![]() |
| Dok. Pribadi. |
Struktur masyarakat Asia secara umum ditandai hubungan antarindividunya cenderung terorganisir rapat, strukturnya menekankan "ke-kami-an" dan hirarkis. Masyarakat Asia lebih menekankan keteraturan sosial, harmoni, menghindari konflik, dan hirarkis. Mereka cenderung bersepakat dengan apa yang menjadi standar yang disetujui kelompoknya. Interaksi sosial antarindividu diatur berbagai norma sedemikian rupa, misalnya hubungan antara yang lebih muda dengan yang lebih tua atau tak boleh berkata intonasi tinggi dan kata-kata mengalir rapat. Dalam komunikasi, karenanya, dicirikan sikap kehati-hatian berbicara dan cenderung berbelit-belit dalam mengekspresikan pikirannya.
Masyarakat Asia atau timur adalah Galilean. Mereka secara psikologis sebisa mungkin menjaga keterikatan kolektif dirinya dengan pihak lain dalam komunitas. Kecenderungan psikologis ini untuk menghindari pengucilan dari organisasi masyarakat yang rapat itu. Pilihan-pilihan atau aktualisasi individu artinya harus mempertimbangkan pula pandangan-pandangan yang disepakati masyarakatnya, yang acapkali menghambat.
Yang dimaksud masyarakat Asia oleh Ng Aik Kwang dalam bukunya di atas adalah masyarakat di Singapura, Tiongkok, Jepang, Taiwan, Korsel, dan Hongkong. Masyarakat di negara-negara tadi adalah objek pengamatannya, yang secara relatif terpengaruh watak Konfusian, patriarki, kolektivisme-komunal, dan hirarkis. Dalam konteks Indonesia, Kwang hanya memakai frasa "Asia Kepaulauan".
Di Timur, kepatuhan kepada orangtua menjadi hal yang paling prinsip. Hal ini mengacu pada kebutuhan seseorang menaati, dan mematuhi orangtua dan tidak melakukan hal-hal yang mengecewakan dan mempermalukan mereka.
Contoh yang bisa disimak dari pepatah yang ada di masyarakat misalnya, "Paku yang menonjol, dipalu!", begitu pepatah Tiongkok yang menggambarkan struktur masyarakat timur pada umumnya.
Di negara-negara tadi, secara fundamental pengaruh filosofi Konfusianisme kentara, meski secara relatif tidak benar-benar sepenuhnya mirip satu sama lain. Misalnya, masyarakat Jepang lebih akomodatif dan terbuka terhadap stimulus budaya lain di masa Restorasi Meiji dan itu membuatnya mampu bertahan menghadapi ekspansi barat pada era kolonialisme, karena terbuka melakukan asimilasi dengan ide-ide baru, misalnya ide-ide inovatif diplomasi ala barat. Sementara Qing di Tiongkok kala itu,
... memilih tertutup dari stimulus budaya lain. Namun begitu secara umum, masyarakat barat adalah Ptolemian, menekankan pada 'ke-aku-an'. Tipikal struktur masyakatnya terorganisir tidak rapat. Bertipikal liberal-individualistik, yang dari itu lahir etos egaliter, kesederajatan atau kesetaraan. Juga tidak terikat norma yang menjadi standar etika bersosial ketat sedemikian rupa, hanya terikat hukum. Mereka secara psikologis terbebas dari belenggu kolektif atau terpisah—atau tidak rapat—dengan entitasnya.
Karenanya, individu masyarakat barat lebih cenderung mengejar tujuan hidup dan aktualisasi diri sendiri tanpa perlu persetujuan entitasnya, otonom, dan percaya akan keunikan dirinya sendiri. Sebaliknya, masyarakat juga lebih mengapresiasi kreativitas dibanding timur. Struktur masyarakat semacam ini adalah alat budaya. Arieti mengistilahkan masyarakat semacam ini dengan istilah creativogenic, karena tersedianya alat budaya.
Mozart tak akan sukses jika lahir di Afrika, bukan Austria.
Atau, Raden Saleh tak akan menjadi siapa-siapa jika tetap di Jawa, tidak bermigrasi ke Eropa Barat.
![]() |
| Penulis buku, Ng Aik Kwang. |
Namun begitu, entitas barat sendiri bukanlah entitas homogen, sama seperti Qing dan Meiji-Jepang di timur. Misalnya, antara masyarakat AS dengan Swedia memiliki perbedaan sikap atas terjadinya ketidaksetaraan pendapatan. Masyarakat Swedia tidak menolerir itu dan setuju adanya distribusi pendapatan melalui politik pajak, sementara masyarakat AS lebih menolerir ketidaksetaraan pendapatan. Ketidaksetaraan pendapatan di AS lebih tinggi, tak mengherankan jika milyarder dunia kebanyakannya dari AS, sementara tak satupun 10 besar orang terkaya berasal dari Swedia. Rasionya 9,0 di AS dan hanya 3,0 di Swedia.
Perbedaan struktur dua masyarakat barat dan timur juga tercermin dalam pola asuh anak. Di timur, kepatuhan pada orangtua adalah hal paling prinsipil. Hal yang mengacu pada menghormati, menaati, dan mematuhi orangtua. Ciri-ciri ini mengindikasikan struktur psikologis individu harus berjalan sesuai dengan moral eksternal.
Cara mendidik anak masyarakat timur ini oleh psikolog dari Hongkong, David Y. F., disebut authoritarian moralism. Tumbuh kembang anak dikondisikan sesuai dengan standar moral sosial-kolektif. Anak tidak didorong untuk mampu mengungkapkan pendapat, otonomi diri, dan kemandirian, dan menemukan dan mengasah keunikan dirinya. Athoritarian moralism menciptakan anak menjadi tergantung dan terikat kuat dengan sosialnya, pribadi interpendensi, paling utama ke orang-orang terdekat. Sebaliknya, pengasuhan anak di barat menekankan otoritas si anak sejak dini. Tujuan utama agar anak otonom, mandiri, serta mampu menjaga diri dan hubungan dengan orangtuanya terbangun atas otonominya sendiri.[]

