Langsung ke konten utama

Keberhasilan menurut Perspektif Pelajar Asia Timur dan Barat: Rangkuman Bab VI Buku Ng Aik Kwang

Bab-bab sebelumnya, Kwang banyak menaruh pembahasan terkait struktur masyarakat dan psikologi individunya. Dijelaskan, berangkat dari struktur masyarakat tadi, barat dan timur memiliki perbedaan signifikan terkait kepribadian, nilai-nilai, dan pola pengasuhan anak. Membahas pengasuhan tentu tidak lepas dari pendidikan.


Orientasi Kinerja dan Orientasi Penguasaan

Pelajar yang dalam tujuan belajarnya berorientasi kinerja, mereka cenderung fokus memikirkan cara-cara menjawab soal-soal ujian. Ukuran keberhasilan belajar diukur dari seberapa baik seorang pelajar dibanding teman-teman sekelasnya. Karenanya, meski mendapat nilai ujian bagus, menjadi paling bagus adalah lebih bagus. Pelajar yang berorientasi kinerja mengalami perasaan positif setelah mengalami keberhasilan yang diperoleh dengan usaha minimal, yaitu usaha memproses informasi dengan cara dangkal dan superfisial.

Secara kepribadian, pelajar berorientasi kinerja tidak memiliki sikap tertantang akan penguasaan secara mendalam yang dipelajari dan memiliki pandangan ekstrinsik atas proses pendidikan, yaitu anggapan bahwa pendidikan adalah jalan mencapai tujuan akhir, tujuan untuk dunia kerja setelah kelulusannya.

Dok. Pribadi.

Kwang mengutip laporan penelitian yang melaporkan fenomena overjustification ini, yaitu fenomena ketika orang dipancing untuk memiliki sikap dan tindakan tertentu dengan iming-iming hadiah atau reward bagi yang paling baik. Orang yang sikap dan tindakannya dilatarbelakangi dorongan eksternal cenderung kehilangan minat ketika hadiah sudah didapat.

Sebaliknya, pelajar yang berorientasi pada penguasaan dalam studinya fokus pada cara-cara bagaimana mengembangkan dan memperluas pemahamannya lebih mendalam. Tipikal pelajar yang berorientasi penguasaan tidak mengukur keberhasilan belajar dengan mengacu pada nilai ujian tes yang didapat di kelas. Keberhasilan belajar diukur bagaimana dia menguasai topik secara begitu mendalam dengan usahanya sendiri. Kwang menyatakan:

Pelajar yang berorientasi pada penguasaan yang diminati menghargai nilai intrinsik proses belajar, tertarik menghadapi lebih banyak tantangan, kecenderungan untuk menggali dan memproses informasi hingga level lebih mendalam dan konseptual, merawat kepuasan dalam belajar dan mengembangkannya ke tataran lebih tinggi, dan memiliki pandangan intrinsik tentang tujuan belajar.

Dia percaya pendidikan sebagai hasil akhir dalam pendidikan itu sendiri, seperti dengan memahami dunia di sekelilingnya.


Sistem Pendidikan Timur

Dibanding barat, sistem pendidikan timur atau Asia lebih instrumentalisme, kaku, menekan atau represif, menekankan kompetisi antarpelajar, dan berorientasi kinerja. Karenanya, sistem pendidikan Asia menghasilkan lulusan lulusan pekerja keras, patuh, dan disiplin di dunia kerja.

Saking kakunya Kementerian Pendidikan Jepang berinisiatif dengan mengeluarkan keputusan bahwa anak-anak sekolah menengah pertama harus diajari untuk menghargai Turkish March-nya Bethoven.

Ng Aik Kwang.

Contoh bahwa pelajar Asia giat dan pekerja keras dalam studi adalah kisah pelajar beberapa negara Asia menduduki urutan terbaik di segala bidang akademik. Dalam Penelitian Internasional tentang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Ketiga pada 1996, pelajar-pelajar kelas 8 dari Singapura, Jepang, dan Korea menempati urutan 3 besar di bidang matematika di antara 41 negara partisipan. Di bidang IPA, lagi-lagi, tiga negara tadi, dengan urutan sama, berada di urutan teratas tiga besar.

Namun begitu, sistem pendidikan semacam ini banyak dikritik karena kekurangannya. Misalnya, menanamkan watak egois dan melahirkan pemikir yang tidak kreatif. Kwang menyebut contoh yang terjadi di Singapura, yang sistem pendidikannya sangat menekankan kompetisi telah menghasilkan lulusan kaya dan cerdas, tetapi egois.

Profesor Lee Yuen Tseh, peraih Penghargaan Nobel, yang mengetuai komisi bidang pendidikan di Taiwan sangat mengkritik sistem pendidikan di negaranya, yang menurutnya gagal mengidentifikasi dan mendukung bakat seseorang.

Presiden Tokyo University mengatakan pengamatannya bahwa, sekembali belajar dari barat, pelajar-pelajar Jepang awalnya begitu penuh antusias, tapi antusiasme mereka seringkali dihempaskan oleh sistem Jepang.


Kritikus lain menyoroti model pendidikan timur yang menekankan rote learning (teknik menghapal), memang bisa menghasilkan pelajar dengan tingkat kelulusan bagus, tapi lemah berpikir kreatif. Karenanya, tidak mengherankan, fenomena pelajar Asia berorientasi kinerja gandrung pada buku latihan soal-jawab. Buku-buku self-help dan alat bantu belajar yang bertujuan meningkatkan prestasi di ujian nasional laris terjual.

Konteks Sejarah dan Konteks Budaya

Riset telah mengindikasikan bahwa tujuan pembelajaran yang memengaruhi murid tidak lepas dari situasi di mana dia berada.

Usai Perang Dunia II, utamanya Asia Timur dan Tenggara tampak tidak memiliki prospek dan kawasan termiskin di dunia, bahkan dibandingkan Amerika Latin. Porak poranda karena perang, juga kecamuk perang saudara. Bahkan kemerdekaan Singapura dianggap lelucon politik dengan mengingat terbatasnya sumberdaya. Terbukti keliru. Rentang 1965 hingga 1990, sebanyak 23 negara di Asia Timur dan Tenggara tumbuh lebih cepat dibanding kawasan lain di dunia, mulai dari Hongkong, Korsel, Taiwan, Jepang, Tiongkok, Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Thailand. Oleh Bank Dunia, sembilan negara ini dikategorikan high-performing Asian economics.

Kecepatan akselerasi pertumbuhan ekonomi ini butuh penekanan. Bagi Inggris, butuh 58 tahun untuk meningkatkan oendapatan per kapita dua kali lipay dari tahun 1780. Amerika butuh 47 tahun dari 1837. Sebaliknya, Jepang butuh 34 tahun dihitung sejak 1900. Dan, Korsel hanya butuh 11 tahun dimulai dari 1966.

Beberapa ahli berpendapat terkait faktor pendorong ekonomi tadi: kekuatan yang besar, otoritarian, berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan dengan cara ramah investasi, menarik modal asing sebesarnya, dan penyediaan lapangan kerja bagi angkatan kerja.

Dasar pijak bagi pendorong semua itu adalah penekanan pada pengadaan sumberdaya yang menjadi mesin penggerak ekonomi, yaitu human capital. Sistem pendidikan dirancang dan diarahkan pada penyediaan human capital bagi sektor-sektor tadi.

Penilaian atas anak didik dirancang untuk menyeleksi dan mengalokasikan para pelajar melalui ujian umum yang dibuat berbasis kompetisi dan standarisasi. Karenanya, pendidikan menjadi media transfer of knowledges. Sekedar transfer pengetahuan dan keterampilan dari pengajar ke peserta didik apa yang dibutuhkan pasar.

Karena memang pendidikan timur pada dasarnya dirancang untuk menyediakan human capital. Bukan pemikir kreatif.


*****

Secara konteks budaya, karakter yang tampak dari pelajar Asia adalah lebih banyak menghabiskan waktu belajar, ini diperkuat pula oleh orangtua yang percaya pada nilai akademik sekolah. Sebuah penelitian yang melibatkan pelajar kelas satu dan lima dan berikut keluarganya di Jepang, Taiwan, dan Amerika melaporkan:

Keluarga Asia memberikan lebih banyak perhatian pada prestasi akademik anak daripada keluarga Amerika. Mereka 'mendedikasikan diri pada sekolah anak-anak'. Dedikasi ini terlihat pada ruang, dana, dan waktu.

Sebaliknya, orangtua Amerika memang memperlihatkan komitmen yang serupa pada prestasi akademik anak mereka dan tidak mengalokasikan banyak waktu untuk "menolong mereka".  

Mereka lebih peduli pada kesejahteraan psikologis dan pertumbuhan seluruh aspek pada anak daripada prestasi akademik mereka.

 

Passion dan Passivity Pelajar Asia

Keinginan para pelajar Asia untuk bisa lulus tes dan ujian tercermin pada rendahnya passion atas apa yang dipelajari, yang mana indikasinya adalah menguasai apa yang dipelajari secara mendalam dan konseptual.

Rendahnya 'passion' atas apa yang mereka pelajari tercermin pada kurang minatnya mereka pada proses pembelajaran. Malahan pelajar Asia berharap para pengajar memberikan instruksi yang eksplisit tentang apa yang mereka harus pelajari, materi apa yang harus dibaca dan kapan harus membacanya, pekerjaan dan tugas apa yang harus mereka selesaikan serta bagaimana mengerjakannya.

Selain passion, fenomena lain adalah enggan bertanya dan berpartisipasi aktif dalam pembalajaran di kelas. Tidak seperti pelajar barat.

Profesor Ho, menyebut fenomema tadi dengan sebutan silence dan passivity. Ia berpendapat bahwa akar dari fenomena pelajar Asia ini berakar pada budaya timur dan memengaruhi kebanyakan budaya masyarakat timur secara keseluruhan akan nilai-nilai budaya tentang tingkah laku kehati-hatian: Berhati-hati dalam bicara itu adalah kebaikan, membuka mulut akan menghadapkan seseorang pada bahaya.

Tidaklah mengejutkan jika pelajar Asia bersikap diam dan pasif, itu secara psikologis bentuk berhati-hati dan menolak keliru, bukan belajar dengan orientasi risiko.

Padahal, supaya bisa kreatif, seseorang harus berani mengambil risiko dan menghadapi kegagalan.

Hal itu dijelaskan oleh Stemberg dan Lumbart dalam Teori Investasi Kreativitas-nya.

(Jika boleh saya tambahi, juga fenomena "menutup pintu kritik". Misalnya, sebuah pengalaman, ketika saya meminta salinan tugas akhir kolega yang sudah selesai untuk batu pijak saya memasuki ranah pengetahuan baru dari kolega yang kebetulan mengangkat tema bersinggungan, beberapa yang sering saya temui adalah menolak dengan berbagai dalih, misalnya, berdalih karyanya jelek atau tak layak baca.)

*****

Terkait perbandingan mahasiswa Singapura dan Amerika Serikat, ada esai menarik Dr. J. Devan berjudul Comparing the Singaporean Undergraduate with the American. Ia adalah dosen yang pernah 6 tahun mengajar di universitas Amerika Serikat dan sebelumnya mengajar di universitas Singapura.

Dia menulis, berdasar observasinya: mahasiswa Amerika terkenal memiliki artikulasi bagus, kritis, dan mandiri, sementara mahasiswa Singapura digambarkan pasif, pekerja keras, dan membosankan. Namun begitu, menurutnya, keterbukaan diskusi di kelas-kelas Amerika tidak bisa dijadikan bukti keunggulan kualitas pendidikannya. Menurutnya lagi, rata-rata mahasiswa S1 Amerika di universitas ternama tidak lebih luas pengetahuannya dibanding mahasiswa Singapura.

Obervasi Dewan tersebut kongruen dengan observasi anekdotal dosen Amerika lainnya yang mengajar di Hongkong-Tiongkok: "... di Barat, sebagian besar mahasiswa memiliki pendapat kuat dan pendapat ini tidak selalu didasarkan pada pengetahuan. Di Asia, mahasiswa biasanya sangat memiliki pengetahuan luas, tapi tidak banyak berpendapat tentang isu tersebut. "

Namun begitu, Devan menekankan paradoks pendidikan Amerika: meski rata-rata mahasiswa S1 mengecewakan, tapi yang terbaik tak dapat dibandingkan. Dia menggarisbawahi bahwa mahasiswa yang rata-rata dengan superlatif. Perbedaan muncul karena sistem pendidikan. Singapura menerapkan tekanan yang konstan dan tak putus-putus, yang mana memaksa pelajar memenuhi standar umum. Bahkan kemampuan pelajar yang rata-rata dapat berhasil secara akademis karena konsekuensi tekanan itu. Sementara sistem pendidikan Amerika tidak terdapat tekanan konstan karena desentralisasi kurikulum pendidikan. Namun kurangnya standarisasi proses pembelajaran ini memungkinkan seorang pelajar menonjol di level lebih tinggi dibanding teman-temannya. Lebih lanjut, tulis Kwang:

Rendahnya 'passion' ini tidak mengejutkan, mengingat para pelajar Asia memilih jurusan, mereka memilih yang memiliki nilai pasar yang bagus dan dapat membantunya menemukan pekerjaan yang bagus saat lulus nanti.

Berbeda dengan pelajar di barat yang mencari tempat di universitas bergengsi demi mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan bakat. Mereka tampaknya juga lebih menaruh minat pada apa yang dipelajari dibandingkan dengan pelajar Asia.

Kwang berkisah tentang pengalamannya menempuh kuliah doktoral di Australia ketika dirinya bertemu rekan-rekan kuliah yang begitu antusias atas yang dipelajari, sebagaimana bisa dibaca di gambar di bawah.


Makna Keberhasilan antara Pelajar Timur dan Barat

Keluarga adalah sumber motivasi pelajar Asia. Keinginan untuk berprestasi di sekolah muncul dari keinginan yang terinternalisasi dalam dirinya untuk memenuhi harapan orang lain. Dalam memilih jurusan kuliah sekalipun, pelajar Asia juga mempertimbangkan orang-orang terdekat sekitar. Mereka malah sering menekankan dorongan kelompok sosial ketika menjelaskan motivasi mereka. Di masyarakat yang sangat peduli dengan 'wajah' di mana provisi tidak bagus, mungkin menjadi skenario buruk. Masuk akal jika melihat pelajar Asia bersikap seperti di atas. Pertama, karena sistem pendidikan Asia. Kedua, karena motivasi pelajar Asia giat dan bekerja keras adalah keluarga—dan sebaliknya, sekaligus adanya dorongan kuat keluarga mereka. Hal ini mencerminkan pola motivasi komunalistik-dependen pelajar Asia, yaitu keluarga, pada kelompok sosial.

Kecenderungan-kecenderungan di atas berbeda dengan kecenderungan pelajar barat. Untuk menangkap perbedaannya dengan pelajar Asia, menarik mengutip pengalaman Kwang ketika menempuh S3 berikut ini.

Ia kenal seorang perempuan mahasiswa barat yang mengambil Ph.D. yang sedang menyusun tugas akhir, masa-masa yang sering diplesetkan dengan lelucon "permanently head-damage" atau lelucon ini dapat diplesetkan dalam bahasa kita sebagai "kerusakan otak permanen", yang begitu menikmati studinya. Ketika ditanya setelah selesai hendak apa, dia menjawab ingin keliling dunia dan mengerjakan pekerjaan tak biasa, misalnya bar tender. Tulis Kwang: "ibu saya pasti terkejut kalau saya akan menyajikan bir atau minuman alkohol pada orang lain setelah meraih gelar Ph.D. saya!"

Kisah kedua Kwang. Dia kenal seorang mahasiswa cerdas yang sedang menempuh postgraduate di bidang sains. Ia keluar program beasiswa itu, padahal penelitiannya sudah setengah jalan untuk meraih gelar. Dia malah balik kuliah strata 1 dengan lain konsentrasi, kedokteran gigi. Ketika ditanya pilihannya balik S1 dengan disiplin berbeda itu, dia bilang jika sains level S1 mudah baginya, tapi dia tidak sanggup mempelajari di level postgraduate. Lagian, menjelaskan alasan mengambil kedokteran gigi, dia suka mengotak-atik mulut orang.

Kisah-kisah dari pengalaman Kwang ini memnggambarkan kecenderungan penekanan kesuksesan belajar menurut pelajar barat, yaitu free will yang tentu saja menekankan individu sebagai komponen utama.




Judul: Asia VS. Barat (Benarkah Orang Barat Lebih Kreatuf Daripada Orang Asia?
Judul asli: Why Asians Less Creative Than Westerners
Penulis: Ng Aik Kwang
Penerjemah: Wida Utami
Penerbit: Kaifa
Tahun terbit: 2016
Jumlah halaman: xviii + 358 hlm.
Dimensi: –

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...