Ajaran Buddha, atau leluhur Jawa kuno biasa menyebut ilmu kebatinan (karena berurusan dengan batin/minds kita sendiri), dalam tradisi sufistik/tasawuf dalam islam diistilahkan ilmu hakikat/makrifat yang ditempuh melalui suluk (lelaku/laku praktik), itu jika kita mampu menyederhanakannya, menurutku mudah.
Namun menjadi tidak mudah karena kita diajak menghadapi insting primitif kita. Insting primitif ini diistilahkan nafsu dalam islam. Sebangun dengan istilah Sang Buddha yang bisa kita katakan ilusi atta, ilusi alam bawah sadar berupa anggapan keterpisahan diri dan adanya sesuatu yang kekal di dalam susunan kompleks zat-zat alam semesta yang bersenyawa itu. Ilusi atta atau nafsu inilah sebab mengapa kita sulit merealisasi syukur dan ikhlas, istilahku.Butuh keberanian besar menghadapi rasa sakit yang muncul pada otak kita ketika ada seseorang memberi gambaran akan ajaran beliau.
Karena itu pula mengapa saya beberapa kali bertanya ke lawan diskusi ketika mereka bertanya tentang hakikat kehidupan atau kenyataan hidup: Apakah otakmu muncul rasa sakit? Tidak terkecuali seorang kawan Ponorogo yang mengajak diskusi hingga pagi terang di November tahun kemarin, dan ia jawab jujur bahwa rasanya sakit.
Itulah yang harus kamu hadapi, kamu "perangi" kalau istilah Muhammad sebagaimana tercatat di suatu potongan hadis. (Walau bagi saya istilah perang ini agak aneh dan mencerminkan apa yang di dalam.)
Kalau kita tak pernah sekalipun berani menghadapinya, kalian berarti kategori Ya ayyuha an-nafsu almutmainnah, irji'i ila robbik. Artinya, hanya ketika kamu mati saja jalan satu-satunya bagi kamu terbebas dari dibingungkan pikiranmu, dibingungkan batinmu, dibingungkan nafsumu, atau psikismu yang selalu diselimuti hasrat keinginan (pepengen).
Tentu ketika seseorang telah mengenali Dharma Sejati, atau Hakikat, atau Kasunyatan urip sebagaimana adanya, adalah membahagiakan atau melegakan.
Bagi saya semua pengetahuan yang mendorong kita menyadari hakikat kehidupan, itulah pengetahuan sejati. Karena melepaskan diri dari pandang indra kita dari ilusi, menyingkirkan ke-mahjub-an kita.Semua ngelmu Hakikat, atau Dharma, apa pun tradisi pengajarannya, menuju ke satu arah yaitu lautan kebebasan batin. Semua air laut sama asinnya. Membawa kita dari terbebas belenggu batin yang memberatkan dalam hidup.
Mungkin di luar sana ada yang memakai manual petunjuk dari tradisi pengajaran yang bukan dirancang Sang Buddha—Saya menjumpainya satu orang, kawanku sendiri. Hanya saja, menurutku Ajaran Sang Buddha-lah yang menyusun roadmaps ke "samudera kebebasan batin" paling presisi dan tercepat.
Ya, Anda semua, kita semua dapat mengalami Kebahagiaan sebagaimana disampaikan Sang Buddha itu. Namun itu bukan semacam hadiah yang diberikan oleh seseorang, yang diberikan oleh Sang Buddha, atau diberikan oleh Sosok Magis nan Ajaib yang katanya mengawasi Anda terus-terusan di langit tinggi sana entah di pojok pojok mana. Anda harus mempelajari roadmaps itu sendiri, kemudian menyusuri dan menapakinya sendiri. Itulah yang dimaksud suluk, lelaku.
