Langsung ke konten utama

Siapakah Buddha Itu?


MENURUT bahasa Sansekerta, Buddha berarti "Yang Terbangun". Istilah ini yang sering digunakan untuk merujuk ke siapa saja yang telah mencapai tingkat pencerahan penuh. Buddha adalah setiap pria atau wanita yang sudah terbebas dari kesalahpahaman dan emosi-emosi negatif yang merundung kebanyakan umat manusia lainnya.

Dalam Buddhisme, ada dua aliran utama pemikiran. Satu aliran percaya bahwa semua manusia suatu saat akan mencapai titik kesempurnaan tadi, sementara lainnya percaya bahwa hanya ada satu Buddha untuk masing-masing babak sejarah zaman. Sejarah Zaman telah terjadi beribu-ribu tahun. Buddha untuk zaman sekarang ini sendiri lahir lebih dari 2500 tahun yang lalu.

Sejarah Buddha bukanlah yang pertama, juga bukan yang terakhir. Menurut berbagai manuskrip, ia adalah yang keempat, ketujuh, atau kedua puluh lima. Buddhis percaya bahwa Buddha berikutnya akan datang ketika semua relik dan fase sejarah ajaran Buddha yang saat ini benar-benar telah lenyap dari muka bumi.


Kelahiran Buddha Shakyamuni

Dalam sejarahnya Buddha, populer disebut Buddha Shakyamuni, sama sekali tidak mengklaim dirinya telah menjadi tuhan. Ia hanya pria yang mencari pencerahan. Terlahir dengan nama Siddhartha Gautama pada abad ke-6 SM di negeri yang sekarang dinamakan Nepal. Tempat kelahirannya adalah di Lumbini, dekat dengan perbatasan India.

Siddhartha Gautama adalah anak raja, bagian dari kasta Pejuang. Nama depan Siddhartha Gautama bermakna "yang mencapai tujuannya". Ayahnya Suddhodana adalah seorang raja. Ibunya Maya, seorang putri, meninggal seminggu setelah melahirkannya. Adik perempuan ibunya kemudian mengasuh Siddhartha. Selama perayaan kelahirannya, ada orang suci telah meramalkan masa depannya yang cerah sebagai raja atau "sadhu".

Siddhartha Gautama Muda

Sebagai seorang anak dan remaja, kemewahan dan kesenangan mengelilingi hidup Siddhartha. Cerdas, atletis, dan menyenangkan dipandang. Remajanya mendapat pendidikan baik, tetapi sama sekali tidak tahu akan kesulitan dan penderitaan manusia. Dia tidak mendapatkan pelajaran keagamaan. Dengan menjauhkan dirinya dari kenyataan hidup, harapan ayahnya hal itu mencegahnya menjadi seorang asketis. Raja mengatur segala cara agar Siddhartha muda kawin pada usia enam belas tahun.

Siddhartha Keluar dari Kediaman Ayahnya

Di akhir umur dua puluhan tahun, setelah bertahun-tahun hidup dalam kemewahan, Siddhartha akhirnya memberanikan diri keluar dari halaman istana. Saat itulah untuk pertama kalinya dia melihat lelaki sakit, lelaki tua, dan mayat orang mati. Seketika ia menyadari hidup adalah tidak kekal dan betapa lemahnya kondisi manusia. Hal-hal tadi membuatnya dirundung ketidaktenangan. Dia secara teratur mulai sering melakukan perjalanan ke dunia luar.

Di sepanjang jalan, ia bertemu dengan pengemis. Dia tahu bahwa pria pengemis tadi telah meninggalkan hal-hal keduniawian dalam usahanya mencari kelegaan diri dari rasa takut akan kematian. Hal itu membuat Siddhartha menyadari bahwa jalan menuju kesempurnaan terletak pada pikiran. Siddhartha meninggalkan istana, istri, dan putranya, yaitu Rahula. Dia memotong rambutnya dengan pedang, melepaskan jubah mewahnya, dan mengenakan pakaian pemburu. Dia kemudian pergi mencari pencerahan. Umat Buddha menyebut momen ini "Penolakan Agung".

Kehidupan Siddhartha sebagai Asketis

Berikutnya, Siddhartha menghabiskan enam tahun untuk menguasai teknik meditasi dari beberapa guru keagamaan paling mumpuni. Dirinya dan lima orang lainnya menjalani gaya hidup asketis. Komitmen Siddhartha untuk menemukan pencerahan begitu membuat terkesan para sahabatnya, karenanya mereka menjadi pengikutnya.

Selama masa tersebut, ia menjalani hidupnya sangat ekstrim, menghindari makanan, air dan tidur, tidak pernah berbicara, bermeditasi selama sepuluh jam setiap hari. Dia menjalani gaya hidup yang keras ini karena percaya bahwa untuk memahami makna hidup, ia perlu sedekat mungkin dengan kematian.

Tidak peduli berapa banyak penderitaan yang ia telah derita, pencerahan tak jua tiba. Ia hampir mati kelaparan. Suatu hari ia pingsan akibat kekurangan asupan makanan. Ada gadis muda menawarinya semangkuk nasi dan susu. Dia memutuskan untuk berbuka dan memakannya, membasuh tubuhnya dengan air, dan mandi.

Peristiwa itu menyebabkan para pengikutnya meninggalkannya. Namun, dia telah menyadari bahwa kehidupan ekstrim tidak akan mengarahkan pada pencerahan spiritual, sebaliknya, yang mengarahkan pada pencerahan adalah bertumpu pada hidup yang seimbang. Ia menyebutnya Jalan Tengah. Jalan Tengah tidak mengijinkan menyiksa diri atau memanjakan diri.

Siddhartha Menemukan Pencerahan

Ketika sendirian tak ada guru atau pengikutnya, Siddhartha duduk selama beberapa hari di bawah pohon Bodhi dan merenungkan kehidupan saat-ini dan masa lalu. Ia bertekad untuk menyadarkan pikirannya terkait rahasia alam semesta. Selama kesendiriannya itu, Mara menggodanya, mengklaim Buddha adalah dirinya sendiri.

Bertepatan bulan purnama di bulan Mei Siddhartha mencapai pencerahan yang dia cari, ia melihat dengan jelas hakikat hidup dan penyebab penderitaan. Ia telah tahu bagaimana melenyapkan penderitaan itu. Ia telah menjadi BuddhaHanya seminggu sebelum ulang tahunnya yang ketiga puluh lima, ketika dia mencapai pencerahan seperti yang dia cari. Dia tahu bahwa apa yang telah dia pelajari akan sangat sulit untuk diajarkan kepada orang lain. Dia enggan untuk menyebarkan ajarannya itu.

Ada mitos mengatakan jika raja para dewa, yaitu Brahma, turun ke bumi dan meyakinkan Sang Buddha untuk mengajarkan pengetahuannya kepada orang lain. Dia menjelaskan bahwa manusia itu berada pada tingkat pencerahan yang berbeda-beda.

Masa Pengajaran Awal

Sang Buddha berjalan kaki melintasi India Utara untuk mencari lima pertapa yang telah meninggalkannya. Di sebuah taman rusa, Sarnath, dekat Varanasi, ia menemukan mereka. Dia berbicara kepada mereka tentang Jalan Tengah dan kemudian mengajarkannya dan juga mengajarkan lainnya yaitu tentang Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Berunsur Delapan dalam sebuah kotbah di Sarnath. Yang diajarkan Buddha tadi adalah fondasi yang menjadi dasar Buddhisme.

Para kaum asketis yang terkesan dengan kharismanya menjadi murid-murid pertamanya. Mereka memulai Sangha, yaitu komunitas bhikkhu pertama. Komunitas ini menerima orang-orang dari semua kelas, ras, dan gender tanpa diskriminasi. Para bhikkhu pergi ke komunitas untuk mengajarkan darma (dhamma).

Dedikasi Hidup Buddha untuk Mengajar Orang Lain

Selama empat puluh lima tahun di sisa umurnya, Sang Buddha melakukan perjalanan dengan berjalan kaki melintasi timur laut India bersama-sama dengan murid-muridnya. Dia mengajar orang-orang dari semua lapisan apapun, tidak peduli kasta atau profesinya, tentang bagaimana menemukan ketercerahan penuh. Ketika dia berjalan dari kota ke kota, desa ke desa, dia mengumpulkan lebih banyak murid. Kepopulerannya tumbuh dan orang-orang kaya menyumbangkan taman dan retret untuk tujuannya. Namun begitu, ia tidak pernah, meninggalkan jalanan dan pindah tinggal di salah satu retretnya.

Sang Buddha hidup sampai umur delapan puluh tahun. Sesaat sebelum meninggal, dia memperingatkan para pengikutnya bahwa dia akan segera mati. Dia menolak untuk meninggalkan instruksi tentang bagaimana mereka harus menyebarkan ajarannya. Sang Buddha mengatakan bahwa dia sudah cukup mengajar dan mewariskam ke mereka saja untuk mereka lanjutkan.

Ia meninggal di sebuah tempat yang disebut Kusinara, ia kembali dalam ke-Nirbbana-an. Nibbana adalah keadaan yang  tidak berubah, yang membebaskan.

Pondasi Buddhisme

Pemimpin spiritual dan guru Buddhis telah meletakkan dasar-dasar Buddhisme. Pada 2010, ada sekitar 500 juta Buddhis di seluruh penjuru bumi. Akhir-akhir ini terjadi tren meningkatnya jumlah orang yang menjalankan praktik Buddhisme. Pemerintah Tiongkok sekarang secara resmi mendukung Buddhisme dan secara aktif membangun kembali kuil-kuil. Ada juga kuil Buddha juga sedang dibangun di Moskow. Oleh karena itu, ada cukup alasan untuk percaya bahwa jumlah umat Buddha telah berkembang pesat, melewati satu milyar.

Empat Kebenaran Mulia

Dasar dari ajaran Buddha adalah Empat Kebenaran Mulia.
  • Kebenaran Pertama menjelaskan bahwa kehidupan kita adalah dukkha. Dukkha adalah bahasa Sansekerta yang artinya selalu tidak puas, selalu kurang, dan diliputi kecemasan.
  • Kebenaran Kedua memberitahu kita bahwa kecemasan itu muncul karena kita tidak paham diri kita sendiri dan tidak memahami realitas yang menyebabkan munculnya dukkha. Akar kecemasan dan ketidakpuasan berasal dari pikiran, tindakan, dan kata-kata negatif. Termasuk pikiran negatif adalah kebencian, ketidaktahuan, dan keinginan. Kebiasaan kita adalah mengatasi rasa cemas dan ketidakpuasan dengan kebiasaan mencari penutup lubang rasa ketidakbahagiaan tadi, tetapi cara seperti ini hanya berlangsung temporer dan selanjutnya kita jatuh kembali ke dalam lubang rasa cemas dan tidak puas. Hanya ketika kita sepenuhnya memahami diri kita sendirilah, kita dapat mencapai Kebenaran Ketiga.
  • Kebenaran Ketiga menjelaskan cara untuk melepaskan diri dari kungkungan siklus cemas dan ketidakpuasan yang tidak mendamaikan yaitu dengan memahami sepenuhnya dari mana kecemasan itu muncul.
  • Kebenaran Keempat menawarkan jalan menuju kehidupan yang lebih damai melalui penerapan Jalan Berunsur Delapan yang pilar-pilarnya bertumpu pada meditasi, etika, dan kebajikan.


Siapakah Buddha Itu?

Banyak kisah hidup Sang Buddha dituturkan dan diwariskan dari mulut ke mulut dan baru ditulis beberapa abad setelah kematiannya. Untuk alasan ini, ada banyak ketidakpastian sejarah mengenai kehidupan dan kematiannya. Ada banyak juga perbedaan dalam berbagai aliran pemikirannya di seluruh dunia.

Namun begitu, satu hal yang pasti, Buddhisme bukan sekedar agama dan kepercayaan. Buddhisme merupakan sebuah falsafah dan cara-cara menjalani hidup. Buddha bukanlah Tuhan/dewa. Beliau hanya seorang pria yang menjalani kehidupan sederhana, yang telah menemukan ketersadaran penuh dalam memandang diri dan realitas, yang juga dicari oleh semua pengikutnya.(*)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...