Komunitas etnik Efik adalah sekelompok orang yang kebanyakannya mendiami Nigeria selatan dan sebagian kecilnya lagi di Kamerun bagian barat. Sekarang ini, komunitas Efik Nigeria dapat dijumpai di negara bagian Cross River dan Akwa Ibom. Efik berbicara dalam bahasa Efik, yang merupakan anggota subfamili bahasa Benue–Kongo, masuk rumpun bahasa Niger-Kongo. Efik menyebut diri mereka sebagai Efik Eburutu, Ifa Ibom, Eburutu, dan Iboku.
Sekilas tentang Efik
Dalam beberapa literatur, orang Efik sebelum abad ke-19 dahulu disebut "orang Calabar". Ini terjadi karena keliru membedakan antara Efik dengan etnis Ijow.
| Efik kental dengan seni tari sebagaimana etnis di Afrika umumnya. |
Sistem sosial orang Efik terdiri dari berbagai marga, awal mulanya disebut Esien Efik itiaba (Tujuh Narga Efik). Kemudian pada abad ke-21 berubah dikenal sebagai Esien Efik Duopeba (Duabelas Marga Efik). Terdiri dari Iboku, Obutong, Adiabo, Mbiabo, Enwang, Usukakpa, dan Abayen. Tiga marga terakhir jumlahnya semakin hari semakin berkurang, diyakini telah kawin campur dan terserap ke kelompok marga Efik lainnya. Adapun Efik modern adalah peleburan orang-orang dari ragam asal.
Di masa lalu, orang Efik terkenal karena keterlibatannya dalam perdagangan budak, sebagai pedagang budak dan senagai perantara pedagang budak pedalaman denggan pedagang Eropa.
Ketuhanan dan Narasi Kosmologi
Abasi adalah representasi apa yang disebut Tuhan oleh orang Efik. Abasi beristri Atasi. Mereka tinggal di langit. Atasi kadang dilambangkan sebagai kebijaksanaan.
Ketika sepasang anaknya sudah dewasa, Atasi mengutarakan maksud ke suaminya supaya anak-anaknya diperkenankan ke Bumi. Abasi mengizinkannya, tetapi tidak boleh membuat tempat tinggal dan mengolah serta menggarap tanah Bumi. Jika mereka lapar, maksud Abasi, ayahnya, agar balik dan makan di Surga saja.
Ketika ayah dan ibu mereka tetap di langit, anak-anak yang diperbolehkan itu lupa pesan Abasi ketika sudah di Bumi. Mereka mengeksplorasi banyak hal: membudidayakan bahan pangan, menyanyi, menciptakan alat musik, dan belajar menciptakan segala sesuatu. Mereka mencoba melakukan apa saja sejauh mereka bisa lakukan dan melampaui batasan yang dibuat Abasi. Mengetahui itu, Abasi, Sang Tuhan, tidak berkenan sama sekali. Bagaimanapun, karena telah banyak melanggar peraturan atau batasan yang sudah ditetapkan Abasi selaku Sang Pencipta segala sesuatunya, mereka harus ke luar dari Surga di langit. Diusirlah mereka.
Atasi, ibunya, kalut dan bingung dengan itu. Ia memberi bekal kebijaksanaan, kekuatan, dan ketangkasan kepada sepasang anaknya perempuan dan lelaki itu sebelum pergi diusir dari langit. Dia mengirimkan kematian dan kekacauan ke dunia dengan tujuan untuk memastikan bahwa manusia tidak pernah melupakan Tuhan dan bergabung kembali dengan dia di surga. Dua pasang anak terusir ke Bumi dengan dicabut semua pengetahuannya, selain tiga hal tadi, bekal dari Atasi. Atai mengirim kematian dan kekacauan ke dunia dengan maksud agar manusia tidak pernah melupakan Tuhan dan bisa bergabung kembali dengannya di langit atau sorga.
| Pakaian dan riasan tradisional perempuan Efik. |
Mereka tinggal di Bumi dan beranak pinak banyak. Memelajari dan mengerjakan banyak hal dalam kehidupannya. Di kemudian waktu, hal itu menjadi sebab munculnya iri, kebencian, permusuhan, kecemburuan, pertikaian, saling bunuh, dan perang di antara anak turun mereka.
Abasi dan Atasi jijik dan tidak habis pikir melihat perilaku anak cucunya. Abasi yang telah menciptakan segala sesuatu dan merasa gagal mengontrol ciptaannya, kemudian bersama Atasi mengasingkan diri ke ujung langit terjauh.
Konsep ketuhanan orang-orang Efik ini dikategorikan deitisme. Itu pula mengapa ritual-ritual keagamaan orang-orang Efik adalah untuk merayu Tuhan Pencipta, Abasi, yang pergi jauh ke ujung langit sekiranya sudi menoleh kembali mereka dan menolong segala permasalahan dalam kehidupannya.[]