Some things up to us, some things are not up to us.
![]() |
| Nadiem Makarim sedang membaca Filosofi Teras. |
Tak salah jika buku ini memang ditujukan ke pembaca segmen sosial apapun, dan memang begitulah sepertinya semangat filsafat Stoa yang inklusif, ora ndakik-ndakik. Gambar-gambar ilustratif dan kata-kata pesan yang dicetak memenuhi satu halaman dengan tata letak kekinian. Bagus dan menghibur. Seolah-olah menyihir pembacanya dengan mantra: Biar yang dibahas filsafat, buku ini nggak membahas hal-hal berat dan njlimet kok.
Buku ini memberi Anda pemahaman. Buku ini tidak dapat menolong Anda (lamgsung), melainkan diri Anda sendiri dan satu-satunya yang dapat menolong diri Anda!
Penulis adalah pribadi yang divonis oleh psikiatri mengidap Major Depressive Disorder, istilah medis depresi klinis.
Kesehatan Mental: Fakta, Kesalahpahaman, dan Stigma
Gangguan mental banyak macamnya. Dalam bahasa sehari-hari untuk mudahnya disebut depresi, kadang juga disebut stres. Tekanan pikiran karena berbagai faktor eksternal yang memengaruhi kerja kimiawi otak.
Gangguan mental menimpa lebih dari 264 juta orang di seluruh dunia, begitu rilis dalam satu artikel WHO di lamannya. Depresi adalah penyebab hampir 800.000 jiwa mengakhiri hidupnya per tahun, atau ada 1 orang mengakhiri hidupnya tiap 40 detik di dunia ini. Begitu informasi yang saya kutip dari buku Infodatin (Situasi dan Pencegahan Bunuh Diri) yang dirilis Kemenkes RI pada 2020. Sekitar 10.000 terjadi per tahun di Indonesia. Hari ini kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik kita.
![]() |
Henry Manampiring. Sumber: IDNTimes.com |
Kesehatan mental adalah fenomena gunung es di masyarakat. Persepsi keliru membuat isu ini diabaikan dan terpinggirkan.
Titik tolak bagus memulai tulisannya. Dan, manusia modern membutuhkan penjelasan logis dan praktis untuk lepas dari beban pikiran dalam keseharian. Filsafat Stoa salah satu cara praktis untuk itu. Banyak yang berpandangan keliru menganggap gangguan psikis sebagai gangguan “jiwa” dalam arti berkaitan aspek “ruhaniah” yang tidak ada hubungannya dengan aspek fisik. Karena cara pandang keliru, tak luput penanganannya otomatis keliru.
Stigma dan pandangan serta penanganan keliru lahir karena ketidaktahuan masyarakat bahwa problem psikis juga bisa berkaitan dengan fungsi organ tubuh dan kimia otak.
Capaian sains dan medis hari ini sudah sampai pada tahap lebih baik ketimbang era-era sebelumnya. Capaian itu dengan sendirinya juga bermanfaat praktis dalam penanganan.
Namun begitu, seperti dikutip penulis, laporan penelitian yang dikutipnya menunjukkan fakta bahwa dari 37 persen pasien depresi yang sembuh, hanya 10 persennya saja yang benar-benar bisa lepas sepenuhnya dari depresi selama setahun.
Penanganan medis, yaitu dengan pemberian obat-obatan saja, hanya memandang dari aspek malfungsi otak. Obat-obatan bisa menciptakan mood positif pada orang-orang depresi, tapi ada hal-hal lain dibutuhkan untuk bisa memelihara mental dalam jangka panjang. Fakta ini penting dipertimbangkan dan alasan mengapa filsafat-filsafat berkaitan laku hidup dengan pemaparan rasional dan mudah dijalankan begitu penting hari ini.
Kebahagiaan Selaras Rasio Alam, Areté, dan Interconectedness
![]() |
| Zeno dari Citium (Sumber: Wikimedia). |
Stoisisme acapkali dinisbatkan kepada Zeno, seorang tokoh yang hidup 2300 tahun lalu atau kira-kira pada 300 SM. Pedagang yang dalam perjalanan dagangnya, kapalnya karam beserta dagangannya, kemudian tertarik pada filsafat dan berguru pada banyak filsuf yang berbeda-beda di Athena. Ia kemudian mengajarkan filsafatnya sendiri. Ia seringnya mengajarkan itu di suatu teras berpilar, yang dalam bahasa Yunani disebut stoa, ‘teras’, agora di Yunani. Mungkin itu adalah bangunan besar, dengan pilar-pilar besar pula tentunya, ada di tengah kota untuk publik. Murid-muridnya berkembangnya waktu disebut kaum Stoa. Ajaran filsafat ini meredup pada abad keempat ketika peradaban Yunani jatuh diganti Romawi dan diadopsinya Kristen sebagai ajaran resminya.
Stoisisme menekankan pada keselarasan hidup dengan alam. Inti ajarannya adalah nilai-nilai universal yang dapat diterima siapa saja yang bernalar, dan nilai-nilainya itu yang sama dan menjadi inti di setiap agama atau nilai-nilai etik yang ada di masyarakat mana pun. Menariknya, kita tanpa perlu mendebatkan asal muasal nilai itu. Inilah ciri filsafat Stoa yang inklusif, merangkul semua.
Sebenarnya kata alam dalam banyak literatur Stoisisme ditulis Nature, ‘Alam’. Huruf awal ditulis kapital, tidak ditulis nature. Bukan tanpa maksud. Maksud yang dikehendaki dari “selaras dengan Alam” dalam Stoisisme lebih luas ketimbang pengertian menjaga lingkungan: membuang sampah pada tempatnya, menjaga keseimbangan ekologi, tidak merusak alam. Lebih dari itu,
manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia yang hidup sesuai dengan desainnya, yaitu mahluk bernalar.
Nalar dalam satu tempo juga disebut rasio. Rasio adalah fitur yang esensial dan alamiah dalam diri manusia sekaligus pembeda dengan lainnya. Dengan begitu, selaras dengan alam erat kaitannya dengan cara menggunakan rasio dalam menemukan areté masing-masing.
Areté padanan harfiahnya di bahasa kita adalah bajik atau virtue dalam bahasa Inggris. Areté dalam makna asalnya tidak mirip dengan pemahaman akan padanan katanya di bahasa kita. Kuda yang kuat dan tangguh berlari sekencangnya, ini dapat diartikan bahwa kuda itu juga sudah menjalankan areté-nya. Pemain sepakbola, menjalani profesinya dan bermain sampai batas maksimal kemampuan dan menikmatinya, itu juga areté.
Menjalankan sifat dan esensi dasar kita dengan sebaik mungkin, dengan cara sehat dan terpuji.
Begitu Donald Robertson mendefinisikan. Manampiring memberi pemahaman, mudahnya yaitu hidup sebaik-baiknya dengan peruntukkan kita.
Ini juga bisa diartikan mencari dan menekuni dan mengembangkan apa yang kita minati agar kita bisa menjalani kehidupan yang membahagiakan. Itulah peruntukkan kita.
Pada dasarnya, kebahagian-apatheia yang diusung Stoisisme bercirikan untuk tidak terkungkung oleh emosi negatif-merusak, yaitu kondisi pikiran yang tiada gangguan, tiada emosi.
Dengan kata lain, kebahagiaan Stoisisme berciri negative-logic: tidak ada amarah, waswas, rasa benci, kecewa, iri, dsj. Ini dalam istilah Yunani disebut apatheia, kadang ataraxia, a artinya tidak, patheia artinya penderitaan, dan taraxia artinya masalah. Harfiahnya berarti "tiada emosi" atau "tiada gangguan". Bahagia adalah tidak terganggunya pikiran kita ketika berhadapan situasi apapun.
Kebahagiaan ala Stoisisme jelas berbeda dengan kebahagiaan yang dipahami oleh masyarakat umum. Kebahagiaan menurut masyarakat umum sejatinya suasana psikologis yang menyenangkan karena respon dan kerja kimiawi otak ketika menerima rangsangan dari luar.
Cara kerja otak ini sama ketika kita dihadapkan hal-hal yang tak menyenangkan. Ini sebenarnya masih wilayah kesenangan. Segala hal yang masih butuh rangsangan dari luar masih terkategori kesenangan, misalnya ketika duduk bareng dengan orang yang dicintai, umumnya akan berkata “merasakan kedamaian”. Sejatinya ini masih kategori kesenangan karena momen itu adalah rangsangan dari luar ke otak yang kemudian memengaruhi kerja kimiawinya.
Jika masih sulit diterima, gampangnya, kebahagiaan-apatheia adalah manakala pikiran terbebas dari emosi yang mengganggu, utamanya ketika dihadapkan pada hal-hal tak menyenangkan atau menyebalkan, caranya menetapkan persepsi positif dalam pikiran kita.
Kamu memiliki kendali atas pikiranmu—bukan kejadian-kejadian di luar sana. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.
Stoisisme mengajarkan bahwa keberadaan manusia adalah bagian dari Alam yang lebih besar ... dan semua peristiwa di dalam hidup menaati hukum dan aturan 'Alam'.
Dikotomi dan Trikotomi Kendali
Di semua situasi, bahkan saat kita tidak ada kendali sekalipun, selalu ada bagian di dalam diri kita yang tetap merdeka, yaitu pikiran dan persepsi.
![]() |
| Epictetus (Wikipedia Indonesia). |
Terjemah bebasnya, ada hal-hal yang dikendalikan kita dan ada pula yang tidak. Hal-hal yang ada di bawah kendali kita misalnya pertimbangan, keinginan, tujuan, dbl.
Singkatnya, yang ada di bawah kendali kita adalah pikiran dan tindakan kita. Yang di luar kendali kita adalah opini orang lain, tindakan orang lain, kekayaan, jabatan, karir, dbl. Singkatnya, hal-hal di luar kendali kita adalah segala hal yang bukan berasal dari pikiran kita.
“Kendali” dalam Stoisisme bukan sekedar kemampuan memperoleh. Lebih dari itu, ia diartikan mempertahankan. Kita bisa berargumen bahwa kekayaan atau sukses karir bisa dicapai dengan kerja keras dan keuletan. Apakah kita bisa sepenuhnya mempertahankannya? Epictetus mengajarkan:
Siapa pun yang mengingini atau menghindari hal-hal yang ada di luar kendalinya tidak pernah akan benar-benar merdeka dan bisa setia pada dirinya sendiri, tetapi akan terus terombang-ambing terseret hal-hal tersebut.
Ok, kita bisa menerima—dalam memahami dikotomi kendali tadi—bahwa apa sore nanti hujan atau tidak, ketika pergi ke pasar nanti akan berpapasan siapa, ketika naik kereta nanti siapa di sebelah kita, berapa harga kopi musim panen tahun depan, atau kita tak bisa memilih dari rahim siapa dilahirkan ke dunia. Semua ini adalah yang di luar kendali kita. Namun begitu, apa dikotomi kendali dapat diterapkan semua peristiwa, misalnya prestasi sekolah, nilai mata kuliah, atau menjalin hubungan?
Seorang penulis Stoisisme, seperti sebut penulis, William Irvine dalam bukunya A Guide To Good Life: The Ancient Art of Stoic, mengembangkan dikotomi kendali menjadi model trikotomi kendali.
Beberapa contoh peristiwa memang tak bisa mengaplikasikan dikotomi kendali, contohnya adalah karir pekerjaan di kantor, nilai mata kuliah dan nilai skripsi. Umumnya kita akan meyakini bahwa dengan kerja sungguh-sungguh dan ulet atau belajar tekun dan sungguh-sungguh ada dalam kendali kita.
Yang perlu diingat, nilai ujian skripsi yang akan kita raih adalah di luar kendali kita. Banyak faktor berkaitan dengan nilai skripsi, misalnya, tergantung pada hal-hal di luar kendali kita, seperti mood si dosen penguji kita atau siapa mengira ternyata atasan kita di kantor menyimpan sentimen pribadi pada kita.
Sampai di sini, kita memahami bahwa dalam contoh-contoh ini pun tetap bisa dipahami dalam dikotomi kendali. Yang bisa kita kendalikan adalah belajar sungguh-sungguh, memahami sebaik mungkin materi skripsi kita, menyiapkan presentasi juga sebaik mungkin. Inilah internal goal-nya, yang ada di bawah kendali kita.
Positive Thinking dan Opini Orang Lain
Tema ini sepertinya mendapat sorotan lebih penulis buku. Terlihat dari dua topik ini yang ditulis dalam subbab terpisah dan tersendiri. Bukan tanpa alasan, penulis sepertinya hendak menyadarkan kita bahwa dua hal ini sumber munculnya emosi-emosi negatif yang merusak suasana pikiran.
Positive thinking yang selama ini kita anggap “ramuan” ampuh agar hidup menjadi bahagia, di buku ini dikatakan justru mengandung problem. Laporan-laporan yang dikutip penulis, menyatakan bahwa:
Mereka yang menerapkan positive thinking dalam berusaha mencapai tujuannya sering kali memperoleh hasil yang lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang tidak menerapkan positive thinking.
Sebab, di pikiran kita seolah apa yang dituju sudah diraih, sehingga melemahkan keuletan kita dalam berusaha mencapainya. Lebih-lebih ketika gagal, ini akan membuat penganut positive thinking lebih tertekan karena secara implisit mengandung “penyalahan diri” dan ini lebih merusak ketimbang kegagalan itu sendiri.
Para penulis laporan justru menyarankan mental contrasting, yaitu penggabungan antara positive thinking dengan memikirkan hambatan-hambatannya. Perusak kesehatan mental lainnya adalah terpaku dan menyibukkan diri pada opini orang lain terhadap kita. Kita lahir bukan untuk menyenangkan mereka, mereka lahir bukan untuk menyenangkan kita. Kita hanya perlu hidup bajik. Opini orang lain ibarat tiran yang membelenggu kita. Di kehidupan ini, pikiran kita sering kali menyibukkan diri dan dihabiskan untuk ini. Kita tidak bisa mengontrol pikiran orang lain. Namun begitu, ini yang susah menurut saya,
Stoik adalah mempraktikkan kathekonta: memenuhi kewajiban-kewajiban sosial-kemasyarakatan yang selayaknya ditunaikan, yang sejatinya itu tidak wajib.
Penutup
Buku ini menghadirkan filsafat dengan bahasa yang renyah, mudah dipaham oleh semua kalangan. Narasinya mengalir seperti mendongeng dan bisa dipahami dan dipraktikkan siapa saja. Kekurangan buku ini, secara pribadi yang terbiasa baca tulisan gaya formal, selain dibubuhinya kisah-kisah pribadi yang fungsinya sebagai analogi, adalah sistematikanya. Secara pribadi, karena gaya penulisan dan penyajiannya yang narasi populer, secara relatif, kesulitan memahami dan mengabstraksi topik-topik yang dibicarakan dan merangkai garis-garis temu imajiner poin-poin di benak saya pribadi. Namun begitu, buku ini bisa kita jadikan “gerbang” awal untuk memahami Stoisisme lebih lanjut.
Lebih dari semuanya itu, sebagaimana ujar penulis, buku ini ditulis dengan tujuan agar setiap pembacanya bisa bahagia dengan memahami dan berpegang pada ajaran dikotomi kendali, inti ajaran Stoisisme, dalam menjalani kehidupan.




Komentar
Posting Komentar