Langsung ke konten utama

Ngulik Buku Filosofi Teras-nya Manampiring

Some things up to us, some things are not up to us.
— Epictetus.

BUKU Henry Manampiring ini disajikan dengan gaya penulisan dan penyajian format buku populer,  bukan formalistis. Narasi mengalir seperti bercerita dan mendongeng.

Nadiem Makarim sedang membaca Filosofi Teras.

Tak salah jika buku ini memang ditujukan ke pembaca segmen sosial apapun, dan memang begitulah sepertinya semangat filsafat Stoa yang inklusif, ora ndakik-ndakik. Gambar-gambar ilustratif dan kata-kata pesan yang dicetak memenuhi satu halaman dengan tata letak kekinian. Bagus dan menghibur. Seolah-olah menyihir pembacanya dengan mantra: Biar yang dibahas filsafat, buku ini nggak membahas hal-hal berat dan njlimet kok.

Buku ini memberi Anda pemahaman. Buku ini tidak dapat menolong Anda (lamgsung), melainkan diri Anda sendiri dan satu-satunya yang dapat menolong diri Anda!

Penulis adalah pribadi yang divonis oleh psikiatri mengidap Major Depressive Disorder, istilah medis depresi klinis.


Kesehatan Mental: Fakta, Kesalahpahaman, dan Stigma 

Gangguan mental banyak macamnya. Dalam bahasa sehari-hari untuk mudahnya disebut depresi, kadang juga disebut stres. Tekanan pikiran karena berbagai faktor eksternal yang memengaruhi kerja kimiawi otak.

Gangguan mental menimpa lebih dari 264 juta orang di seluruh dunia, begitu rilis dalam satu artikel WHO di lamannya. Depresi adalah penyebab hampir 800.000 jiwa mengakhiri hidupnya per tahun, atau ada 1 orang mengakhiri hidupnya tiap 40 detik di dunia ini. Begitu informasi yang saya kutip dari buku Infodatin (Situasi dan Pencegahan Bunuh Diri) yang dirilis Kemenkes RI pada 2020. Sekitar 10.000 terjadi per tahun di Indonesia. Hari ini kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik kita.

Henry Manampiring. Sumber: IDNTimes.com
Yang menarik, penulis menempatkan Bab I tentang survei kekawatiran dan Ia jadikan pula sebagai judul babnya: "Survei Khawatir Nasional". Eits, jangan salah, sebenarnya ini bukanlah survei yang dilakukan otoritas resmi terkait itu, melainkan survei penulis melalui platform media sosial Twitter. Penulis memulai diskusinya pada isu-isu konkret keseharian, permasalahan masyarakat modern hari ini. Meski bukan gambaran fakta yang presisi di lapangan seratus persen, survei yang dilakukan penulis buku menguak fakta kecemasan, kekhawatiran, dan depresi yang tak tampak di permukaan dalam masyarakat.

Kesehatan mental adalah fenomena gunung es di masyarakat. Persepsi keliru membuat isu ini diabaikan dan terpinggirkan.

Titik tolak bagus memulai tulisannya. Dan, manusia modern membutuhkan penjelasan logis dan praktis untuk lepas dari beban pikiran dalam keseharian. Filsafat Stoa salah satu cara praktis untuk itu. Banyak yang berpandangan keliru menganggap gangguan psikis sebagai gangguan “jiwa” dalam arti berkaitan aspek “ruhaniah” yang tidak ada hubungannya dengan aspek fisik. Karena cara pandang keliru, tak luput penanganannya otomatis keliru.

Stigma dan pandangan serta penanganan keliru lahir karena ketidaktahuan masyarakat bahwa problem psikis juga bisa berkaitan dengan fungsi organ tubuh dan kimia otak.

Capaian sains dan medis hari ini sudah sampai pada tahap lebih baik ketimbang era-era sebelumnya. Capaian itu dengan sendirinya juga bermanfaat praktis dalam penanganan.

Namun begitu, seperti dikutip penulis, laporan penelitian yang dikutipnya menunjukkan fakta bahwa dari 37 persen pasien depresi yang sembuh, hanya 10 persennya saja yang benar-benar bisa lepas sepenuhnya dari depresi selama setahun.

Penanganan medis, yaitu dengan pemberian obat-obatan saja, hanya memandang dari aspek malfungsi otak. Obat-obatan bisa menciptakan mood positif pada orang-orang depresi, tapi ada hal-hal lain dibutuhkan untuk bisa memelihara mental dalam jangka panjang. Fakta ini penting dipertimbangkan dan alasan mengapa filsafat-filsafat berkaitan laku hidup dengan pemaparan rasional dan mudah dijalankan begitu penting hari ini.


Kebahagiaan Selaras Rasio Alam, Areté, dan Interconectedness

Stoisisme erat dengan filsafat laku hidup. Tema-tema yang dibicarakan tidak melulu konsep-konsep filosofis abstrak yang analitik sistematis dan mengawang-awang. 
Zeno dari Citium (Sumber: Wikimedia).

Stoisisme acapkali dinisbatkan kepada Zeno, seorang  tokoh yang hidup 2300 tahun lalu atau kira-kira pada 300 SM. Pedagang yang dalam perjalanan dagangnya, kapalnya karam beserta dagangannya, kemudian tertarik pada filsafat dan  berguru pada banyak filsuf yang berbeda-beda di Athena. Ia kemudian mengajarkan filsafatnya sendiri. Ia seringnya mengajarkan itu di suatu teras berpilar, yang dalam bahasa Yunani disebut stoa, ‘teras’, agora di Yunani. Mungkin itu adalah bangunan besar, dengan pilar-pilar besar pula tentunya, ada di tengah kota untuk publik. Murid-muridnya berkembangnya waktu disebut kaum Stoa. Ajaran filsafat ini meredup pada abad keempat ketika peradaban Yunani jatuh diganti Romawi dan diadopsinya Kristen sebagai ajaran resminya.

Stoisisme menekankan pada keselarasan hidup dengan alam. Inti ajarannya adalah nilai-nilai universal yang dapat diterima siapa saja yang bernalar, dan nilai-nilainya itu yang sama dan menjadi inti di setiap agama atau nilai-nilai etik yang ada di masyarakat mana pun. Menariknya, kita tanpa perlu mendebatkan asal muasal nilai itu. Inilah ciri filsafat Stoa yang inklusif, merangkul semua.

Sebenarnya kata alam dalam banyak literatur Stoisisme ditulis Nature, ‘Alam’. Huruf awal ditulis kapital, tidak ditulis nature. Bukan tanpa maksud. Maksud yang dikehendaki dari “selaras dengan Alam” dalam Stoisisme lebih luas ketimbang pengertian menjaga lingkungan: membuang sampah pada tempatnya, menjaga keseimbangan ekologi, tidak merusak alam.  Lebih dari itu,

manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia yang hidup sesuai dengan desainnya, yaitu mahluk bernalar.

Nalar dalam satu tempo juga disebut rasio. Rasio adalah fitur yang esensial dan alamiah dalam diri manusia sekaligus pembeda dengan lainnya. Dengan begitu, selaras dengan alam erat kaitannya dengan cara menggunakan rasio dalam menemukan areté masing-masing.

Areté padanan harfiahnya di bahasa kita adalah bajik atau virtue dalam bahasa Inggris. Areté dalam makna asalnya tidak mirip dengan pemahaman akan padanan katanya di bahasa kita. Kuda yang kuat dan tangguh berlari sekencangnya, ini dapat diartikan bahwa kuda itu juga sudah menjalankan areté-nya. Pemain sepakbola, menjalani profesinya dan bermain sampai batas maksimal kemampuan dan menikmatinya, itu juga areté

Menjalankan sifat dan esensi dasar kita dengan sebaik mungkin, dengan cara sehat dan terpuji.

Begitu Donald Robertson mendefinisikan. Manampiring  memberi pemahaman, mudahnya yaitu hidup sebaik-baiknya dengan peruntukkan kita.

Ini juga bisa diartikan mencari dan menekuni dan mengembangkan apa yang kita minati agar kita bisa menjalani kehidupan yang membahagiakan. Itulah peruntukkan kita.

Pada dasarnya, kebahagian-apatheia yang diusung Stoisisme bercirikan untuk tidak terkungkung oleh emosi negatif-merusak, yaitu kondisi pikiran yang tiada gangguan, tiada emosi.

Dengan kata lain, kebahagiaan Stoisisme berciri negative-logic: tidak ada amarah, waswas, rasa benci, kecewa, iri, dsj. Ini dalam istilah Yunani disebut apatheia, kadang ataraxia, a artinya tidak, patheia artinya penderitaan, dan taraxia artinya masalah. Harfiahnya berarti "tiada emosi" atau "tiada gangguan". Bahagia adalah tidak terganggunya pikiran kita ketika berhadapan situasi apapun.

Kebahagiaan ala Stoisisme jelas berbeda dengan kebahagiaan yang dipahami oleh masyarakat umum. Kebahagiaan menurut masyarakat umum sejatinya suasana psikologis yang menyenangkan karena respon dan kerja kimiawi otak ketika menerima rangsangan dari luar.

Cara kerja otak ini sama ketika kita dihadapkan hal-hal yang tak menyenangkan. Ini sebenarnya masih wilayah kesenangan. Segala hal yang masih butuh rangsangan dari luar masih terkategori kesenangan, misalnya ketika duduk bareng dengan orang yang dicintai, umumnya akan berkata “merasakan kedamaian”. Sejatinya ini masih kategori kesenangan karena momen itu adalah rangsangan dari luar ke otak yang kemudian memengaruhi kerja kimiawinya.

Jika masih sulit diterima, gampangnya, kebahagiaan-apatheia adalah manakala pikiran terbebas dari emosi yang mengganggu, utamanya ketika dihadapkan pada hal-hal tak menyenangkan atau menyebalkan, caranya menetapkan persepsi positif dalam pikiran kita. 

Kamu memiliki kendali atas pikiranmu—bukan kejadian-kejadian di luar sana. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.
Termasuk ajaran fundamental Stoisisme, bahwasanya kehidupan manusia dengan jaringan Semesta ini adalah tak terpisahkan dan semua peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup tunduk pada hukum Semesta itu. Diri kita bagian dari jaring-jaring yang besar itu, satu hal atau kejadian adalah akibat dari kejadian sebelumnya.
Stoisisme mengajarkan bahwa keberadaan manusia adalah bagian dari Alam yang lebih besar ... dan semua peristiwa di dalam hidup menaati hukum dan aturan 'Alam'.

 

Dikotomi dan Trikotomi Kendali 

Dikotomi kendali adalah ajaran fundamental dalam Stoisisme.
Di semua situasi, bahkan saat kita tidak ada kendali sekalipun, selalu ada bagian di dalam diri kita yang tetap merdeka, yaitu pikiran dan persepsi.
Epictetus mengatakan Some things up to us, some things are not up to us. 
Epictetus (Wikipedia Indonesia).

Terjemah bebasnya, ada hal-hal yang dikendalikan kita dan ada pula yang tidak. Hal-hal yang ada di bawah kendali kita misalnya pertimbangan, keinginan, tujuan, dbl.

Singkatnya, yang ada di bawah kendali kita adalah pikiran dan tindakan kita. Yang di luar kendali kita adalah opini orang lain, tindakan orang lain, kekayaan, jabatan, karir, dbl. Singkatnya, hal-hal di luar kendali kita adalah segala hal yang bukan berasal dari pikiran kita. 

“Kendali” dalam Stoisisme bukan sekedar kemampuan memperoleh. Lebih dari itu, ia diartikan mempertahankan. Kita bisa berargumen bahwa kekayaan atau sukses karir bisa dicapai dengan kerja keras dan keuletan. Apakah kita bisa sepenuhnya mempertahankannya? Epictetus mengajarkan:

Siapa pun yang mengingini atau menghindari hal-hal yang ada di luar kendalinya tidak pernah akan benar-benar merdeka dan bisa setia pada dirinya sendiri, tetapi akan terus terombang-ambing terseret hal-hal tersebut.

Ok, kita bisa menerima—dalam memahami dikotomi kendali tadi—bahwa apa sore nanti hujan atau tidak, ketika pergi ke pasar nanti akan berpapasan siapa, ketika naik kereta nanti siapa di sebelah kita, berapa harga kopi musim panen tahun depan, atau kita tak bisa memilih dari rahim siapa dilahirkan ke dunia. Semua ini adalah yang di luar kendali kita. Namun begitu, apa dikotomi kendali dapat diterapkan semua peristiwa, misalnya prestasi sekolah, nilai mata kuliah, atau menjalin hubungan?

Seorang penulis Stoisisme, seperti sebut penulis, William Irvine dalam bukunya A Guide To Good Life: The Ancient Art of Stoic, mengembangkan dikotomi kendali menjadi model trikotomi kendali. 

Beberapa contoh peristiwa memang tak bisa mengaplikasikan dikotomi kendali, contohnya adalah karir pekerjaan di kantor, nilai mata kuliah dan nilai skripsi. Umumnya kita akan meyakini bahwa dengan kerja sungguh-sungguh dan ulet atau belajar tekun dan sungguh-sungguh ada dalam kendali kita.

Yang perlu diingat, nilai ujian skripsi yang akan kita raih adalah di luar kendali kita. Banyak faktor berkaitan dengan nilai skripsi, misalnya, tergantung pada hal-hal di luar kendali kita, seperti mood si dosen penguji kita atau siapa mengira ternyata atasan kita di kantor menyimpan sentimen pribadi pada kita.

Sampai di sini, kita memahami bahwa dalam contoh-contoh ini pun tetap bisa dipahami dalam dikotomi kendali. Yang bisa kita kendalikan adalah belajar sungguh-sungguh, memahami sebaik mungkin materi skripsi kita, menyiapkan presentasi juga sebaik mungkin. Inilah internal goal-nya, yang ada di bawah kendali kita.


Positive Thinking dan Opini Orang Lain 

Tema ini sepertinya mendapat sorotan lebih penulis buku. Terlihat dari dua topik ini yang ditulis dalam subbab terpisah dan tersendiri. Bukan tanpa alasan, penulis sepertinya hendak menyadarkan kita bahwa dua hal ini sumber munculnya emosi-emosi negatif yang merusak suasana pikiran.

Positive thinking yang selama ini kita anggap “ramuan” ampuh agar hidup menjadi bahagia, di buku ini dikatakan justru mengandung problem. Laporan-laporan yang dikutip penulis, menyatakan bahwa:

Mereka yang menerapkan positive thinking dalam berusaha mencapai tujuannya sering kali memperoleh hasil yang lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang tidak menerapkan positive thinking. 

Sebab, di pikiran kita seolah apa yang dituju sudah diraih, sehingga melemahkan keuletan kita dalam berusaha mencapainya. Lebih-lebih ketika gagal, ini akan membuat penganut positive thinking lebih tertekan karena secara implisit mengandung “penyalahan diri” dan ini lebih merusak ketimbang kegagalan itu sendiri.

Para penulis laporan justru menyarankan mental contrasting, yaitu penggabungan antara positive thinking dengan memikirkan hambatan-hambatannya. Perusak kesehatan mental lainnya adalah terpaku dan menyibukkan diri pada opini orang lain terhadap kita. Kita lahir bukan untuk menyenangkan mereka, mereka lahir bukan untuk menyenangkan kita. Kita hanya perlu hidup bajik. Opini orang lain ibarat tiran yang membelenggu kita. Di kehidupan ini, pikiran kita sering kali menyibukkan diri dan dihabiskan untuk ini. Kita tidak bisa mengontrol pikiran orang lain. Namun begitu, ini yang susah menurut saya,

Stoik adalah mempraktikkan kathekonta: memenuhi kewajiban-kewajiban sosial-kemasyarakatan yang selayaknya ditunaikan, yang sejatinya itu tidak wajib.

 

Penutup 

Buku ini menghadirkan filsafat dengan bahasa yang renyah, mudah dipaham oleh semua kalangan. Narasinya mengalir seperti mendongeng dan bisa dipahami dan dipraktikkan siapa saja. Kekurangan buku ini, secara pribadi yang terbiasa baca tulisan gaya formal, selain dibubuhinya kisah-kisah pribadi yang fungsinya sebagai analogi, adalah sistematikanya. Secara pribadi, karena gaya penulisan dan penyajiannya yang narasi populer, secara relatif, kesulitan memahami dan mengabstraksi topik-topik yang dibicarakan dan merangkai garis-garis temu imajiner poin-poin di benak saya pribadi. Namun begitu, buku ini bisa kita jadikan “gerbang” awal untuk memahami Stoisisme lebih lanjut.

Lebih dari semuanya itu, sebagaimana ujar penulis, buku ini ditulis dengan tujuan agar setiap pembacanya bisa bahagia dengan memahami dan berpegang pada ajaran dikotomi kendali, inti ajaran Stoisisme, dalam menjalani kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...