Pengajaran khusus di luar buku sakral, tidak berdasar kata dan huruf. Caranya menunjuk langsung ke pikiran seseorang, ini memungkinkan seseorang menyadari jati diri alaminya dan karenanya mencapai Kebuddhaan
– Bodhidharma
Sejarah Asal Mula Zen
Buddhisme bermula di India, tempat di mana Sang Buddha menyampaikan ceramah dalam meletakkan dasar-dasar filsafat yang menjanjikan berakhirnya penderitaan/ketidakpuasan: jika kita memadamkan keinginan dan kemelekatan, kita tak akan lagi merasakan sakitnya penderitaan, gara-gara tidak tergapainya suatu hal.
Benih ide ini menyebar ke penjuru India, juga Tiongkok yang kemudian bertemu dan melebur dengan Taoisme, yaitu filosofi laku hidup untuk menyerasikan dan menyelaraskan diri terhadap hakikat alami diri. Seseorang bisa mencapai kedamaian pikiran/mental jika menyadari kealamiahannya dan membiarkan apa saja dengan melepasnya.

Dua cara pandang atas dunia ini bercampur dan melahirkan Chan Buddhisme, istilah Tiongkok yang literalnya berarti tapa/meditasi, kemudian menyebar hingga ke Jepang yang mana istilah Tiongkok tadi diucapkan “Zen".
Tak Ada dalam Kata dan Tulisan
Zen disampaikan secara suksesi dari guru ke muridnya tidak melalui pembelajaran, tetapi melalui praktik spiritual, seperti meditasi dan koan. (Lebih dari sekedar mempelajari deretan huruf).
Guru Zen acapkali menunjukkan betapa tidak efektifnya kata dan konsep sewaktu menyampaikan Zen. Saat bertanya "Apa itu Zen?", si guru sebenarnya sedang mengguggah muridnya. Guru lainnya bisa saja berkata "Pergi, tanya tiang lampu," dan lainnya bisa saja melempar pertanyaan: "Apa kamu sudah selesai makan?", jikalau si murid menjawab ya. Si guru itu kemudian membalas: "Kalau begitu pergi cuci mangkukmu," kemudian berlalu.
Maksud di balik hal-hal yang tampak tidak masuk akal tadi dan ucapan paradoks si guru adalah, bahwasanya tujuan Zen itu melatih diri untuk sadar sepenuhnya ketika mengalami persis momen kini. Ketika guru Zen mengatakan semisal "Zen adalah makan dan tidur," yang dimaksud adalah ketersadaran pikiran untuk hadir di aktivitas itu, tanpa melibatkan pemikiran lain atau penilaian berlebih.
Ilustrasinya begini, kamu umpamanya sedang menyantap hidangan nan lezat. Alih-alih pikiranmu hadir sepenuhnya pada momen menyenangkan ini dan menikmatinya, kesadaramu justru tidak hadir pada momen itu sepenuhnya, sebagian pikiranmu justru melanglang buana melakukan kerja mental seperti menilai “hidangan kurang garam; Aku tidak sabar menunggu hidangan penutup; Aku khawatir, kira-kira berat badanku nambah nggak, ya…”
Walau begitu, tidak peduli seberapa bagus dan rincinya saya mendeskripsikan kelezatan sarapan, deskripsi sekedar deskripsi, sesuatu yang terbangun di pikiranmu yang menggambarkan hidangan sarapan tadi, sekedar pekerjaan mental. Pengalaman menyantap hidangan tidak sama dengan deskripsinya.
Lukisan pipa rokok menggambarkan Zen. Ada kalimat dalam bahasa Prancis di situ "Ceci n' est pas un pipe (Ini bukan pipa rokok)". Itu adalah gambar visual sebuah pipa rokok. Ini adalah gambaran lain akan Zen, yaitu mengalami langsung sepenuhnya atas suatu momen dalam kehidupan.
Bagaimana Praktik Zen?
Salah satu inti dalam Zen Buddhisme adalah Zazen, yang artinya duduk meditatif. Duduk rileks, tutup mata anda, dan tidak melakukan apa-apa.
Pikiranmu secara alamiah akan menolak itu, dan menghadirkan hal-hal di pikiran, menggali ingatan-ingatan, dan melibati pikiranmu itu. Dalam duduk itu, tak ada tujuan-aktif yang hendak dicapai. Jadi, kamu jangan sampai terlibat dengan ayunan gerak pikiranmu itu. Bernafas saja, amati pikiranmu itu tanpa berpikir menilai, kemudian biarkan itu semua berlalu.
Kamu secara alamiah akan menyadari jika "kamu" itu bukan yang di pikiranmu itu.
Ada model meditasi lainnya dewasa ini, koan adalah praktik inti Zen lainnya (yang lebih rumit). Apakah kamu memilih untuk memasukkan koan dalam meditasi atau tidak, akan sangat berpengaruh dalam memahami apa yang mereka ungkapkan tentang Zen.
Koan adalah penggunaan cerita-cerita, kalimat-kalimat, atau pertanyaan-pertanyaan sepele yang, sepintas lalu, terlihat tidak masuk akal, contohnya interaksi antara seorang guru dan muridnya berikut ini:
[Seorang murid] bertanya: “Apakah pohon oak juga memliki sifat ketercerahan-alami atau tidak?” Si guru bilang: “Punya.” [Muridnya] menimpali: “Lantas kapan pohon itu menjadi tercerahkan?” Gurunya bilang: “Ketika langit ambrol menimpa Bumi.” [Muridnya] bertanya lagi: “Ketika langit ambrol menimpa Bumi?” Si guru menyahut: “Ketika pohon oak menjadi tercerahkan.”
| D. T. Suzuki (Pinterest) |
Progres yang dapat dirasakan dari meditasi atau kontemplasi koan ke kita adalah terbebaskannya diri dari pola pikir dualistik kebahasaan: "baik dan buruk, ini atau itu, saya dan bukan saya".
Yang nyata-nyata ada hanyalah momen saat kini dan di-sini, juga bagaimana kamu memilih reaksi mengalami momen ini.
Saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip sebuah kata bijak dari D. T. Suzuki:
Zen tidak mempelajari apa-apa; hanya mengajak bangun dan sadar. Bukan pembelajaran, inilah poinnya.
-------
Naskah asli dan gambar: Zachary Burres, "What is Zen Buddhism?", Medium 15 Februari 2021.
Komentar
Posting Komentar