Tanah Sudan yang didiami orang Dinka adalah daratan terkurung yang dikelilingi oleh para penggembala Arab di utara, etnis Nuer di timur, Fertit di barat, dan berbagai kelompok etnis yang lebih kecil di selatan. Jejak pengaruh dari masing-masing kelompok tersebut terhadap orang Dinka dapat dilihat dalam corak budaya, kosakata dan bahasa, dan aktivitas ekonomi. Secara geografis, luasnya wilayah yang mereka diami juga terbelah oleh banyaknya sungai, sehingga banyak orang Dinka tidak mengenal satu sama lain kelompok yang masih diklasifikasikan orang Dinka.
| Dinka gathering (Sumber: Godgrewtiredofus.wordpress.com). |
Bahasa Dinka, disebut juga "thuɔŋjäŋ" atau "thuongjang", tergolong rumpun bahasa Nilotic, ditulis menggunakan alfabet Latin dengan beberapa tambahan dan variasi.
Tanah Dinka dan Relasi Politik Eksternal
Etnis Dinka termasuk sub dari Nilotics. Istilah "Dinka" sendiri disematkan oleh pihak luar. Orang-orang yang sekarang dikenal sebagai Dinka sebenarnya menyebut dirinya Mounyjaang. Hanya segelintir orang Dinka yang terdidik dan berpengetahuan mengetahui bahwa mereka disebut Dinka.
Sebelum pecahnya Sudan modern menjadi dua negara, sebagian wilayah yang didiami orang Dinka masuk ke dalam administrasi provinsi Bahr al-Ghazal, memanjang ke timur hingga sabana dan rawa-rawa di sekitar Danau No dan Bahr al-Jebel di provinsi Nil Atas, sekitar 800 kilometer arah selatan Khartoum, ibu kota Sudan.
Dinka adalah orang Afrika berkulit gelap dan posturnya relatif jangkung, sangat berbeda dari kelompok etnis yang mendiami utara Sudan yang berbahasa Arab, yang mana kedatangan mereka di sana semenjak Muhammad Ali, Sultan muda Ottoman di Mesir, menginvasi Sudan dan mencari budak. Tanah yang didiami orang Dinka selanjutnya masuk wilayah koloni Ottoman pada 1820-an. Pusat pemerintah terletak di utara, yang dihuni orang Arab.
| Gadis Dinka yang tenggelam dalam penjiwaan tariannya (foto: Carol Beckwith dan Angela Fisher). |
Orang Dinka yang merupakan kelompok terbesar di Sudan dan orang-orang yang mendiami bagian selatan lainnya memandang dirinya sebagai bagian dari ras Afrika. Orang Dinka yang merupakan sebagai kelompok terbesar bersama dengan banyak kelompok etnis lainnya di tanah Sudan yang kebanyakan mendiami selatan terbangun kesadaran yang berlainan dengan utara. Akibatnya, muncullah istilah "utara" dan "selatan", yang secara teknis merujuk perbedaan ras, budaya, politik, dan ekologi. Sudan Selatan memerdekakan diri dari Sudan pada 9 Juli 2011.
Agama dan Kepercayaan
Mayoritas orang Dinka mempraktikkan agama tradisional yang tema utamanya adalah ritual pemujaan entitas ilahiah tertinggi, atau totemisme, juga arwah leluhur dan sejumlah entitas ilahiah lebih rendah.
Entitas ilahiah tertinggi disebut Nhiali. Ia adalah pemberi rezeki. Adapun Garang adalah entitas ilahiah yang paling penting di antara jajaran entitas ilahiah yang lebih rendah. Sementara Abuk dikonotasikan entitas ilahiah dengan perempuan. Garang dan Abuk sebagai padanan Adam dan Hawa. Situs Dinkaproject menyatakan jika agama ini adalah monoteisme.
Arwah leluhur juga memainkan peran penting dalam tema agama Dinka. Menurut kepercayaan mereka, arwah leluhur diyakini mampu meningkatkan produktivitas lahan, memperbanyak hewan ternak, dan memberi rasa aman bagi semua. Arwah leluhur diyakini mengawasi siapa saja yang masih hidup, mengganjar perbuatan baik dengan keberuntungan, dan mengganjar kesalahan dengan tulah bagi individu tersebut, keluarga, atau bahkan seluruh kelompok. Arwah leluhur adalah perantara atau mediator antara orang-orang dan entitas ilahiah tertinggi, Nhiali.
Orang Dinka juga mengimani adanya entitas roh baik dan mampu dibujuk ketika marah oleh perilaku manusia dan ritual. Merela juga percaya pada beberapa entitas roh jahat yang berkeliaran bebas, yang dapat digunakan oleh orang-orang dengan kemampuan khusus guna melakukan kejahatan, entitas roh yang secara umum dikonotasikan pada sihir.
| Sumber foto dari Reddith. |
Hari besar keagamaan dirayakan bertepatan musim gugur atau jatuh pada akhir Desember. Seluruh individu berkumpul demi melakukan penghormatan ke pemimpin spiritual dan politik tradisionalnya, berkumpul dan menikmati makanan dengan sesama. Hari persaudaraan. Melakukan upacara dan ritual sepanjang hari, ditandai dengan berkumpulnya masyarakat dan pengorbanan banyak ternak.
Narasi Awal Penciptaan Alam Semesta
Abuk adalah manusia pertama dalam citra seorang perempuan yang diciptakan Sang Pencipta, Tuhan atau Nhiali. Kemudian diciptakanlah Garang, laki-laki, tidak lama setelahnya.
Sang Pencipta kemudian memasukkan mereka berdua ke dalam sebuah pot besar bertutup. Ketika Pencipta membuka penutup pot itu, mereka berdua terlihat semakin tampak elok bentuknya dan bertambah sedap dipandang. Hanya saja Abuk, si perempuan, tampak terlalu kecil bentuknya dan tidak sesuai yang Pencipta ingini. Karenanya, ia dimasukkan ke dalam semacam kotak besar yang penuh air untuk beberapa waktu. Ketika Abuk mentas dari kotak penuh air tersebut, bentuknya telah berubah menjadi seukuran manusia pada umumnya. Sang Pencipta puas dengan ukuran Abuk.
Abuk dan Garang diberi sebiji gandum per hari oleh Pencipta. Mereka masih selalu merasa lapar. Dengan kecerdasan dan kepintarannya, Abuk berusaha membuatnya menjadi makanan olahan, bubur, agar bisa mengenyangkan lebih lama dan bisa dimakan untuk beberapa hari. Ia juga menyimpan sebiji demi sebiji setiap hari selama dimungkinkan, yang nantinya sebagiannya ia tanam dan budidayakan di atas Bumi. Ia dan Garang berhasil, juga secara penuh kehati-hatian melakukan itu agar tidak merusak Bumi dan menciptakan masalah dengan Sang Pencipta. Usahanya itu adalah awal pembudidayaan tanaman gandum untuk pertama kalinya.
Suatu ketika, Abuk mencangkuli tanah dengan cangkul yang panjang gagangnya hingga langit. Tanpa sengaja, karena ayunannya, ujung gagang pacul mengenai Sang Pencipta. Saat itu pula Sang Pencipta memutuskan membiarkan mereka di Bumi. Sang Pencipta mengutus seekor burung berbulu biru, disebut Atoc, untuk memutus tampar dengan cara mematukinya, tampar yang sebelumnya digunakan Abuk dan Garang untuk memanjat ke langit, surga. Karena semakin lama tingkah laku para pria dan wanita yang merusak Bumi, Sang Pencipta menetapkan jalannya kehidupan sebagaimana yang terjadi kini: permusuhan, penyakit dan sakit, kematian, pertikaian, kelaparan, peperangan, dst. Tuhan semakin menjauh dari manusia.
Meski sekedar mitologi naratif, tetapi kisah Abuk kentara sekali berakar pada realitas kehidupan orang-orang Dinka. Dikatakan bahwa hewan favorit Abuk adalah ular, terutama ular-ular kecil. Dianggap melambangkan ketenangan dan kepintaran. Abuk adalah hal penting dalam kultur Dinka, sebagai penjaga suplai air, kesuburan, tumbuh-tumbuhan, dan tanaman pangan. Garang memiliki tugas sisanya. Karenanya, kaum wanita Dinka memiliki peran penting akan terpenuhinya suplai air dalam berumah tangga dengan mengambil ke kali.
Terlepas dari semua itu, orang-orang Dinka memiliki penghormatan mendalam kepada Abuk, melihat dalam diri Abuk sebagai asal mula penciptaan dan sumber tradisi-tradisi agama orang-orang Dinka kuno. Sebagai perempuan pertama dan merepresentasikan Bumi sebagai penopang lestarinya kehidupan manusia. Ibu Bumi. Abuk dituju oleh segala bentuk ritual keagamaan orang-orang Dinka kuno.[]
Komentar
Posting Komentar