Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya (atta), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.
Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif.
Gaya Kebahasaan
Gaya pengungkapan kebahasaan Tolle dalam beberapa bagian menciptakan istilah-istilah teknis tersendiri, yang membacanya perlu kejelian interpretasi karena mungkin bagi sebagian pembaca tidak familiar. Begitu juga menangkap ungkapan-ungkapan metaforis dari gagasan disampaikan, Tolle sedikit banyak terpengaruhi gaya retorika kebahasaan India Kuno, tak terkecuali Buddhisme, yang acap menyampaikan penjelasan doktrin-doktrinnya dalam bentuk metaforis—juga alegori/kiasan.Gema Ajaran Kuno
Tolle dengan bahasanya secara esensial menyampaikan, dalam pembacaan saya, ajaran paling fundamental Buddhisme yaitu tiada-diri atau kadang diistilahkan sebagai non-ego (anatta). Namun patut ditekankan bahwa walau pengekspresiannya menggunakan perancah bahasa (satu pilar diantara empat penopang filsafat, yaitu logico) bagi siapa saja yang belum familiar dengan esensi filsafat India Kuno yang utamanya menekankan keterbebasan dari (dalam bahasa kekinian saya sebut) problem-problem eksistensial dan turunannya yaitu gangguan-gangguan psikis, Anda besar kemungkinan terperangkap pada penalaran proposisional, padahal bukan itu titik tujuannya. Melainkan justru mental Anda terlepas dari aktivitas berlogika ataupun bernalar. Mengalami hidup yang sebenarnya hidup. Dan, tahukah Anda yeng benar-benar disebut hidup itu kapan?
Korelasi Erat Tiada-diri dan Kesaatkinian
Filsafat Buddhis bukan berkutat memahami propisisi-proposisi sebagai logis atau tidak logis, bukan itu tujuan puncaknya. Sekalipun logika dijadikan jembatan transmisi pengajarannya. Karenanya, bagi yang belum familiar gaya filsafat India Kuno (dan Asia Bagian Timur semisal Taoisme) pada umumnya yang baru awal-awal bersinggungan dengan filsafatnya akan menilainya sebagai paradoks. Jika demikian, Anda masih mengadopsi logika formal, atau dalam filsafat Buddhis sebagaimana disampaikan guru-guru Dharma diistilahkan "realitas konvensional". Anda masih berkutat dan berputar-putar di ranah ini.
Tolle Cerdik: Menyuguhkan Isi, Bukan Bungkus dan Label
Seperti telah diutarakan di atas, esensi yang disampaikan Tolle adalah perihal ajaran filsafat Buddhisme, yang termasuk satu dari sekian aliran filsafat India Kuno, yang titik berangkatnya lahir dari pertanyaan filosofis tentang bagaimana kita di kehidupan ini bisa mengatasi gangguan-gangguan psikis yang merupakan turunan dari kemampuan kognisi kompleks kita berupa merasa ada atau mengada (eksistensial). Tolle yang cerdik—Buddha Gotama pun sependek saya tahu tak pernah menyebut "Ajaran ini kunamakan 'Buddhisme' atau 'Agama Buddha'"—menghindari istilah-istilah yang bagi awam yang masih terjebak ilusi mental menimbulkan reaksi antipati dan sentimen emosional terhadap istilah-istilah tertentu.
Terinspirasi Ajaran Buddha Gotama, Tolle yang cerdik menyampaikan bagaimana kita mewujudkan kebahagiaan murni dalam bahasa yang netral, menggunakan bahasa kekinian dan menghindari kata-kata tertentu yang mungkin bagi sebagian awam memunculkan reaksi penolakan secara emosional. Sebagaimana Ajaran Sang Buddha perihal mewujudkan Kebahagiaan Murni di kehidupan kita, Tolle menyampaikan perihal itu dalam eksplanasinya sendiri di buku ini.
Dengan menempuh retorika demikian, yaitu menghindari label atau bahasa tertentu yang identik diasosiasikan ke keagamaan tertentu, yang secara alam bawah sadar memunculkan reaksi tertentu semisal antipati karena satu dan lain sebab, siapa yang tidak setuju bahwa sebenarnya yang kita cari-cari di kehidupan ini adalah kebahagiaan murni, ketenteraman psikis, atau ayem batin? Tolle di buku ini menyuguhkan isi, mengesampingkan bungkus (label dan asosiasi). Dan inilah cara terbebas dari gangguan emosional negatif. Inilah jalan kebahagiaan. Inilah jalan Kebijaksanaan kuno mengarungi kehidupan.