Jika Anda menilai bahwa pasangan Anda mungkin mengalami depresi, langkah pertama adalah mencari petunjuk guna memperoleh diagnosa dan penanganan yang tepat. Langkah inilah yang harus dilakukan dan bagaimana cara mengambil sikap.
Bila salah satu pasangan mengalami depresi, pernikahan juga akan terdampak. Penyakit ini mengurangi keintiman secara emosional dan seksual dan meciptakan hubungan penuh pesimisme dan sebal, kemarahan dan keterasingan satu sama lain. Bahkan pasangan terpandai dan paling mampu pun dapat terseret ke arus emosi yang runyam: Anda mungkin terbebani oleh pekerjaan rumah tangga tambahan ketika pasangan Anda tidak terlalu bersemangat untuk menyelesaikannya, Anda akan dibuat kesal karena pasangan Anda tidak bisa keluar darinya, atau Anda malah berpikir entah bagaimana caranya untuk menyalahkan penyakit itu sendiri. Anda mungkin merasa sebatang kara namun tidak mau mengatakan kepada siapapun bahwa ada seseorang yang terpuruk di lingkungan keluarga kecil Anda, atau Anda mungkin hanya bertanya-tanya kapan kebahagiaan dan keceriaan, canda tawa dan kesenangan mengalir ke dalam hubungan Anda.
Jika ada yang mengalami depresi dalam pernikahan Anda, inilah saatnya bertindak— demi pasangan dan diri Anda sendiri. Berdiam diri hanya memperbesar peluang hubungan Anda tidak akan bertahan lama; Pasangan yang mengalami depresi sembilan kali lebih rentan mengalami perceraian. Dan, mencoba untuk melawan atau berdamai dengan penyakit yang sering disalahpahami ini pun menimbulkan risiko bagi Anda berdua. Semakin lama seorang yang tidak mengalami depresi hidup dengan pasangan yang mengalami depresi, maka semakin tinggi risiko baginya dirinya sendiri terhadap serangan depresi. Pasangan yang mengalami depresi lebih parah, maka semakin sulit pula untuk keluar mengatasi depresinya—dan semakin besar pula risiko kecanduan alkohol, penyalahgunaan psikotropika, melakukan kekerasan [dan KDRT], dan bahkan bunuh diri. Taruhannya tinggi, tapi adanya peluang untuk sembuh akan mengembalikan rumah tangga seperti semula.
Ingat, Anda tidak sendiri mengalaminya. Diperkirakan 19 juta orang Amerika Serikat saat ini mengalami depresi. Dalam Survei Reader's Digest Marriage di Amerika Serikat, 42 persen responden menyebut depresi sebagai tantangan utama dalam hubungan mereka. Tidak mengejutkan jika sebagian besar responden mengatakan bahwa penyakit berbahaya ini berdampak negatif pada hubungannya. Tapi ada secercah harapan yang tak terduga: Satu dari empat pasangan yang mengalami depresi berakhir positif dalam bahtera pernikahannya. “Mendapatkan diagnosa dan penanganan adalah yang membuat pembeda secara keseluruhan,” kata Emily Scott-Lowe, Ph.D., seorang assistant visiting professor dalam proyek penelitian sosial-kemasyarakatan di Pepperdine University, dimana yang memimpin penelitian di seluruh negeri terkait hubungan depresi dan pernikahan adalah suaminya, Dennis Lowe, Ph.D., seorang psikolog dan direktur Pepperdine's Center for the Family. “Hanya 33 persen orang dengan depresi diketahui dan mendapatkan penanganan. Bagaimanapun bila Anda melakukannya, peluang Anda untuk kesembuhan cukup signifikan, mencapai 80 sampai 90 persen. Hampir semua penderita depresi merasa tertolong.”
Depresi bukanlah pilihan atau a litle case of blues. Depresi adalah penyakit fisik (phisically illnes) yang serius dan merusak kehidupan seperti halnya diabetes, penyakit jantung, atau peradangan pada satu atau lebih persendian (artritis). Pasangan yang sedang depresi tidak bisa dengan sendirinya “keluar dari itu” atau "meraih hidupnya kembali.” Alasannya: Depresi ditandai dengan perubahan kimiawi secara dramatis dalam otak yang mengubah mood, pikiran, pola tidur, nafsu makan, dan tingkat semangat. Genetika biasanya banyak mempengaruhi kerentanan kita terhadap depresi; Sejumlah faktor dapat menyebabkan menjerumuskan dalam depresi, termasuk diantaranya stres yang berkepanjangan atau berat, masalah keuangan, kepailitan atau perubahan dalam hidup Anda, kelahiran anak, hubungan dengan orang tua, dan bahkan disebabkan oleh kondisi kesehatan anda dan konsumsi obat-obatan. Pernikahan sendiri bahkan menimbulkan risiko: Lebih 1 dari 10 pengantin wanita mengalami “postnuptial depression” dalam beberapa bulan paska pernikahan. Dan separuh dari seluruh wanita dan pria yang merasa tidak bahagia dalam pernikahannya bermungkinan mengalami depresi, mungkin juga karena masalah pernikahan itu sendiri (walaupun beberapa ahli menduga bahwa depresi yang tidak terdiagnosa adalah penyebab di balik masalah ketidakbahagiaan pernikahan itu sendiri).
Jika menurut Anda pasangan mungkin mengalami depresi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperhatikan petunjuk—dan membantunya mendapatkan diagnosis dan penanganannya. Langkah-langkah tersebut akan bisa membantu.
Acapkali pasangan depresi menyerahkan segala urusan kepada pasangannya yang sehat untuk mengontrol semuanya: Penyakit ini sendiri sering mencegah pengidapnya mengenali dirinya sendiri akan adanya sesuatu yang salah atau sekedar mencari pertolongan. Mereka mungkin merasa terlalu lemah atau terpuruk, atau mungkin terbersit dalam pikirannya bahwa mereka dapat menolong dirinya sendiri.
Jika Anda amati pasangan Anda tidak bermalas-malasan, merasa, atau berpikir seperti biasanya, tanyakan pada diri Anda apakah itu bisa jadi tanda depresi, tapi jangan berhenti di situ saja. Depresi mungkin juga menjadi alasan mengapa pasangan Anda bekerja berjam-jam, minum terlalu banyak, menggunakan obat-obatan terlarang, atau mencari sensasi dalam aktivitas berisiko. Pola bisa juga terlihat berbeda pada pria dan wanita.
Jangan menunggu pasangan Anda terpuruk lebih dalam. Membiarkan orang yang depresi terpuruk semakin dalam sebelum melakukan pertolongan adalah pendekatan medis kuno, yang diadopsi dalam penanganan bagi orang ketergantungan alkohol—dan ketergantungan obat-obatan— pada era awal metode penyembuhannya. Bagaimanapun, alasan di balik metode ini adalah keliru dan berbahaya. Depresi berkepanjangan akan menjadi aral dalam pernikahan Anda, akan lebih sulit ditangani, dan akan berkecenderungan untuk kambuh lagi, dan membuat korbannya dalam rasa keputusasaan. Risiko paling mengerikan: membiarkannya [sama saja] membuka peluang tindakan bunuh diri yang sangat nyata. Sekitar 60 persen orang yang mencoba bunuh diri mengalami depresi berat atau depresi ringan atau gangguan mood lainnya—dan pria yang mengalami depresi berkecenderungan empat kali lebih banyak daripada wanita yang depresi berkeinginan menjalani kehidupannya menyendiri.
Pecahlah es dengan lembut. Jika Anda mencurigai pasangan mengalami depresi, jangan katakan untuk melakukan diagnosa secara terus terang: “Kamu depresi!” Atau menyatakan: “Hanya kamu yang bisa bantu dirimu sendiri” untuk memulai proses penyembuhan, perlakukan pasangan Anda dengan penuh perhatian dan dengan tindakan penanganan terencana Anda mungkin berkata, “Aku mencemaskan tentang bagaimana perasaan lelahmu dan kehilangan nafsu makan akan mempengaruhimu. Kamu layak merasa lebih baik. Dokter kita mungkin bisa membantumu, dan aku ingin mengatur waktu bertemu dengannya. Minggu depan, aku bisa pergi pada hari Rabu atau Jumat. Apapun yang terbaik menurutmu?”
Temanilah pasangan melakukan diagnosa—bersama-sama. Puluhan kondisi kesehatan—termasuk penyakit jantung, diabetes, lupus, infeksi virus, dan rasa sakit kronis—sama-sama dapat memicu gejala seperti depresi. Begitu juga dengan sejumlah resep obat, termasuk beberapa pil kontrasepsi dan obat-obatan jerawat, herpes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan kanker. Dokter keluarga Anda akan mengeliminir penyebab mendasar dan memutuskan apakah benar-benar depresi atau tidak.
Minta pada pasangan Anda dengan hati-hati jika hal tersebut anda anggap tidak masalah guna mengikuti evaluasi. “Bila kamu terpuruk, kamu mungkin tak akan bisa mengungkapkan apa yang sedang terjadi pada dirimu atau bahkan menyadari semua gejala,” tandas Emily Scott-Lowe. “Dan mungkin kamu tidak dapat fokus pada rekomendasi-rekomendasi pengobatan yang dibuat oleh dokter. Anda butuh teman untuk menemui dokter.”
Minta pada pasangan Anda dengan hati-hati jika hal tersebut anda anggap tidak masalah guna mengikuti evaluasi. “Bila kamu terpuruk, kamu mungkin tak akan bisa mengungkapkan apa yang sedang terjadi pada dirimu atau bahkan menyadari semua gejala,” tandas Emily Scott-Lowe. “Dan mungkin kamu tidak dapat fokus pada rekomendasi-rekomendasi pengobatan yang dibuat oleh dokter. Anda butuh teman untuk menemui dokter.”
Katakan kemungkinan-kemungkinan yang menyenangkan atas keberadaan Anda di sisinya. Seperti telah kami tandaskan di atas, tingkat keberhasilan penanganan depresi mencapai 90 persen. Biasanya melalui cara ‘jalan belakang’ relatif sederhana: pemberian antidepresan, konseling, atau kombinasi keduanya. Konon, pemulihan bisa memakan waktu dan kesabaran. Mungkin ada masa percobaan dan kesalahan awal saat Anda mencoba memberi berbagai antidepresan atau melihat apakah berbagai teknik terapi, seperti terapi perilaku kognitif dan konseling interpersonal, bisa sangat membantu. Dampaknya dari segala tindakan patut dipertimbangkan.
Carilah konselor kesehatan mental bagi Anda berdua. Depresi mempengaruhi kualitas kehidupan Anda berdua—dan seluruh anggota keluarga. Lowes menyarankan untuk menemukan ahliterapis atau konselor yang telah berpengalaman dengan pengidap depresi bagi pasangan. “Anda mungkin memiliki masalah untuk ditangani secara individual sebagai orang yang mengidap depresi, dan Anda berdua mungkin memiliki masalah untuk mengatasi rintangan dalam mengatasi depresi,” kata Dennis Lowe. “Kami merasa akan sangat terbantu jika memiliki konselor yang bisa kita temui bersama pada satu waktu dan secara terpisah di lain waktu.”
Teruslah menggali pengetahuan sebanyak mungkin tentang depresi. Baca buku, berselancar di internet, tanyakan juga kepada dokter Anda tentang kemajuan pengobatan dan juga pemahaman tentang penyakit ini. Semakin Anda tahu, maka akan semakin baik Anda bisa mengatasi dan mendapat kesembuhan.
Waspadai tanda-tanda kambuh. Sekitar setengah dari semua penderita depresi berat berpeluang kambuh kembali; 75 persennya mengalami hal itu; Dan 90 persen dari mereka akan memiliki [pola-pola depresi] lain. Begitu episode depresi pertama berlalu, banyak dokter memberi resep dosis perawatan antidepresan untuk mencegah kambuh. Kedua pasangan juga harus tetap waspada terhadap tanda-tanda penyakit itu akan menyerang kembali.
Merawat pasangan yang mengalami depresi bisa menjadikan diri merasa kesepian, menantang, dan menguras emosi. Anda mungkin menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berdaya, muncul rasa pesimis, kehilangan selera humor, dan bahkan mempertimbangkan untuk pergi. Sangat mudah bagi pasangan yang tidak depresi untuk menjadi marah dan frustrasi terhadap pasangan yang mudah tersinggung dan tidak bergairah yang pesimis dan dalam kondisi kritis, yang tidak mau memperbaiki dishwasher atau menyuruh anak-anak tidur lagi—apalagi bercinta, menanyakan bagaimana keadaan Anda, atau mengapresiasi diri Anda yang telah menangani berbagai hal yang harusnya dilakukan bersama selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun.
“Hal tersebut adalah awal sebuah siklus yang akan membuat Anda tidak nyaman dan [juga] sama sekali tidak membantu pasangan Anda,” tandas Emily Scott-Lowe. “Aku mengalami hal ini bersama Dennis—Aku sangat marah padanya. Lalu aku merasa benar-benar bersalah dan mencoba menebusnya dengan bersikap lebih banyak lagi di rumah. Lalu Aku marah lagi. Ini sama sekali tidak membantu Dennis, dan itu membuatku emosional dan fisik.”
“Hal tersebut adalah awal sebuah siklus yang akan membuat Anda tidak nyaman dan [juga] sama sekali tidak membantu pasangan Anda,” tandas Emily Scott-Lowe. “Aku mengalami hal ini bersama Dennis—Aku sangat marah padanya. Lalu aku merasa benar-benar bersalah dan mencoba menebusnya dengan bersikap lebih banyak lagi di rumah. Lalu Aku marah lagi. Ini sama sekali tidak membantu Dennis, dan itu membuatku emosional dan fisik.”
Langkah-langkah berikut ini akan dapat membantu pasangan nondepressed tetap sehat—dan melindungi pernikahan Anda dan keluarga sembari membantu pasangan yang mengalami depresi.
Akui bahwa Anda tidak bisa menyembuhkan depresi pasangan Anda. Pasangan Anda membutuhkan kasih sayang, dukungan, dan perhatian Anda. Tapi hal-hal penting ini tidak pula dengan sendirinya akan menyingkirkan depresi lebih jauh ketimbang ketika mencoba hal ini untuk mengendalikan gula darah, mengurangi nyeri artritis, ataupun membersihkan arteri yang tersumbat. Sama seperti Anda yang tidak bergantung pada rasa kasih sayang itu sendiri guna menyembuhkan kondisi medis—atau dengan mencurahkan kasih sayang karena sebelumnya tidak—jangan harap bahwa perasaan atau perhatian Anda akan dapat mengubah kinerja kimiawi otak yang tidak teratur dalam diri pasangan Anda. Gunakan rasa sayangmu untuk mendapatkan pertolongan dan untuk mengingatkan pasangan akan hal yang akan didapat selama masa-masa yang menantang ini.
Anggap depresi sebagai pihak ketiga dalam bahtera pernikahan Anda. Seperti penyakit lainnya, depresi adalah ganguan dari luar—tamu yang tak diundang yang mendatangkan musibah bagi kesehatan pasangan Anda, pernikahan Anda, dan bahtera rumah tangga Anda. Melihatnya dengan cara seperti ini dapat memungkinkan Anda berdua membicarakan dampaknya tanpa menyalahkan satu sama lain atau merasa malu. “Begitu kita mulai membicarakannya sebagai "pihak ketiga"—depresi tadi—kita akan bisa mengungkapkan frustrasi kita secara konstruktif,” lanjut Emily Scott-Lowe. “Jika Dennis merasa ragu akan manfaatnya, aku katakan, ‘Itu hanya depresinya yang katakan. Itu bukan diri kamu. Umpama kamu tidak mengalami depresi, kamu tidak akan terbersit hal seperti ini. Depresi sedang membohongi dirimu’.”
Pergeseran dalam paradigma berpikir ini bisa mencairkan suasana. “Ini melegakan saya,” ungkap Dennis Lowe. "Aku kadang-kadang terpikir bahwa Emily berjalan di atas cangkang telur, tidak ingin menceritakan bagaimana perasaannya. Depresi adalah gajah di dalam ruangan yang tak seorang pun ingin diajaknya bicara, dan aku merasa cukup bersalah. Menempatkan depresi sebagai pihak ketiga adalah perspektif yang tepat. Hal ini membantu saya tahu mengapa saya telah terpuruk seperti yang telah saya alami dan membiarkan diriku di dalamnya sebagai takdir karena menerima apa yang telah terjadi, alih-alih melawannya.”
Galang dukungan. Mengakui akan adanya depresi dalam
pernikahan Anda bisa jadi sulit, agar bisa mendapatkan bantuan. Pilihlah teman
yang bisa dipercaya—akan lebih baik kepada seseorang yang juga pernah tertimpa
depresi dalam kehidupannya atau dalam keluarganya. Dan jika Anda kewalahan
dengan tugas ekstra rumah tangga karena pasangan Anda tidak melakukan
bagiannya, katakan ya ketika pihak lain menawarkan bantuan. “Pada suatu ketika,
aku menangis di gereja, lalu temanku mengagetkanku dan berkata, 'Emily, orang-orang
di sini mengantri menunggu untuk membantumu.’ Segera Aku katakan bahwa kami
tidak memerlukan bantuan sampai dia membuatku terkesiap [bahwa hal itu] memang
nyata adanya. Kami dapati orang-orang membawakan kami makan malam dalam
beberapa hari dalam seminggu. Seorang tetangga mengajak anak-anak kami untuk
bermalam [di rumahnya], dan senang rasanya mengetahui bahwa mereka
menikmatinya. Depresi bisa menyedot semua energi dalam berumah tangga.”
Pantau mood dan pikiran Anda sendiri. Mendengar rentetan komentar negatif dalam rentang yang lama, mempertahankan bahtera rumah tangga dan keutuhan keluarga besar bersamaan, dan kehilangan aspek-aspek paling indah dan hal paling mendukung dalam pernikahan Anda tidaklah mudah. Selama berbulan-bulan dan [bahkan] bertahun-tahun, bagi pasangan seorang pengidap depresi tersebut mungkin akan menyerah pada kebingungan, menyalahkan diri sendiri, mengalami demoralisasi, dan sebal, jelas Anne Sheffield, penulis Depression Fallout: The Impact of Depression on Couples and What You Can Do to Preserve the Bond. Anda menyimpulkan bahwa Anda harus pergi untuk menyelamatkan diri. Jika ini terlihat lebih akrab, segera cari bantuan untuk diri Anda sendiri—dan pastikan bahwa pasangan Anda melakukan hal yang sama. “Depresi dapat memisahkan pasangan dengan kemampuan dokter bedah dan merupakan pemecah bahtera rumah tangga paling utama,” catat Sheffield dalam bukunya.
Taklukkan depresi Anda sebelum mencoba untuk menangani bahtera pernikahan Anda. Depresi bisa menimbulkan malapetaka besar dalam bahtera pernikahan Anda. Anda mungkin terbersit untuk memperbaiki apa yang tampak sepertinya masalah yang lebih kecil sebelum beranjak mengatasi penyakit ini sendiri (mungkin akan lebih mudah untuk membujuk pasangan Anda untuk berkomunikasi dengan lebih efektif daripada mengatakan “Saatnya untuk mendapatkan pertolongan,” umpanya). Masuk akal memang untuk meminta pasangan Anda membantu segala hal yang dia bisa lakukan di lingkungan rumah, bertanggung jawab dan memperlakukan Anda dengan baik. Tapi menginginkan perubahan besar itu sementara pasangan berada di bawah pengaruh depresi mungkin hanya akan membuat akumulasi frustrasi. Fokus saja pada menanggulangi depresi terlebih dahulu.
Hargai kebutuhan anda sendiri. Jika pasangan Anda mengalami depresi, Anda masih tetap layak mendapatkan suasanana menyenangkan setiap hari—rumah yang rapi, makanan reguler, lingkungan keluarga yang nyaman—serta persahabatan, kehidupan sosial, dan waktu untuk mengejar minat yang berarti. Sebisa mungkin, teruskan hal-hal itu. Sangatlah mudah menghabiskan waktu Anda untuk mendapatkan segala kebutuhan dan permasalahan pasangan Anda. Tapi jangan mengorbankan kegembiraan dan tujuan Anda sendiri tanpa mempedulikannya. Sebagaimana telah dapati, Anda juga rentan terhadap depresi. Mengejar kesenangan pribadi Anda tidak hanya akan membantu mencegahnya akan tetapi juga akan mempersiapkan Anda lebih baik untuk membantu pasangan Anda.
Dialihbahasakan dari Reader’s Digest https://goo.gl/fdkyV5. Semoga artikel ini bermanfaat
Komentar
Posting Komentar