Langsung ke konten utama

Sartre: Konflik dan Kerja Sama

Dalam Eksistensialisme Sartre, memahami hakikat relasi manusia tidak bisa dilepaskan dari: "eksistensi mendahului esensi". Karenanya, inti relasi manusia adalah konflik. Sebagai material-organis, dan kesadarannya yang muncul dari yang organis itu, ia memerlukan yang anorganis agar kuasa menjalani dan menghidupi materialnya itu, yaitu terkait makna (esensi) diri. Hanya aku satu-satunya subjek tunggal, tak ada subjek lain. Karenanya, hakikat diri setiap kesadaran-kesadaran yang saling bersua adalah menidak satu sama lain. Dengan kata lain, terjadi negasi subjek-objek. Kehadiran orang lain dengan sendirinya meng-objek-kan aku, yang masuk dalam sorot pandang dirinya atas dunia. Kebebasanku tidak ada ruang dalam pandangannya; aku adalah objek dunianya, terepresentasi dalam roso welas atau bisa juga dalam representasi masokismenya.

Jean Paul Sartre.
Sebaliknya, bagi aku, dia termasuk objek pandanganku akan dunia, terwujud dalam sikap acuh, dominasi dalam hasrat seksual, atau benci ketika memberontak untuk diobjektifikasi. Dalam arti, dalam dialektika ini, tidak ada ruang untuk relasi "mitsein" (subjek-subjek). Dengan kata lain, relasi konkrit orang dengan orang lain, ada 2 hal dalam pandangan masing-masing kesadaran itu: pertama, takluk atau tunduk begitu saja dan membiarkan orang lain mengobjekkan aku; atau kedua, sebaliknya, aku tidak tunduk dan ditaklukkan pada objektivikasi yang dilakukan kesadaran lain, dan memandang dia adalah bagian objek duniaku.

Objektivikasi yang dilakukan masing-masing kesadaran inilah pemaknaan diri oleh setiap yang-berkesadaran. Oleh karenanya, meski manusia adalah materi, ia adalah bebas dalam memakna diri atas eksistensi personalnya.

Karena kesadarannya untuk makna diri, individu itu juga sebagai "organisme-praktis", yang bebas. Namun kebebasan teraleniasi atau terasing atau tercerabut.

Kebebesan yang mengalienasi itu, manifestasinya dalam ranah praksis adalah mengobjektivikasi diri dalam berbagai produk kesadaran yang sudah tersedia. Praksis kebebasan tadi menjadi anti-praksis, tanpa subjek lagi, yaitu ketika individu manusia menemukan yang tersedia dalam "kolam makna diri", tetapi sebenarnya juga tak dikehendaki secara sadar.

Tindakan manusia bukan lagi tindakan aku sebagai pekerja pencari esensi, melainkan kerja/tindakan yang telah ditentukan oleh bahan-bahan yang sudah diolah atau sudah diciptakan dalam mendefinisikan diri, di ranah praksis.

Fase ini, relasi antarmanusia adalah relasi impersonal, dalam istilah Sartre, "serialitas". Manusia-manusia adalah sekedar sekumpulan benda atau deretan angka. Kumpulan atau susunan kesatuan yang sebenarnya. Dicirikan keberlainan satu dengan lainnya, orang lain tak lebih orang lain saja. Tingkah lakunya ditentukan "le champ practico-internete" saja. Bertindak sesuatu karena pasivitas, disebabkan adanya bahan pemberi definisi diri, bukan makna diri, dalam relasi—atau kerjasama—serialitas atau impersonal.