Langsung ke konten utama

10 Kosakata Asik Stoikisme dan Penjelasan Singkat

Stoikisme adalah filsafat etika yang muncul di era Helenistik-Yunani. Istilah etika dalam kesadaran alam pikir orang Yunani kuno adalah berkaitan apa yang harus saya lakukan di kehidupan ini dan bagaimana cara terbaik menjalaninya di tengah alam semesta ini dan sosial. Pengertian kata tersebut tak sama dengan persepsi kita sekarang yang lebih sempit, yaitu a standars of behavior. 

Meski cakupan filsafatnya sangat luas, Stoikisme hari ini naik daun di masyarakat kontemporer bukan tanpa alasan, ajaran spiritual filosofis ini memberi tameng, menjadi bermental tangguh, bagi siapa saja yang mempraktikannya dalam mengarungi ketat dan kompetitifnya kehidupan modern yang acapkali menghadirkan gangguan pada kualitas batin atau psikis kita.

Dengan berpegang pada beberapa prinsip Stoik, yang tererepresentasi dari "kosakata Stoik" berikut, semoga kita memiliki kebijaksanaan bernavigasi dalam kehidupan.
Ciri pokok orang yang bijaksana adalah mampu menentukan sikap dalam situasi yang biasanya tidak mudah diidentifikasi, serta mengambil langkah yang optimal (Pigliuci: 2022).

Tak perlu babibu panjang lebar, yuk kita simak sepuluh istilah itu beserta pengertian dan penjelasan singkatnya. Semoga bermanfaat!


1/ Amathia

Istilah ini adalah merujuk orang yang sebenarnya punya rasio yang dapat dia gunakan, tetapi tidak mau menggunakannya  untuk memahami, untuk mencari pengetahuan. Semacam penolakan untuk tahu. Istilah satu ini unik, tidak ada padanan persis di kosakata kita.

Orang dengan watak amathia ini, keputusan dan yang dilakukan paling mula adalah merugikan diri sendiri. Bukan mereka bodoh kognitif, tetapi tak memiliki pengetahuan, tetapi juga tak mau belajar tentang apa yang akan ia perbuat dan lakukan. Tanpa pengetahuan—satu dari syarat kebijaksanaan dan syarat lainnya intuisi—tak ada kebijaksanaan dalam diri orang semacam itu.

Sebagai prokopton perlu memandang orang-orang yang melakukan hal buruk atau salah untuk perlu dikasihani dan bukan dikutuk. Jika punya kesempatan dan kemampuan, membantu malah disarankan mereka. Sekalgus memaafkan kebodohan mereka. 

Mengagetkan? Tenang. Ini ada alasannya. Orang yang tidak tahu perbuatannya salah dan jahat sejatinya paling terugikan diri sendiri. Di era modern, pendekatan ini diadopsi dalam teori pemidanaan.



2/ Amor Fati

Frasa ini harfiahnya diterjemahkan "cintai takdirmu", "terima takdirmu", atau "terima kenyataanmu". Kita sepatutnya menerima tubuh dan batin kita dalam kondisi apapun. Kita—tubuh dan batin—adalah paling setia dengan kita sepanjang kehidupan ini, menunaikan tugas Kosmos. Sadari, kamu adalah yang besar itu dan sekarang bertugas memerankan yang menjadi dirimu dan yang terjadi pada dirimu. Jika bukan kamu sendiri yang lebih dulu menaruh welas ke dirimu sendiri, siapa lagi yang harus lebih dulu? 

Kaisar Marcus Aurelius yang juha seorang Stoik.
Kamu harus menanggung sakit itu dengan baik.

Kata Epictetus: Tunaikan dengan baik, Wahai Para Mikrokosmos, tugas dari Sang Kosmos. Jangan bandingkan dirimu dengan yang lain. Semua hanya sedang memerankan peran dari Sang Kosmos. Kamu adalah Sang Kosmos itu sendiri, bukan di dalam Kosmos. Sadari ini dan kamu memiliki kekuatan dan ketabahan.


3/ Apathia

Secara harfiah adalah tiada rasa menderita, "a" artinya tiada atau tanpa dan "patheia" berarti penderitaan. Stoikisme mengajarkan ke prokopton bahwa menderita atau tidak adalah pilihan merdeka kita. Frasa apathia berpadanan pula dengan atharaxia.

Stoikisme, untuk terciptanya kualitas batin bahagia (ayem batin: Jawa) yang negative logic tersebut adalah mempraktikkan dikotomi kendali. Misal, penerapan dikotomi kendali adalah perihal persepsi bagaimana yang bijak dalam merespon atau menyikapi suatu keadaan yang kebetulan kita hadapi sekarang kini. Dengan kemampuan membedakan apa yang di bawah kendali kita dan bukan, maka kita tahu menyikapi segala hal yang kita jumpai dan terjadi di kehidupan.


4/ Arethé

Arethé padanan harfiahnya dalam bahasa kita adalah bajik, atau virtue dalam bahasa Inggris. Walau begitu, dalam makna asalnya tidak mirip dengan pemahaman akan padanan katanya di bahasa kita. Segala sesuatu yang telah sesuai dengan peruntukannya artinya telah merealisasi areté-nya. Kuda yang kuat dan tangguh berlari sekencangnya, ini dapat diartikan bahwa kuda itu juga sudah menjalankan arethé-nya. Pemain sepakbola, menjalani profesinya dan bermain sampai batas maksimal kemampuan dan menikmatinya, ini juga arethé

Pelajaran untuk kita terkait arethé ini, berusaha menemukan apa makna kita yang oleh alam semesta dihadirkan dalam wujud manusia pada dunia ini, Menemukan peruntukan kita pada jagad ini, di antara benda-benda lain sebagai susunan alam semesta ini, dan dintengah masyarakat. Itu adalah menjalankan esensi dasar kita dengan sebaik mungkin, dengan cara sehat, dengan layak, dan patut/saleh. Arethé  yang berpadanan pula dengan kata "apatheia", adalah hidup sebaik-baiknya sesuai dengan peruntukkan kita di dunia. Maka, temukan passion-mu yang bermanfaat dan jalanilah segenap batin, baik serta saleh/patut, dan optimal.


5/ Hic et Nunch

Frasa ini merujuk pada saat ini di sini. Ini berkaitan cara kaum Stoa atau prokopton melatih diri hidup meditatif. Kita sudah pasti perlu melatih dan mempraktikkan hidup meditatif, segenap tubuh dan pikiran hadir pada momen yang ada pada hadapan dan sekitar kita berada atau sedang kita jalani, melatih pikiran untuk selalu hadir pada saat-kini, karena inilah yang terpenting dalam hidup. Dan kehidupan hanya tersedia pada saat kini dan di sini di mana tubuh kita eksis.

Seneca, mantan budak, ditunjuk menjadi penasihat Kaiisar Nero,
sebagai guru, dan sekaligus orang buangan (eksil).
Sebuah kisah berikut semoga memberi gambaran. Epictetus menunggu putusan sidang Swnat dan kaisar karena suatu tuduhan yang didakwakan kepadanya. Beberap kolega telah dihukum mati. Suatu siang kawannya membawa kabar bahwa ia dihukum pengusiran dari dari Romawi dan harta bendanya di sita. Setelah kawannya menyampaikan berita untuknya, tanpa cemas atau acuh tak tacuh atau biasa aja, Seneca bilang ke kawannya "Ayo, makan siang" tanpa ada beban apa pun, karena memang saat itu jamnya makan siang.

Ajakan Seneca ini menasihati kita bahwa "lakukan apa yang saat kini perlu dilakukan". Menikmati momen saat-kini dimana jasmani kamu berada dan terlibat di situ.


6/ Katekonta

Dupopulerkan oleh Zeno, kira-kira artinya adalah "perilaku yang layak", "perilaku yang patut", "perilaku sesuai", atau "perilaku selaras Alam". Istilah merujuk pada, karena kita sebagai bagian masyarakat dan warga negara, kegiatan-kegiatan sosial umum dan bermasyarakat yang harus kita jalankan sekalipun itu tak membantu atau tak ada sangkut pautnya dengan berkembangnya kebijaksanaan kita  kegiatan-kegiatan tdak penting. Misalnya berkumpul dengan sekitar dan sekedar mengisinya dengan basi-basi sebagaimana dilakukan lumrahnya sesama manusia.

Namum begitu, patut diingat, tak semua hal harus kamu ikuti. Pertimbangkan secara bijak batasnya oleh dirimu sendiri untuk dirimu sendiri. Tetapkan  keputusanmu dan jalani dengan khidmat apapun akan dinilai dirimu. Kemampuan dalam bergaul juga ditekankam oleh guru Stoik, karena bagaimanapun manusia adalah mahluk sosial.


7/ Memento Homo

Bisa diartikan "kamu tuh cuman manusia". Ada kalanya kamu gagal, ada kalanya kamu terhimpit tuntutan kehidupan, berada di titik nadir, tak luput dari kesalahan (tetapi belajarlah dari itu). Bukan kamu saja kok yang merasa hidupnya tidak atau kurang sempurna. Nasihat Epictetus:

Penyesalan adalah penyia-nyiaan energi emosional.

Nikmati dan terima apapun dirimu menjadi kini dan kasihi dirimu sepenuh kewelasan, tanpa syarat. Kamu apa adanya cuma manusia, dan terima dirimu, takdirmu, dalam keadaan apapun kamu menjumpai keadaanmu.


8/ Memento Mori

Para pengikut Stoik menaruh minat khusus pada kematian dan tidak tabu membahas serta mendiskusikannya. Kematian adalah esensi yang tidak dapat dihindari dari apa saja yang hidup, eksistensi manusia. Mengingatkan pada diri akan kematian menjadikan kita terdorong untuk berbuat sesuatu yang baik untuk sesama di kehidupan ini, lebih bisa menghargai momen dengan orang dan sahabat yang kita sayangi dan mendapat tempat khusus di benak kita. Dan entah bagaimana sifat altruistik menyembul tanpa perlu dikhotbahi.

Ilustrasi Seneca menjelang melakukan liberis mortum arbitum (hukuman mati untuk membunuh diri sendiri).
Frasa estetik ini bisa diartikan "Ingatlah kematian" atau "Kamu akan mati". Sebagai manusia ada saatnya kamu akan disapu dari muka bumi. Ingat, kamu cuma debu kosmik yang tak signifikan baik sebagai eksistensi atau rentang waktu eksistensinya dibanding alam semesta—kamu yang sejati. Kamu hanya atom yang sedang tergabung mewujud begini saat ini, akan ada saatnya akan terpencar. 

Mulailah merenungkan kematianmu mulai sekarang, persiapkan sebaik mungkin. Misalnya melepaskan ikatan-ikatan jerat keduniawian, kemelekatan kita. Luangkan waktu menyendiri berkontemplasi. Sedikit demi sedikit akan membantu mental kita rela melepas tanpa melakukan perlawanan saat proses kematian terjadi pada tubuh. Nasihat Epictetus,
Jika kematian kamu takutkan, maka kematian di luar pengetahuanmu.


9/ Oikedsis

Kira-kira dapat diartikan tentang prinsip kemanusiaan universal, swmacam ķonswo lkngkaran kepedulian antat sesama tak peduli apa identitasnya. Kita demi kebahagiaan diri, adalah bajik mengembangkan dan memberikan rasa simpati ke siapa pun, dalam kondisi mereka bersuka cita atau berduka. Ikut merasa bahagia karena kebahagiaan mereka, ikut merasakam kesedihan bila mereka mereka merasa demikian.


10/ Premeditatio Molorum

Secara harfiah, kita harus berani membayangkan kemungkinan suatu hal hang kita inhini atau kerjakan berbuah menyakitkan. Suatu bentuk kontemplasi yang dalam dunia terapi modern dikenal dengan istilah visualisasi negatif. Dengan kata lain, kita diajarkan mengadopsi pola pikir mental contrasting. Menginginkan dan mengusahakan sesuatu pasti terkandung dua posisbilitas, jika tidak berhasil adalah gagal.




Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...