. |
![]() |
Seorang ibu berdana makanan kepada Bhikkhu di Desa Belerejo, Wlingi, Blitar, 2019 (Sumber Twitter @Kemenag_RI) |
Namun, kita juga mafhum bahwasanya ada beberapa tindakan terpuji dan mulia yang dilakukan manusia atas dasar motif keagamaan. Banyak reformis dan aktivis moral kenamaan yang pernah tercatat sejarah diilhami oleh prinsip-prinsip agamanya, sebut saja Martin Luther King, Mahatma Gandhi, dan William Wilberforce (yang berjuang bagi penghapusan perdagangan budak di Inggris pada 1807). Meskipun saya bukanlah pribadi religius, salah satu tokoh kontemporer yang paling saya kagumi adalah Uskup Agung Desmond Tutu yang menghabiskan masa hidupnya tanpa lelah berkampanye untuk keadilan dan menentang penindasan dan demi mewujudkan prinsip-prinsip belas kasih dalam ajaran Kristiani dan prinsip memaafkan derajat tertinggi.
Bagaimana cara agama memproduksi kebiadaban dan sekaligus kebajikan seperti di atas? Bagaimana bisa keyakinan keagamaan dapat dijadikan pembenaran aksi terorisme dan mendorong tindakan altruisme—prinsip mendahulukan kepentingan orang lain—dan keadilan yang lebih besar dalam tempo lain?
Dua Macam Agama
Untuk memahaminya, kita perlu membedakannya menjadi dua macam agama yang memang berbeda secara mendasar: agama-dogmatis dan agama-spiritual.
Orang yang religius secara dogmatis adalah mereka yang berpikir bahwa mereka benar dan yang lain salah. Baginya, agama bukan tentang pengembangan diri atau tentang pengalaman-pengalaman transendental, melainkan sekedar ikut-ikutan pada seperangkat keyakinan dan aturan-aturan kaku yang telah ditetapkan oleh otoritas agama. Hal itu erat kaitan dengan cara mempertahankan suatu keyakinan terhadap siapa pun yang mencoba mempertanyakan agamanya itu, bentuk penegasan mereka akan “kebenaran” terhadap orang lain serta untuk menyebarkan keyakinan tersebut kepada orang lain.
Bagi mereka, keberadaan orang lain yang beda keyakinan adalah kenyataan yang tak bisa diterima, karena hal itu menyebabkan untuk mempertanyakan keyakinan mereka yang bisa saja salah. Mereka perlu meyakinkan orang lain untuk menegaskan bahwa mereka salah, hanya demi membuktikan ke dirinya sendiri bahwa keyakinan merekalah yang benar.
Ada dorongan kuat dalam diri manusia untuk mendefinisikan dirinya, entah itu sebagai golongan Kristen, Muslim, sosialis, orang Amerika, Republik, atau kebutuhan identitas sebagai penggemar satu klub olahraga. Dorongan ini erat kaitannya dengan dorongan untuk menjadi bagian dari satu kelompok tertentu agar anda diakui bahwa anda termasuk di kelompok itu dan agar dapat berbagi keyakinan dan prinsip-prinsip yang sama dengan yang lain dalam kelompok anda.
Akar dari impuls-impuls tadi adalah adanya rasa cemas secara umum terjadi dan adanya aversi yang muncul karena kita sebagai individu berbeda yang merasa terpisah dari orang lain dan merasa ada di dunia “luar sana”. Ini mengakibatkan perasaan “terkucilkan”, bak ibarat potongan dahan yang menjadi bagian dari keseluruhan pohon utuh. Muncul kerentanan dan tidak aman yang disebabkan oleh rasa tidak berguna diri kita ketika dihadapkan pada kehidupan. Akibatnya, kita perlu “meningkatkan” rasa percaya diri dengan menegaskan identitas. Agama, dan sistem kepercayaan lainnya, membantu kita meraih itu.
Agama-dogmatis membahayakan karena menciptakan mentalitas ini kelompokku dan itu kelompokmu (in-out groups). Juga menciptakan keinginaan orang untuk menarik empati dan dukungan moral dari kelompok lain atau memandang kelompok lain lebih rendah dan goblok. Secara umum, kelompok lain di sini diartikan sebagai entitas, bukan sebagai sekumpulan individu yang berbeda-beda. Ketika dua kelompok berbeda ini disatukan, dengan perbedaan keyakinannya, maka akan saling ejek yang disebabkan dalam diri masing-masing kelompok tiada terbersit kemungkinan kelompoknya yang keliru. Konflik dan perang di depan mata.
![]() |
| Ilistrasi. Batle of Acre. |
Singkatnya, tujuan dari agama-dogmatis adalah untuk menegaskan ego, penekanan pada mempercayai (iman), labeling, dan penciptaan identitas kelompok. Sedangkan apa yang hendak dicapai agama-spiritual adalah kebalikannya: melampaui ego, mengutamakan welas asih [tanpa syarat], mendahulukan orang lain (altruisme), dan melatih spiritual/ruhaniah.
Itulah alasan mangapa orang memeluk agama bisa melakukan tindakan yang paling brutal, tetapi juga bisa melakukan beberapa perbuatan kebajikan. Itu juga yang menjadi alasan mengapa agama dapat pula membuat orang berbuat kebajikan atau keji, seperti Osama Bin Laden atau Uskup Agung Desmond Tutu. Perbuatan keji yang dilakukan berdasar agama-dogmatis mendominasi berita utama, tetapi kita juga terhibur karena tahu bahwa pada saat yang sama, yang tidak tersorot berita, ada beberapa orang yang beragama secara spiritual memperlihatkan beberapa aspek terluhur dari sifat kemanusiaan.
Agama-dogmatis muncul dari kebutuhan psikologis terhadap identitas kelompok dan identitas yang bisa dimiliki bersama, dibarengi pula adanya kebutuhan akan kepastian identitas dan makna.
Dorongan impulsif ini terjadi bersamaan dengan kebutuhan anda akan kepastian: perasaan bahwa Anda “tahu”, Anda yang benar, Anda yang paling benar dan yang lain salah.
Dalihbahasakan dari Steve Taylor, “Dogmatic and Spiritual Religion: Why religion can inspire both the most savage and the most noble human actions”, Psychology Today 19 Desember 2014.


Komentar
Posting Komentar