Orang-orang Underrated
Ayahku melarangku mengambil jurusan arkeologi di Universitas London.
Ada gundukan-gundukan tanah ganjil di pekarangan luasnya. Berdasar firasatnya, Edith menduga gundukan tanah di pekarangannya yang begitu luas di Sutton Hoo itu ada sesuatu.
Untuk maksud itu, Ia mempekerjakan Brown—orang miskin dan putus sekolah tingkat SMP dengan minat begitu besar pada arkeologi dan mempelajarinya otodidak. Digambarkan dalam satu dialog di film, Brown hanya lelaki tua miskin yang kemana-mana di tasnya ada buku-buku dan catatan-catatan arkeologi. Dia, Brown yang miskin, hidup dari upah sebagai, sebagaimana dirinya sendiri menyebut, "Eskavator", tukang gali atau tukang keruk tanah, bukan menyebut dirinya sebagai arkeolog. Bentuk banyolan gelap (dark comedy) ketika menertawai dirinya sendiri.
Walau begitu, ia sebenarnya sudah menerbitkan buku tentang teknik-teknik penggalian arkeologi. Dalam satu dialog, Brown mengatakan agar banyak orang tahu dan mempelajari apa yang sudah aku tahu tentang macam-macam tanah dan cara penggaliannya.
Penggalian Brown menarik perhatian nasional atau pemerintah. Banyak pihak berminat mengambil alih proyek itu demi menabalkan namanya atas penemuan besar, sebuah penemuan arkeologis yang akan berdampak besar pada narasi sejarah, memberi tapal batas antara mitos, roman, kebanggaan-kebanggaan, dan ode dari kenyataan sejarah.
Proyek penggalian diambil alih oleh profesor universitas atas rekomendasi dari pihak berwenang. Brown yang notabene bekerja pada Edith dengan upah 2 pound dan beberapa shilling tak bisa berbuat apa. Walau demikian, Edith sangat menghormati kontribusinya dan ia memperjuangkan nama Brown atas temuan besar itu.
Temuan arkeologi situs Sutton Hoo—berkaitan situs pemakaman-kapal zaman Anglia—diumumkan ke publik pasca beberapa tahun berakhirnya Perang Dunia II, berjarak 9 tahun dari kematian Edith, yang memberi pekerjaan Brawn untuk penggalian itu. Pengakuan atas kontribusi mereka berdua atas temuan situs yang memiliki pengaruh luas di bidang arkeologi sendiri baru diakui akhir-akhir ini, setelah mereka sudah mati. Nama mereka berdua dicantumkan pada artefak-artefak yang digali dari situs Sutton Hoo yang sekarang menjadi koleksi dan dipajang di British Museum di London.
Hal-hal Lain
Selain mengajarkan bagaimana menumbuhkan minat dalam diri anak, sebagaimana pengaruh Brown terhadap Robert, film menyisipkan sebuah dialog yang mendalam tentang apa itu hidup. Dalam mobil yang melaju, Edith berkeluh kesah dan sedih akan kenyataan yang pasti, atas gambaran akan dirinya segera mati,
Kita mati. Kita akan mati dan membusuk. Kita tidak terus hidup.
Mendapati Edith dalam kemuraman akan kenyataan sebagaimana mestinya, Brown dengan pembawaannya yang tenang menghibur, tepatnya menasihati akan hakikat, Edith:
Aku tak sependapat. M̶u̶l̶a̶i̶ ̶d̶a̶r̶i̶ c̶a̶p̶ t̶a̶n̶g̶a̶n̶ m̶a̶n̶u̶s̶i̶a̶ ̶d̶i̶ ̶d̶i̶n̶d̶i̶n̶g̶ g̶u̶a, kita adalah bagian dari sesuatu yang terus menerus. Jadi, kita tak benar-benar mati.
Film dipungkasi oleh dialog epik, semacam deklamasi, antara Brown, Edith dan anaknya, Robert, di mana anak dan ibunya berbaring di situs penggalian yang telah rampung dan menatap langit berbintang, serta Brown yang berdiri di samping situs.
Pada akhirnya, kehidupan manusia hanya akan diingat dan diukur dalam jejak karya dan sumbangsih konkritnya bagi kemajuan peradaban dan sosial untuk nengusahakannya lebih baik.


