A Man Called Otto, film drama-komedi yang menurutku layak tonton. Delapan koma lima dari sepuluh, rating yang menurutku layak untuk film yang rilis beberapa tahun lalu. Aku menontonnya beberapa kali. Baru setelah menonton kali yang ini kok tiba-tiba pengen meresensinya.
Plot Cerita
Berpusat pada tokoh utama Otto Anderson (Tom Hanks) yang hidup di kompleks perumahan kecil dan tetangganya. Otto digambarkan sebagai gugup, sosok tertib dan disiplin, kaku, ketus dan tidak bisa basa-basi, orang yang menyukai mesin, dan unsocialable walau sebenarnya ia peduli dengan tetangga-tetangganya. Tom Hanks berhasil memerankan tokoh Otto yang penyintas PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).Otto bersama sahabat karib sekaligus tetangganya dahulu, adalah duo penjaga lingkungan mereka; mereka berdua yang sering ronda lingkungan mulai dari mengecek sampah apakah sudah sesuai tempatnya sampai pagar perumahaman. Dunia Otto berubah sejak meninggalnya sang istri.
Di kompleks perumahannya, Otto memiliki tetangga-tetangga yang peduli satu sama lain untuk saling menjaga dan bahu membahu perihal lingkungan. Terlebih sejak kedatangan Marisol dan Tomy, tetangga baru asal Meksiko yang ngontrak persis di seberang jalan rumah Otto. Keseruan cerita dimulai.
Dengan gaya khas keluarga Meksiko yang hangat dan peduli ke sekitar, terutama Marisol yang lucu dan notabene lulusan psikologi, mencoba memasuki kehidupan Otto dan berusaha membantunya keluarga dari bayang-bayang mendiang istri dan calon bayinya.
Kesehatan Mental, Realita Nasional, dan Dukungan Sosial
Film Tom Hanks ini mengangkat multi isu mulai dari konflik ringan bertetangga, transgender, interaksi multi ras dan etnik/kebangsaan, hingga isu kesehatan mental. Tak ketinggalan kapitalisme dan fenomena "viralisme" ala media sosial. Semua isu yang diangkat tadi teracik sedemikian ruap menjadi sebuah plot menarik dan hidup, walau saya menangkapnya isu utama diangkat adalah gangguan mental PTSD dan pentingnya dukungan sosial.Saya bertanya sederhana ke AI Whats Up tentang isu kesehatan mental di Indonesia. Aplikasi, dengan mengutip laporan dari survei hasil survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), menjawab bahwa pada 2023, satu dari tiga remaja (34,9%). Adapun prevalensi remaja pengidap PTSD adalah 0,25% atau setara 2,45 juta dari total 15,5 juta remaja di Indonesia yang memiliki setidaknya satu problem terkait kesehatan mental.
PTSD adalah sindrom yang diidap seseorang pasca pengalaman tidak mengenakkan yang dapat bermacam-macam. Misalnya, pengabaian emosional masa kanak-kanak, kehilangan pasangan, pengalaman traumatik pasca perang (banyak diidap militer AS), dst. Sindrom dicirikan dari kesedihan mendalam penyintas, terisolasi dan mengisolasi dari sosial, fluktuasi emosi, mudah iritasi/tersinggung dan perilaku agresif dan impulsif, dan hiperaktif serta perfeksionis. Jadi, bisa saja orang di sekitar kita mengalami PTSD walau sekilas tampak normal-normal saja.
Pesan Film
Pesan film ini mengampanyekan pentingnya kepekaan orang sekitar bilamana di sekitar ada penyintas, direpresentasikan dalam diri Marisol. Hingga ending film menggambarkan Otto yang berwasiat bahwa properti dan mobilnya diwariskan ke Marisol. Tak ketinggalan tabungannya. Sebagai rasa terima kasih karena Otto menemukan makna hidup kembali selepas kepergian istri tercinta, Sonya, dan calon bayinya.Seorang Marisol, psikolog dan pembawaan lucu serta hangat khas perempuan Meksiko beserta suami dan anak-anaknya pengisi kekosongan makna hidup Otto, karenanya ia mampu menyelesaikan tugas hidup dan pergi meninggalkan dunia dengan cara alamiah.

