Setiap manusia yang terlahir mengalami masalah-masalah dalam kehidupannya. Mungkin saya pribadi sudah selesai dengan pencarian batiniah tentang kehidupan ini. Sisanya, masalah-masalah praktis kehidupan seperti mencari makan dan cari duit beli udud.
Empati Peka
Pengalaman-pengalaman pahit memunculkan dua hal dalam diri seseorang. Pertama, semakin ia apati dan menindas potensi-potensi baik nuraninya. Seperti pengamatan Victor Frankl kepada penghuni getto, yang ditulis dalam buku Man's Search Meaning.
Pengamatannya menyimpulkan, pengalaman-pengalaman pahit dan tak berdaya yang pernah dialami seseorang, ketika ia telah terbebas atau keluar dari situasi itu, ia akan mengalami apa yang Frankl istilahkan depersonalisasi. Ditandai menumpulnya emosi dan kepekaannya dan derajat kemanusiaannya turun ke level primitif, kemudian disusul keinginan melampiaskan beban psikis pengalaman pahitnya ke siapa saja yang lemah dan mengalami hal yang pernah ia alami dahulu.
Kedua, pengalaman pahit membuat seseorang sensitif terhadap pengalaman-pengalaman menekan, getir, dan pahit yang sedang dialami orang lain. Bagi mereka ini, lumpur kehidupan yang menenggelamkannya menjadi nutrisi bagi jiwanya, seperti teratai yang tumbuh merekah dari lumpur. Pengalaman berhadapan situasi menekan dan pahit mengasah kepekaan empatinya ketika situasi sulit menghimpit orang lain. Ia peka dan sering tenggelam perasaan bagaimana rasanya itu.
Orang yang tipe kedua ini rentan mengalami gangguan kembal secara kejiwaan. Bisa saja ia tersita pikirannya dan kemudian terseret suasana perasaannya dalam arus.
Tong Sampah
Dua kisah yang menginspirasi pernah saya baca. Pertama, dari Ajahn Brahmavamso (Peter Betts atau kerap disapa "Ajahn Brahm). Kedua, dari Master Zen Thich Nhat Hahn.
 |
| Ajahn Brahm |
Kisah pendek dari Ajahn Brahm saya baca jika tidak di
Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya, maka di buku
Virus Karuna. Dalam kisah-kisah pendek menggugah, beliau sebagai tokoh spiritual sering didatangi orang-orang membawa permasalahan hidupnya, untuk meminta saran dan solusi.
Beliau mengibaratkan pengalaman pribadi dikunjungi orang-orang dengan aneka rupa problem kehidupan keduniawian, mengibaratkannya sebagai tong sampah, tempat menumpahkan dan membuang semua problem kehidupan. Artinya, beliau harus mampu mengosongkan sampah, menjaga ketenangan batin agar tidak terkontaminasi. Membeningkan kembali batinnya.
Tak dipungkiri, sebagai "'tong sampah" sering kali mendengar cerita-cerita orang yang mendatanginya dengan pelbagai persoalan hidupnya, ini mengundang rasa empati dan jika tidak eling terhadap perubahan kondisi internal dalam diri, ikut terlarut dan akhirnya terganggu. Pasti secara emosional mengalami tidak nyaman. Keseimbangan batin kita bisa saja malah ikut terganggu.
Kedua, dari Master Zen Thich Nhat Hahn. Seperti tertulis dalam buku Memahami Pikiran. Beliau di salah satu bab di bukunya menulis bahwa sebagai sosok yang sering dikunjungi orang-orang mencari nasihat akan ketenangan jiwa dari problem-problem kehidupan.
Beliau berkata bahwa ada saatnya para guru spiritual yang sering dicurhati masalah khalayak menarik diri dari kontak rutin waktu konsultasi. Menarik diri dan menyepi untuk secukupnya waktu. Tujuannya, membersihkan suasana psikis dari transmisi energi-energi negatif dari setiap orang yang mengunjunginya dengan segala problem hidupnya.
 |
Thich Nhat Hahn |
Bagian yang berkesan yang bersumber dari dua buku di atas memberi pribadi saya pemahaman kebijaksanaan bagaimana menyeimbangkan antara aspek ketenangan batin kita dengan interaksi sosial kita serta pengabdian ke komunitas.
Menyepi dan Kesejahteraan Jiwa
Dari dua kisah guru spiritual tadi terkait pengalaman bersinggungan dengan khalayak, kita dapat memetik pesan bahwa kita pun perlu untuk beberapa lama dan secara berkala menarik diri dari kehidupan sosial. Untuk sementara waktu menyebdiri, menyepi, dan menepi. Seperti quotes inspiratif saya ingat dari Jiddu Krishnamurti:
Menyendiri bukan berarti kesepian. Itu berarti pikiran tidak terpengaruh dan terkontaminasi oleh masyarakat.
Ini tujuannya untuk memulihkan psikis atau membeningkan kembali batin kita dari debu-debu yang masuk melalui adanya interaksi sehari-hari, bertemu banyak orang dengan berbagai energi, terutama energi negatif yang tertransmisi. Membatasi interaksi untuk sementara waktu adalah cara membersihkan "kaca dari debu", batin kita agar segar kembali.