Langsung ke konten utama

Apa Itu Ketersadaran-Sepenuhnya? Tak Ada yang Tahu Persis dan Ini Masalahnya

Anda besar kemungkinan pernah mendengar ketersadaran-sepenuhnya[1], yaitu transliterasi dari vipassana. Akhir-akhir ini, hal ini digandrungi di mana-mana. Banyak ide dan praktiknya diadopsi dari teks-teks Buddhis, yang sekarang telah menjadi bagian budaya arus utama Barat.

Namun sebuah penelitian yang terbit baru-baru ini dalam jurnal Perspectives on Psychological Science menunjukkan ada hippie mendahului bukti. Beberapa penelitian tentang ketersadaran-sepenuhnya menunjukkan bahwa ini dapat membantu problem psikologis semisal kecemasan, depresi, dan stres. Akan tetapi, tidak jelas ketersadaran-sepenuhnya atau meditasi yang seperti apa yang kita butuhkan dan yang  bagaimana untuk masalah tertentu yang lebih spesifik.

Di dalam penelitian-penelitian tadi yang melibatkan banyak peneliti, dokter, dan meditator tidak ada definisi jelas tentang ketersadaran-sepenuhnya. Hal ini memiliki akibat potensial serius. Ketika terdapat penanganan dan praktik yang jauh berbeda dianggap sama, maka bukti yang disuguhkan dalam penelitian-penelitian tadi mungkin cocok untuk mendukung yang satunya, bisa saja tudak tepat untuk lainnya.

Pada saat yang sama, jika kita menggeser titik arah tuju terlalu jauh atau ke arah yang salah, kita bisa saja kehilangan manfaat potensial didapat dari ketersadaran-sepenuhnya tadi.

Apa itu Ketersadaran-Sepenuhnya?

Ada berbagai macam definisi tentang ketersadaran-sepenuhnya yang tentu saja membingungkan. Psikolog mengukur konsep sadar-sepenuhnya dalam bentuk kombinatif dari gabungan konsep penerimaan diri (acceptance), atensi atau kemamouan fokus (attentiveness), kepekaan (wasphadá/awarness), body focus, kecermatan analisis pikiran (éling/curiosity), sikap pikiran tidak menilai atau non-judgmental, keterhadiran pikiran pada momen saat-kini dan di-sini, dll.

Ketidakjelasan definisi akan berkorelasi terhadap ketidakjelasan praktik. Latihan singkat self-reflection yang dianjurkan oleh aplikasi di ponsel pintar anda di keseharian hidup anda bisa saja dianggap sama seperti retret meditasi berbulan-bulan. Sadar-sepenuhnya bisa juga dipahami merujuk pada apa yang dilakukan para bikkhu Buddha dan bisa juga merujuk apa yang diperintahkan instruktur yoga anda selama lima menit di awal dan lima menit di akhir kelas yoga.

Untuk lebih jelasnya, ketersadaran-sepenuhnya dan meditasi adalah hal berlainan. Ada jenis meditasi yang untuk mendorong keterhadiran pikiran pada momen nyata (mindful), akan tetapi tidak semua ketersadaran-sepenuhnya itu memerlukan meditasi dan tidak semua meditasi didasari [secara-pasif untuk mengupayakan] ketersadaran-sepenuhnya.

Ketersadaran-sepenuhnya utamanya mengacu pada gagasan untuk hadirnya pikiran pada momen saat-kini dan di-sini, tetapi tidak sesederhana itu juga. Ini juga mengacu pada beberapa bentuk praktik meditasi yang bertujuan secara pasif untuk mengembangkan keterampilan merasakan sepenuhnya sadar akan dunia di sekeliling anda dan pola perilaku dan kebiasaan anda. Sebenarnya, banyak yang tidak setuju tentang tujuan yang sebenarnya dan apa itu sejatinya ketersadaran-sepenuhnya.

Ketersadaran-Sepenuhnya untuk Apa?

Kesadaran-sepenuhnya bisa diterapkan di hampir semua hal yang terbersit di pikiran—mulai dari problem hubungan asmara, problem dengan alkohol atau obat-obatan, hingga cara meningkatkan leadership skill. Ketersadaran-sepenuhnya juga digunakan oleh olahragawan untuk menemukan "ketercerahan" di dalam dan di luar lapangan, dan program ketersadaran-sepenuhnya juga diperkenalkan di sekolah-sekolah. Anda dapat menemukannya di tempat kerja, klinik medis, hingga panti jompo.

Semakin banyak pula buku populer telah ditulis yang memuji-muji manfaat ketersadaran-sepenuhnya dan meditasi. Sebagai contoh, dalam buku berisi ulasan kritis Altered Traits: Science Reveals How Meditation Changes your Mind, Brain and Body, Daniel Goleman berpendapat bahwa salah satu dari empat manfaat ketersadaran-sepenuhnya adalah meningkatkan memori otak. Namun, tinjauan baru-baru ini, ada sekitar 18 studi yang mengeksplorasi efek keterkaitan terapi berbasis ketersadaran-sepenuhnya dengan memori otak mempertanyakan ide-ide tadi.

Klaim yang umum menyembul lainnya adalah, bahwasanya ketersadaran-sepenuhnya mampu mereduksii stres, yang nyatanya memiliki bukti lemah. Janji-janji lainnya, meningkatkan suasana pikiran dan atensi, kebiasaan makan lebih baik, meningkatkan kualitas tidur, dan kontrol berat badan yang lebih baik. Itu semua tidak sepenuhnya didukung oleh bukti-bukti saintifik.

Ketika manfaatnya memiliki keterbatasan bukti, ketersadaran-sepenuhnya dan meditasi kadang bisa saja membahayakan dan dapat menyebabkan psikosis, maniak, kelimbungan identitas diri, kecemasan, panik, dan mengalami kembali ingatan-ingatan traumatis. Para ahli telah menyarankan bahwa ketersadaran-sepenuhnya tidak digunakan untuk menangani semua orang, terutama bagi mereka yang menderita beberapa problem kesehatan mental serius, seperti skizofrenia atau gangguan bipolar.

Penelitian Ketersadaran-Sepenuhnya

Secara literatur, problem lain terkait ketersadaran-sepenuhnya adalah acapkali konsep metodologi penelitiannya yang lemah. Cara mengukur ketersadaran-sepenuhnya sangat bervariasi, yaitu menilai fenomena yang begitu jauh berbeda tetapi menggunakan cara yang sama. Kurangnya kesepemahaman antara cara mengukur yang bagaimana tepatnya dan individu-individu yang berbeda pemahaman membuat ketersadaran-penuh berkebalikan dengan generalisasi istilahnya dalam berbagai studi kajian.

Para peneliti yang mengkaji ketersadaran-penuh terlalu mengandalkan kuesioner, yang mengharuskan orang untuk introspeksi dan menggambarkan keadaan mentalnya yang bisa saja berubah-ubah setiap saat. Laporan-laporan semacam ini rentan mengandung bias. Misalnya, orang yang berkeinginan melatih dirinya untuk skil ketersadaran-sepenuhnya justru melaporkan keadaan dirinya dalam ketersadaran-sepenuhnya karena ia menginginkan gambaran akan dirinya seperti itu, bukan karena benar-benar telah pada titik itu.

Hanya ada sedikit kemauan untuk mengevaluasi apakah treatmen dengan mengadopsi ketersadaran-sepenuhnya benar-benar bekerja dengan cara membandingkannya terhadap treatmen model lain yang sudah diketahui keberhasilannya—yang mana model primer dalam sains-klinis nantinya bisa memberi tahu seberapa nilai tambah dari treatmen baru tadi. Dan, studi semacam ini sedikit sekali dilakukan dalam praktik-klinis reguler dibanding di dalam konteks penelitian spesialisasi.

Ada sebuah penelitian baru-baru ini, yang dikerjakan oleh the US Agency for Healthcare Research and Quality, didapati banyaknya penelitian yang dikerjakan dengan cara yang begitu tidak layak untuk dikatakan penelitian yang memadai dan karenanya treatmen ketersadaran-sepenuhnya secara moderat hanya efektif, paling jauh, untuk menangani masalah kecemasan, depresi, dan rasa sakit. Tidak ada bukti bahwa itu manjur bagi permasalahan tidak bisa fokus (attention problems), suasana pikiran (mood) positif, penyalahgunaan zat adiktif, kebiasaan makan, tidur, atau kontrol berat badan.

Apa yang Harus Kita Selesaikan?

Ketersadaran-sepenuhnya tentu saja konsep yang berguna dan serangkaian praktik yang menjanjikan. Dapat membantu mencegah problem-problem psikologis dan bisa digunakan sebagai treatment tambahan dari yang sudah ada. Ini juga dapat membantu merawat fungsi mental secara general dan kesehatannya. Namun, janji semacam itu tidak akan terwujud jika permasalahan-permasalahannya tidak segera diselesaikan.

Kalangan penelaah tentang ketersadaran-penuh harus merumuskan fitur kunci yang sangat esensial terkait apa itu ketersadaran-sepenuhnya sebenarnya dan para peneliti harus gambaran gamblang bagaimana penanganan dan praktiknya akan hal-hal tadi. Laporan media juga harus sama spesifiknya terkait apa yang termasuk keadaan mentalnya dan praktik-praktik yang mana termasuk yang dapat menumbuhkan ketersadaran-sepenuhnya, ketimbang mengadopsi ketersadaran-sepenuhnya sebagai istilah secara tidak soesifik.

Ketersadaran-sepenuhnya dapat dievaluasi tidak sekedar melalui self-reporting, tetapi juga menggunakan parameter neurobiologis dan tindakan evaluasi yang lebih objektif, misalnya kalkulasi nafas. Di sinilah ritme acak dapat digunakan untuk "menanyakan" ke peserta apakah mereka fokus pada aliran ritme nafasnya (tekan tombol kiri) atau justru pikiran mereka melanglang buana (tekan tombol kanan).

Para peneliti yang meneliti terkait kemanjuran treatmen dari ketersadaran-sepenuhnya seyogyanya membandingkannya juga dengan model treatmen lain yang kredibel, jikalau memungkinkan. Pengembangan pendekatan baru untuk ketersadaran-sepenuhnya harus dihindari sebelum kita tahu lebih banyak tentang yang sudah kita pelajari. Para saintis dan dokter seyogyanya juga melakukan eksperimen penelitian dengan model pengambilan sampel acak secara ketat dan bekerja sama dengan para peneliti di luar lingkaran peneliti yang secara tradisi menaruh perhatian atas ketersadaran-sepenuhnya ini.

Terakhir, para peneliti dan praktisi ketersadaran-penuh juga harus mengakui kenyataan dari efek negatif yang sesekali bisa saja muncul. Sebagaimana halnya obat-obatan medis yang harus menyatakan potensi efek sampingnya, demikian pula treatmen ketersadaran-penuh tadi. Para peneliti harus secara sistematis mengevaluasi potensi efek sampingnya saat menelaah atas model treatmen ketersadaran-penuh. Praktisi harus waspada terhadap hal-hal tadi dan tidak merekomendasikan treatmen tadi sebagai pendekatan pertama jikalau ada treatmen yang lebih aman dengan bukti sahih kemanjurannya.





------------
Artikel asli: Nicholas T. Van Dam, "What is mindfulness? Nobody really know, and that's a problem", The Conversation 11 Okteober 2017,
------------
Catatan kaki ditambahkan:
[1] "Ketersadaran-sepenuhnya" atau "kesadaran-sepenuhnya", saya gunakan secara bergantian, adalah padanan yang saya pilih untuk "mindfulness" dalam naskah asal. Kedua istilah ini adalah transliterasi dari "vipassanā" dalam ajaran meditasi Buddhis, mengacu pada kondisi mental yang hadir sepenuhnya pada momen yang dihadapi atau dikerjakan seseorang itu, atau momen saat-ini dan di-sini, yaitu satu kondisi mental dalam ke-nibbana-an. Istilah ini bertalian erat dengan filosofi fundamental Buddhisme, yaitu berkaitan "pikiran benar" dan "pandangan benar". Dua hal itu jika dirumuskan dalam kalimat singkat dan padat adalah: pikiran-faktual sesuai dengan kenyataan-aktual.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...