Seperti orang-orang Afrika lainnya, orang Bakongo juga memiliki kepercayaan akan Pencipta. Entitas Tertinggi atau Pencipta dalam bahasa orang Bakongo disebut Nzambi Mpungu.
Tercatat sejak melakukan migrasi awal pada abad ke-13 dari timur laut Afrika, komunitas orang Bakongo awal mulanya mendiami daerah hilir Sungai Kongo, yang era sekarang masuk teritori negara Republik Demokratik Kongo (RDK). Etnis Bakongo hari ini tersebar di tiga negara: Kongo, RDK, Republik Angola. Cacah jiwa orang Bakongo dasawarsa ini diperkirakan sekitar 10 juta lebih.
Pada zaman pra kolonial, orang Bakongo sudah mampu mendirikan kerajaan yang sangat berkembang hingga datangnya Portugis pada abad ke-15. Mereka adalah kelompok etnis Afrika yang paling awal melakukan kontak dengan Portugis, menandai awal dari hubungan yang panjang, tragis, dan kompleks antara Bakongo, kolonial Portugis, dan perdagangan budak. Diperjualbelikan hingga ke benua lain: Eropa dan Amerika.
Relasi rumit dengan penjelajah dan kolonial Portugis itu gemanya masih sampai para praktik politik kontemporer di wilayah ini.
Orang-orang Bakongo merupakan kelompok etnis yang termasuk relatif paling awal yang melakukan kontak dengan para misionari Eropa, Portugis, dibandingkan orang-orang dibagian lain Afrika. Orang Bakongo hari ini adalah penganut Katolik taat. Walau begitu, agama tradisional leluhur mereka menyebar dan mengalami perberkembangan. Di antaranya terindentifikasi dalam Vodou di kalangan orang Haiti berdarah Afrika, agama Candomblé Bantu yang dianut Afro-Brasil, agama Kumina yang dipraktikkam Afro-Jamaika, Palo Monte yang dipraktikkan Afro-Kuba, atau termanifestaai dalam budaya ekspresif Afro-Amerika.
Pada zaman pra kolonial, orang Bakongo sudah mampu mendirikan kerajaan yang sangat berkembang hingga datangnya Portugis pada abad ke-15. Mereka adalah kelompok etnis Afrika yang paling awal melakukan kontak dengan Portugis, menandai awal dari hubungan yang panjang, tragis, dan kompleks antara Bakongo, kolonial Portugis, dan perdagangan budak. Diperjualbelikan hingga ke benua lain: Eropa dan Amerika.
Relasi rumit dengan penjelajah dan kolonial Portugis itu gemanya masih sampai para praktik politik kontemporer di wilayah ini.
Orang-orang Bakongo merupakan kelompok etnis yang termasuk relatif paling awal yang melakukan kontak dengan para misionari Eropa, Portugis, dibandingkan orang-orang dibagian lain Afrika. Orang Bakongo hari ini adalah penganut Katolik taat. Walau begitu, agama tradisional leluhur mereka menyebar dan mengalami perberkembangan. Di antaranya terindentifikasi dalam Vodou di kalangan orang Haiti berdarah Afrika, agama Candomblé Bantu yang dianut Afro-Brasil, agama Kumina yang dipraktikkam Afro-Jamaika, Palo Monte yang dipraktikkan Afro-Kuba, atau termanifestaai dalam budaya ekspresif Afro-Amerika.
Ketuhanan
Nzambici adalah Tuhan dalam esensi, penguasa absolut, supertahu, superkaya, dan tiada terindera (gaib), meliputi dan mencakup segalanya, Termasuk meliputi Nzambi Mpungu—kadang dilafalalkan "Nazmbi a Mpungu"—dan Nzambi.
Istilah Nzambi Mpungu merujuk Tuhan yang di langit, Pencipta dan Penyelenggara, yang masih meng-handle beberapa hal: kelahiran, pemberi kesehatan, terjaganya kelestarian hewan buruan dan ternak, penumbuh tanaman pangan dan obat-obatan alamiah yang tumbuh di hutan, dan pemberi rejeki bagi manusia dan nikmat, sekaligus pencabut nyawa.
Nzambi Mpungu pada akhirnya meninggalkan ciptaannya, termasuk manusia, karena hilang minat pada dunia dan para penghuninya.
Adapum Nzambi merujuk energi utusan Nzambi Mpungu, yang menyelengarakan keteraturan Alam Semesta, yang mencakup segala kehidupan di Bumi dan manusia: memberi petunjuk hukum dari Nzambi Mpungu, tatacara bersosial, memberi seni, permainan, dan alat musik. Nzambi Mpungu menderivasikam sebagiannya ke Nzambi.
Manusia harus mengingat perintah dan larangan yang ditetapkan Nzambi Mpungu. Manusia yang melanggar akan diganjar akhir hayat buruk, lufwa lumbi.
Pada dasarnya, ketika orang Bakongo mengatakan "sumu ku Nzambi", ungkapan berarti melanggar perintah dan larangan Nzambi Mpungu dan dianggap sebagai salah satu hal terburuk yang dilakukan seseorang. Sebab, Nzambi Mpungu adalah Pencipta alam semesta dan yang menguasai seluruh ciptaannya, termasuk pula penguasa manusia dan Bumi.
Secara umum orang Bakongo mempersepsikan Nzambi Mpungu sebagai Pencipta yang pengasih dan pemurah. Tetapi juga tidak seperti kebanyakan konsep ketuhanan masyarakat di Afrika lainnya, Nzambi Mpungu juga latah menghukum dan menimpakan tulah kepada siapa saja yang melanggar perintah dan larangannya.
Selain Nzambici sebagai Tuhan dalam esensi, Nzambi Mpungu yang dipersepsikan di langit, dan Nazambi sebagai utusan berupa energi pengatur Semesta, dalam konsep keteologian orang Bakongo juga mengenal konsep yang mirip dewa dengan tupoksi kerja hampir mirip konsep dan tupoksi malaikat, yang diciptakan Nzambi Mpungu. Unikmya mereka ini terepresentasikan ke benda-benda: Ntangu bertugas menjaga dan tinggal dimatahari, Ngonde di bulan, Nzassi yang menggerakkan guntur, Lusiemo bertugas mengatur kilat, dan Chicamassichinuinji yang berdiam bertugas mengatur di laut.
Narasi Penciptaan
Seperti agama tradisional kelompok etnis di Afrika lainnya, ada beberapa versi narasi awal penciptaan menurut kepercayaan orang Bakongo, simpang siur dan kadang kontradiktif. Hal ini karena kuatnya budaya oral yang mana pengisahan bersifat mengalir dan kontekstual. Dalam budaya masyarakat yang masih kuat oral, acapkali satu narasi dengan lain narasi berkontradiksi.
Berikut dikutip dari ngânga, inisiat cara pikir Afrika yang menjelaskan kosmologi menurut kepercayaan Bakongo.
Pada mulanya dunia adalah kekosongan. Tiada apa-apa. Muncullah kekuatan api, kalûnga, di dalam lingkaran kekosongan dan memanaskannya. Lalu dingin, mbüngi, maka terbentuklah Bumi.
Terbentuknya Bumi sendiri menurut kepercayaan orang Bakongo melalui empat fase. Pertama adalah munculnya api. Kedua adalah tahap Bumi semacam bulatan arang panas menyala dan belum terbentuk. Berikutnya, ketiga, fase kumpulan abu tatkala mendingin, masih belum muncul kehidupan, kering, dan berselimut seutuhnya debu. Akhirnya, keempat, tahap hijau yang mana fase ini Bumi sepenuhnya telah siap karena bernafas dan membawa kehidupan. Sebagai bagian dari tatanan alam semesta, semua planet harus melalui proses serupa.
Karakteristik penting lain dari kosmologi Bakongo adalah pergerakan matahari: terbit, memuncak, terbenam, dan tidak adanya matahari memberikan pola penting bagi corak keagamaan orang Bakongo. Dikenal dwngan istilah "Empat Momen Matahari" ini sebangun empat tahap kehidupan: pembuahan, kelahiran, dewasa, dan kematian.[]