Bab-bab sebelumnya, Kwang banyak menaruh pembahasan terkait struktur masyarakat dan psikologi individunya. Dijelaskan, berangkat dari struktur masyarakat tadi, barat dan timur memiliki perbedaan signifikan terkait kepribadian, nilai-nilai, dan pola pengasuhan anak. Membahas pengasuhan tentu tidak lepas dari pendidikan.
Orientasi Kinerja dan Orientasi Penguasaan
Pelajar yang dalam tujuan belajarnya berorientasi kinerja, mereka cenderung fokus memikirkan cara-cara menjawab soal-soal ujian. Ukuran keberhasilan belajar diukur dari seberapa baik seorang pelajar dibanding teman-teman sekelasnya. Karenanya, meski mendapat nilai ujian bagus, menjadi paling bagus adalah lebih bagus. Pelajar yang berorientasi kinerja mengalami perasaan positif setelah mengalami keberhasilan yang diperoleh dengan usaha minimal, yaitu usaha memproses informasi dengan cara dangkal dan superfisial.
Secara kepribadian, pelajar berorientasi kinerja tidak memiliki sikap tertantang akan penguasaan secara mendalam yang dipelajari dan memiliki pandangan ekstrinsik atas proses pendidikan, yaitu anggapan bahwa pendidikan adalah jalan mencapai tujuan akhir, tujuan untuk dunia kerja setelah kelulusannya.
![]() |
| Dok. Pribadi. |
Kwang mengutip laporan penelitian yang melaporkan fenomena overjustification ini, yaitu fenomena ketika orang dipancing untuk memiliki sikap dan tindakan tertentu dengan iming-iming hadiah atau reward bagi yang paling baik. Orang yang sikap dan tindakannya dilatarbelakangi dorongan eksternal cenderung kehilangan minat ketika hadiah sudah didapat.
Sebaliknya, pelajar yang berorientasi pada penguasaan dalam studinya fokus pada cara-cara bagaimana mengembangkan dan memperluas pemahamannya lebih mendalam. Tipikal pelajar yang berorientasi penguasaan tidak mengukur keberhasilan belajar dengan mengacu pada nilai ujian tes yang didapat di kelas. Keberhasilan belajar diukur bagaimana dia menguasai topik secara begitu mendalam dengan usahanya sendiri. Kwang menyatakan:
Pelajar yang berorientasi pada penguasaan yang diminati menghargai nilai intrinsik proses belajar, tertarik menghadapi lebih banyak tantangan, kecenderungan untuk menggali dan memproses informasi hingga level lebih mendalam dan konseptual, merawat kepuasan dalam belajar dan mengembangkannya ke tataran lebih tinggi, dan memiliki pandangan intrinsik tentang tujuan belajar.
Dia percaya pendidikan sebagai hasil akhir dalam pendidikan itu sendiri, seperti dengan memahami dunia di sekelilingnya.
Sistem Pendidikan Timur
Dibanding barat, sistem pendidikan timur atau Asia lebih instrumentalisme, kaku, menekan atau represif, menekankan kompetisi antarpelajar, dan berorientasi kinerja. Karenanya, sistem pendidikan Asia menghasilkan lulusan lulusan pekerja keras, patuh, dan disiplin di dunia kerja.
Saking kakunya Kementerian Pendidikan Jepang berinisiatif dengan mengeluarkan keputusan bahwa anak-anak sekolah menengah pertama harus diajari untuk menghargai Turkish March-nya Bethoven.
![]() |
| Ng Aik Kwang. |
Contoh bahwa pelajar Asia giat dan pekerja keras dalam studi adalah kisah pelajar beberapa negara Asia menduduki urutan terbaik di segala bidang akademik. Dalam Penelitian Internasional tentang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Ketiga pada 1996, pelajar-pelajar kelas 8 dari Singapura, Jepang, dan Korea menempati urutan 3 besar di bidang matematika di antara 41 negara partisipan. Di bidang IPA, lagi-lagi, tiga negara tadi, dengan urutan sama, berada di urutan teratas tiga besar.
Namun begitu, sistem pendidikan semacam ini banyak dikritik karena kekurangannya. Misalnya, menanamkan watak egois dan melahirkan pemikir yang tidak kreatif. Kwang menyebut contoh yang terjadi di Singapura, yang sistem pendidikannya sangat menekankan kompetisi telah menghasilkan lulusan kaya dan cerdas, tetapi egois.
Profesor Lee Yuen Tseh, peraih Penghargaan Nobel, yang mengetuai komisi bidang pendidikan di Taiwan sangat mengkritik sistem pendidikan di negaranya, yang menurutnya gagal mengidentifikasi dan mendukung bakat seseorang.
Presiden Tokyo University mengatakan pengamatannya bahwa, sekembali belajar dari barat, pelajar-pelajar Jepang awalnya begitu penuh antusias, tapi antusiasme mereka seringkali dihempaskan oleh sistem Jepang.
Konteks Sejarah dan Konteks Budaya
Riset telah mengindikasikan bahwa tujuan pembelajaran yang memengaruhi murid tidak lepas dari situasi di mana dia berada.
Usai Perang Dunia II, utamanya Asia Timur dan Tenggara tampak tidak memiliki prospek dan kawasan termiskin di dunia, bahkan dibandingkan Amerika Latin. Porak poranda karena perang, juga kecamuk perang saudara. Bahkan kemerdekaan Singapura dianggap lelucon politik dengan mengingat terbatasnya sumberdaya. Terbukti keliru. Rentang 1965 hingga 1990, sebanyak 23 negara di Asia Timur dan Tenggara tumbuh lebih cepat dibanding kawasan lain di dunia, mulai dari Hongkong, Korsel, Taiwan, Jepang, Tiongkok, Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Thailand. Oleh Bank Dunia, sembilan negara ini dikategorikan high-performing Asian economics.
Kecepatan akselerasi pertumbuhan ekonomi ini butuh penekanan. Bagi Inggris, butuh 58 tahun untuk meningkatkan oendapatan per kapita dua kali lipay dari tahun 1780. Amerika butuh 47 tahun dari 1837. Sebaliknya, Jepang butuh 34 tahun dihitung sejak 1900. Dan, Korsel hanya butuh 11 tahun dimulai dari 1966.
Beberapa ahli berpendapat terkait faktor pendorong ekonomi tadi: kekuatan yang besar, otoritarian, berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan dengan cara ramah investasi, menarik modal asing sebesarnya, dan penyediaan lapangan kerja bagi angkatan kerja.
Dasar pijak bagi pendorong semua itu adalah penekanan pada pengadaan sumberdaya yang menjadi mesin penggerak ekonomi, yaitu human capital. Sistem pendidikan dirancang dan diarahkan pada penyediaan human capital bagi sektor-sektor tadi.
Penilaian atas anak didik dirancang untuk menyeleksi dan mengalokasikan para pelajar melalui ujian umum yang dibuat berbasis kompetisi dan standarisasi. Karenanya, pendidikan menjadi media transfer of knowledges. Sekedar transfer pengetahuan dan keterampilan dari pengajar ke peserta didik apa yang dibutuhkan pasar.
Karena memang pendidikan timur pada dasarnya dirancang untuk menyediakan human capital. Bukan pemikir kreatif.
Secara konteks budaya, karakter yang tampak dari pelajar Asia adalah lebih banyak menghabiskan waktu belajar, ini diperkuat pula oleh orangtua yang percaya pada nilai akademik sekolah. Sebuah penelitian yang melibatkan pelajar kelas satu dan lima dan berikut keluarganya di Jepang, Taiwan, dan Amerika melaporkan:
Keluarga Asia memberikan lebih banyak perhatian pada prestasi akademik anak daripada keluarga Amerika. Mereka 'mendedikasikan diri pada sekolah anak-anak'. Dedikasi ini terlihat pada ruang, dana, dan waktu.
Sebaliknya, orangtua Amerika memang memperlihatkan komitmen yang serupa pada prestasi akademik anak mereka dan tidak mengalokasikan banyak waktu untuk "menolong mereka".
Mereka lebih peduli pada kesejahteraan psikologis dan pertumbuhan seluruh aspek pada anak daripada prestasi akademik mereka.
Passion dan Passivity Pelajar Asia
Keinginan para pelajar Asia untuk bisa lulus tes dan ujian tercermin pada rendahnya passion atas apa yang dipelajari, yang mana indikasinya adalah menguasai apa yang dipelajari secara mendalam dan konseptual.
Rendahnya 'passion' atas apa yang mereka pelajari tercermin pada kurang minatnya mereka pada proses pembelajaran. Malahan pelajar Asia berharap para pengajar memberikan instruksi yang eksplisit tentang apa yang mereka harus pelajari, materi apa yang harus dibaca dan kapan harus membacanya, pekerjaan dan tugas apa yang harus mereka selesaikan serta bagaimana mengerjakannya.
Selain passion, fenomena lain adalah enggan bertanya dan berpartisipasi aktif dalam pembalajaran di kelas. Tidak seperti pelajar barat.
Profesor Ho, menyebut fenomema tadi dengan sebutan silence dan passivity. Ia berpendapat bahwa akar dari fenomena pelajar Asia ini berakar pada budaya timur dan memengaruhi kebanyakan budaya masyarakat timur secara keseluruhan akan nilai-nilai budaya tentang tingkah laku kehati-hatian: Berhati-hati dalam bicara itu adalah kebaikan, membuka mulut akan menghadapkan seseorang pada bahaya.
Tidaklah mengejutkan jika pelajar Asia bersikap diam dan pasif, itu secara psikologis bentuk berhati-hati dan menolak keliru, bukan belajar dengan orientasi risiko.
Padahal, supaya bisa kreatif, seseorang harus berani mengambil risiko dan menghadapi kegagalan.
Hal itu dijelaskan oleh Stemberg dan Lumbart dalam Teori Investasi Kreativitas-nya.
Terkait perbandingan mahasiswa Singapura dan Amerika Serikat, ada esai menarik Dr. J. Devan berjudul Comparing the Singaporean Undergraduate with the American. Ia adalah dosen yang pernah 6 tahun mengajar di universitas Amerika Serikat dan sebelumnya mengajar di universitas Singapura.
Dia menulis, berdasar observasinya: mahasiswa Amerika terkenal memiliki artikulasi bagus, kritis, dan mandiri, sementara mahasiswa Singapura digambarkan pasif, pekerja keras, dan membosankan. Namun begitu, menurutnya, keterbukaan diskusi di kelas-kelas Amerika tidak bisa dijadikan bukti keunggulan kualitas pendidikannya. Menurutnya lagi, rata-rata mahasiswa S1 Amerika di universitas ternama tidak lebih luas pengetahuannya dibanding mahasiswa Singapura.
Obervasi Dewan tersebut kongruen dengan observasi anekdotal dosen Amerika lainnya yang mengajar di Hongkong-Tiongkok: "... di Barat, sebagian besar mahasiswa memiliki pendapat kuat dan pendapat ini tidak selalu didasarkan pada pengetahuan. Di Asia, mahasiswa biasanya sangat memiliki pengetahuan luas, tapi tidak banyak berpendapat tentang isu tersebut. "
Namun begitu, Devan menekankan paradoks pendidikan Amerika: meski rata-rata mahasiswa S1 mengecewakan, tapi yang terbaik tak dapat dibandingkan. Dia menggarisbawahi bahwa mahasiswa yang rata-rata dengan superlatif. Perbedaan muncul karena sistem pendidikan. Singapura menerapkan tekanan yang konstan dan tak putus-putus, yang mana memaksa pelajar memenuhi standar umum. Bahkan kemampuan pelajar yang rata-rata dapat berhasil secara akademis karena konsekuensi tekanan itu. Sementara sistem pendidikan Amerika tidak terdapat tekanan konstan karena desentralisasi kurikulum pendidikan. Namun kurangnya standarisasi proses pembelajaran ini memungkinkan seorang pelajar menonjol di level lebih tinggi dibanding teman-temannya. Lebih lanjut, tulis Kwang:
Rendahnya 'passion' ini tidak mengejutkan, mengingat para pelajar Asia memilih jurusan, mereka memilih yang memiliki nilai pasar yang bagus dan dapat membantunya menemukan pekerjaan yang bagus saat lulus nanti.
Berbeda dengan pelajar di barat yang mencari tempat di universitas bergengsi demi mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan bakat. Mereka tampaknya juga lebih menaruh minat pada apa yang dipelajari dibandingkan dengan pelajar Asia.
Kwang berkisah tentang pengalamannya menempuh kuliah doktoral di Australia ketika dirinya bertemu rekan-rekan kuliah yang begitu antusias atas yang dipelajari, sebagaimana bisa dibaca di gambar di bawah.
Makna Keberhasilan antara Pelajar Timur dan Barat
Keluarga adalah sumber motivasi pelajar Asia. Keinginan untuk berprestasi di sekolah muncul dari keinginan yang terinternalisasi dalam dirinya untuk memenuhi harapan orang lain. Dalam memilih jurusan kuliah sekalipun, pelajar Asia juga mempertimbangkan orang-orang terdekat sekitar. Mereka malah sering menekankan dorongan kelompok sosial ketika menjelaskan motivasi mereka. Di masyarakat yang sangat peduli dengan 'wajah' di mana provisi tidak bagus, mungkin menjadi skenario buruk. Masuk akal jika melihat pelajar Asia bersikap seperti di atas. Pertama, karena sistem pendidikan Asia. Kedua, karena motivasi pelajar Asia giat dan bekerja keras adalah keluarga—dan sebaliknya, sekaligus adanya dorongan kuat keluarga mereka. Hal ini mencerminkan pola motivasi komunalistik-dependen pelajar Asia, yaitu keluarga, pada kelompok sosial.
Kecenderungan-kecenderungan di atas berbeda dengan kecenderungan pelajar barat. Untuk menangkap perbedaannya dengan pelajar Asia, menarik mengutip pengalaman Kwang ketika menempuh S3 berikut ini.
Ia kenal seorang perempuan mahasiswa barat yang mengambil Ph.D. yang sedang menyusun tugas akhir, masa-masa yang sering diplesetkan dengan lelucon "permanently head-damage" atau lelucon ini dapat diplesetkan dalam bahasa kita sebagai "kerusakan otak permanen", yang begitu menikmati studinya. Ketika ditanya setelah selesai hendak apa, dia menjawab ingin keliling dunia dan mengerjakan pekerjaan tak biasa, misalnya bar tender. Tulis Kwang: "ibu saya pasti terkejut kalau saya akan menyajikan bir atau minuman alkohol pada orang lain setelah meraih gelar Ph.D. saya!"
Kisah kedua Kwang. Dia kenal seorang mahasiswa cerdas yang sedang menempuh postgraduate di bidang sains. Ia keluar program beasiswa itu, padahal penelitiannya sudah setengah jalan untuk meraih gelar. Dia malah balik kuliah strata 1 dengan lain konsentrasi, kedokteran gigi. Ketika ditanya pilihannya balik S1 dengan disiplin berbeda itu, dia bilang jika sains level S1 mudah baginya, tapi dia tidak sanggup mempelajari di level postgraduate. Lagian, menjelaskan alasan mengambil kedokteran gigi, dia suka mengotak-atik mulut orang.
Kisah-kisah dari pengalaman Kwang ini memnggambarkan kecenderungan penekanan kesuksesan belajar menurut pelajar barat, yaitu free will yang tentu saja menekankan individu sebagai komponen utama.



