Langsung ke konten utama

Bagaimana Cara Berdamai dengan Pasangan yang Mengalami Depresi?

    
Jika Anda menilai bahwa pasangan Anda mungkin mengalami depresi, langkah pertama adalah mencari petunjuk guna memperoleh diagnosa dan penanganan yang tepat. Langkah inilah yang harus dilakukan dan bagaimana cara mengambil sikap.
Bila salah satu pasangan mengalami depresi, pernikahan juga akan terdampak. Penyakit ini mengurangi keintiman secara emosional dan seksual dan meciptakan hubungan penuh pesimisme dan sebal, kemarahan dan keterasingan satu sama lain. Bahkan pasangan terpandai dan paling mampu pun dapat terseret ke arus emosi yang runyam: Anda mungkin terbebani oleh pekerjaan rumah tangga tambahan ketika pasangan Anda tidak terlalu bersemangat untuk menyelesaikannya, Anda akan dibuat kesal karena pasangan Anda tidak bisa keluar darinya, atau Anda malah berpikir entah bagaimana caranya untuk menyalahkan penyakit itu sendiri. Anda mungkin merasa sebatang kara namun tidak mau mengatakan kepada siapapun bahwa ada seseorang yang terpuruk di lingkungan keluarga kecil Anda, atau Anda mungkin hanya bertanya-tanya kapan kebahagiaan dan keceriaan, canda tawa dan kesenangan mengalir ke dalam hubungan Anda.
Jika ada yang mengalami depresi dalam pernikahan Anda, inilah saatnya bertindak— demi pasangan dan diri Anda sendiri. Berdiam diri hanya memperbesar peluang hubungan Anda tidak akan bertahan lama; Pasangan yang mengalami depresi sembilan kali lebih rentan mengalami perceraian. Dan, mencoba untuk melawan atau berdamai dengan penyakit yang sering disalahpahami ini pun menimbulkan risiko bagi Anda berdua. Semakin lama seorang yang tidak mengalami depresi hidup dengan pasangan yang mengalami depresi, maka semakin tinggi risiko baginya dirinya sendiri terhadap serangan depresi. Pasangan yang mengalami depresi lebih parah, maka semakin sulit pula untuk keluar mengatasi depresinya—dan semakin besar pula risiko kecanduan alkohol, penyalahgunaan psikotropika, melakukan kekerasan [dan KDRT], dan bahkan bunuh diri. Taruhannya tinggi, tapi adanya peluang untuk sembuh akan mengembalikan rumah tangga seperti semula.
 
Ingat, Anda tidak sendiri mengalaminya. Diperkirakan 19 juta orang Amerika Serikat saat ini mengalami depresi. Dalam Survei Reader's Digest Marriage di Amerika Serikat, 42 persen responden menyebut depresi sebagai tantangan utama dalam hubungan mereka. Tidak mengejutkan jika sebagian besar responden mengatakan bahwa penyakit berbahaya ini berdampak negatif pada hubungannya. Tapi ada secercah harapan yang tak terduga: Satu dari empat pasangan yang mengalami depresi berakhir positif dalam bahtera pernikahannya. “Mendapatkan diagnosa dan penanganan adalah yang membuat pembeda secara keseluruhan,” kata Emily Scott-Lowe, Ph.D., seorang assistant visiting professor dalam proyek penelitian sosial-kemasyarakatan di Pepperdine University, dimana yang memimpin penelitian di seluruh negeri terkait hubungan depresi dan pernikahan adalah suaminya, Dennis Lowe, Ph.D., seorang psikolog dan direktur Pepperdine's Center for the Family. “Hanya 33 persen orang dengan depresi diketahui dan mendapatkan penanganan. Bagaimanapun bila Anda melakukannya, peluang Anda untuk kesembuhan cukup signifikan, mencapai 80 sampai 90 persen. Hampir semua penderita depresi merasa tertolong.”
Depresi bukanlah pilihan atau a litle case of blues. Depresi adalah penyakit fisik (phisically illnes) yang serius dan merusak kehidupan seperti halnya diabetes, penyakit jantung, atau peradangan pada satu atau lebih persendian (artritis). Pasangan yang sedang depresi tidak bisa dengan sendirinya “keluar dari itu” atau "meraih hidupnya kembali.” Alasannya: Depresi ditandai dengan perubahan kimiawi secara dramatis dalam otak yang mengubah mood, pikiran, pola tidur, nafsu makan, dan tingkat semangat. Genetika biasanya banyak mempengaruhi kerentanan kita terhadap depresi; Sejumlah faktor dapat menyebabkan menjerumuskan dalam depresi, termasuk diantaranya stres yang berkepanjangan atau berat, masalah keuangan, kepailitan atau perubahan dalam hidup Anda, kelahiran anak, hubungan dengan orang tua, dan bahkan disebabkan oleh kondisi kesehatan anda dan konsumsi obat-obatan. Pernikahan sendiri bahkan menimbulkan risiko: Lebih 1 dari 10 pengantin wanita mengalami “postnuptial depression” dalam beberapa bulan paska pernikahan. Dan separuh dari seluruh wanita dan pria yang merasa tidak bahagia dalam pernikahannya bermungkinan mengalami depresi, mungkin juga karena masalah pernikahan itu sendiri (walaupun beberapa ahli menduga bahwa depresi yang tidak terdiagnosa adalah penyebab di balik masalah ketidakbahagiaan pernikahan itu sendiri).
Jika menurut Anda pasangan mungkin mengalami depresi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperhatikan petunjuk—dan membantunya mendapatkan diagnosis dan penanganannya. Langkah-langkah tersebut akan bisa membantu.

Waspadalah terhadap perubahan sekecil apapun. Depresi bisa terjadi secara perlahan, hampir tak terdeteksi. “Anda mencoba menggali segala macam penjelasan lainnya—kami baru saja melahirkan momongan, ini adalah saat yang sulit untuk pergi ke tempat kerja, ini adalah sebuah fase,” tandas Emily Scott-Lowe. “Perlu beberapa waktu untuk menemukan pola [baru kehidupan] atau bersiap-siap saja alami depresi, mungkin itulah penyebabnya.”

Acapkali pasangan depresi menyerahkan segala urusan kepada pasangannya yang sehat untuk mengontrol semuanya: Penyakit ini sendiri sering mencegah pengidapnya mengenali dirinya sendiri akan adanya sesuatu yang salah atau sekedar mencari pertolongan. Mereka mungkin merasa terlalu lemah atau terpuruk, atau mungkin terbersit dalam pikirannya bahwa mereka dapat menolong dirinya sendiri.
 
Jika Anda amati pasangan Anda tidak bermalas-malasan, merasa, atau berpikir seperti biasanya, tanyakan pada diri Anda apakah itu bisa jadi tanda depresi, tapi jangan berhenti di situ saja. Depresi mungkin juga menjadi alasan mengapa pasangan Anda bekerja berjam-jam, minum terlalu banyak, menggunakan obat-obatan terlarang, atau mencari sensasi dalam aktivitas berisiko. Pola bisa juga terlihat berbeda pada pria dan wanita. 
Jangan menunggu pasangan Anda terpuruk lebih dalam. Membiarkan orang yang depresi terpuruk semakin dalam sebelum melakukan pertolongan adalah pendekatan medis kuno, yang diadopsi dalam penanganan bagi orang ketergantungan alkohol—dan ketergantungan obat-obatan— pada era awal metode penyembuhannya. Bagaimanapun, alasan di balik metode ini adalah keliru dan berbahaya. Depresi berkepanjangan akan menjadi aral dalam pernikahan Anda, akan lebih sulit ditangani, dan akan berkecenderungan untuk kambuh lagi, dan membuat korbannya dalam rasa keputusasaan. Risiko paling mengerikan: membiarkannya [sama saja] membuka peluang tindakan bunuh diri yang sangat nyata. Sekitar 60 persen orang yang mencoba bunuh diri mengalami depresi berat atau depresi ringan atau gangguan mood lainnya—dan pria yang mengalami depresi berkecenderungan empat kali lebih banyak daripada wanita yang depresi berkeinginan menjalani kehidupannya menyendiri.
Pecahlah es dengan lembut. Jika Anda mencurigai pasangan mengalami depresi, jangan katakan untuk melakukan diagnosa secara terus terang: “Kamu depresi!” Atau menyatakan: “Hanya kamu yang bisa bantu dirimu sendiri” untuk memulai proses penyembuhan, perlakukan pasangan Anda dengan penuh perhatian dan dengan tindakan penanganan terencana Anda mungkin berkata, “Aku mencemaskan tentang bagaimana perasaan lelahmu dan kehilangan nafsu makan akan mempengaruhimu. Kamu layak merasa lebih baik. Dokter kita mungkin bisa membantumu, dan aku ingin mengatur waktu bertemu dengannya. Minggu depan, aku bisa pergi pada hari Rabu atau Jumat. Apapun yang terbaik menurutmu?”

Temanilah pasangan melakukan diagnosa—bersama-sama. Puluhan kondisi kesehatan—termasuk penyakit jantung, diabetes, lupus, infeksi virus, dan rasa sakit kronis—sama-sama dapat memicu gejala seperti depresi. Begitu juga dengan sejumlah resep obat, termasuk beberapa pil kontrasepsi dan obat-obatan jerawat, herpes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan kanker. Dokter keluarga Anda akan mengeliminir penyebab mendasar dan memutuskan apakah benar-benar depresi atau tidak.
Minta pada pasangan Anda dengan hati-hati jika hal tersebut anda anggap tidak masalah guna mengikuti evaluasi. “Bila kamu terpuruk, kamu mungkin tak akan bisa mengungkapkan apa yang sedang terjadi pada dirimu atau bahkan menyadari semua gejala,” tandas Emily Scott-Lowe. “Dan mungkin kamu tidak dapat fokus pada rekomendasi-rekomendasi pengobatan yang dibuat oleh dokter. Anda butuh teman untuk menemui dokter.”

Katakan kemungkinan-kemungkinan yang menyenangkan atas keberadaan Anda di sisinya. Seperti telah kami tandaskan di atas, tingkat keberhasilan penanganan depresi mencapai 90 persen. Biasanya melalui cara ‘jalan belakang’ relatif sederhana: pemberian antidepresan, konseling, atau kombinasi keduanya. Konon, pemulihan bisa memakan waktu dan kesabaran. Mungkin ada masa percobaan dan kesalahan awal saat Anda mencoba memberi berbagai antidepresan atau melihat apakah berbagai teknik terapi, seperti terapi perilaku kognitif dan konseling interpersonal, bisa sangat membantu. Dampaknya dari segala tindakan patut dipertimbangkan.

Carilah konselor kesehatan mental bagi Anda berdua. Depresi mempengaruhi kualitas kehidupan Anda berdua—dan seluruh anggota keluarga. Lowes menyarankan untuk menemukan ahliterapis atau konselor yang telah berpengalaman dengan pengidap depresi bagi pasangan. “Anda mungkin memiliki masalah untuk ditangani secara individual sebagai orang yang mengidap depresi, dan Anda berdua mungkin memiliki masalah untuk mengatasi rintangan dalam mengatasi depresi,” kata Dennis Lowe. “Kami merasa akan sangat terbantu jika memiliki konselor yang bisa kita temui bersama pada satu waktu dan secara terpisah di lain waktu.” 
Teruslah menggali pengetahuan sebanyak mungkin tentang depresi. Baca buku, berselancar di internet, tanyakan juga kepada dokter Anda tentang kemajuan pengobatan dan juga pemahaman tentang penyakit ini. Semakin Anda tahu, maka akan semakin baik Anda bisa mengatasi dan mendapat kesembuhan.

Waspadai tanda-tanda kambuh. Sekitar setengah dari semua penderita depresi berat berpeluang kambuh kembali; 75 persennya mengalami hal itu; Dan 90 persen dari mereka akan memiliki [pola-pola depresi] lain. Begitu episode depresi pertama berlalu, banyak dokter memberi resep dosis perawatan antidepresan untuk mencegah kambuh. Kedua pasangan juga harus tetap waspada terhadap tanda-tanda penyakit itu akan menyerang kembali.
Merawat pasangan yang mengalami depresi bisa menjadikan diri merasa kesepian, menantang, dan menguras emosi. Anda mungkin menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berdaya, muncul rasa pesimis, kehilangan selera humor, dan bahkan mempertimbangkan untuk pergi. Sangat mudah bagi pasangan yang tidak depresi untuk menjadi marah dan frustrasi terhadap pasangan yang mudah tersinggung dan tidak bergairah yang pesimis dan dalam kondisi kritis, yang tidak mau memperbaiki dishwasher atau menyuruh anak-anak tidur lagi—apalagi bercinta, menanyakan bagaimana keadaan Anda, atau mengapresiasi diri Anda yang telah menangani berbagai hal yang harusnya dilakukan bersama selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun.
“Hal tersebut adalah awal sebuah siklus yang akan membuat Anda tidak nyaman dan [juga] sama sekali tidak membantu pasangan Anda,” tandas Emily Scott-Lowe. “Aku mengalami hal ini bersama Dennis—Aku sangat marah padanya. Lalu aku merasa benar-benar bersalah dan mencoba menebusnya dengan bersikap lebih banyak lagi di rumah. Lalu Aku marah lagi. Ini sama sekali tidak membantu Dennis, dan itu membuatku emosional dan fisik.”

Langkah-langkah berikut ini akan dapat membantu pasangan nondepressed tetap sehat—dan melindungi pernikahan Anda dan keluarga sembari membantu pasangan yang mengalami depresi.
Akui bahwa Anda tidak bisa menyembuhkan depresi pasangan Anda. Pasangan Anda membutuhkan kasih sayang, dukungan, dan perhatian Anda. Tapi hal-hal penting ini tidak pula dengan sendirinya akan menyingkirkan depresi lebih jauh ketimbang ketika mencoba hal ini untuk mengendalikan gula darah, mengurangi nyeri artritis, ataupun membersihkan arteri yang tersumbat. Sama seperti Anda yang tidak bergantung pada rasa kasih sayang itu sendiri guna menyembuhkan kondisi medis—atau dengan mencurahkan kasih sayang karena sebelumnya tidak—jangan harap bahwa perasaan atau perhatian Anda akan dapat mengubah kinerja kimiawi otak yang tidak teratur dalam diri pasangan Anda. Gunakan rasa sayangmu untuk mendapatkan pertolongan dan untuk mengingatkan pasangan akan hal yang akan didapat selama masa-masa yang menantang ini.

Anggap depresi sebagai pihak ketiga dalam bahtera pernikahan Anda. Seperti penyakit lainnya, depresi adalah ganguan dari luar—tamu yang tak diundang yang mendatangkan musibah bagi kesehatan pasangan Anda, pernikahan Anda, dan bahtera rumah tangga Anda. Melihatnya dengan cara seperti ini dapat memungkinkan Anda berdua membicarakan dampaknya tanpa menyalahkan satu sama lain atau merasa malu. “Begitu kita mulai membicarakannya sebagai "pihak ketiga"—depresi tadi—kita akan bisa mengungkapkan frustrasi kita secara konstruktif,” lanjut Emily Scott-Lowe. “Jika Dennis merasa ragu akan manfaatnya, aku katakan, ‘Itu hanya depresinya yang katakan. Itu bukan diri kamu. Umpama kamu tidak mengalami depresi, kamu tidak akan terbersit hal seperti ini. Depresi sedang membohongi dirimu’.”

Pergeseran dalam paradigma berpikir ini bisa mencairkan suasana. “Ini melegakan saya,” ungkap Dennis Lowe. "Aku kadang-kadang terpikir bahwa Emily berjalan di atas cangkang telur, tidak ingin menceritakan bagaimana perasaannya. Depresi adalah gajah di dalam ruangan yang tak seorang pun ingin diajaknya bicara, dan aku merasa cukup bersalah. Menempatkan depresi sebagai pihak ketiga adalah perspektif yang tepat. Hal ini membantu saya tahu mengapa saya telah terpuruk seperti yang telah saya alami dan membiarkan diriku di dalamnya sebagai takdir karena menerima apa yang telah terjadi, alih-alih melawannya.”

Galang dukungan. Mengakui akan adanya depresi dalam pernikahan Anda bisa jadi sulit, agar bisa mendapatkan bantuan. Pilihlah teman yang bisa dipercaya—akan lebih baik kepada seseorang yang juga pernah tertimpa depresi dalam kehidupannya atau dalam keluarganya. Dan jika Anda kewalahan dengan tugas ekstra rumah tangga karena pasangan Anda tidak melakukan bagiannya, katakan ya ketika pihak lain menawarkan bantuan. “Pada suatu ketika, aku menangis di gereja, lalu temanku mengagetkanku dan berkata, 'Emily, orang-orang di sini mengantri menunggu untuk membantumu.’ Segera Aku katakan bahwa kami tidak memerlukan bantuan sampai dia membuatku terkesiap [bahwa hal itu] memang nyata adanya. Kami dapati orang-orang membawakan kami makan malam dalam beberapa hari dalam seminggu. Seorang tetangga mengajak anak-anak kami untuk bermalam [di rumahnya], dan senang rasanya mengetahui bahwa mereka menikmatinya. Depresi bisa menyedot semua energi dalam berumah tangga.” 

Pantau mood dan pikiran Anda sendiri. Mendengar rentetan komentar negatif dalam rentang yang lama, mempertahankan bahtera rumah tangga dan keutuhan keluarga besar bersamaan, dan kehilangan aspek-aspek paling indah dan hal paling mendukung dalam pernikahan Anda tidaklah mudah. Selama berbulan-bulan dan [bahkan] bertahun-tahun, bagi pasangan seorang pengidap depresi tersebut mungkin akan menyerah pada kebingungan, menyalahkan diri sendiri, mengalami demoralisasi, dan sebal, jelas Anne Sheffield, penulis Depression Fallout: The Impact of Depression on Couples and What You Can Do to Preserve the Bond. Anda menyimpulkan bahwa Anda harus pergi untuk menyelamatkan diri. Jika ini terlihat lebih akrab, segera cari bantuan untuk diri Anda sendiri—dan pastikan bahwa pasangan Anda melakukan hal yang sama. “Depresi dapat memisahkan pasangan dengan kemampuan dokter bedah dan merupakan pemecah bahtera rumah tangga paling utama,” catat Sheffield dalam bukunya. 

Taklukkan depresi Anda sebelum mencoba untuk menangani bahtera pernikahan Anda. Depresi bisa menimbulkan malapetaka besar dalam bahtera pernikahan Anda. Anda mungkin terbersit untuk memperbaiki apa yang tampak sepertinya masalah yang lebih kecil sebelum beranjak mengatasi penyakit ini sendiri (mungkin akan lebih mudah untuk membujuk pasangan Anda untuk berkomunikasi dengan lebih efektif daripada mengatakan “Saatnya untuk mendapatkan pertolongan,” umpanya). Masuk akal memang untuk meminta pasangan Anda membantu segala hal yang dia bisa lakukan di lingkungan rumah, bertanggung jawab dan memperlakukan Anda dengan baik. Tapi menginginkan perubahan besar itu sementara pasangan berada di bawah pengaruh depresi mungkin hanya akan membuat akumulasi frustrasi. Fokus saja pada menanggulangi depresi terlebih dahulu.

Hargai kebutuhan anda sendiri. Jika pasangan Anda mengalami depresi, Anda masih tetap layak mendapatkan suasanana menyenangkan setiap hari—rumah yang rapi, makanan reguler, lingkungan keluarga yang nyaman—serta persahabatan, kehidupan sosial, dan waktu untuk mengejar minat yang berarti. Sebisa mungkin, teruskan hal-hal itu. Sangatlah mudah menghabiskan waktu Anda untuk mendapatkan segala kebutuhan dan permasalahan pasangan Anda. Tapi jangan mengorbankan kegembiraan dan tujuan Anda sendiri tanpa mempedulikannya. Sebagaimana telah dapati, Anda juga rentan terhadap depresi. Mengejar kesenangan pribadi Anda tidak hanya akan membantu mencegahnya akan tetapi juga akan mempersiapkan Anda lebih baik untuk membantu pasangan Anda.


Dialihbahasakan dari Reader’s Digest https://goo.gl/fdkyV5. Semoga artikel ini bermanfaat 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...