Aslan kecil tumbuh dari keluarga Iran–Amerika yang religius. Sejak kecil sudah tertarik agama dan spiritualisme. Tentu saja, melihat latar belakang keluarganya, Aslan sudah akrab tentang ketuhanan di waktu kecil. Tuhan dalam tangkapan pikirannya sebagai sosok “ayah pelindung”. Juga, sosok dengan atribut-atribut sempurna, representasi hasrat diri manusia akan kesempurnaan yang diingini dalam realitas dunianya. Idealisasi pikiran akan dunia kenyataan yang tak sempurna. Idealisasi pemuasan hasrat. Aslan dewasa merengkuh gelar Ph.D. dari Universitas Harvard, seorang master kajian teologi, dan merengkuh gelar doktor dalam sosialogi agama dari Universitas California.
 |
| Dok. Pribadi. |
Pada dasarnya, kepercayaan akan Tuhan dibentuk oleh citra pikiran manusia atas pengalaman yang tak dapat diungkapkan, ketika seseorang memilih untuk percaya. Dari situ, agama masuk.
Di luar mitos dan ritual, kuil dan katedral, hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, selama ribuan tahun, [agama-agama] telah memisahkan umat manusia ke dalam kubu kepercayaan yang berbeda dan seringkali bersaing.
Tuhan—baik yang dipersonalisasi dalam materi ataupun yang model ikonoklastik dan dipersonfikasi karakter-karakter yang muncul di akhir "abad agama"—bemula dari kisah manusia purba menghadapi alam, kebutuhan pada sosok “ayah”, dewa/Tuhan. Dari bentuk yang yang paling sederhana dan primitif ke bentuk sistem kepercayaan kompleks yang kita lihat hari ini. Setiap agama-kepercayaan memilki sistem kepercayaan berbeda, berangkat dari pengalaman kelompok manusia berbeda di masa lalu, ini jawaban ketika kita bertanya mengapa ada banyak agama-kepercayaan.
Buku ini adalah gambaran tidak langsung perjalanan spiritual Aslan dari seorang Teis—lahir dari keluarga Islam kemudian pindah ke Kristen, dan balik ke Islam lagi karena terpesona konsep ketuhanan ikonoklastiknya—kemudian mantap menjadi Panteis.
Buku ini adalah "manuskrip spiritual" pencarian hakikat si penulis buku, tampaknya. Sains sebagai instrumen. Panteisme: Ketuhanan yang tak terbatas dan tak terdefinisikan. Tuhan bukan susunan proposisi kata. Aslan dan Semesta adalah Ketunggalan (Esa).
Tuhan Antropologis— religiusme ke spiritualisme
Secara antropologi, buku menelusuri bagimana sejarah manusia menciptakan Tuhan. Tentu saja berdasar bukti-bukti antropologis, diselisik dari penanggalan karbon.
Leluhur manusia memulai evolusi sekita 300.000 SM hingga 200.000 SM. Bermigrasi keluar Sahara Afrika—yang kala itu subur dipenuhi tetumbuhan—melintasi Jazirah Arab, melintasi stepa Asia Tengah hingga ke anak benua Asia, India. Sebagian melintasi Balkan hingga memcapai Spanyol dan tepi Eropa. Sepanjang rute berpapasan dengan spesies manusia lain, seperti Homo Erectus yang telah bermigrasi keluar dari Afrika ratusan tahun sebelumnya, bersua Homo Denisova di dataran Siberia dan Asia Timur, dan Homo Neanderthal yang diperangi Homo Sapiens, dalam perang purba, mereka punah.
Lalu, bagaimana agama-kepercayaan terbentuk?
Homo Sapiens yang mampu menciptakan kerjasama dengan kawanannya telah bertransformasi dari mangsa menjadi predator. Melacak dan berburu hewan.
Dengan lembing sederhana, dapat dibayangkan, perburuan bisa memakan waktu lama. Alam liar yang sulit bagi mereka. Hal itu secara genetik telah menjadi pemburu handal. Mamoth dan lainnya adalah sumber makanan. Tak mengherankan gambar-gambar di berbagai dinding gua yang tereksplor antropolog disimpulkan sebagai ekspresi spiritualisme dan sakral, beberapa di antaranya lukisan hewan. Sumber pemenuh hasrat dasar material hidup dan kelangsungannya.
Banyak lukisan di dinding gua di jaman Paleolitikum merepresentasikan kesakralan. Mulai yang ada di Gua Kapova di Pegunungan Ural di selatan Rusia, sepanjang lembah sungai Lena di Siberia, lukisan di dinding gua di El Callisto di Spanyol yang bertanggal karbon 41.000 tahun lalu, dan di tempat-tempat lainnya. Juga, lukisan di dinding gua Volp di selatan Parancis. Tak ketinggalan di beberapa gua di Indonesia.
Teori-teori Lahirnya Tuhan dalam Peradaban Manusia
Telaah, diskusi, dan perdebatan asal-usul agama intens dimulai pada abad kesembilanbelas, dipupuk oleh semangat pasca-Pencerahan. Manusia adalah subjek tunggal, pencari dan pelaku ilmu pengetahuan. Selainnya adalah objek pengetahuan, yang ilahi sekalipun. Semua pertanyaan diusahakan dijawab secara nalar dan pendekatan saintifik. Begitu gaung Renaissance, 'Pencerahan'. Manusia melompat jauh dari jaman sebelumnya, tidak ada yang tidak boleh dipertanyakan, segalanya. Tidak ada tabu dalam mencari tahu dan bertanya, mencari objektivisitas.
Dimulai dari teori Darwin dalam bidang biologi bahwa "sifat adaptatif tertentu dapat memberi organisme kesempatan lebih baik untuk bertahan hidup". Sifat adaptif itu diwariskan ke generasi setelahnya. Gagasan Darwin diadopsi dan dipergunakan dalam bidang politik dan ekonomi. Tidak ketinggalan juga untuk menjawab pertanyaan bagaimana agama muncul, menciptakan jalinan kerjasama di masa lalu oleh leluhur manusia, agama-kepercayaan dalam pandangan teori ini adalah produk evolusi panjang antar generasi manusia. Tak akan ada agama-agama tanpa ada beberapa keuntungan adaptif, untuk melestarikan eksistensi Homo Sapiens itu sendiri, di masa lalu hingga sekarang.
Apa yang tetap tidak dapat disangkal adalah kepercayaan agama begitu luas sehingga harus dianggap sebagai elemen pengalaman manusia ..., bukan dalam keinginan kita untuk keyakinan atau intuisi, atau dalam komitmen kita pada dewa dan teologi tertentu, tetapi perjuangan eksistensial kita menuju transendensi.
Di antara paling mula ada antropolog Inggris Edward Burnett Tylor. Baginya, sumber dorongan untuk beragama dan perilaku yang muncul darinya berangkat dari asumsi nenek moyang manusia yang bingung akan misteri jiwa, menganggapnya terpisah dari tubuh. Lainnya, etnolog Robert Maret, juga dari Inggris. Baginya, dorongan religius didikte oleh kekaguman pada hal-hal misterius, naturalismesper, istilah dia. Cara manusia purba menuntaskan pertanyaan-pertanyaan fenomena lingkungannnya dan mengelola ancaman dunia yang tak terprediksi Manusia purba, menurut dia, percaya pada "roh-unviersal" yang berada di balik dunia tampak, kekuatan supernatural, nonmateri, dan impersonal, mana, yang dalam bahasa kuno Polinesia berarti "kekuatan". Bersemayam pada materi hidup dan yang tak hidup. Dari kepercayaan pada dewa-dewa individual lambat laun berevolusi pada satu dewa, atau Tuhan-universal.
Ada pula Durkheim. Penjelasannya, agama muncul dalam satu kelompok manusia dengan tujuan menciptakan kohesi sosial, membangun solidaritas di antara manusia primitif di masa lalu. Teori kohesi sosial menyatakan bahwa penciptaan agama, sumber gagasan utamanya sebagai perekat komunitas prasejarah paling dominan. Hampir persis, kesimpulan René Girard, "agama muncul di antara orang-orang primitif untuk mengurangi kekerasan dengan memfokuskan kekerasan itu pada ritual pengorbanan."
Dalam telaah Sigmund Freud, agama adalah gejala neurosis, berakibat kecenderungan bertindak kompulsif dan perilaku obsesif. Lahir dari ketidakberdayaan manusia agar itu dapat ditoleransi. Dalam telaah Fraud lebih jauh,
dorongan religius muncul dari keinginan bawaan pada manusia primitif untuk menciptakan figur 'ayah', sosok yang sangat baik dan maha kuasa. Manusia menyembah dewa untuk alasan yang sama seorang anak mengidolakan ayahnya.
Dalam telaah Freud, agama adalah media pemenuhan keinginan.
Tujuan agama dalam evolusi manusia adalah untuk meredakan ketidakpuasan, untuk mengurangi penderitaan dan kecemasan.
Kita, manusia, membutuhkan cinta dan perlindungan. Kita menginginkan kenyamanan dari ketakutan kita yang gelap. Persis ungkap Hume: "agama utama umat manusia muncul terutama dari ketakutan dan cemas."
Masih ada beberapa teori lainnya yang dikutip, diajukan ahli, dalam memeahami dan memperdebatkan asal muasal agama dan fenomena ketuhanan dalam evolusi manusia.
Apa yang kurang dari buku?
Buku fisik dicetak oleh penerbit Globalindo, Manado, di atas kertas jenis bookpaper, nyaman di mata. Dimensi 13 cm x 19 cm, terbit pada 2020, dengan jumlah halaman vi + 315 halaman, menjadikan fisiknya mudah dipegang, dalam satu tangan, membacanya. Hanya ada satu kekurangan dari cetakan buku, banyak kata typo di tiap bab, setidaknya ada seratusan kata typo. Lebih, bisa. Menjadikan tidak nyaman mata ketika membaca. Buku tampaknya tanpa melewati proofreading.
Gaya penyajian naskah terbaca mengalir, seperti umumnya buku populer. Jika sekedar untuk bacaan santai, membacanya saja, mengisi waktu, bacaan ini terasa ringan. Jika ingin memahami lebih lanjut, siap buku tulis dan pen ketika membacanya, mencatat yang penting, dan dari itu adalah pintu-pintu mencari bacaan lebih mendalam, mengembangkan pengetahuan, literatur-literatur yang membahas secara ilimiah membahasa lebih mendalam, di artikel-artikel jurnal daring atau lainnya. Misalnya, keinginan menggali lebih jauh teori-teori yang disuguhkan ahli dan dikutip Aslan dalam buku ini.
Aslan pada kesimpulan: tuhan-adalah-segalanya (esa)
 |
| Reza Aslan. |
Tuhan adalah ketunggalan segala yang nyata. Fase spiritual Aslan terbaca telah "melampaui monoteisme", fase yang sering menyebabkan pertumpahan darah dan perang. Kesimpulannya, Tuhan adalah segalanya, segalanya adalah Tuhan. Tuhan nyata. Tuhan tanpa—atau lebih luas dari—proposisi.
Satu-satunya cara untuk menerima proposisi Tuhan yang tunggal, abadi, dan tak terpisahkan adalah dengan melenyapkan setiap perbedaan antara Pencipta dan ciptaan .... apa yang kita sebut dunia dan apa yang kita sebut Tuhan tidak independen atau terpisah. Sebaliknya, dunia adalah ekspresi dari Tuhan. Itu adalah esensi Tuhan yang disadari dan dialami.
Terlepas banyak typo, menandakan penyiapan naskah asal-asalan, gegabah, buku ini layak sekali untuk mengisi waktu luang bagi mereka yang gemar antropologi dalam kaitan sejarah agama, sejarah agama-dan-dewa/Tuhan dalam berbagai versi yang masih ada dan pernah ada dalam sejarah panjang evolusi manusia, ketika kita hendak mencari tahu mengapa banyak agama-kepercayaan, setidaknya.(*)
Komentar
Posting Komentar