Buku ini adalah bentangan fakta-fakta sejarah yang dibentangkan dengan narasi memukau dalam memperkuat argumen. Subjek buku ini adalah kemelaratan dan timpangnya kemakmuran. Topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Teori-teori Kemelaratan
Buku hendak membantah teori-teori yang menjelaskan mengapa kemelaratan—bahkan kemelaratan akut seperti di Somalia yang tetap bertahan menjadi identitas globalnya hingga hari ini—dan ketimpangan kemakmuran terjadi. Jawabannya, menelusuri kembali bagaimana institusi politik-ekonomi mereka terbentuk. Teori yang dikembangkan penulis dapat disebut Teori Institusi.
![]() |
| Dokumen pribadi. |
Kedua, teori kebudayaan, misalnya dinyatakan Max Webber dalam Reformasi Protestan dan etos kerja Protestan. Teori bisa benar, bisa salah. Benar karena norma-norma sosial (misalnya nilai-nilai falsafah hidup, nilai-nilai keagamaan, dan etos kerja) dan semangat kebangsaan adalah pembentuk watak budaya suatu masyarakat.
Ketiga, teori kebodohan yang populer akhir-akhir ini. Kira-kira menyatakan kemelaratan suatu bangsa adalah akibat kebijakan keliru yang diambil oleh elit-elit di masa sebelumnya.
Hipotesis kebodohan mengatakan negara-negara miskin adalah korban kondisi gagal pasar karena para ekonom dan pembuat kebijakan tidak tahu cara mengatasi kondisi tersebut dan mengambil kebijakan yang salah di masa lalu.
![]() |
| Nkrumah. |
Ia mewarisi tampuk kepemimpinan ketika ekonomi Ghana dalam keadaan gawat, Busia tetap saja mengambil kebijakan hampir serupa dengan pendahulunya, mengabaikan saran-saran penasihat ekonomi. Bukan Busia bodoh untuk membuat kebijakan-kebijakan ekonomi yang efisien, tetapi kebijakannya ditujukan untuk mengakomodasi pendukungnya dan memastikan konstituen di pemilu berikutnya.
Teori Institusi—Mari, Bentangkan Sejarah!
Memahami Teori Institusi sama halnya memahami per kasuistik bangsa adalah penting. Buku ini menyuguhkan kisah bangsa-bangsa di dunia, yang membuat imajinasi pembacanya berloncatan ke sana kemari melintasi garis-garis khayali equator globe.
Dimulai dari fakta historis “kota terbelah” Nogales hari ini dengan menyusuri mundur kisahnya ke zaman berkobarnya perang antara Meksiko versus AS pada 1846-1848, berakhir untuk kemenangan AS. Ini berakibat bergesernya tapal batas dua negara. Pergeseran tapal batas ini juga terjadi di Nogales. Warga Nogales di dua sisi tapal batas bermoyang sama.
Meski warga Nogales di sisi Meksiko relatif sejahtera dibanding warga lain di wilayah Meksiko, tapi pendapatan rata-rata mereka hanya sepertiga dari pendapatan rata-rata saudaranya yang tinggal di Nogales bagian Arizona, AS. Pun, warga Nogales di sisi Meksiko tak mendapatkan pelayanan publik sebaik saudaranya di sisi Nogales yang masuk peta politik AS. Tidak mengherankan karena warga Nogales, Sonora, hidup di bawah bayang-bayang politisi korup dan pemerintahan Meksiko yang payah.
Melompat mundur lagi ke tahun 1516 ketika penjelajah dan penakluk Spanyol, de Solis, pertama kali menjejak kaki di delta di pesisir timur ujung selatan benua Amerika. Berikutnya melompat ke kerajaan Kongo di Afrika yang rajanya begitu antusias membeli senjata dari kedatangan penjelajah Eropa dan ia mengintensifkan ekspor budak, caranya menangkapi warganya dengan berbagai muslihat. Bukan berarti masyarakat Kongo waktu itu tidak berkenan mengadopsi teknologi secara positif, tapi bayang-bayang perampasan hak oleh raja dan elitnya sepertinya penyebab tak tergeraknya mereka untuk berkreasi dan berinovasi ketika terjadi “kontak teknologi” dengan penjelajah dan penjajah Eropa.
Selanjutnya kita dibawa terbang ke Britania untuk kemudian menuju Australia yang dulu adalah tempat pembuangan “sampah masyarakat” Inggris. Kisahnya dalam buku ini dimulai dari sepasang terpidana Henry dan Susannah yang menjalani sanksi pidana pembuangan ke Australia berdasar penal colony 1788.
![]() |
| Mathew C. Perry. |
Berikutnya menuju Jepang, ketika Mathew C. Perry merangsek ke teluk Edo—sekarang Tokyo—pada 1853, setelah armadanya memecundangi armada perang kekaisaran Tiongkok dalam Perang Candu. Kedatangan Perry memaksa penguasa lokal memberi konsesi dagang. Jepang segera membenahi institusinya, sadar adanya ancaman dari luar. Struktur politik dan ekonomi Jepang ketika itu tak ubahnya mirip Eropa pada Abad Pertengahan. Institusi politik-ekonominya ekstraktif: elit mengutip pajak dari rakyat kecil dan memonopoli perdagangan dengan pihak luar. Jepang di bawah pengaruh klan samurai Tokugawa adalah Jepang yang melarat. Uniknya, Restorasi Meiji pada awalnya berangkat dari keinginan melakukan kontak dagang lebih intensif lagi dari klan samurai Satsuma yang mengontrol wilayah yang cukup otonom di kekaisaran Jepang. Banyak kisah lainnya.
Perbedaan Kecil Memengaruhi Jalan Sejarah
Titik berangkat argumentasi Teori Institusi untuk memahami kemelaratan suatu negara dan ketimpangannya adalah Revolusi Industri di Britania yang kemudian menjalar ke beberapa negara Eropa Barat hingga ke beberapa negeri jajahannya di seberang lautan. Maksudnya untuk memahami bagaimana model institusi di satu bangsa terbentuk ketika terjadi kontak dengan penjelajah, penakluk, dan/atau penjajah Eropa.
Eropa adalah tanah lahirnya babak baru cara pandang ilmu pengetahuan modern (sains) yang kemudian melahirkan teknologi. Uniknya, masing-masing bangsa memiliki kondisi politik domestik berbeda dan—ini poin terpenting—memiliki respon berbeda satu sama lain dalam jalan sejarah: perbedaan-perbedaan kecil inilah yang menentukan. Inilah basis Teori Institusi.
Respon atas terjadinya kontak itu dapat dipadatkan dalam poin-poin di bawah:
- Respon tepat atas momentum terjadinya kontak itu dan keberuntungan jalannya sejarah yang tak terprediksi. Respon ini diwakili oleh kisah Inggris sendiri, beberapa negara Eropa Barat seperti Prancis dan Spanyol yang menyusul di kemudian waktu Jepang di Asia, dan Botswana di Afrika.
- Penolakan, antipati, dan blokade terhadap masuknya teknologi oleh penguasa quo yang ekstraktif karena takut akan terkikis pengaruhnya baik politis atau ekonomi. Misalnya, di kekaisaran Austro-Hungaria dan kekaisaran Rusia, keduanya menutup diri dari adopsi teknologi. Juga di Kekaisaran Tiongkok yang memblokade diri dari teknologi, tapi memilih respon kontak teknologi itu hanya yang berguna untuk mempertahankan institusi ekstraktif: mengimpor senjata. Walaupun begitu, cengkeraman dan pengaruh mereka semua pada akhirnya runtuh. Rusia runtuh karena krisis ekonomi dan kemelaratan yang meluas, yang pada akhirnya memantik perang sipil antara kaum merah dan kaum.putih dan peristiwa ini kita kenal Revolusi Bolshevik. Atau, ambruknya Dinasti Tiongkok karena, di antaranya, armada perangnya menjadi bulan-bulanan armada laut Inggris dalam Perang Candu.
- Diwarisi, dipertahankan, dilestarikan, dan bertransformasinya institusi ekstraktif era kolonial oleh elit-elit di situ pascamerdeka, misalnya, di Ghana. Sejatinya watak institusi ekstraktif era kolonial itu dahulunya juga bagian dari pola politik-ekonomi ekstraktif bangsa itu, kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh penjajah dengan memanfaatkan instrumen adat di situ dengan tujuan mengeksploitasi negeri terjajah. Polanya: memanfaatkan ketua suku, tetua adat, atau kaum bangsawan, bahkan kalau perlu mengangkat beberapa orang di antara mereka sebagai bangsawan, sebagai kepanjangan tangan. Ini dilakukan oleh, misalnya, Spanyol di Peru kuno, Inggris di Sierra Leone, Ottoman di Mesir yang kemudian dilanjutkan Inggris, atau Belgia di Kongo. Bahkan, jika kita cermati sejarah kita, digunakan pula oleh VOC dan Kerajaan Belanda di kepualuan Nusantara. Terjadi dalam pola-pola sedikit berbeda, tapi secara umum adalah sama. Tujuannya, mematahkan perlawanan gerakan lokal.
Namun begitu, hal yang sepertinya sering disinggung dan diulangi penulis adalah adanya perbedaan-perbedaan kecil yang secara signifikan memengaruhi jalannya sejarah secara tak langsung: faktor-faktor sejarah yang tak terprediksi dan di luar kendali pelaku sejarah.
Adu Nafas Institusi Ekstraktif dan Institusi Inklusif
Dari sekian kisah-kisah historis yang dipaparkan buku, mudah kita simpulkan bahwa akar kemelaratan suatu bangsa adalah institusi ekstraktif. Timbulnya diakibatkan berbagai faktor yang tidak bisa digeneralisasi.
Gagal atau berhasilnya pembangunan industri di suatu negara sangat ditentukan oleh fungsi dan mekanisme institusi di negara tersebut.
Ciri-ciri institusi ekstraktif adalah kekuasaan di tangan segelintir elit dan kontrol masyarakat sangat lemah atas penggunaan kekuasaan itu. Kelompok elit ini sering mengarahkan dan membentuk institusi ekonomi guna mengeruk sumberdaya yang ada untuk didistribusikan di antara kelompoknya melalui rekayasa institusi politiknya.
... institusi ekonomi ekstraktif hanya akan memperkaya kelompok elite yang dengan kekayaan, dan kekuasaan ekonominya memungkinkan mereka untuk mengukuhkan dan melestarikan dominasi politiknya.
Dengan kata lain, ciri paling mudah dikenali dari suatu negara yang institusi politik-ekonominya ekstraktif adalah tidak meratanya distribusi kemakmuran (kekayaan nasional) di antara warga negara, terakumulasi ke kelompok elit kecil. Jomplang!
![]() |
| (Kolase) Istri-istri anggota DPR berlibur ke Jepang pada2016. Bawah: ibu-ibu sedang bekerja memilah sampah. |
Apakah institusi politik ekstraktif tidak bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi? Jawabnya bisa, tapi jika tenaga penggeraknya “habis nafas”, seketika mandek. Kisah bangsa Maya dan Uni Soviet adalah bukti.
Peradaban bangsa Maya (terletak di selatan Meksiko modern: Belize, Guatemala, dan Honduras barat) muncul dan berkembang kira-kira pada tahun 500-an SM. Bangsa-bangsa Maya tidak mendirikan imperium. Bangsa ini adalah bangsa dengan capaian peradaban tinggi waktu itu, baik di bidang pembuatan bangunan, ilmu pengetahuan, dll. Tentu saja itu semua bisa diraih karena pertumbuhan ekonomi yang spektakuler. Namun, sayangnya semua itu diraih di bawah institusi ekstraktif. Setelah “habis nafas”, peradaban Maya bangkrut dan benar-benar lenyap dengan kedatangan para conquistador Spanyol.
Pola-pola hubungan institusi di antara negara kota bangsa Maya merdeka satu sama lain, tidak ada sentralisasi kekuasaan. Jawaban logis kenapa hubungan di antara negara kota bangsa Maya adalah penaklukan satu sama melalui perang.
![]() |
| Chicén Itzá, sisa-sisa peradaban bangsa Maya di Oaxaca, Meksiko (Banderanews.com) |
Memang, ada beberapa kota menggalang kerja sama bidang militer, tapi itu tidak luput, utamanya, diarahkan untuk kepentingan raja dan kelompok elitnya, pemicu perang saudara dan munculnya berbagai kelompok yang berebut kekuasaan serta berambisi saling merampok. Memang, bangsa Maya tidak menghadapi—yang oleh Schumpter disebut—penghancuran kreatif, tapi tidak adanya sentralisasi kekuasaan yang inklusif adalah pemantik lahirnya institusi ekstraktif.
Pengalaman bangsa Maya itu tidak hanya membuktikan bahwa institusi ekstraktif bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, namun juga menegaskan adanya kendala-kendala fundamental yang mustahil diatasi, yaitu instabilitas politik yang merebak dan akhirnya memicu kehancuran bangsa dan pemerintahan.
Yang terjadi pada bangsa Maya hampir mirip dengan yang terjadi di Somalia, yaitu gagalnya konsolidasi dan sentralisasi politik antara kelompok-kelompok yang berebut pengaruh dan bertikai di Somalia.
Sentralisasi politik yang inklusif merupakan syarat mutlak lahirnya motor-motor penggerak kemakmuran dan itu dibutuhkan adanya monopoli atas penegakan hukum dan penjaga ketertiban. Dari sentralisasi itu, kekuasaan didistribusikan ke beragam institusi.
Uni Soviet juga pernah mencatatkan pertumbuhan ekonomi mencengangkan. Soviet tidak memiliki sistem pajak komperhensif dan tertata baik. Lenin meninggal pada 1924. Stalin menggantikannya pada 1927 dan dia menggalakkan industrialisasi. Cara yang ia tempuh adalah membuat Komite Rencana Pembangunan Lima Tahunan, bertugas menyusun arah pembangunan ekonomi di bawah kontrol dan pengawasan negara, berlaku pada 1928-1933.
Langkah industrialialisasi di bawah rezim Stalin, cara kerjanya sederhana: mengembangkan sektor industri di mana sektor pertanian dijadikan tumbal dengan cara pengutipan pajak tinggi. Rezim Soviet tidak mengenal hak milik. Oleh karenanya sistem pertanian bersifat kolektif. Stalin dengan kepemimpinan tangan besi bisa mendistribusikan hasil pertanian untuk menggenjot kemajuan sektor industri yang menjadi tujuan utama pembangunannya. Berhasil. Namun begitu, pola ini mengandung permasalahan pelik karena tidak mengenal insentif bagi mereka yang bekerja keras dan berinovasi. Petani-petani enggan bekerja keras. Akibatnya, Soviet berikutnya diterjang wabah kelaparan karena kelangkaan bahan pangan. Tak kurang dari 6 juta orang tewas.
Soviet memang mencatatkan pertumbuhan ekonomi, bahkan diramalkan oleh beberapa ekonom akan segera mengalahkan AS waktu itu. Misalnya seperti prediksi Paul Samuelson, penerima Nobel. Bagaimanapun pada 1970-an pertumbuhan ekonomi Soviet mulai menujukkan tanda-tanda “habis nafas” dan menjadi titik awal keruntuhannya dan benar-benar runtuh pada dekade 1990-an. Di bidang inovasi teknologi Soviet hanya mencatatkan keunggulan di bidang militer dan ruang angksa, tidak untuk teknologi-teknologi inovatif yang berguna untuk keberlangsungan ekonomi bagi masyarakat, sebab masyarakat tidak diberi kebebasan berinovasi dan mengambil apa yang menjadi insentif inovasinya sebagaimana di Barat.
Kisah institusi ekstraktif Soviet memberikan pelajaran bahwa institusi-institusi ekstraktif tidak bisa merangsang kemajuan teknologi berkelanjutan karena dua hal. Pertama, tidak adanya insentif untuk orang-orang berinovasi. Kedua adanya penolakan elit atas pemberian insentif bagi yang berkreasi dan bekerja keras.
Ekonomi inklusif lahir dari transformasi masyarakat di mana ada hal-hal kecil dalam jalannya sejarah akan tetapi menentukan.
Ciri-ciri politik inklusif dapat kita buat poin-poin berikut:
- Adanya kesadaran dalam diri masyarakat akan hak ekonomi dan jaminan institusi atas insentif bagi temuan dan inovasinya. Artinya, ada keterlibatan dan pelibatan masyarakat dalam aktivitas ekonomi. Ini bisa muncul ketika negara memberi kebebasan masyarakat mengembangkan diri dalam berwiraswasta dan berinovasi serta jaminan dan perlindungan atas insentif yang didapat dari itu, jaminan dari persaingan yang unfair, kemudahan mengakses modal. Selain itu, tak kalah penting, adanya jaminan dari negara atas kebutuhan mendasar sosial yang disediakan demi akses terhadap kehidupan layak: akses hunian, akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan layanan-layanan publik mendasar lainnya. Dengan adanya jaminan sosial semacam ini, bagi yang gagal berinovasi tak perlu cemas atas pemenuhan kebutuhan mendasarnya.
- Adanya konsolidasi dan sentralisasi kekuasaan dari berbagai elemen kekuatan di masyarakat, dari sentralisasi kekuasaan itu kemudian kekuasaan didistribusikan ke beragam institusi politik.
Dalam pembacaan saya pribadi atas buku, ada dua model perubahan suatu masyarakat menuju institusi inklusif. Pertama, secara alamiah bertransformasinya masyarakat, “secara tidak disengaja”. Contoh, bagaimana institusi AS tercipta secara alamiah sudah terbentuk sejak ratusan tahun lalu, bermula dari kisah berdirinya Virginia Company di Jamestown.
Atau, bagaimana awal mula institusi inklusif tumbuh di Australia bermula dari inisiatif sipir di wilayah pembuangan sampah masyarakat Inggris berhak atas hasil-hasil pertaniannya, meski sistem penjualan dimonopoli. Model yang pertama ini umumnya terjadi di koloni-koloni Inggris yang didominasi orang-orang kulit putih.
![]() |
| Deng Xiaoping. |
Rakyat China sangat memerlukan peningkatan taraf hidup dan semua gerakan menentang Partai Komunis sudah dibabat habis selama masa kepemimpinan Mao, khususnya selama masa-masa Revolusi Kebudayaan.
Situasi-situasi tak terduga dalam dua model terjadinya perubahan di atas tadi, sekali lagi, oleh penulis buku diistilahkan “perbedaan-perbedaan kecil yang memengaruhi jalannya sejarah.
Yang Luput dari Buku—Opiniku
Ada beberapa catatan yang sekiranya bisa disampaikan. Pertama. Meski buku ini tidak menyinggung tentang, saya istilahkan, “demokrasi subtantif”, beberapa suguhan fakta historis yang disuguhkan penulis buku, dapat disimpulkan bahwa lahirnya institusi ekonomi inklusif merupakan hasil dari adanya institusi politik yang demokratis. Demokratis yang bukan sekedar demokrasi-pilih-memilih, akan tetapi demokrasi subtantif. Berangkat dari kesadaran masyarakat atas hak-hak ekonominya dan kemakmuran dalam berhadapan dengan kekuasaan.
Demokrasi sudah mendarah daging dalam diri warga Nogales, AS.... Para warga Nogales, Arizona, tahu pemerintah yang dianggap kurang efisien dan sesekali korup itu bekerja untuk mereka.
Kasus AS dan Australia memperlihatkan evolusi
demokrasi-yang-sebenar-benarnya dari bawah,
yaitu bersumber dari masyarakat yang menyadari kepentingan ekonominya tidak bisa lepas dari
institusi politik berjalan.
Mereka harus berjuang keras untuk mendapatkan hak-hak politik dan institusi politik-ekonomi yang inklusif.
Kedua, institusi ekonomi inklusif dalam buku ini sumbernya bermula dari Revolusi Industri yang dipicu oleh berbagai temuan teknologi industri. Kehadiran teknologi ini dalam tataran domestik telah menciptakan perubahan besar-besaran tatanan sosial, menyingkirkan para pelaku tatanan ekonomi ekstraktif sebelumnya dan, yang tidak kalah penting, tetap saja terpinggirkannya orang-orang tidak beruntung: hilangnya lapangan pekerjaan dan mata pencarian tadi oleh adanya penghancuran-kreatif, dimana mereka sebelum Revolusi Indistri juga sebagai kelas peasant yang tak sama beruntungnya.
Buku ini tidak menyinggung sama sekali tentang bagaimana perlindungan dan peberdayaan kaum-kaum kalah. Institusi inklusif mengibaratkan negara sebagai “satu-tubuh”, dalam kemakmuran tersirat pemahaman bias bahwa kemakmuran merupakan kemakmuran segenap warga negara di situ. Bagaimanapun, yang kita sebut negara bukanlah gambaran satu-tubuh, melainkan “kumpulan tubuh-tubuh”.
Lahirnya institusi inklusif dalam frasa lain adalah cikal bakal corak ekonomi kapital. Institusi inklusif pada dasarnya propasar, pergeseran corak ekonomi dari feodalisme-agraris ke borjuasi-teknologi. Dalam konteks globalisasi ekonomi, kelompok peasant terpiggirkan ini tak terpotret dalam kajian buku—sekaligus fenomena ini bisa dijadikan perspektif pembanding dalam membacai buku ini. Dunia dewasa ini yang telah begitu mengglobal di bawah institusi pasar tunggal yang didorong oleh WTO. Organisasi yang efektif berlaku pada 1994. Fakta-fakta ini tidak bisa dikesampingkan begitu saja ketika membacai buku yang diterbitkan dalam versi asli pada 2012 ini.
Relevansinya dengan Indonesia Hari Ini?
Membacai buku ekonomi-politik dan struktur bangunan teorinya, kita diajak “melihat mundur”. Selain dimaksudkan sebagai basis bangunan teori, bacaan bergenre ini yang ada di tangan kita hanya menjadi kumpulan dongeng bilamana kita tidak mampu melakukan aktualisasi untuk konteks zaman dan ruang yang mengikat kita. Memahami teori dan konteks serta pola-pola struktur masyarakat adalah syarat mengupayakan ke mana perubahan.
Indonesia dalam buku ini diwakili “kisah Maluku”, termuat dalam 7 halaman (h. 283–289) tanpa penegasan apakah institusi Indonesia hari ini berwatak ekstraktif atau inklusif. Kontak pertama orang Maluku dengan orang Eropa terjadi pada abad ke-16, ketika Portugis berupaya mencari langsung ke pemasok, bukan melalui jalur dagang Ottoman. Abad itu, Maluku adalah pusat penghasil rempah-rempah dunia dan menjadikan perekonomian Asia Tenggara berkembang pesat, meskipun juga kebanyakannya di bawah rezim ekstraktif.
Rempah adalah komoditas berharga zaman itu, sebelum digantikan oleh komoditas minyak sebagaimana sekarang. Namun begitu, Belanda dengan bendera VOC yang pada akhirnya menguasai dan menancapkan dominasi. Dikisahkan dalam kisah Maluku ini, Belanda membantai mungkin sekitar 15.000 warga Banda yang secara relatif merdeka diantara ketiga negeri tetangganya, kesultanan Ternate, Tidore, dan Bacan, demi mendirikan rezim ekonomi ekstraktif dan monopoli pasar rempah-rempah. Dalam buku lain, dikatakan W. F. Wertheim (1999):
Sekitar tahun 1900 Belanda telah berhasil menetapkan dominasinya di seluruh kepulauan ... membentuk stratifikasi sosial menurut ras yang menyebar di Jawa, yang meluas ke luar Jawa.
![]() |
| Ilistrasi. Litograf karya A. van Pers. |
Taktik yang bukan hanya menjadikan Kerajaan Spanyol berikut para penakluk dan keturunan mereka berlimpah harta, tetapi juga menyulap Amerika Latin ... melarat.
Gambaran muram negara-negara Latin hari ini tidak lepas dari institusinya yang warisan kolonial. Kemerdekaan negara-negara Latin yang terjadi saat itu kebanyakannya motif penggeraknya merupakan respon kelas borjuasi di negara-negara jajahan Spanyol kala itu yang menguasai panggung politik dan ekonomi di situ atas reformasi yang terjadi di negara induk, Spanyol.
Membacai watak institusi Indonesia, lebih-lebih ketimpangan distribusi kekayaan nasionalnya, juga bisa mencari cermin pada motif-motif yang melatarbelakangi terjadi kemelaratan dan ketimpangan wilayah-wilayah koloni Spanyol di benua amerika Latin, sebagaimana paling banyak disinggung dalam buku ini.
Penutup
Buku dengan jumlah 560 halaman inti ini, yang hendak mengajukan satu teori kemelaratan, adalah bacaan kompleks untuk dipahami. Penulis menyuguhkan banyak kisah dari berbagai belahan dunia. Maksudnya itu sepertinya karena memang tidak mudah menentukan seperti apa Teori Institusi ini persisnya bekerja, akan berbeda dari satu tempat dengan lain tempat bekerjanya dalam membincangkan terciptanya institusi inklusif.
![]() |
| Ilistrasi. |
Lahirnya institusi inklusif ini juga dapat kita maknai lahirnya pergeseran corak ekonomi dari pemenuhan kebutuhan material manusia dari konvensional ke mekanisasi mesin, dari sistem serfdom di zaman kerajaan dan feodalisme ke kapitalisme awal yang mengagungkan pasar dan kontrak. Tatatan ekonomi hari ini dan kemakmuran dan ketimpangannya karena persebaran penguasaan ilmu pengetahuan modern (sains). Kemajuan dan peningkatan taraf hidup merupakan berkah dari perubahan cara pandang manusia terhadap ilmu pengetahuan di zaman modern, yang berikutnya melahirkan teknologi.
Penyuguhan dan gaya penulisan, terutama bagaimana memilih judul bab dan subbab nyleneh, menggugah, dan kadang provokatif. Kekurangan dari buku, setidaknya menurut saya, adalah bagaimana penyajian topik. Satu topik yang dibahas dalam satu bab, kemudian anda akan menemukan kelanjutan pembahasannya di bab lain dan dalam subbab lainnya. Gaya menulis eksposisi, mungkin. Bisa jadi karena buku ini, meski termasuk bacaan berat, ditujukan dengan gaya penyampaian yang bisa dipahami semua khalayak. Caranya, bercerita ya bercerita saja.
Butuh keseriusan untuk menemukan ide mendasar yang hendak disampaikan atas bangunan teorinya. Namun begitu, sebagai penutup, buku ini adalah buku yang betul-betul layak baca, setidaknya buku ini membuka cakrawala kita dalam memahami bagaimana kemelaratan, bahkan kemelaratan akut, bisa terjadi.
Judul: Mengapa Negara Gagal (Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran, dan Kemiskinan)
Penulis: Daren Acemoglu & James A. Robinson
Alih bahasa: Arif Subiyanto
Penerbit: Kompas Gramedia
Tahun terbit: 2017
Jumlah halaman: xxiii + 560 hlm
Dimensi: 15 cm x 23 cm








