Langsung ke konten utama

Orang Dinka: Agama dan Narasi Awal Penciptaan Alam Semesta

Tanah Sudan yang didiami orang Dinka adalah daratan terkurung yang dikelilingi oleh para penggembala Arab di utara, etnis Nuer di timur, Fertit di barat, dan berbagai kelompok etnis yang lebih kecil di selatan. Jejak pengaruh dari masing-masing kelompok tersebut terhadap orang Dinka dapat dilihat dalam corak budaya, kosakata dan bahasa, dan aktivitas ekonomi. Secara geografis, luasnya wilayah yang mereka diami juga terbelah oleh banyaknya sungai, sehingga banyak orang Dinka tidak mengenal satu sama lain kelompok yang masih diklasifikasikan orang Dinka.

Dinka gathering (Sumber: Godgrewtiredofus.wordpress.com).
Orang Dinka terkenal karena posturnya relatif tinggi. Konon, tingginya rata-rata bisa mencapai lebih dari tujuh kaki atau setara dua meterl lebih sepulu centimenter. Survei antropometrik yang diterbitkan di sebuah jurnal kesehatan Ethiopia pada 1995 melaporkan temuan bahwa rata-rata tinggi pria Dinka adalah 176,4 cm atau kira-kira 5 kaki.

Bahasa Dinka, disebut juga "thuɔŋjäŋ" atau  "thuongjang", tergolong rumpun bahasa Nilotic, ditulis menggunakan alfabet Latin dengan beberapa tambahan dan variasi.


Tanah Dinka dan Relasi Politik Eksternal

Etnis Dinka termasuk sub dari Nilotics. Istilah "Dinka" sendiri disematkan oleh pihak luar. Orang-orang yang sekarang dikenal sebagai Dinka sebenarnya menyebut dirinya Mounyjaang. Hanya segelintir orang Dinka yang terdidik dan berpengetahuan mengetahui bahwa mereka disebut Dinka.

Sebelum pecahnya Sudan modern menjadi dua negara, sebagian wilayah yang didiami orang Dinka masuk ke dalam administrasi provinsi Bahr al-Ghazal, memanjang ke timur hingga sabana dan rawa-rawa di sekitar Danau No dan Bahr al-Jebel di provinsi Nil Atas, sekitar 800 kilometer arah selatan Khartoum, ibu kota Sudan.

Dinka adalah orang Afrika berkulit gelap dan posturnya relatif jangkung, sangat berbeda dari kelompok etnis yang mendiami utara Sudan yang berbahasa Arab, yang mana kedatangan mereka di sana semenjak Muhammad Ali, Sultan muda Ottoman di Mesir, menginvasi Sudan dan mencari budak. Tanah yang didiami orang Dinka selanjutnya masuk wilayah koloni Ottoman pada 1820-an. Pusat pemerintah terletak di utara, yang dihuni orang Arab. 

Gadis Dinka yang tenggelam dalam penjiwaan tariannya
(foto: Carol Beckwith dan Angela Fisher).

Orang Dinka yang merupakan kelompok terbesar di Sudan dan orang-orang yang mendiami bagian selatan lainnya memandang dirinya sebagai bagian dari ras Afrika. Orang Dinka yang merupakan sebagai kelompok terbesar bersama dengan banyak kelompok etnis lainnya di tanah Sudan yang kebanyakan mendiami selatan terbangun kesadaran yang berlainan dengan utara. Akibatnya, muncullah istilah "utara" dan "selatan", yang secara teknis merujuk perbedaan ras, budaya, politik, dan ekologi. Sudan Selatan memerdekakan diri dari Sudan pada 9 Juli 2011.


Agama dan Kepercayaan

Mayoritas orang Dinka mempraktikkan agama tradisional yang tema utamanya adalah ritual pemujaan entitas ilahiah tertinggi, atau totemisme, juga arwah leluhur dan sejumlah entitas ilahiah lebih rendah.

Entitas ilahiah tertinggi disebut Nhiali. Ia adalah pemberi rezeki. Adapun Garang adalah entitas ilahiah yang paling penting di antara jajaran entitas ilahiah yang lebih rendah. Sementara Abuk dikonotasikan entitas ilahiah dengan perempuan. Garang dan Abuk sebagai padanan Adam dan Hawa. Situs Dinkaproject menyatakan jika agama ini adalah monoteisme. 

Arwah leluhur juga memainkan peran penting dalam tema agama Dinka. Menurut kepercayaan mereka, arwah leluhur diyakini mampu meningkatkan produktivitas lahan, memperbanyak hewan ternak, dan memberi rasa aman bagi semua. Arwah leluhur diyakini mengawasi siapa saja yang masih hidup, mengganjar perbuatan baik dengan keberuntungan, dan mengganjar kesalahan dengan tulah bagi individu tersebut, keluarga, atau bahkan seluruh kelompok. Arwah leluhur adalah perantara atau mediator antara orang-orang dan entitas ilahiah tertinggi, Nhiali.

Orang Dinka juga mengimani adanya entitas roh baik dan mampu dibujuk ketika marah oleh perilaku manusia dan ritual. Merela juga percaya pada beberapa entitas roh jahat yang berkeliaran bebas, yang dapat digunakan oleh orang-orang dengan kemampuan khusus guna melakukan kejahatan, entitas roh yang secara umum dikonotasikan pada sihir.

Sumber foto dari Reddith.
Ritual keagamaan dilakukan pada saat kelahiran, kematian, mengobati penyakit, dan ketika terjadi pageblug. Inisiasi dilakukan ketika anak laki-laki menginjak usia 10 sampai 16 tahun. Upacara ini dipaksanakan di musim panen. Upacara tersebut adalah inisiasi pemberian tanda suku berupa beberapa garis suku adan membentuk pola "V" yang digoreskan di dahinya. Dengan tanda itu, seseorang telah dianggap menjadi pejuang dan harus melindungi desa dari serangan predator dan musuh.

Hari besar keagamaan dirayakan bertepatan musim gugur atau jatuh pada akhir Desember. Seluruh individu berkumpul demi melakukan penghormatan ke pemimpin spiritual dan politik tradisionalnya, berkumpul dan menikmati makanan dengan sesama. Hari persaudaraan. Melakukan upacara dan ritual sepanjang hari, ditandai dengan berkumpulnya masyarakat dan pengorbanan banyak ternak. 


Narasi Awal Penciptaan Alam Semesta

Abuk adalah manusia pertama dalam citra seorang perempuan yang diciptakan Sang Pencipta, Tuhan atau Nhiali. Kemudian diciptakanlah Garang, laki-laki, tidak lama setelahnya. 

Sang Pencipta kemudian memasukkan mereka berdua ke dalam sebuah pot besar bertutup. Ketika Pencipta membuka penutup pot itu, mereka berdua terlihat semakin tampak elok bentuknya dan bertambah sedap dipandang. Hanya saja Abuk, si perempuan, tampak terlalu kecil bentuknya dan tidak sesuai yang Pencipta ingini. Karenanya, ia dimasukkan ke dalam semacam kotak besar yang penuh air untuk beberapa waktu. Ketika Abuk mentas dari kotak penuh air tersebut, bentuknya telah berubah menjadi seukuran manusia pada umumnya. Sang Pencipta puas dengan ukuran Abuk.

Abuk dan Garang diberi sebiji gandum per hari oleh Pencipta. Mereka masih selalu merasa lapar. Dengan kecerdasan dan kepintarannya, Abuk berusaha membuatnya menjadi makanan olahan, bubur, agar bisa mengenyangkan lebih lama dan bisa dimakan untuk beberapa hari. Ia juga menyimpan sebiji demi sebiji setiap hari selama dimungkinkan, yang nantinya sebagiannya ia tanam dan budidayakan di atas Bumi. Ia dan Garang berhasil, juga secara penuh kehati-hatian melakukan itu agar tidak merusak Bumi dan menciptakan masalah dengan Sang Pencipta. Usahanya itu adalah awal pembudidayaan tanaman gandum untuk pertama kalinya.

Suatu ketika, Abuk mencangkuli tanah dengan cangkul yang panjang gagangnya hingga langit. Tanpa sengaja, karena ayunannya, ujung gagang pacul mengenai Sang Pencipta. Saat itu pula Sang Pencipta memutuskan membiarkan mereka di Bumi. Sang Pencipta mengutus seekor burung berbulu biru, disebut Atoc, untuk memutus tampar dengan cara mematukinya, tampar yang sebelumnya digunakan Abuk dan Garang untuk memanjat ke langit, surga. Karena semakin lama tingkah laku para pria dan wanita yang merusak Bumi, Sang Pencipta menetapkan jalannya kehidupan sebagaimana yang terjadi kini: permusuhan, penyakit dan sakit, kematian, pertikaian, kelaparan, peperangan, dst. Tuhan semakin menjauh dari manusia.

Meski sekedar mitologi naratif, tetapi kisah Abuk kentara sekali berakar pada realitas kehidupan orang-orang Dinka. Dikatakan bahwa hewan favorit Abuk adalah ular, terutama ular-ular kecil. Dianggap melambangkan ketenangan dan kepintaran. Abuk adalah hal penting dalam kultur Dinka, sebagai penjaga suplai air, kesuburan, tumbuh-tumbuhan, dan tanaman pangan. Garang memiliki tugas sisanya. Karenanya, kaum wanita Dinka memiliki peran penting akan terpenuhinya suplai air dalam berumah tangga dengan mengambil ke kali.

Terlepas dari semua itu, orang-orang Dinka memiliki penghormatan mendalam kepada Abuk, melihat dalam diri Abuk sebagai asal mula penciptaan dan sumber tradisi-tradisi agama orang-orang Dinka kuno. Sebagai perempuan pertama dan merepresentasikan Bumi sebagai penopang lestarinya kehidupan manusia. Ibu Bumi. Abuk dituju oleh segala bentuk ritual keagamaan orang-orang Dinka kuno.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...