir atau sunyata (istilah yang acap muncul dalam tradisi pengajaran Mahayana dan Vajrayana) yang walau tak sama persis maksudnya disamakan dengan istilah "realitas").
Bagian paling menarik buku berjumlah halaman viii+203 ini dari perspektif saya adalah bab kedua, "Latar Belakang Pra-Buddhis". Santina mengupas di beberapa puluh halaman bagaimana kehidupan spiritual masyarakat Lembah Indus, kita mengenalnya Peradaban Mahenjodaro, dan bagaimana interaksi timbal balik kebudayaan mereka dengan kebudayaan kaum penjelajah pendatang dari Yunani era Hellenistik (umum kita kenal penjelajahan-penaklukan oleh Aleksander Agung/Iskandar Zulkarnain). Kita mengenal mereka dalam catatan sejarah sebagai bangsa Arya.
Santina mendapati bahwa Buddhisme banyak mengambil hal-hal yang dari peradaban spiritual Lembah Indus semisal teknik meditasinya dibanding saudaranya, yaitu Hinduisme, yang sedikit banyak terpengaruh oleh nilai-nilai agama kepercayaan kaum pendatang Arya. Dalam bab ini, Santina mengupas pula perbedaan fundamental Buddhisme dan agama-agama yang lahir dari kebudayaan bangsa Semitik.
Penutup dari saya. Kita adalah orang-orang modern yang membutuhkan suatu ajaran yang praktis membantu kita secara mental tangguh dan tetap stabil menghadapi dunia yang ketat dan sulit ini. Jika Anda terterik dengan kesehatan mental, atau malah punya problem hal tadi semisal kegelisahan, ketakpuasan, dsb, maka buku ini layak Anda toleh. Terutama mendalami Empat Kebenaran Ariya dan Delapan ruasnya. Memang, sekadar mengenal kajian-kajian analitik tadi tidak serta merta berhasil. Butuh waktu untuk terinternalisasi ke dalam kesadaran kita.

