Langsung ke konten utama

Dogen Zenji

Dogen Zenji (1200-1253) adalah Master Zen dari Jepang, filsuf, seorang penulis puisi, dan pendiri tradisi Soto Zen di Jepang. Ia secara luas dianggap sebagai salah satu guru Zen terhebat dalam sejarah dan dihormati karena ajarannya yang mendalam tentang kesejatian realitas (kasunyatan) dan praktik meditasi.

Biografi ini akan mengeksplorasi kehidupan dan ajaran Dogen, termasuk masa-masa awal kehidupannya, ketergugahan spiritual, perjalanan ke Tiongkok, karya-karya, dan ajarannya. 


Masa-masa Usia Awal Dogen

Dogen Zenji.
Dilahirkan di tengah keluarga bangsawan tinggal Kyoto membuat Dogen kecil mendapat kualitas pengasuhan terbaik yang membentuk dirinya di kemudian waktu. Ayahnya adalah seorang pejabat teras pemerintah. Dogen dibesarkan dari lingkungan keluarga beruntung dengan akses terhadap pendidikan berkualitas dan peluang budaya. Di usia muda, Dogen dikirim belajar ke suatu kuil di daerahnya, tempat pertama kali ia mengenal Zen Buddhisme. Ia meminati apa yang diajarkan dan mulai belajar di bawah bimbingan Master Myozen. Dogen adalah seorang siswa yang tekun dan dengan cepat menaruh antusias mendalam terhadap praktik berlatih Zen. 

Terlepas dari privelese keluarga dan alses pendidikan, Seperti kehidupan orang-orang pada umumnya, Dogen menghadapi beberapa deraan hidup di usia remaja. Ibunya meninggal ketika ia masih muda, sesuatu kehilangan sosok yang sangat berarti baginya. Ia juga berjuang mengatasi masalah kesehatan yang mempengaruhi praktik latihan Zen-nya. Terlepas dari tantangan-tantangan mendera tadi, Dogen tetap mendedikasikan diri pada latihan serta terus belajar dan bermeditasi. Komitmennya terhadap Zen pada akhirnya membawanya untuk melakukan perjalanan ke Tiongkok demi belajar di bawah bimbingan guru Zen bernama Rujing. Perjalanan ini sangat berpengaruh pada kehidupannya dan pertumbuhan spiritual dan metode pengajarannya sekembali dari Tiongkok. 

Kombinasi antara privilese dan rintangan kehidupan menandai tahun-tahun awal usia Dogen. Keberuntungan dilahirkan orang tua pejabat teras telah memberinya akses terhadap pendidikan termaksimal dan peluang budaya. Namun ia juga menghadapi pergulatan batin dan rintangan pribadi yang membentuk perjalanan ruhaniahnya. Komitmennya yang begitu mendalam terhadap Zen dan praktiknya, dan keinginan untuk menembusi hakikat realitas sejati menuntunnya hidupnya di sepanjang hayat.


Ketergugahan Spirit

Pada usia 24 tahun, Dogen mengalami ketergugahan spirit mendalam atau gumrégah batin seko ilusi bersamaan ia membaca dan merenungkan bagian dari Sutra Teratai. Lalu ia menulis,

Saya menyadari bahwa sifat sejati dari segala sesuatu tidak dapat ditangkap oleh rasio atau dipahami dengan kata-kata. Hanya dapat dialami langsung, pada saat-kini.

Pengalaman yang menandai titik balik dalam hidup seorang Dogen yang menempatkannya pada jalan pencarian dan penyelidikan spiritual atau ruhaniah. 

Kebangkitan spiritual Dogen adalah pengalaman mendalam yang secara mendasar mengubah pemahamannya tentang kesejatian realitas. Ia telah mendalami dan mempraktikkan Zen Buddhisme beberapa tahun. Namun baru setelah ia menyadari apa itu mengalami-langsung realitas yang sebenar-benarnya dari segala sesuatu, ia merasakan penembusan paling inti dari ajaran Sang Buddha.

Mempelajari Jalan Buddha berarti mempelajari diri sendiri, mempelajari diri sendiri berarti melupakan diri sendiri, dan melupakan diri berarti mencapai kecerahan melalui sepuluh ribu hal.

Menurut pengakuan Dogen, ketergugahannya terjadi kala membaca bagian dari Sutra Teratai. Seperti apa persisnya tidak jelas. Nmun kemudian waktu ia menulis tentang itu. Ia menggambarkannya sebagai momen mengalami-langsunh sifat sejati segala sesuatu, yang ia sadari tidak dapat dipahami dengan pendekatan rasio atau dijelaskan melalui kata-kata saja. 

Bagi Dogen, mengalami ketergugahan bukan hanya terjadi satu kali saja, melainkan sebagai proses berkesinambungan realisasi ketergugahan itu sendiri. Ia percaya bahwa melalui meditasi, seseorang dapat mengembangkan kemampuan untuk mengalami-langsung kesejatian realitas yang sesungguhnya dan menyadari realitas fundamental, sifat kebuddhaan segala sesuatu. 

Ketergugahan spiritual Dogen adalah pengalaman transformatif yang menariknya pada jalur penyelidikan dan praktik spiritual. Hal ini memberinya pemahaman yang mendalam akan tujuan dan makna, dan dia mengabdikan sisa hidupnya untuk berbagi ajaran dan membantu orang lain untuk menyadari kesejatian realitas yang sesungguhnya.


Perjalanan ke Tiongkok

Setelah bertahun-tahun belajar dan berlatih di Jepang, Dogen sangat ingin pergi belajar ke Tiongkok di bawah bimbingan para guru Zen yang hebat di sana. Perjalanan Dogen ke Tiongkok ini adalah fase penting yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan spiritual dan evolusi ajarannya ketika mendirikan tradisi Soto Zen.

Pada tahun 1223, Dogen memulai perjalanan berbahaya melintasi lautan demi ke Tiongkok. Dogen beserta rekan-rekannya menghadapi beberapa rintangan, dari kapal karam hingga serangan bajak laut.  Meski mengalami aral merintang, Dogen tidak surut dan akhirnya berhasil menjejak daratan Tiongkok. Dogen menghabiskan beberapa tahun belajar di bawah bimbingan guru Zen, Rujing. Selama masa ini, Dogen memperdalam pemahamannya tentang Zen dan mengalami ketergugahan spirit mendalam yang akan membentuk sisa hidupnya.

Dogen memoelajari pula berbagai praktik dan tradisi Zen di Tiongkok selama di sana. Ia mengamati penekanan pada zazen, atau meditasi duduk, dan pengaplikasian koan, atau teka-teki Zen untuk memperdalam pemahaman dan memancing merekahnya insight. Pengalaman-pengalaman di daratan Tiongkok ini secara signifikan akan mempengaruhi perkembangan ajaran dan pendekatannya terhadap praktik Zen setelah kembali ke Jeoang. 

Perjalanan Dogen adalah pengalaman transformatif yang memperdalam pemahamannya tentang Zen dan menolongnya menciotakan metodenya sendiru dalam berlatih Zen dan pengajaran. Waktunya di Tiongkok dan perjumpaannya dengan beberapa guru Zen mempengaruhi perkembangan gaya Zen-nya yang unik dan pendekatannya terhadap meditasi.


Mendirikan Kuil Eihei-ji

Dogen Zenji’s founding of Eihei-ji temple is considered one of Japan’s most important events in the history of Zen Buddhism. After returning from China, Dogen began to teach and preach his unique form of Zen, emphasizing the practice of zazen and the concept of non-duality.

Dari sejarah Zen Buddhisme, pendirian kuil Eihei-ji oleh Dogen Zenji dianggap sebagai salah satu peristiwa terpenting di Jepang. Sepulang dari Tiongkok, Dogen mulai mengajarkan dan menyebarkan model pengajaran Zen-nya yang unik yang menekankan praktik zazen dan konsep non-dualitas.

Pemandangan Kuil Eiheiji di Yokihama, Jepang
Pada tahun 1244, Dogen mendirikan kuil Eihei-ji di mana aaat ini maauk wilayah prefektur Fukui dan menjadi satu dari dua kuil utama aliran Soto Zen Buddhisme di Jepang. Kuil ini dimaksudkan sebagai tempat para biksu dapat berlatih zazen dan mempelajari ajaran Dogen dalam lingkungan dan disiplin ketat. Kuil Eihei-ji dengan cepat menjadi pusat latihan Zen di Jepang, didatangi berbagai soswa dari penjuru negeri. Ajaran dan metode latihan yang dirancang Dogen terbukti sangat efektif. Banyak muridnya kemudian menjadi guru Zen memiliki reputaai penting.

Berjalannya waktu, kuil dikenal sebagai pusat belajar gratis dan kegiatan intelektual. Selain menyediakan ruang latihan Zen, Eihei-ji juga berfungsi sebagai pusat penyebaran ajaran Dogen. Dogen banyak menelurkan karya-karya terpentingnya juga kala tinggal dan mengajar di Eihei-ji. Saat ini, kuil Eihei-ji tetap menjadi pusat latihan Zen yang penting di Jepang. Tiap tahun ribuan orang mengunjungi kuil untuk belajar dan berlatih di bawah bimbingan biksu kepala kuil saat ini. Kuil ini juga merupakan tempat ziarah penting bagi praktisi Zen dari penjuru dunia yang datang untuk memberikan penghormatan kepada Dogen dan merasakan ketenangan menyinggahi kuil ini.


Karya-karya Dogen

Karya-karya Dogen dianggap sebagai salah satu yang paling penting dan berpengaruh dalam sejarah Zen Buddhisme. Ia banyak menulis tentang praktik Zen, filsafat, dan hakikat dari realitas sejati. Karya-karyanya tidak surut dipelajari dan dihormati oleh para praktisi Zen di seluruh dunia. Karya Dogen yang paling terkenal adalah Shobogenzo, berisi 95 kumpulan esai yang mengeksplorasi berbagai topik dalam praktik Zen dan filsafatnya. Esai ditulis dengan gaya puitik dan seringkali samar. Mereka memanfaatkan berbagai sumber, termasuk kitab literatur Buddhis, literatur Tiongkok, dan pengalaman pribadi. Jika Anda berminat, Anda dapat membaca Shobogenzo-zuimonki, yang terdiri dari khotbah Dharma yang diberikan oleh Dogen yang aslinya ditulis oleh penerus Dhamma-nya, Koun Ejo Zenji

Salah satu tema utama dalam karya-karya Dogen adalah impermanensi. Ia melihat impermanensi sebagai aspek fundamental dari kenyataan segala sesuatu dan ia percaya bahwa sangatlah penting untuk memahami seksama dan menyadari sifat impermanensi segala sesuatu untuk merealisasi kecerahan atau ketergugahan spirit/batin.Tema penting lain dalam karya Dogen adalah konsep zazen, meditasi duduk. Ia percaya bahwa meditasi adalah cara paling efektif untuk mengalami langsung hakikat dari realitas yang sejati dan ia menekankan pentingnya latihan yang istikamah.

Tema lainnya lagi dari karya Dogen adalah mengeksplorasi sifat waktu, ruang, dan sebab-akibat (kausalitas) serta hubungan antara diri dengan dunia. Ia memandang konsep-konsep ini saling berhubungan dan ia percaya bahwa pemahaman mendalam tentang konsep-konsep tersebut adalah penting untuk pertumbuhan dan tergugahnya spirit.

Karya-karya Dogen dicikan kedalaman pesan, komplekaitas, dan gaya bahasa yang puitik. Karya-karyanya masih menginsoirasi hingga kini dan menantang para praktisi Zen. Tentu saja, karya-karyanya sangat memiliki pengaruh pada perkembangan Zen Buddhisme berabad-abad. 


Pengaruhnya terhadap Guru-guru Zen pada era Setelahnya

Ajaran dan karya Dogen sangat berdampak pada perkembangan Zen Buddhisme. Mereka membuka jalan bagi banyak guru Zen terkenal yang mengikuti jejaknya. Salah satu muridnya yang paling terkenal adalah Ejo, yang membantu menyusun dan menyunting tulisan Dogen setelah kematiannya. Ejo juga menjabat sebagai kepala kebiksuan kuil Eihei-ji dan membantu menyebarkan ajaran Dogen ke seluruh Jepang. 

Keizan Jokin, salah satu siswa Dogen, dianggap sebagai salah satu guru Zen terpenting dalam sejarah Jepang. Dia mengembangkan lebih lanjut ajaran Dogen dan mendirikan sekolah Zennya, yang dikenal sebagai sekolah Soto. Keizan juga dikenal karena mengembangkan praktik koan, suatu bentuk pelatihan Zen yang menggunakan pernyataan dan pertanyaan paradoks untuk membantu siswa memperoleh wawasan tentang hakikat realitas. 

Guru Zen terkenal lainnya yang dipengaruhi oleh ajaran Dogen dan lahir setelah zamannya termasuk Kodo Sawaki, yang berperan penting dalam menghidupkan kembali praktik Zen di Jepang setelah Perang Dunia II, Taisen Deshimaru, yang memainkan peran penting dalam membawa Soto Zen ke Eropa dan membangun beberapa pusat Zen di Perancis, dan Shunryu Suzuki, yang mendirikan San Francisco Zen Center dan memainkan peran penting dalam pengembangan Zen di Amerika Serikat. 

Hingga kini, ajaran dan karya Dogen terus menginspirasi dan mempengaruhi praktisi Zen di seluruh dunia. Legasinya dapat dilacak dalam ajaran dan praktik para guru Zen paling dikenal, melintasi zaman, rentang sejarah, termasuk oleh mereka yang lahir setelah masa hidupnya.


Penutup

Jalannya hidup dan ajaran Dogen Dogen Zenji tetap lestari menginspirasi dan mempengaruhi para praktisi Zen di seluruh penjuru dunia. Menekanankan pada meditasi, momen saat ini, dan sifat sejati dari realitas tetap menjadi inti Buddhisme Zen sekarang. Warisan Dogen adalah bukti kekuatan penyelidikan spiritual yang abadi dan potensi transformatif dari ketergugahan akan hakikat realitas yang sejati.




Postingan populer dari blog ini

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...