Buddhisme Sekuler, kadang diistilahkan Buddhisme Humanistik, adalah sebuah pendekatan kontemporer yang reinterpretatif, yang berkembang terutama di kultur masyarakat Barat. Dari perspektif ini, para penengok ajaran Buddha Sakyamuni mencari warisan kuno tentang bagaimana secara mental bernavigasi di dunia era kontemporer yang mana walau banyak invensi penunjang hidup dan pemenuhan aspek material relatif lebih mudah, ternyata bagi sebagian orang tetap tidak menghadirkan ketenangan.
Pendekatan Intelektual
Buddhisme Sekuler jika ditengok dari kecenderungan para pengusungnya memakai kerangka intelektual. Suatu pendekatan yang jika dicermati adalah kombinasi antara mengkaji kritis pernyataan-pernyataan (ajaran) Buddha Sakyamuni terhadap pengalaman-pengalaman hidup personal penengok ajaran itu. Para penengok ajarannya ini, dalam pendekatan sekuler, mencari sesuatu yang berharga. Karenanya, para penengok ajaran ini, dalam level beda-beda, tidak menerima ajaran sebagai dogma, tetapi hipotesis yang diuji oleh pengalaman pribadi. Para penengok ini sangat selektif dan tahu kebutuhan yang sedang dicari-carinya.Penekanan Buddhisme Sekuler
Walau jika kita jeli akan menyadari bahwa ajaran Buddha Sakyamuni sejak mula kemunculannya sangat humanistik, Buddhisme Humanistik adalah tren yang berkembang di Barat pada abad keduapuluh.Buddhisme Humanistik menekankan pada praktik sehari-hari, tidak dogmatis, dan menekankan kebebasan berpikir dan memilah mana-mana ajaran yang bermanfaat bagi seseorang itu sesuai level inteleknya memahami dan kebutuhan akan itu bagi kehidupan sehari-hari.
Secara general, Buddhisme Humanistik penekanannya adalah pada praktik mindfulness (dalam ungkapan Jawa diistilahkan eling lan waspadha/nyepadakné), welas asih dan menumbuhkan kualitas empati lebih tajam, moralitas, dan latihan diri mengembangkan harmoni bukan saja dengan sesama tetapi juga keseluruhan mahluk dan alam.
Aspek Personal
Buddhisme Humanistik titik tekannya adalah pengalaman psikis personal dan bagaimana seseorang itu menjadi sehat sejahtera secara psikis di tengah naik turun jalannya kehidupan. Dapat dikatakan pendekatan ini adalah pendekatan dan latihan bagaimana seseorang itu menjadi terapis bagi dirinya sendiri (self-therapist) terhadap gangguan-gangguan psikis yang muncul dalam dirinya. Penekanan pada kemanfaatan praktis berupa kesehatan mental.Buddhisme Humanistik terhadap Tradisi dan Kebudayaan
Dalam pandangan pribadi, tak ada yang salah dengan tradisi-tradisi dan kebudayaan yang berkembang dan diasosiasikan ke ajaran. Toh, apa mungkin manusia tidak mengembangkan tradisi kebudayaan? Walau kita perlu kejelian memilah mana kulit gabah dan isi gabah. Kemampuan memilah perlu demi menemukan "permata" di balik Buddhisme.
Tentu saja Buddhisme hanya ajaran. Ibarat jembatan atau jalan, Buddhisme bukan tujuan. Ia ibarat telunjuk yang menunjuk. Telunjuk yang menunjuk bukan yang ditunjuk, bukan yang dimaksud. Ibarat telunjuk, Buddhisme adalah telunjuk yang mengarah ke sesuatu yang begitu berharga, tidak di luar diri tetapi dalam diri kita sendiri.