MENURUT bahasa Sansekerta, Buddha berarti "Yang Terbangun". Istilah ini yang sering digunakan untuk merujuk ke siapa saja yang telah mencapai tingkat pencerahan penuh. Buddha adalah setiap pria atau wanita yang sudah terbebas dari kesalahpahaman dan emosi-emosi negatif yang merundung kebanyakan umat manusia lainnya.
Dalam Buddhisme, ada dua aliran utama pemikiran. Satu aliran percaya bahwa semua manusia suatu saat akan mencapai titik kesempurnaan tadi, sementara lainnya percaya bahwa hanya ada satu Buddha untuk masing-masing babak sejarah zaman. Sejarah Zaman telah terjadi beribu-ribu tahun. Buddha untuk zaman sekarang ini sendiri lahir lebih dari 2500 tahun yang lalu.
Sejarah Buddha bukanlah yang pertama, juga bukan yang terakhir. Menurut berbagai manuskrip, ia adalah yang keempat, ketujuh, atau kedua puluh lima. Buddhis percaya bahwa Buddha berikutnya akan datang ketika semua relik dan fase sejarah ajaran Buddha yang saat ini benar-benar telah lenyap dari muka bumi.
Kelahiran Buddha Shakyamuni
Dalam sejarahnya Buddha, populer disebut Buddha Shakyamuni, sama sekali tidak mengklaim dirinya telah menjadi tuhan. Ia hanya pria yang mencari pencerahan. Terlahir dengan nama Siddhartha Gautama pada abad ke-6 SM di negeri yang sekarang dinamakan Nepal. Tempat kelahirannya adalah di Lumbini, dekat dengan perbatasan India.
Siddhartha Gautama adalah anak raja, bagian dari kasta Pejuang. Nama depan Siddhartha Gautama bermakna "yang mencapai tujuannya". Ayahnya Suddhodana adalah seorang raja. Ibunya Maya, seorang putri, meninggal seminggu setelah melahirkannya. Adik perempuan ibunya kemudian mengasuh Siddhartha. Selama perayaan kelahirannya, ada orang suci telah meramalkan masa depannya yang cerah sebagai raja atau "sadhu".
Siddhartha Gautama Muda
Sebagai seorang anak dan remaja, kemewahan dan kesenangan mengelilingi hidup Siddhartha. Cerdas, atletis, dan menyenangkan dipandang. Remajanya mendapat pendidikan baik, tetapi sama sekali tidak tahu akan kesulitan dan penderitaan manusia. Dia tidak mendapatkan pelajaran keagamaan. Dengan menjauhkan dirinya dari kenyataan hidup, harapan ayahnya hal itu mencegahnya menjadi seorang asketis. Raja mengatur segala cara agar Siddhartha muda kawin pada usia enam belas tahun.
Siddhartha Keluar dari Kediaman Ayahnya
Di akhir umur dua puluhan tahun, setelah bertahun-tahun hidup dalam kemewahan, Siddhartha akhirnya memberanikan diri keluar dari halaman istana. Saat itulah untuk pertama kalinya dia melihat lelaki sakit, lelaki tua, dan mayat orang mati. Seketika ia menyadari hidup adalah tidak kekal dan betapa lemahnya kondisi manusia. Hal-hal tadi membuatnya dirundung ketidaktenangan. Dia secara teratur mulai sering melakukan perjalanan ke dunia luar.
Di sepanjang jalan, ia bertemu dengan pengemis. Dia tahu bahwa pria pengemis tadi telah meninggalkan hal-hal keduniawian dalam usahanya mencari kelegaan diri dari rasa takut akan kematian. Hal itu membuat Siddhartha menyadari bahwa jalan menuju kesempurnaan terletak pada pikiran. Siddhartha meninggalkan istana, istri, dan putranya, yaitu Rahula. Dia memotong rambutnya dengan pedang, melepaskan jubah mewahnya, dan mengenakan pakaian pemburu. Dia kemudian pergi mencari pencerahan. Umat Buddha menyebut momen ini "Penolakan Agung".
Kehidupan Siddhartha sebagai Asketis
Berikutnya, Siddhartha menghabiskan enam tahun untuk menguasai teknik meditasi dari beberapa guru keagamaan paling mumpuni. Dirinya dan lima orang lainnya menjalani gaya hidup asketis. Komitmen Siddhartha untuk menemukan pencerahan begitu membuat terkesan para sahabatnya, karenanya mereka menjadi pengikutnya.
Selama masa tersebut, ia menjalani hidupnya sangat ekstrim, menghindari makanan, air dan tidur, tidak pernah berbicara, bermeditasi selama sepuluh jam setiap hari. Dia menjalani gaya hidup yang keras ini karena percaya bahwa untuk memahami makna hidup, ia perlu sedekat mungkin dengan kematian.
Tidak peduli berapa banyak penderitaan yang ia telah derita, pencerahan tak jua tiba. Ia hampir mati kelaparan. Suatu hari ia pingsan akibat kekurangan asupan makanan. Ada gadis muda menawarinya semangkuk nasi dan susu. Dia memutuskan untuk berbuka dan memakannya, membasuh tubuhnya dengan air, dan mandi.
Peristiwa itu menyebabkan para pengikutnya meninggalkannya. Namun, dia telah menyadari bahwa kehidupan ekstrim tidak akan mengarahkan pada pencerahan spiritual, sebaliknya, yang mengarahkan pada pencerahan adalah bertumpu pada hidup yang seimbang. Ia menyebutnya Jalan Tengah. Jalan Tengah tidak mengijinkan menyiksa diri atau memanjakan diri.
Siddhartha Menemukan Pencerahan
Ketika sendirian tak ada guru atau pengikutnya, Siddhartha duduk selama beberapa hari di bawah pohon Bodhi dan merenungkan kehidupan saat-ini dan masa lalu. Ia bertekad untuk menyadarkan pikirannya terkait rahasia alam semesta. Selama kesendiriannya itu, Mara menggodanya, mengklaim Buddha adalah dirinya sendiri.
Bertepatan bulan purnama di bulan Mei Siddhartha mencapai pencerahan yang dia cari, ia melihat dengan jelas hakikat hidup dan penyebab penderitaan. Ia telah tahu bagaimana melenyapkan penderitaan itu. Ia telah menjadi Buddha. Hanya seminggu sebelum ulang tahunnya yang ketiga puluh lima, ketika dia mencapai pencerahan seperti yang dia cari. Dia tahu bahwa apa yang telah dia pelajari akan sangat sulit untuk diajarkan kepada orang lain. Dia enggan untuk menyebarkan ajarannya itu.
Ada mitos mengatakan jika raja para dewa, yaitu Brahma, turun ke bumi dan meyakinkan Sang Buddha untuk mengajarkan pengetahuannya kepada orang lain. Dia menjelaskan bahwa manusia itu berada pada tingkat pencerahan yang berbeda-beda.
Masa Pengajaran Awal
Sang Buddha berjalan kaki melintasi India Utara untuk mencari lima pertapa yang telah meninggalkannya. Di sebuah taman rusa, Sarnath, dekat Varanasi, ia menemukan mereka. Dia berbicara kepada mereka tentang Jalan Tengah dan kemudian mengajarkannya dan juga mengajarkan lainnya yaitu tentang Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Berunsur Delapan dalam sebuah kotbah di Sarnath. Yang diajarkan Buddha tadi adalah fondasi yang menjadi dasar Buddhisme.
Para kaum asketis yang terkesan dengan kharismanya menjadi murid-murid pertamanya. Mereka memulai Sangha, yaitu komunitas bhikkhu pertama. Komunitas ini menerima orang-orang dari semua kelas, ras, dan gender tanpa diskriminasi. Para bhikkhu pergi ke komunitas untuk mengajarkan darma (dhamma).
Dedikasi Hidup Buddha untuk Mengajar Orang Lain
Selama empat puluh lima tahun di sisa umurnya, Sang Buddha melakukan perjalanan dengan berjalan kaki melintasi timur laut India bersama-sama dengan murid-muridnya. Dia mengajar orang-orang dari semua lapisan apapun, tidak peduli kasta atau profesinya, tentang bagaimana menemukan ketercerahan penuh. Ketika dia berjalan dari kota ke kota, desa ke desa, dia mengumpulkan lebih banyak murid. Kepopulerannya tumbuh dan orang-orang kaya menyumbangkan taman dan retret untuk tujuannya. Namun begitu, ia tidak pernah, meninggalkan jalanan dan pindah tinggal di salah satu retretnya.
Sang Buddha hidup sampai umur delapan puluh tahun. Sesaat sebelum meninggal, dia memperingatkan para pengikutnya bahwa dia akan segera mati. Dia menolak untuk meninggalkan instruksi tentang bagaimana mereka harus menyebarkan ajarannya. Sang Buddha mengatakan bahwa dia sudah cukup mengajar dan mewariskam ke mereka saja untuk mereka lanjutkan.
Ia meninggal di sebuah tempat yang disebut Kusinara, ia kembali dalam ke-Nirbbana-an. Nibbana adalah keadaan yang tidak berubah, yang membebaskan.
Pondasi Buddhisme
Pemimpin spiritual dan guru Buddhis telah meletakkan dasar-dasar Buddhisme. Pada 2010, ada sekitar 500 juta Buddhis di seluruh penjuru bumi. Akhir-akhir ini terjadi tren meningkatnya jumlah orang yang menjalankan praktik Buddhisme. Pemerintah Tiongkok sekarang secara resmi mendukung Buddhisme dan secara aktif membangun kembali kuil-kuil. Ada juga kuil Buddha juga sedang dibangun di Moskow. Oleh karena itu, ada cukup alasan untuk percaya bahwa jumlah umat Buddha telah berkembang pesat, melewati satu milyar.
Empat Kebenaran Mulia
Dasar dari ajaran Buddha adalah Empat Kebenaran Mulia.
- Kebenaran Pertama menjelaskan bahwa kehidupan kita adalah dukkha. Dukkha adalah bahasa Sansekerta yang artinya selalu tidak puas, selalu kurang, dan diliputi kecemasan.
- Kebenaran Kedua memberitahu kita bahwa kecemasan itu muncul karena kita tidak paham diri kita sendiri dan tidak memahami realitas yang menyebabkan munculnya dukkha. Akar kecemasan dan ketidakpuasan berasal dari pikiran, tindakan, dan kata-kata negatif. Termasuk pikiran negatif adalah kebencian, ketidaktahuan, dan keinginan. Kebiasaan kita adalah mengatasi rasa cemas dan ketidakpuasan dengan kebiasaan mencari penutup lubang rasa ketidakbahagiaan tadi, tetapi cara seperti ini hanya berlangsung temporer dan selanjutnya kita jatuh kembali ke dalam lubang rasa cemas dan tidak puas. Hanya ketika kita sepenuhnya memahami diri kita sendirilah, kita dapat mencapai Kebenaran Ketiga.
- Kebenaran Ketiga menjelaskan cara untuk melepaskan diri dari kungkungan siklus cemas dan ketidakpuasan yang tidak mendamaikan yaitu dengan memahami sepenuhnya dari mana kecemasan itu muncul.
- Kebenaran Keempat menawarkan jalan menuju kehidupan yang lebih damai melalui penerapan Jalan Berunsur Delapan yang pilar-pilarnya bertumpu pada meditasi, etika, dan kebajikan.
Siapakah Buddha Itu?
Banyak kisah hidup Sang Buddha dituturkan dan diwariskan dari mulut ke mulut dan baru ditulis beberapa abad setelah kematiannya. Untuk alasan ini, ada banyak ketidakpastian sejarah mengenai kehidupan dan kematiannya. Ada banyak juga perbedaan dalam berbagai aliran pemikirannya di seluruh dunia.
Namun begitu, satu hal yang pasti, Buddhisme bukan sekedar agama dan kepercayaan. Buddhisme merupakan sebuah falsafah dan cara-cara menjalani hidup. Buddha bukanlah Tuhan/dewa. Beliau hanya seorang pria yang menjalani kehidupan sederhana, yang telah menemukan ketersadaran penuh dalam memandang diri dan realitas, yang juga dicari oleh semua pengikutnya.(*)
Komentar
Posting Komentar