Anda besar kemungkinan pernah mendengar ketersadaran-sepenuhnya[1], yaitu transliterasi dari vipassana. Akhir-akhir ini, hal ini digandrungi di mana-mana. Banyak ide dan praktiknya diadopsi dari teks-teks Buddhis, yang sekarang telah menjadi bagian budaya arus utama Barat.
Namun sebuah penelitian yang terbit baru-baru ini dalam jurnal Perspectives on Psychological Science menunjukkan ada hippie mendahului bukti. Beberapa penelitian tentang ketersadaran-sepenuhnya menunjukkan bahwa ini dapat membantu problem psikologis semisal kecemasan, depresi, dan stres. Akan tetapi, tidak jelas ketersadaran-sepenuhnya atau meditasi yang seperti apa yang kita butuhkan dan yang bagaimana untuk masalah tertentu yang lebih spesifik.
![]() |
Pada saat yang sama, jika kita menggeser titik arah tuju terlalu jauh atau ke arah yang salah, kita bisa saja kehilangan manfaat potensial didapat dari ketersadaran-sepenuhnya tadi.
Apa itu Ketersadaran-Sepenuhnya?
Ada berbagai macam definisi tentang ketersadaran-sepenuhnya yang tentu saja membingungkan. Psikolog mengukur konsep sadar-sepenuhnya dalam bentuk kombinatif dari gabungan konsep penerimaan diri (acceptance), atensi atau kemamouan fokus (attentiveness), kepekaan (wasphadá/awarness), body focus, kecermatan analisis pikiran (éling/curiosity), sikap pikiran tidak menilai atau non-judgmental, keterhadiran pikiran pada momen saat-kini dan di-sini, dll.
Ketidakjelasan definisi akan berkorelasi terhadap ketidakjelasan praktik. Latihan singkat self-reflection yang dianjurkan oleh aplikasi di ponsel pintar anda di keseharian hidup anda bisa saja dianggap sama seperti retret meditasi berbulan-bulan. Sadar-sepenuhnya bisa juga dipahami merujuk pada apa yang dilakukan para bikkhu Buddha dan bisa juga merujuk apa yang diperintahkan instruktur yoga anda selama lima menit di awal dan lima menit di akhir kelas yoga.
Untuk lebih jelasnya, ketersadaran-sepenuhnya dan meditasi adalah hal berlainan. Ada jenis meditasi yang untuk mendorong keterhadiran pikiran pada momen nyata (mindful), akan tetapi tidak semua ketersadaran-sepenuhnya itu memerlukan meditasi dan tidak semua meditasi didasari [secara-pasif untuk mengupayakan] ketersadaran-sepenuhnya.
Ketersadaran-sepenuhnya utamanya mengacu pada gagasan untuk hadirnya pikiran pada momen saat-kini dan di-sini, tetapi tidak sesederhana itu juga. Ini juga mengacu pada beberapa bentuk praktik meditasi yang bertujuan secara pasif untuk mengembangkan keterampilan merasakan sepenuhnya sadar akan dunia di sekeliling anda dan pola perilaku dan kebiasaan anda. Sebenarnya, banyak yang tidak setuju tentang tujuan yang sebenarnya dan apa itu sejatinya ketersadaran-sepenuhnya.
Ketersadaran-Sepenuhnya untuk Apa?
Kesadaran-sepenuhnya bisa diterapkan di hampir semua hal yang terbersit di pikiran—mulai dari problem hubungan asmara, problem dengan alkohol atau obat-obatan, hingga cara meningkatkan leadership skill. Ketersadaran-sepenuhnya juga digunakan oleh olahragawan untuk menemukan "ketercerahan" di dalam dan di luar lapangan, dan program ketersadaran-sepenuhnya juga diperkenalkan di sekolah-sekolah. Anda dapat menemukannya di tempat kerja, klinik medis, hingga panti jompo.
Semakin banyak pula buku populer telah ditulis yang memuji-muji manfaat ketersadaran-sepenuhnya dan meditasi. Sebagai contoh, dalam buku berisi ulasan kritis Altered Traits: Science Reveals How Meditation Changes your Mind, Brain and Body, Daniel Goleman berpendapat bahwa salah satu dari empat manfaat ketersadaran-sepenuhnya adalah meningkatkan memori otak. Namun, tinjauan baru-baru ini, ada sekitar 18 studi yang mengeksplorasi efek keterkaitan terapi berbasis ketersadaran-sepenuhnya dengan memori otak mempertanyakan ide-ide tadi.
Klaim yang umum menyembul lainnya adalah, bahwasanya ketersadaran-sepenuhnya mampu mereduksii stres, yang nyatanya memiliki bukti lemah. Janji-janji lainnya, meningkatkan suasana pikiran dan atensi, kebiasaan makan lebih baik, meningkatkan kualitas tidur, dan kontrol berat badan yang lebih baik. Itu semua tidak sepenuhnya didukung oleh bukti-bukti saintifik.
Ketika manfaatnya memiliki keterbatasan bukti, ketersadaran-sepenuhnya dan meditasi kadang bisa saja membahayakan dan dapat menyebabkan psikosis, maniak, kelimbungan identitas diri, kecemasan, panik, dan mengalami kembali ingatan-ingatan traumatis. Para ahli telah menyarankan bahwa ketersadaran-sepenuhnya tidak digunakan untuk menangani semua orang, terutama bagi mereka yang menderita beberapa problem kesehatan mental serius, seperti skizofrenia atau gangguan bipolar.
Penelitian Ketersadaran-Sepenuhnya
Secara literatur, problem lain terkait ketersadaran-sepenuhnya adalah acapkali konsep metodologi penelitiannya yang lemah. Cara mengukur ketersadaran-sepenuhnya sangat bervariasi, yaitu menilai fenomena yang begitu jauh berbeda tetapi menggunakan cara yang sama. Kurangnya kesepemahaman antara cara mengukur yang bagaimana tepatnya dan individu-individu yang berbeda pemahaman membuat ketersadaran-penuh berkebalikan dengan generalisasi istilahnya dalam berbagai studi kajian.
Para peneliti yang mengkaji ketersadaran-penuh terlalu mengandalkan kuesioner, yang mengharuskan orang untuk introspeksi dan menggambarkan keadaan mentalnya yang bisa saja berubah-ubah setiap saat. Laporan-laporan semacam ini rentan mengandung bias. Misalnya, orang yang berkeinginan melatih dirinya untuk skil ketersadaran-sepenuhnya justru melaporkan keadaan dirinya dalam ketersadaran-sepenuhnya karena ia menginginkan gambaran akan dirinya seperti itu, bukan karena benar-benar telah pada titik itu.
Hanya ada sedikit kemauan untuk mengevaluasi apakah treatmen dengan mengadopsi ketersadaran-sepenuhnya benar-benar bekerja dengan cara membandingkannya terhadap treatmen model lain yang sudah diketahui keberhasilannya—yang mana model primer dalam sains-klinis nantinya bisa memberi tahu seberapa nilai tambah dari treatmen baru tadi. Dan, studi semacam ini sedikit sekali dilakukan dalam praktik-klinis reguler dibanding di dalam konteks penelitian spesialisasi.
Ada sebuah penelitian baru-baru ini, yang dikerjakan oleh the US Agency for Healthcare Research and Quality, didapati banyaknya penelitian yang dikerjakan dengan cara yang begitu tidak layak untuk dikatakan penelitian yang memadai dan karenanya treatmen ketersadaran-sepenuhnya secara moderat hanya efektif, paling jauh, untuk menangani masalah kecemasan, depresi, dan rasa sakit. Tidak ada bukti bahwa itu manjur bagi permasalahan tidak bisa fokus (attention problems), suasana pikiran (mood) positif, penyalahgunaan zat adiktif, kebiasaan makan, tidur, atau kontrol berat badan.
Apa yang Harus Kita Selesaikan?
Ketersadaran-sepenuhnya tentu saja konsep yang berguna dan serangkaian praktik yang menjanjikan. Dapat membantu mencegah problem-problem psikologis dan bisa digunakan sebagai treatment tambahan dari yang sudah ada. Ini juga dapat membantu merawat fungsi mental secara general dan kesehatannya. Namun, janji semacam itu tidak akan terwujud jika permasalahan-permasalahannya tidak segera diselesaikan.
Kalangan penelaah tentang ketersadaran-penuh harus merumuskan fitur kunci yang sangat esensial terkait apa itu ketersadaran-sepenuhnya sebenarnya dan para peneliti harus gambaran gamblang bagaimana penanganan dan praktiknya akan hal-hal tadi. Laporan media juga harus sama spesifiknya terkait apa yang termasuk keadaan mentalnya dan praktik-praktik yang mana termasuk yang dapat menumbuhkan ketersadaran-sepenuhnya, ketimbang mengadopsi ketersadaran-sepenuhnya sebagai istilah secara tidak soesifik.
Ketersadaran-sepenuhnya dapat dievaluasi tidak sekedar melalui self-reporting, tetapi juga menggunakan parameter neurobiologis dan tindakan evaluasi yang lebih objektif, misalnya kalkulasi nafas. Di sinilah ritme acak dapat digunakan untuk "menanyakan" ke peserta apakah mereka fokus pada aliran ritme nafasnya (tekan tombol kiri) atau justru pikiran mereka melanglang buana (tekan tombol kanan).
Para peneliti yang meneliti terkait kemanjuran treatmen dari ketersadaran-sepenuhnya seyogyanya membandingkannya juga dengan model treatmen lain yang kredibel, jikalau memungkinkan. Pengembangan pendekatan baru untuk ketersadaran-sepenuhnya harus dihindari sebelum kita tahu lebih banyak tentang yang sudah kita pelajari. Para saintis dan dokter seyogyanya juga melakukan eksperimen penelitian dengan model pengambilan sampel acak secara ketat dan bekerja sama dengan para peneliti di luar lingkaran peneliti yang secara tradisi menaruh perhatian atas ketersadaran-sepenuhnya ini.
Terakhir, para peneliti dan praktisi ketersadaran-penuh juga harus mengakui kenyataan dari efek negatif yang sesekali bisa saja muncul. Sebagaimana halnya obat-obatan medis yang harus menyatakan potensi efek sampingnya, demikian pula treatmen ketersadaran-penuh tadi. Para peneliti harus secara sistematis mengevaluasi potensi efek sampingnya saat menelaah atas model treatmen ketersadaran-penuh. Praktisi harus waspada terhadap hal-hal tadi dan tidak merekomendasikan treatmen tadi sebagai pendekatan pertama jikalau ada treatmen yang lebih aman dengan bukti sahih kemanjurannya.
------------
Artikel asli: Nicholas T. Van Dam, "What is mindfulness? Nobody really know, and that's a problem", The Conversation 11 Okteober 2017,
------------
Catatan kaki ditambahkan:
[1] "Ketersadaran-sepenuhnya" atau "kesadaran-sepenuhnya", saya gunakan secara bergantian, adalah padanan yang saya pilih untuk "mindfulness" dalam naskah asal. Kedua istilah ini adalah transliterasi dari "vipassanā" dalam ajaran meditasi Buddhis, mengacu pada kondisi mental yang hadir sepenuhnya pada momen yang dihadapi atau dikerjakan seseorang itu, atau momen saat-ini dan di-sini, yaitu satu kondisi mental dalam ke-nibbana-an. Istilah ini bertalian erat dengan filosofi fundamental Buddhisme, yaitu berkaitan "pikiran benar" dan "pandangan benar". Dua hal itu jika dirumuskan dalam kalimat singkat dan padat adalah: pikiran-faktual sesuai dengan kenyataan-aktual.

