Jiwa-jiwa besar akan menghadapi perlawanan kejam dari orang-orang yang biasa saja.
— Albert Einstein.
 |
| Dokumen pribadi. |
Mencermati pembahasan-pembahasan sebelumnya, kita telah mendapat pemahaman tentang kecenderungan individu di masyarakat Asia dan barat. Tipikal masyarakat, bagaimanapun, jelas Kwang, memengaruhi struktur psikologis: pemaknaan diri dan hasrat ketika berhadapan orang lain dalam kelompok masyarakatnya. Baik di timur atau barat, kehidupan manusia dengan sesamanya bersisihan dengan konflik.
Bagian ini meneliti bagaimana timur dan barat menghadapi dan memaknai konflik. Ini penting dijelaskan Kwang, yang menjadi pendapat kuat, karena pribadi pencetus-kreatif adalah orang yang memiliki kecenderungan pola pikir berbeda dan proposal radikal dalam satu hal dan tipikalnya yang “dogmatis”.
Filosofi hidup: relasi kontraktualisme barat dan relasi in group Asia
Dijelaskan dalam bab sebelumnya, tipikal masyarakat barat adalah Ptolemian dan out group, renggang, relasi kemasyarakatan liberalistik, individunya independen dan otonom, dan extrovert dominant. Penekanan lebih dititikberatkan ke individu, bukan kelompok. Tipikal orangnya lebih mengejar hasrat dan penegasan diri. Mereka percaya bahwa individu harus diletakkan lebih tinggi ketimbang masyarakat.
Etika individualisme di masyarakat Barat mengimplikasikan bahwa seseorang meletakkan kebutuhan dan hasratnya dalam hubungan terlebih dulu. Kebutuhan dan hasrat orang lain dianggap sebagai elemen sekunder dalam sebuah hubungan.
Hubungan model ini diistilahkan relational contractualism, ’relasi kontraktualisme’, yaitu suatu relasi atau hubungan antarindividu yang terpisah tapi setara, berdasar analisis kalkulatif: Contoh paling mudah dari hubungan dekat di masyarakat barat ini adalah perjanjian pranikah.
Jika afirmatif, maka orang tersebut akan menegaskan dirinya untuk meraih manfaat apa yang tidak dia dapat atau sebaliknya menarik diri dan mencari hubungan lain untuk meraih gratifikasi psikologis. Ditegaskan Kwang, sikap individu seperti ini terhadap orang lain dalam hubungan membuat orang merasakan fairness.
Di saat yang sama, model hubungan di mana tiap pihak dalam hubungan yang memiliki kecenderungan melihat permasalahan dari perspektifnya masing-masing dan fokus pada kebutuhan dan hasrat psikologis subjektifnya itu menjadikan hubungan tidak stabil dan rentan konflik.
Akan tetapi, susul Kwang, dalam masyarakat individualistik liberal barat, konflik interpersonal tidak selalu dilihat negatif atau tidak diinginkan. Munculnya konflik bisa membantu pihak-pihak menentukan batas-batas diri karena memperjelas hasrat seseorang, preferensi, dan tujuan dalam berhadapan dengan orang lain.
Orang Barat cenderung menganggap konflik sebagai pencerahan positif dan melekatkan properti konstruktif pada konflik. Konflik dalam sebuah hubungan akan membantu kedua orang tersebut untuk memahami satu sama lain.
 |
| Ng Aik Kwang. |
Persepsi positif atas konflik dalam budaya barat ini diperkuat oleh hasil riset psikologi sosial yang dilakukan L. L. Janis (1982) yang meneliti dinamika suatu kelompok dalam hal telah membuat keputusan salah. Penelitian mengindikasikan ada akibat menguntungkan dari hal tadi bagi kelompok tersebut. "Suara berbeda tersebut, alih-alih menggangu keteraturan sosial dan harmoni, malah menstimulasi anggota kelompok lain untuk memikirkan isu dari perspektif beragam dan berbeda, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas kinerja dan kreativitas kelompok secara keseluruhan."
Masyarakat barat memiliki keyakinan ketika dua pihak atau lebih menyatukan benak mereka, “kebenaran tertinggi” akan muncul dari rasio mereka dan analisis objektif atas permasalahan itu. Sebuah optimisme pada kekuatan nalar dalam mengungkap misteri alam semesta atau permasalahan sosial dan politik.
 |
| Ilustrasi dua persepsi pemikiran. |
Keyakinan kuat pada otoritas rasio ini dikatakan Tarmas (1991) adalah perubahan paling signifikan dalam kultur berpikir barat yang me-monumen-kan Abad Pencerahan. Orang tidak lagi mengandalkan otoritas juru selamat, nabi, paus, raja, dan ratu. Keyakinan pada otoritas rasio dalam situasi konflik secara implisit mengandung:
(i) selalu ada solusi objektif dan analisis rasional dari setiap masalah, (ii) tugas 'saya' adalah meyakinkan 'anda' bahwa proposal solusi yang saya tawarkan itu objektif dan rasional dibandingkan alternatif lainnya yang ditawarkan.
Ini alasan mengapa orang barat lebih suka berdebat adu argumen ketimbang berkompromi dan akomodatif.
(Sekarang kita tahu, mengapa orang barat cenderung konfrontatif dan beradu argumen, misalnya dalam debat presiden AS, sementara debat presiden di Indonesia mirip lomba cerdas cermat yang dulu tayang di TVRI.)
Sebaliknya, timur adalah Galilean dan in group, rapat, kolektivistik, dan individu-individunya dalam bermasyarakat interdependensi dan submissif.
Istilah in group mengacu pada orang-orang yang menduduki pusat dalam kehidupan seseorang. Bersama dengan orang-orang itu, seorang individu bersedia bekerja sama tanpa meminta imbalan, dan berpisah dengan mereka akan membuatnya mengalami ketidaknyamanan atau bahkan rasa sakit.
Contoh dari relasi in group adalah keluarga, kerabat, marga, dan suku, di mana semakin besar lingkaran kelompok, maka semakin besar pula ketergantungannya dan semakin menguatkan pendangkalan dalam diri individu tersebut. Berbeda dari individu barat yang memiliki lingkaran kelompok banyak dan beragam, tetapi pada umumnya mereka menjaga otonomi diri dari lingkaran kelompoknya. Orang Asia memiliki lingkaran kelompok lebih sedikit, tapi lingkaran kelompoknya sangat berpengaruh besar pada sikapnya.
Kecenderungan orang Asia bertahan dengan kelompok in group-nya dan menyesuaikan diri dengan harapan dan keinginan mereka ini, sebagaimana sebut Kwang, dalam istilah Tiongkok disebut Gan-Qing, istilah yang mengacu pada “emosionalitas manusia”, yaitu emosional kuat yang tumbuh perlahan tanpa sadar dan lamanya proses yang tidak betul-betul disengaja. Emosionalitas ini erat kaitan dengan relasi atau hubungan (Guan-Xi menurut istilah Tiongkok) antara pihak-pihak. Ikatan hubungan kuat secara emosional ini erat pula berkaitan dengan “wajah” (Mian-Zi), misalnya memuji pihak yang terikat relasi secara emosional tadi di depan publik bukan berdasar objektivitas, melainkan berdasar “menjaga harga diri ala timur”.
Contoh sikap lainnya, tidak mengoreksi perkataan di depan orang banyak. Berdasar standar kultural, jika tidak bisa menyelamatkan harga diri berdasar standar tadi, salah satu pihak dipersepsikan merusak Gan-Qing, dan mengoreksi kesalahan di depan publik adalah perbuatan tidak menyenangkan dan secara kultural dipersepsikan merusak wajah, itu pada akhirnya merusak ikatan relasi yang sudah terbangun secara emosional di antara mereka selama ini. Sayangnya, secara paradoks orang timur dominan pada wajah sendiri, dalam kondisi apapun.
Bilamana ikatan Gan-Qing terbangun dalam relasi (Guan-Xi) antara dua orang, maka pihak-pihak yang terlibat akan saling menjaga wajah atau persepsi kehormatan kultural (Mian-Zi). Bahkan kesejahteraan masing-masing pihak, dalam susah maupun senang. Ini mirip dalam tradisi Jawa jika dua orang sudah “seduluran”, maka masing-masing pihak akan mudah merasa tidak enak menolak pihak lain dalam banyak hal dan akan berusaha menjaga ikatan hubungan itu.
Hal-hal tadi mengimplikasikan bahwa orang Asia sering melekatkan valensi negatif atau kecenderungan pada perasaan pihak lain. Cenderung berusaha menghindari konflik, tidak konfrontatif.
Orang Asia akan cenderung untuk melihat konflik dengan orang dekat dalam kacamata negatif dan destruktif yang berpotensi menghancurkan jalinan hubungan.
Dalam menafsiri konflik, orang Asia juga melekatkan keyakinan akan adanya “keterbatasan pandangan diri”, ketimbang meyakini adanya “kebenaran tertinggi” seperti di individu barat, yang sekiranya mampu dicetuskan rasio mereka.
Dengan demikian, alih-alih orang Asia akan beradu argumen dalam situasi konflik, tapi lebih memilih kompromi dan jalan akomodatif. Alih-alih mengutarakan argumentasi berdasar rasionya secara mandiri, orang Asia justru memercayai kata-kata orang lain yang dianggapnya memiliki otoritas untuk mewakili dari angapan pada diri akan keterbatasan pandangannya, atau melakukan penolakan.
Perspektif negatif atas konflik dapat dipahami karena titik tekan budaya masyarakat konservatif Asia pada keteraturan sosial yang hirarkis dan harmoni lebih luas telah mengondisikan nalar dan psikologis individunya bersikap submissif, terdapat tuntutan untuk menyesuaikan dan melebur ke dalam standar-standar kelompok.
Konflik dan manajemen konflik
Konflik adalah sebuah fenomena paradoks yang merasuk ke dalam semua bentuk hubungan sosial dalam masyarakat. Hal tersebut dapat menurunkan kita sampai ke insting terendah.... Tapi dari peristiwa-peristiwa konflik, kita [umat manusia] sering mendapat prestasi-prestasi luhur dan abadi.
Ada asosiasi erat antara kreativitas dan konflik, jelas Kwang. Karena ide dan proposal yang diperkenalkan oleh pencetus kreatif ke komunitasnya bersifat radikal, dia akan menghadapi banyak perlawanan dari kebanyakan anggota komunalnya.
Seorang pencetus perlu bertahan dari tekanan, halangan, dan perlawanan. Bukannya terjerembab mencari titik-titik kesesuaian, akomodatif, dan kompromi atas ide radikalnya itu. Seorang pencetus kreatif perlu memiliki kemampuan psikologis atas tekanan, halangan, dan perlawanan. Alih-alih mencari kesesuaian dan mengikuti aturan standar.
Orang yang terjerembap ke dalam tekanan yang terus-menerus untuk mencari kesesuaian banyak ditemukan di masyarakat Asia. Di masyarakat ini orang mengembangkan kepribadian 'constrained-submissive' dan memiliki 'self-construal' yang mandiri.
Seseorang yang memiliki struktur psikologis seperti tadi, jelas Kwang, cenderung memiliki sikap akomodatif dan berkompromi ketika menghadapi situasi canggung, lebih-lebih ketika berhadapan dengan orang dekat. Hal ini dperlihatkan dalam model budaya timur terkait konflik dan kreativitas, yaitu bersikap mengalah atas tuntutan untuk tunduk pada standar komunal. Padahal,
orang yang percaya bahwa konflik itu bermanfaat bagi sebuah hubungan (dia memiliki pandangan positif) memiliki kemungkinan lebih besar untuk menghadapinya dan melewati proses konflik itu sepenuhnya, bukan mencari jalan pintas.
Sebagaimana dikutip Kwang, riset empiris yang dilakukan Leung (1997) dalam memahami resolusi konflik antara orang Tiongkok dan Amerika, di mana masing-masing diminta memilih memainkan peran dalam sebuah skenario konflik yang hipotetikal, temuan menunjukkan bahwa orang Tiongkok lebih memilih non-advesarial (dengan negosiasi dan mediasi) karena menganggap prosedur semacam itu lebih bisa mengurangi kebencian. Berkebalikannya, orang Amerika cenderung memilih advesarial.
Riset Barnlund (1975) yang dikutip Kwang mendapati orang Jepang akan menghindari topik yang dianggap bisa mengancam hubungan mereka dengan orang lain. Di riset lain, Ohbuchi dan Takahashi (1994) melaporkan bahwa murid Jepang menunjukkan kecenderungan kuat untuk menghindari konflik, bertolak belakang dengan pelajar Amerika.
Menurut para psikolog, gaya pengelolaan konflik dibedakan menjadi dua dimensi: peduli pada diri dan peduli pada orang lain. Dimensi pertama mengacu pada tinggi-rendah seseorang memuaskan kebutuhan dan hasratnya. Dimensi kedua mengacu pada orientasi pada motivasi individu lain ketika terjadi konflik interpersonal.
Dalam bentuk kombinasi lain yang berbeda, mereka ada pula yang menyuguhkan lima jenis tipe pengelolaan konflik: obliging (kepedulian rendah terhadap diri sendiri dan tinggi ke orang lain), dominating (kepedulian tinggi terhadap diri sendiri dan rendah ke orangain), avoiding (kepedulian pada diri dan orang lain sama-sama rendah), compromising (kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain rata-rata), dan integrating (kepedulian terhadap diri dan orang lain sama-sama tinggi).
Ting Toomey dkk. (1991) mendapati bahwa responden Amerika memperlihatkan derajat lebih tinggi atas gaya dominating dibanding orang Jepang. Responden Tiongkok dan Taiwan memperlihatkan derajat tinggi obliging dalam pengelolaan konflik. Juga kepedulian pada self-face concern lebih lazim di barat dan other-face concern lazim di timur: Tiongkok, Taiwan, Jepang, dan Korea.
Lebih jauh, gaya pengelolaan konflik berorientasi self-face concern diasosiasikan dengan pengelolaan konflik dominating. Sementara manajemen konflik berorientasi other-self concern diasosiasikan dengan pengelolaan konflik avoiding, integrating, dan compromissing.
Kecenderungan kaum intelektual Asia dan intelektual barat
Keengganan orang Asia pada umumnya dalam menghadapi konflik dengan komunitasnya, terlihat dari kecenderungan kaum intelektualnya yang enggan mengonfrontasikan ide-ide dan proposalnya, berbeda dengan intelektual di barat yang punya kecenderungan mengguncang dasar-dasar dunia. Secara kasuistik, Kwang membentangkan contoh-contoh historis akan kecenderungan intelektual di masyarakat Konfusian Tiongkok.
 |
| Sima Qian (Wikipedia). |
Misalnya, kisah intelektual Ssu-ma Chien atau Sima Qian (136–84 SM), seorang ahli sejarah jaman Kaisar Han Wu-Ti, yang hidup pada masa 100 tahun sebelum Yesus lahir. Ia penulis produktif kekaisaran, karyanya
Historical Records berisi catatan sejarah Kaisar Kuning. Terlepas dari kepandaiannya, pembelaan dia terang-terangan terhadap komandan pasukan, Li Ling, yang dikisahkan sudah berperang secara ksatria dan berani bersama 5000 pasukan invanterinya melawan 30.000 pasukan kavaleri musuhnya, Raja Hun. Dan, ia kalah. Karena keberaniannya dan taktik perang baru dan cerdasnya, dia diperlakukan dengan penuh rasa hormat oleh musuhnya. Hal itu memancing kemarahan Kaisar Han Wu-Ti. Segera, Kaisar memerintahkan Li Ling dihukum mati beserta ibu, istri, dan anak-anaknya. Sima Qian punya pandangan berbeda. Karenanya, dia melakukan pembelaan dan memberikan pujian ke sang jendral di hadapan Kaisar. Mengutarakan pandangan dan pikirannya secara terbuka. Akibat cara pandang yang konfrontatif itu, dia dijatuhi hukuman kebiri di masa mudanya. Bahkan kebiri dalam anggapan Konfusius adalah menjijikkan. Menjadi kasim, dalam ketidakberdayaan. Meski demikian, dia bertahan hidup dan memfokuskan diri—bukan ke lainnya—untuk menyelesaikan
Historical Records-nya yang sekarang menjadi standar kronologi kejadian penting, kutip Kwang dari Bloodworth (1967).
 |
| Han Yu (Wikipedia English). |
Senasib hampir serupa, ada Han Yu (768–824), seorang ilmuwan yang menulis dan memprotes Kaisar secara terang-terangan dalam tulisannya. Akibat keterusterangan atau “protes tanpa tatakarama”, dia dikucilkan. Dia diusir dari pengadilan ibukota dan dimutasi ke daerah terbelakang dan kumuh di Guangdong. Han Yu berubah dalam pengucilannya itu. Dia memimpin di daerah barunya ini dengan tidak mengabaikan prinsip-prinsip Konfusian, sehingga berhasil mendapat kepercayaan penduduk pada akhirnya. Meninggalkan sikap konfrontatifnya dan menempatkan diri pada disiplin Konfusianeisme.
Berkebalikan dengan dua tokoh di atas yang “menyampaikan idenya ala barat”, Chu Hsi (1130–1200) memodifikasi dan menambahkan interpretasi dan komentar-komentar pada tradisi Konfusian. Hasil pekerjaan intelektual Chu Hsi ini di barat dikenal Neo-Konfusian. Itu dilakukannya setelah dirinya lulus dari serangkaikan ujian yang diadakan pemerintah dinasti dan kemudian mendapat mandat. Ia menciptakan dan membumikan gagasan-gagasannya akan perubahan dengan masuk sistem.
Dari kisah-kisah tadi, Kwang menunjukkan fenomena intelektual dalam historis timur, spesifiknya di masyarakat in group Konfusian. Bahwa ide dan proposal yang disampaikan terang-terangan dan secara radikal konfrontatif akan berakibat menerima tekanan kuat dan berisiko. Resistensi kultural masyarakat in group cenderung kuat karena penekanannya pada keteraturan, harmonisme, perspesi kultural tentang relasi kemasyarakatan, dan konflik sebagai hal yang cenderung harus dihindari. Dipersepsikan negatif.
Daripada mengutak-atik sistem dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyenangkan kepada orang-orang yang ingin mempertahankannya, kewajiban moral ilmuwan Konfusian adalah meraih posisi resmi.
Bukan peran dari ilmuwan Konfusian untuk menerima kritik dan [ber]pandangan konfrontatif terhadap sistem yang telah membesarkannya. Konvensi, tradisi, dan otoritas malah harus dihormati, bukan dilanggar.
Intelektual Konfusian, tandas Kwang dalam menjelaskan kecenderungannya dalam kaitan tipikal masyarakat in group,
memiliki kewajiban untuk menjadi contoh moral bagi orang-orang yang dipimpinnya ... tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga koleganya, atasannya ... dengan standar sikap tinggi dan penuh kehati-hatian dalam menyampaikan kritik, agar penyampaiannya sesuai standar kultural tadi.
Memahami kecenderungan intelektual timur tadi, yaitu berbicara apa adanya dan tanpa ragu-ragu menegur saat salah mungkin akan membawa masalah dan kesulitan baginya, menurut Kwang. Intelektual timur lebih akomodatif dan kompromis. Alih-alih mengumandangkan dan menggolkan proposal-proposal yang tidak radikal secara frontal. Dalam masyarakat in group, mereka yang menawarkan ide dan proposal (atau lebih luasnya berbeda sikap dan standar perilaku) akan besar mendapati pembungkaman, pengucilan, pengasingan, eksekusi, dan hal-hal membahayakan diri lainnya baik secara fisik atau psikologis.
Namun begitu, Kwang memuji, “intelektual timur tunduk tapi berani”. Meski pendekatan akomodatif dan kompromis tidak akan memberikan wadah proposal idenya diimplementasikan secara penuh.
Berbeda dari itu, intelektual barat tidak tunduk pada sistem pemikiran dan institusi.
Mereka mengandalkan ide-ide ikonoklastik dan tidak praktis yang mengguncang komunitasnya.
Akibatnya, intelektual barat sering dianggap tinggal di puncak menara gading dan jauh dari realitas. Tapi, tandas Kwang, intelektual barat berani dan berusaha menerapkan proposal radikalnya, bersedia berhadapan dengan siapa saja yang berseberangan. Intelektual barat,
... pandai melakukan pendekatan secara inovatif yang mengubah secara radikal dunia yang kita tinggali, baik itu di bidang astronomi, ilmu pengetahuan, agama, filosofi, politik, biologi, psikologi, atau bidang lainnya.
Di bidang astronomi, ada Glileo yang mengambil sudut konfrontatif dengan Gereja Kristen. Di ilmu pengetahuan, agama, dan filosofi, ada Nietzsche yang mengistilahkan bangkitnya humanisme dengan perkataan “kita telah membunuh Tuhan” dalam Thus Spake Zarathustra. Lainnya, ada Sartre yang berangkat dari merenungi pengalamannya di medan perang ketika pendudukan Jerman atas Prancis. Tegasnya, sebagai cetusan ide radikalnya, manusia bukan diciptakan sesuai gambar Tuhan, sebaliknya, gambaran akan Tuhan di benak manusia adalah hasrat kesia-siaan.
 |
| Albert Camus (Wikpedia Indonesia). |
Setali tiga uang, kawan lamanya yang kemudian berseteru, Camus, bahwa kehidupan modern di alam semesta ini adalah absurd dan tak bermakna yang seringkali “menusuk dari belakang”, kehidupan layaknya Sisyphus yang dihukum dewa untuk mendorong batu besar ke puncak gunung, terus dan terus tiada berkesudahan. Menggelinding ke bawah lagi.
Di bidang politik, ada Karl Marx dengan ide radikalnya menyuarakan lonceng kematian Kapitalisme melalui buku Manifesto Komunis, yang mana proposalnya konfrontatif terhadap struktur ekonomi dan politik mapan. Di bidang biologi, ada si saintis yang santun dan ramah Charles Darwin dengan teori evolusinya, moyang manusia bukan dari Adam dan Hawa, meski itu diprotes dan mendapat tekanan Gereja. Teori yang lahir dari pengamatannya selama bertahun-tahun dalam ketelitiannya dan disusun dalam laporan dibukukan selama 20 tahun. Darwin yang masa mudanya memiliki cita-cita sederhana menjadi pendeta di kampung, pada akhirnya menyadari bahwa Pencipta tidak ada dan ia meninggalkan Kristen, kutip Kwang dari R. Stewart (1967)
 |
| Sigmeund Freud (Wiki English). |
Di bidang psikologi, ada Sigmeund Freud yang memutarbalikkan keyakinan mapan manusia, “kita semua bukan bertindak dipengaruhi rasio, melainkan keinginan dan hasrat.” Di bidang fisika, ada Einstein.
Tokoh-tokoh intelektual barat di atas, seperti Kwang tegaskan, bersesuaian dengan stuktur psikologis yang khas dari pencetus kreativitas barat yang dogmatis. Juga terciptanya struktur psikologis tadi difasilitasi perspektif positif atas konflik.
Sisi negatif pencetus-kreatif yang dogmatis
Sejauh ini, mencermati alur pembahasan Kwang, kita melihat bahwa menurut Kwang ada kaitan erat antara, budaya dengan psikologi individu, psikologi dengan kreativitas, dan pada akhirnya kreativitas dan konflik, yang mana perspektif atas konflik ternyata memiliki pengaruh bagaimana pencetus yang kreatif mampu bertahan dari tekanan psikologis. Bertahan dari tekanan itu, menurut Kwang, karena secara psikologis para pencetus kreatif dan radikal barat adalah individu-individu dogmatis.
Ditegaskan Kwang, pencetus kreatif adalah pribadi dogmatis. Singkatnya, yang dimaksud "dogmatis", jelas Kwang, jika pencetus kreatif tidak kukuh pada pada idenya, maka ia tidak akan mampu menahan tekanan dari komunitasnya, dan tunduk pada otoritas dan menghentikan proposal radikalnya. Kreativitas, karenanya, bukan soal intelektual, melainkan juga melibatkan aspek psikologis si pencetus.
Sternbeg dan Lubart mendapati perbedaan antara orang yang berhasil menjadi kreatif dalam waktu lama dan mereka yang hanya sepintas bukan terletak pada apakah mereka bertemu dengan hambatan dalam pekerjaan mereka, melainkan pada apakah mereka teguh menghadapi hambatan itu.
Kita telah tiba dalam kesimpulan Kwang:
Orang ‘baik’ adalah individu yang menyenangkan dan mengikuti apa kata kelompoknya, bukannya mengacaukan semua orang dengan melakukan sesuatu dengan cara mereka sendiri. Sebaliknya, orang kreatif itu ‘tidak menyenangkan’ karena mereka memaksa orang lain untuk harus melakukan apa yang mereka katakan, betapapun aneh ide itu.
Pada akhirnya, ada yang harus diingat bahwa ada sisi negatif dari pribadi kreatif adalah pribadi dogmatis yang jarang diakui, yang besar kemungkinan menyebabkan masalah sosial di komunitasnya. Salah satu tipikalnya—kutip Kwang dari J. Diebold (1991)—mempertanyakan apa yang sedang ada. Sisi negatif ini terdiri beberapa sifat negatif, seperti tidak peduli kesepakatan umum dan tatakrama, keras kepala, dan susah diajak kerja sama, suka menuntut dan asertif, self-centred dan egois, temperamental dan egois, serta suka berontak dan sinis. Misalnya, perlakuan semena-mena yang dilakukan Newton dan Einstein terhadap orang-orang terkasihnya, sebagaimana dikisahkan buku Howard Gardner, Creative Minds.
Tegas Kwang, jika ada pembaca menolak kesimpulannya, ia meyakinkan ke pembacanya: mereka harus mempertimbangkan kesepakatan Fustian.[]
Judul: Asia VS. Barat (Benarkah Orang Barat Lebih Kreatuf Daripada Orang Asia?
Judul asli: Why Asians Less Creative Than Westerners
Penulis: Ng Aik Kwang
Penerjemah: Wida Utami
Penerbit: Kaifa
Tahun terbit: 2016
Jumlah halaman: xviii + 358 hlm.
Dimensi: –
Komentar
Posting Komentar