Setelah di tulisan terdahulu kita mengenal struktur masyarakat timur dan barat, tulisan ini mencoba mengetengahkan rangkuman bab ketiga buku Ng Aik Kwang yang membahas hubungan kreativitas dengan psikologi individu di dua masyarakat yang diamatinya: timur dan barat.
![]() |
| Dok. Pribadi. |
Struktur relasi individu yang bertolak belakang antara timur dan barat tentu memengaruhi individu dalam menafsirkan, melihat, atau memaknai diri dalam kaitannya dengan orang lain: individu barat menekankan pemaknaan diri secara mandiri dan timur dependen pada hal-hal di luar diri.
Pemaknaan Diri dan Afirmasi
Dalam kaitan identitas makna diri, orang barat melihat makna dirinya sebagai individu yang mandiri (independet self-construal), mereka melihat dirinya sebagai individu dengan keunikannya sendiri, tidak terbelenggu konsepsi dari luar dirinya atau hal-hal yang secara standar disetujui komunitasnya seperti halnya individu timur. Oleh Kwang diistilahkan "afirmasi fitur positif". Utamanya menekankan diri dalam kaitannya dengan kemampuan, atribut, dan bakat. Tidaklah mengherankan jika individu barat suka berlebih memperlihatkan false uniqueness bias, yaitu kebiasaan menekankan diri pada afirmasi fitur positif. Dalam ungkapan sederhana: saya pandai melukis, saya ahli menari, saya mampu memainkan gitar dengan baik, atau aku pandai dalam menulis karangan cerita.
Struktur masyarakat yang renggang secara alamiah menggerakkan individu barat untuk mengenali sisi positif dalam diri, mengekspresikannya, dan mengasah serta mengembangkannya. Makna diri individu barat berkaitan erat dengan bagaimana ia merepresentasikan diri sebagai individu dengan atribut uniknya ketika bersosial dengan orang lain. Dapat disebut pula "konsep harga diri ala barat". Dalam kaitan mengasuh anak, karenanya, di barat akan menaruh pada fitur positif si anak, memuji, menyanjung, dan mengarahkan dengan seksama agar anak mengasah fitur positif yang unik, misalnya bakat si anak, yang muncul.
Berkebalikan dari itu, masyarakat timur dalam hal makna diri alih-alih mencari ke dalam diri, tetapi justru mencari dan bergantung pada orang lain atau komunitasnya (interdependent self-construal). Singkatnya, selalu menanyai dan mengkritik diri sendiri: apakah saya sudah bersikap dan bertingkah laku sesuai standar yang disepakati dan disetujui komunitas saya. Hal tadi muncul karena watak individu timur sebisa mungkin untuk menyatu dengan kelompoknya, menghindari konflik, dan konsep harga diri bergantung pada standar-standar komunitas. Terlebih mengingat struktur masyarakat timur yang terorganisir secara rapat.
Orang Asia cenderung mengkritik diri dalam bersikap, bertindak, menentukan tujuan hidup, dan berusaha menghindari konflik dengan sesamanya. Orang timur dalam memakna diri cenderung pada "afirmasi fitur negatif": sudahkah sesuai standar komunitas tingkah laku saya? Apakah dia tersinggung dengan perkataan to the point saya? Dst.
Dalam ungkapan Jawa terepresentasikan dalam ungkapan métani awaké ndewé dan ngumumi piantun lintu, yang dalam istilah masyarakat Jepang dinamakan hitonami, seseorang akan merasa lega, bahagia, dan menegakkan harga dirinya jika seseorang itu sama dengan orang umumnya.
Fenomena di timur ini, sebagaimana sudah disinggung di tulisan sebelumnya, sebangun dengan struktur masyarakatnya yang authoritarian moralism, yang juga berlaku ketika mengasuh anak. Dalam istilah sederhana, individu dikondisikan patuh, atau tidak menyimpang dari, standar eksternal. Berbeda dari watak individu barat yang sumber moral adalah adalah intrinsik pertinbangan dari otoritas dirinya dalam hal relasinya dengan individu lain dalam masyarakat.
Kepribadian
Selain berbeda dalam memandang dan menafsirkan diri, orang timur atau Asia juga berbeda dengan orang barat dalam sifat kepribadian.
![]() |
| Ng Aik Kwang. |
Dalam psikologi dikenal lima model besar kepribadian secara kovariatif: ekstrovert dan dominan, agreebleness atau mudah bersepakat, sifat berhati-hati atau conscientiousness, emosionalitas stabil, keterbukaan atas pengalaman atau openess to experience. Kesemua itu merupakan evolusi panjang sejak nenek moyang manusia dari zaman dahulu, dari pemburu-pengumpul hingga bercocok tanam, demi bertahan hidup dari kondisi alam yang liar dan serangan dari binatang buas di zaman itu.
Keterbukaan pada pengalaman
Tulis Kwang, ada perbedaan sifat kepribadian antara individu timur dan barat pada umumnya. Pertama adalah keterbukaan pada pengalaman baru. Dikatakannya:Seseorang yang terbuka dengan pengalaman digambarkan sebagai orang yang berulang kali butuh untuk menambah dan memperluas pengalamannya dalam hidup, baik dalam hal fantasi, estetika, perasaan, tindakan, ide, maupun nilai-nilai.
Individu dengan kepribadian semacam ini cenderung bereksperimen, menciptakan batasan-batasan baru dan melampauinya, dan tidak terikat dengan batas-batas nilai yang ditetapkan padanya oleh masyarakat. Sebaliknya, tulis Kwang:
Sosialisasi orang yang terbuka sangat bertolak belakang dengan pengalaman masa kanak-kanak dari orang yang tertutup dan biasanya cenderung dibesarkan oleh orangtua otoritarian dan 'overprotective'.
Tipikal masyarakat seperti ini dapat dijumpai pada masyarakat yang terpengaruh Konfusianisme, para orangtua cenderung otoriter dan mengandalkan disiplin sosial dalam menanamkan nilai-nilai yang sifatnya itu membatasi, dengan harapan si anak tumbuh selaras dengan standar komunitas dan asal-usul. Hal ini, jelas Kwang, mencegah mereka mengembangkan otonomi kepribadian diri serta menimbulkan saling ketergantungan (interpendensi) individu-individu dalam memaknai jati dirinya.
Kepribadian terbuka menurut riset diindikasikan lahir dari gaya sosialisasi yang hangat, suportif, relatif tidak dibuat-buat, individualistik, dan liberal. Sosialisasi semacam ini mendorong orang untuk bersikap dan bertindak orisinil, inovatif, dan eksploratif. Dalam kaitan pengasuhan, masyarakat sebagaimana disebut tadi membuat anak terlibat dalam eksperimen trial and error yang krusial bagi perkembangan berinisiatif anak.
Barat yang ekstrovert-dominat dan timur yang constrained-submissive
Selain terbuka pada pengalaman, kepribadian orang barat lebih cenderung ekstrovert dan dominan. Kepribadian semacam ini lebih intens mengalami pengalaman-pengalaman impulsif: marah, senang, bahagia, bangga, atau frustasi. Pengalaman psikologis semacam ini berujung pada usaha tambahan untuk mengekspresikan penegasan diri (self-defining) akan emosional tertentu tadi ke publik guna memastikan dan menegaskan dirinya, sekaligus sebagai validasi keunikan diri terhadap orang lain. Kecenderungan semacam ini diistilahkan primary control, yaitu usaha untuk menghadirkan kontrol psikologis atas segala hal di luar dirinya agar sesuai dengan kebutuhan personal dan hasratnya.
![]() |
| Individualisme vs. Kolektivisme (ilustrasi). |
Sistem Nilai Personal
Perbedaan terakhir antara orang timur dan barat adalah konteks nilai personal yang mereka pegang dalam hidup. Istilah "nilai personal" mengacu pada kepercayaan bahwa seseorang itu telah berpegang pada hal-hal yang ia inginkan, baik dalam bersikap atau meraih tujuan hidupnya. Nilai personal, untuk mudah dipahami, dapat dirumuskan sebagai "keharusan" dalam diri yang jika dipatuhinya menjadikan dirinya merasa benar dan jika diabaikan merasa bersalah. Fungsi nilai personal adalah mengekspresikan sikap yang didorong oleh tujuan seseorang itu.


