Langsung ke konten utama

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran.

Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas.

Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah dhammakaya, kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli."


Bingung? Anda banyak temannya kok. Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi sangat penting untuk memasuki Buddhisme Mahayana. Berikut ini adalah pengantar yang sangat mendasar untuk Dua Kebenaran.


Nagarjuna dan Madhyamika

Doktrin Dua Kebenaran berasal dari ajaran Madhyamika-nya Nagarjuna. Namun Nagarjuna mengekstrak doktrin ini dari perkataan Sang Buddha seperti yang tercatat dalam Tipitika Pali.

Dalam Sutta Kaccãnagotta (Samyutta Nikaya 12.15) Sang Buddha berkata,

Dunia ini, Kaccāna, sebagian besar bergantung pada dualitas—pada gagasan ke-ada-an dan gagasan ke-tiada-an. Tetapi bagi seorang yang melihat asal-mula dunia sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, tidak ada gagasan ke-tiada-an sehubungan dengan dunia ini. Dan bagi seorang yang melihat lenyapnya dunia sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, tidak ada gagasan ke-ada-an sehubungan dengan dunia.

Sang Buddha juga mengajarkan bahwa semua fenomena tampak, terkondisi karena diciptakan oleh fenomena lain (kemunculan intedependen). Namun apa sifat dari fenomena berkondisi ini?

Ajaran awal Buddhisme, Mahasanghika, telah mengembangkan doktrin yang disebut Sunjata, yang menyatakan bahwa semua fenomena adalah kosong dari esensi-diri. Nagarjuna mengembangkan Sunjata lebih jauh. Ia memandang kemengadaan sebagai medan kondisi yang selalu berubah yang menyebabkan banyaknya rentetan fenomena. Tetapi segudang fenomena itu kosong dari esensi-diri dan munculnya identitas hanya dalam kaitannya dengan fenomena lain.

Menggemakan kata-kata Sang Buddha dalam Sutta Kaccanãgotta, Nagarjuna mengatakan bahwa sejujurnya seseorang tidak dapat mengatakan bahwa fenomena itu ada atau tidak ada. Madhyamika berarti "jalan tengah", dan itu adalah jalan tengah antara negasi dan afirmasi.


Dua Kebenaran

Sekarang sampailah kita pada Dua Kebenaran. Perhatikan sekeliling kita. Kita melihat fenomena-fenomena yang khas. Saat saya menulis ini, saya melihat seekor kucing tidur di atas kursi, sebagai misal. Dalam pandangan konvensional, kucing dan kursi adalah dua fenomena berbeda dan terpisah satu sama lain.

Selanjutnya, kedua fenomena tersebut memiliki banyak bagian penyusun. Kursi dari kain dan "isian" dan rangka. Kursi juga memiliki punggung sandaran dan kaki-kaki dan lengan dan alas untuk diduduki. Lily si kucing memiliki bulu dan anggota tubuh serta kumis dan organ-organ tubuh. Bagian-bagian ini selanjutnya dapat direduksi menjadi atom. Saya mengerti bahwa atom dapat direduksi lebih jauh lagi entah bagaimana, tetapi saya akan membiarkan para fisikawan menangani itu.

Cermati seksama pula bahasa kita yang menyebabkan kita berbicara mengenai kursi dan Lily yang seolah-olah bagian-bagian komponennya adalah atribut yang dimiliki oleh sifat-diri kedua hal tersebut. Kita mengucapkan kursi memiliki ini dan Lily memiliki itu. Tetapi doktrin Sunjata mengatakan bahwa bagian-bagian komponen itu adalah kosong dari sifat-diri; menjadi susunan sedemikian rupa sekedar pertemuan banyak kondisi yang sifatnya sementara. Tidak ada yang memiliki bulu atau kain.

Lebih jauh, penampakan khas dari fenomena tadi, yaitu cara kita mengindera dan mengalaminya, sebagian besar diciptakan oleh sistem saraf dan organ indera kita. Dan identitas "kursi" dan "Lily" semata adalah proyeksi pikiran saya. Dengan kata lain, semua itu adalah fenomena khas di kepala saya, bukan di dalam hal-hal itu sendiri. Munculnya pembedaan ini adalah kebenaran konvensional.

(Saya berasumsi bahwa saya juga muncul sebagai fenomena khusus dalam otak Lily, atau setidaknya sebagai satu fenomena kompleks yang berbeda, dan mungkin dia memproyeksikan semacam identitas kepada saya. Setidaknya, dia terlihat tidak membingungkan saya dengan kotak kulkas.)

Namun dalam tataran absolut, tiada perbedaan. Yang absolut tergambar dalam kata-kata seperti tak terbatas, murni, dan sempurna. Dan kesempurnaan murni yang tak terbatas ini sama benarnya dengan keberadaan kita seperti kain, kulit, sisik, bulu, atau apa pun.

Juga  kenyataan relatif atau konvensional terdiri dari hal-hal yang dapat direduksi menjadi hal-hal lebih kecil lagi hingga tingkat atom dan sub-atom, hingga pada tingkat tiada dipisah-pisah lagi. Namun yang absolut bukanlah yang tersusun.

Dalam Sutta Prajnaparamitta, kita membaca: 

Bentuk adalah kekosongan; kekosongan adalah bentuk. Bentuk adalah tidak lain dari kekosongan; kekosongan adalah tidak lain dari bentuk.

 

Umumnya Kebingungan

Beberapa hal umum yang membuat orang salah memahami Dua Kebenaran. Pertama, orang terkadang menciptakan dikotomi benar-salah dan berpikir bahwa yang absolut adalah kenyataan yang benar dan yang konvensional adalah kenyataan palsu. Bagaimanapun, harus diingat, ini adalah dua kebenaran, bukan satu kebenaran dan yang satunya lagi kebohongan. Kedua kebenaran ini adalah sama-sama benar.

Kedua, absolut dan relatif sering digambarkan sebagai tingkatan kenyataan yang berbeda, tetapi itu mungkin bukan cara terbaik untuk menggambarkannya. Mutlak dan relatif tiada terpisah; juga yang satu tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Ini adalah pemahaman semantik yang rumit, mungkin. Namun, saya pikir, level kita memahami kata-kata bisa menciptakan kesalahpahaman.

© Stefan Kunze, unsplash.com

Melampaui

Kesalahpahaman umum lainnya adalah bahwa "pencerahan" berarti seseorang telah lepas dari kenyataan konvensional dan hanya mengalami yang absolut. Bagaimanapun ada orang bijak memberi tahu kita bahwa pencerahan sebenarnya melampaui keduanya. Patriark Chan Seng-ts'an (w. 606 M) menulis dalam Xinxin Ming (Hsin Hsin Ming):
Pada saat pandangan terang mendalam, Engkau melampaui baik kemengadaan maupun ketiadamengadaan.

Dan Karmapa ke-3 menulis dalam Harapan untuk Mencapai Mahamudra Tertinggi, 

Semoga kita menerima ajaran tiada cela, yang dasarnya adalah dua kebenaran
Yang bebas dari ekstrim kekekalan dan ketiadaan,
Dan melampaui jalan tertinggi dari dua akmulasi,
bebas dari penyangkalan dan penegasan yang ekstrim,
Tinggal dalam keadaan yang terkondisi atau hanya dalam keadaan damai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Struktur Masyarakat Timur dan Barat: Rangkuman Bab II Buku Ng Aik Kwang

Setelah memiliki gambaran tentang kreativitas pada unggahan sebelumnya (bab satu buku Kwang), yang ternyata erat sekali dengan budaya masyarakat di situ. Kita sekarang masuk ke struktur masyarakat yang bagaimana lebih kreatif. Mari menelaah struktur masyarakat timur atau Asia yang Galilean dan masyarakat barat yang Ptolemian sebelum membahas struktur psikologis masing-masing masyarakatnya. Tulisan ini adalah intisari dan adaptasi dari bab kedua buku Why Asians are Less Creative than Westeners  versi bahasa Indonesia, oleh Ng Aik Kwang, Doktor di bidang psikologi di National University of Singapore. Dok. Pribadi . Struktur masyarakat Asia secara umum ditandai hubungan antarindividunya cenderung terorganisir rapat, strukturnya menekankan "ke-kami-an" dan hirarkis. Masyarakat Asia lebih menekankan keteraturan sosial, harmoni, menghindari konflik, dan hirarkis. Mereka cenderung bersepakat dengan apa yang menjadi standar yang disetujui kelompoknya. Interaksi sosial antarindividu ...