Langsung ke konten utama

Ngulik Tuhan Sebuah Sejarah Manusia

Aslan kecil tumbuh dari keluarga Iran–Amerika yang religius. Sejak kecil sudah tertarik agama dan spiritualisme. Tentu saja, melihat latar belakang keluarganya, Aslan sudah akrab tentang ketuhanan di waktu kecil. Tuhan dalam tangkapan pikirannya sebagai sosok “ayah pelindung”. Juga, sosok dengan atribut-atribut sempurna, representasi hasrat diri manusia akan kesempurnaan yang diingini dalam realitas dunianya. Idealisasi pikiran akan dunia kenyataan yang tak sempurna. Idealisasi pemuasan hasrat. Aslan dewasa merengkuh gelar Ph.D. dari Universitas Harvard, seorang master kajian teologi, dan merengkuh gelar doktor dalam sosialogi agama dari Universitas California.

Dok. Pribadi.
Pada dasarnya, kepercayaan akan Tuhan dibentuk oleh citra pikiran manusia atas pengalaman yang tak dapat diungkapkan, ketika seseorang memilih untuk percaya. Dari situ, agama masuk.
Di luar mitos dan ritual, kuil dan katedral, hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, selama ribuan tahun, [agama-agama] telah memisahkan umat manusia ke dalam kubu kepercayaan yang berbeda dan seringkali bersaing.
Tuhan—baik yang dipersonalisasi dalam materi ataupun yang model ikonoklastik dan dipersonfikasi karakter-karakter yang muncul di akhir "abad agama"—bemula dari kisah manusia purba menghadapi alam, kebutuhan pada sosok “ayah”, dewa/Tuhan. Dari bentuk yang yang paling sederhana dan primitif ke bentuk sistem kepercayaan kompleks yang kita lihat hari ini. Setiap agama-kepercayaan memilki sistem kepercayaan berbeda, berangkat dari pengalaman kelompok manusia berbeda di masa lalu, ini jawaban ketika kita bertanya mengapa ada banyak agama-kepercayaan.

Buku ini adalah gambaran tidak langsung perjalanan spiritual Aslan dari seorang Teis—lahir dari keluarga Islam kemudian pindah ke Kristen, dan balik ke Islam lagi karena terpesona konsep ketuhanan ikonoklastiknya—kemudian mantap menjadi Panteis.

Buku ini adalah "manuskrip spiritual" pencarian hakikat si penulis buku, tampaknya. Sains sebagai instrumen. Panteisme: Ketuhanan yang tak terbatas dan tak terdefinisikan. Tuhan bukan susunan proposisi kata. Aslan dan Semesta adalah Ketunggalan (Esa).

Tuhan Antropologis— religiusme ke spiritualisme

Secara antropologi, buku menelusuri bagimana sejarah manusia menciptakan Tuhan. Tentu saja berdasar bukti-bukti antropologis, diselisik dari penanggalan karbon.

Leluhur manusia memulai evolusi sekita 300.000 SM hingga 200.000 SM. Bermigrasi keluar Sahara Afrika—yang kala itu subur dipenuhi tetumbuhan—melintasi Jazirah Arab, melintasi stepa Asia Tengah hingga ke anak benua Asia, India. Sebagian melintasi Balkan hingga memcapai Spanyol dan tepi Eropa. Sepanjang rute berpapasan dengan spesies manusia lain, seperti Homo Erectus yang telah bermigrasi keluar dari Afrika ratusan tahun sebelumnya, bersua Homo Denisova di dataran Siberia dan Asia Timur, dan Homo Neanderthal yang diperangi Homo Sapiens, dalam perang purba, mereka punah.

Lalu, bagaimana agama-kepercayaan terbentuk?

Homo Sapiens yang mampu menciptakan kerjasama dengan kawanannya telah bertransformasi dari mangsa menjadi predator. Melacak dan berburu hewan.

Dengan lembing sederhana, dapat dibayangkan, perburuan bisa memakan waktu lama. Alam liar yang sulit bagi mereka. Hal itu secara genetik telah menjadi pemburu handal. Mamoth dan lainnya adalah sumber makanan. Tak mengherankan gambar-gambar di berbagai dinding gua yang tereksplor antropolog disimpulkan sebagai ekspresi spiritualisme dan sakral, beberapa di antaranya lukisan hewan. Sumber pemenuh hasrat dasar material hidup dan kelangsungannya.

Banyak lukisan di dinding gua di jaman Paleolitikum merepresentasikan kesakralan. Mulai yang ada di Gua Kapova di Pegunungan Ural di selatan Rusia, sepanjang lembah sungai Lena di Siberia, lukisan di dinding gua di El Callisto di Spanyol yang bertanggal karbon 41.000 tahun lalu, dan di tempat-tempat lainnya. Juga, lukisan di dinding gua Volp di selatan Parancis. Tak ketinggalan di beberapa gua di Indonesia.

Teori-teori Lahirnya Tuhan dalam Peradaban Manusia

Telaah, diskusi, dan perdebatan asal-usul agama intens dimulai pada abad kesembilanbelas, dipupuk oleh semangat pasca-Pencerahan. Manusia adalah subjek tunggal, pencari dan pelaku ilmu pengetahuan. Selainnya adalah objek pengetahuan, yang ilahi sekalipun. Semua pertanyaan diusahakan dijawab secara nalar dan pendekatan saintifik. Begitu gaung Renaissance, 'Pencerahan'. Manusia melompat jauh dari jaman sebelumnya, tidak ada yang tidak boleh dipertanyakan, segalanya. Tidak ada tabu dalam mencari tahu dan bertanya, mencari objektivisitas.

Dimulai dari teori Darwin dalam bidang biologi bahwa "sifat adaptatif tertentu dapat memberi organisme kesempatan lebih baik untuk bertahan hidup". Sifat adaptif itu diwariskan ke generasi setelahnya. Gagasan Darwin diadopsi dan dipergunakan dalam bidang politik dan ekonomi. Tidak ketinggalan juga untuk menjawab pertanyaan bagaimana agama muncul,  menciptakan jalinan kerjasama di masa lalu oleh leluhur manusia, agama-kepercayaan dalam pandangan teori ini adalah produk evolusi panjang antar generasi manusia. Tak akan ada agama-agama tanpa ada beberapa keuntungan adaptif, untuk melestarikan eksistensi Homo Sapiens itu sendiri, di masa lalu hingga sekarang.
Apa yang tetap tidak dapat disangkal adalah kepercayaan agama begitu luas sehingga harus dianggap sebagai elemen pengalaman manusia ..., bukan dalam keinginan kita untuk keyakinan atau intuisi, atau dalam komitmen kita pada dewa dan teologi tertentu, tetapi perjuangan eksistensial kita menuju transendensi.

Di antara paling mula ada antropolog Inggris Edward Burnett Tylor. Baginya, sumber dorongan untuk beragama dan perilaku yang muncul darinya berangkat dari asumsi nenek moyang manusia yang bingung akan misteri jiwa, menganggapnya terpisah dari tubuh. Lainnya, etnolog Robert Maret, juga dari Inggris. Baginya, dorongan religius didikte oleh kekaguman pada hal-hal misterius, naturalismesper, istilah dia. Cara manusia purba menuntaskan pertanyaan-pertanyaan fenomena lingkungannnya dan mengelola ancaman dunia yang tak terprediksi  Manusia purba, menurut dia, percaya pada "roh-unviersal" yang berada di balik dunia tampak, kekuatan supernatural, nonmateri, dan impersonal, mana, yang dalam bahasa kuno Polinesia berarti "kekuatan". Bersemayam pada materi hidup dan yang tak hidup. Dari kepercayaan pada dewa-dewa individual lambat laun berevolusi pada satu dewa, atau Tuhan-universal.

Ada pula Durkheim. Penjelasannya, agama muncul dalam satu kelompok manusia dengan tujuan menciptakan kohesi sosial, membangun solidaritas di antara manusia primitif di masa lalu. Teori kohesi sosial menyatakan bahwa penciptaan agama, sumber gagasan utamanya sebagai perekat komunitas prasejarah paling dominan. Hampir persis, kesimpulan René Girard, "agama muncul di antara orang-orang primitif untuk mengurangi kekerasan dengan memfokuskan kekerasan itu pada ritual pengorbanan."

Dalam telaah Sigmund Freud, agama adalah gejala neurosis, berakibat kecenderungan bertindak kompulsif dan perilaku obsesif. Lahir dari ketidakberdayaan manusia agar itu dapat ditoleransi. Dalam telaah Fraud lebih jauh,

dorongan religius muncul dari keinginan bawaan pada manusia primitif untuk menciptakan figur 'ayah', sosok yang sangat baik dan maha kuasa. Manusia menyembah dewa untuk alasan yang sama seorang anak mengidolakan ayahnya.
Dalam telaah Freud, agama adalah media pemenuhan keinginan.
Tujuan agama dalam evolusi manusia adalah untuk meredakan ketidakpuasan, untuk mengurangi penderitaan dan kecemasan.
Kita, manusia, membutuhkan cinta dan perlindungan. Kita menginginkan kenyamanan dari ketakutan kita yang gelap. Persis ungkap Hume: "agama utama umat manusia muncul terutama dari ketakutan dan cemas."

Masih ada beberapa teori lainnya yang dikutip, diajukan ahli, dalam memeahami dan memperdebatkan asal muasal agama dan fenomena ketuhanan dalam evolusi manusia.

Apa yang kurang dari buku?

Buku fisik dicetak oleh penerbit Globalindo, Manado, di atas kertas jenis bookpaper, nyaman di mata. Dimensi 13 cm x 19 cm, terbit pada 2020, dengan jumlah halaman vi + 315 halaman, menjadikan fisiknya mudah dipegang, dalam satu tangan, membacanya. Hanya ada satu kekurangan dari cetakan buku, banyak kata typo di tiap bab, setidaknya ada seratusan kata typo. Lebih, bisa. Menjadikan tidak nyaman mata ketika membaca. Buku tampaknya tanpa melewati proofreading.

Gaya penyajian naskah terbaca mengalir, seperti umumnya buku populer. Jika sekedar untuk bacaan santai, membacanya saja, mengisi waktu, bacaan ini terasa ringan. Jika ingin memahami lebih lanjut, siap buku tulis dan pen ketika membacanya, mencatat yang penting, dan dari itu adalah pintu-pintu mencari bacaan lebih mendalam, mengembangkan pengetahuan, literatur-literatur yang membahas secara ilimiah membahasa lebih mendalam, di artikel-artikel jurnal daring atau lainnya. Misalnya, keinginan menggali lebih jauh teori-teori yang disuguhkan ahli dan dikutip Aslan dalam buku ini.

Aslan pada kesimpulan: tuhan-adalah-segalanya (esa)

Reza Aslan.
Tuhan adalah ketunggalan segala yang nyata. Fase spiritual Aslan terbaca telah "melampaui monoteisme", fase yang sering menyebabkan pertumpahan darah dan perang. Kesimpulannya, Tuhan adalah segalanya, segalanya adalah Tuhan. Tuhan nyata. Tuhan tanpa—atau lebih luas dari—proposisi. 
Satu-satunya cara untuk menerima proposisi Tuhan yang tunggal, abadi, dan tak terpisahkan adalah dengan melenyapkan setiap perbedaan antara Pencipta dan ciptaan .... apa yang kita sebut dunia dan apa yang kita sebut Tuhan tidak independen atau terpisah. Sebaliknya, dunia adalah ekspresi dari Tuhan. Itu adalah esensi Tuhan yang disadari dan dialami.
Terlepas banyak typo, menandakan penyiapan naskah asal-asalan, gegabah, buku ini layak sekali untuk mengisi waktu luang bagi mereka yang gemar antropologi dalam kaitan sejarah agama, sejarah agama-dan-dewa/Tuhan dalam berbagai versi yang masih ada dan pernah ada dalam sejarah panjang evolusi manusia, ketika kita hendak mencari tahu mengapa banyak agama-kepercayaan, setidaknya.(*)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...