Langsung ke konten utama

Postingan

Narasi Kontemporer 4 Kebenaran Disampaikan Guru Gautama

Beliau mengatakan bahwa kita sebagai mahluk dengan atribut mental seringnya jatuh pada suasana psikis yang tidak nyaman. Misalnya kegelisahan, bosan, sumpek, diselimuti amarah, iri, muak, dengki, mengelukan ini dan antipati itu, kebencian, putus asa, kekecewaan, rasa rindu, rasa kehilangan semisal kehilangan seseorang yang telah mati, dan ketidaknyamanan psikis lainnya.  Beliau tidak menyangkal bahwa rasa bahagia itu dapat kita alami. Namun bahkan ketika psikis kita mengalami rasa itu, munculnya rasa itu secara halus juga dibarengi rasa takut kehilangan rasa atau pengalaman psikis meringankan itu. Bahkan ketika flashback ke belakang, ke sepanjang hidup telah kita alami, saya yakin kita lebih mengalami yang oleh mental kita terasa tidak nyaman. Inilah yang diistilahkan dukkha (penderitaan atau ketidakpuasan). Pokoknya, semua kondisi psikis yang kita rasakan tidak nyaman.  Ketika kondisi psikis kita muncul hal-hal tadi, apakah terasa nyaman? Jawabnya tidak. Saya yakin bukan saya...

Hakikinya Kita Semua Ingin Mengalami Kebahagiaan

Ajaran Buddha, atau leluhur Jawa kuno biasa menyebut ilmu kebatinan (karena berurusan dengan batin/minds kita sendiri), dalam tradisi sufistik/tasawuf dalam islam diistilahkan ilmu hakikat/makrifat yang ditempuh melalui suluk ( lelaku /laku praktik), itu jika kita mampu menyederhanakannya, menurutku mudah.  Namun menjadi tidak mudah karena kita diajak menghadapi insting primitif kita. Insting primitif ini diistilahkan nafsu dalam islam. Sebangun dengan istilah Sang Buddha yang bisa kita katakan ilusi atta , ilusi alam bawah sadar berupa anggapan keterpisahan diri dan adanya sesuatu yang kekal di dalam susunan kompleks zat-zat alam semesta yang bersenyawa itu. Ilusi atta atau nafsu inilah sebab mengapa kita sulit merealisasi syukur dan ikhlas, istilahku. Butuh keberanian besar menghadapi rasa sakit yang muncul pada otak kita ketika ada seseorang memberi gambaran akan ajaran beliau.  Karena itu pula mengapa saya beberapa kali bertanya ke lawan diskusi ketika mereka bertanya ten...

A Man Called Otto: Film tentang PTSD dan Dukungan Sosial

A Man Called Otto , film drama-komedi yang menurutku layak tonton. Delapan koma lima dari sepuluh, rating yang menurutku layak untuk film yang rilis beberapa tahun lalu. Aku menontonnya beberapa kali. Baru setelah menonton kali yang ini kok tiba-tiba pengen meresensinya. Plot Cerita Berpusat pada tokoh utama Otto Anderson (Tom Hanks) yang hidup di kompleks perumahan kecil dan tetangganya. Otto digambarkan sebagai gugup, sosok tertib dan disiplin, kaku, ketus dan tidak bisa basa-basi, orang yang menyukai mesin, dan unsocialable walau sebenarnya ia peduli dengan tetangga-tetangganya. Tom Hanks berhasil memerankan tokoh Otto yang penyintas PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Otto bersama sahabat karib sekaligus tetangganya dahulu, adalah duo penjaga lingkungan mereka; mereka berdua yang sering ronda lingkungan mulai dari mengecek sampah apakah sudah sesuai tempatnya sampai pagar perumahaman. Dunia Otto berubah sejak meninggalnya sang istri. Di kompleks perumahannya, Otto memiliki tet...

Tips Bernavigasi di Segala Situasi Hidup dari Enchiridion-nya Epictetus

Ini adalah buku saku, dimensi tidak kecil tetapi juga tak terlalu besar. Enchiridion sendiri berarti "buku saku". Anda tidak mendapatkan tulisan-tulisan bertema berat dan panjang, tetapi kunci-kunci bagi ragam tema untuk lincah bernavigasi di segala situasi kehidupan Anda hadapi. Lebih-lebih mengenai kematian, Epictetus dalam beberapa kutipan di buku ini, tampak memberi perhatian khusus. Kematian, sebuah fenomena alamiah yang tampak sulit diterima oleh khalayak awam. Buku saku ini, seperti tertulis di kata pengantar, adalah rangkuman poin-poin yang dibuat Arianus, siswa Epictetus. Jadi, walau menisbatkan penulisnya adalah Epictetus, tetapi ini adalah ringkasan-ringkasan dari diskusi Arianus dengan Epictetus, yang kemudian disusun dalam bentuk pedoman-pedoman singkat, mirip-mirip quotes dengan sedikit penjelasan dan kadang disusuli analogi. Walau Stoikisme memiliki sejarah panjang dan tidak melulu membahas ethica (moralitas dan kebijaksanaan menjalani hidup), tetapi pengaja...

Tong Sampah dan Mengelap Kaca

Setiap manusia yang terlahir mengalami masalah-masalah dalam kehidupannya. Mungkin saya pribadi sudah selesai dengan pencarian batiniah tentang kehidupan ini. Sisanya, masalah-masalah praktis kehidupan seperti mencari makan dan cari duit beli udud . Empati Peka Pengalaman-pengalaman pahit memunculkan dua hal dalam diri seseorang.  Pertama , semakin ia apati dan menindas potensi-potensi baik nuraninya. Seperti pengamatan Victor Frankl kepada penghuni getto, yang ditulis dalam buku  Man's Search Meaning . Pengamatannya menyimpulkan, pengalaman-pengalaman pahit dan tak berdaya yang pernah dialami seseorang, ketika ia telah terbebas atau keluar dari situasi itu, ia akan mengalami apa yang Frankl istilahkan depersonalisasi. Ditandai menumpulnya emosi dan kepekaannya dan derajat kemanusiaannya turun ke level primitif, kemudian disusul keinginan melampiaskan beban psikis pengalaman pahitnya ke siapa saja yang lemah dan mengalami hal yang pernah ia alami dahulu. Kedua , pengalama...

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Beberapa Poin tentang Pendekatan Buddhisme Sekuler

Buddhisme Sekuler, kadang diistilahkan Buddhisme Humanistik, adalah sebuah pendekatan kontemporer yang reinterpretatif, yang berkembang terutama di kultur masyarakat Barat. Dari perspektif ini, para penengok ajaran Buddha Sakyamuni mencari warisan kuno tentang bagaimana secara mental bernavigasi di dunia era kontemporer yang mana walau banyak invensi penunjang hidup dan pemenuhan aspek material relatif lebih mudah, ternyata bagi sebagian orang tetap tidak menghadirkan ketenangan. Pendekatan Intelektual Buddhisme Sekuler jika ditengok dari kecenderungan para pengusungnya memakai kerangka intelektual. Suatu pendekatan yang jika dicermati adalah kombinasi antara mengkaji kritis pernyataan-pernyataan (ajaran) Buddha Sakyamuni terhadap pengalaman-pengalaman hidup personal penengok ajaran itu. Para penengok ajarannya ini, dalam pendekatan sekuler, mencari sesuatu yang berharga. Karenanya, para penengok ajaran ini, dalam level beda-beda, tidak menerima ajaran sebagai dogma, tetapi hipotes...