Langsung ke konten utama

Orang Dogon: Awal Penciptaan dan Agama-kepercayaannya

Asal-usul orang Dogon tidak diketahui secara persis, seperti kelompok kebudayaan kuno lainnya, ditelan kabut waktu. Dalam tradisi oral diceritakan versi berbeda-beda. Karena sumber yang tidak akurat dan tidak lengkap, ada sejumlah mitos asal-usul orang Dogon dan bagaimana ceritanya mereka sampai Bandiagara. Dogon kadang disebut Dogom.

Ada teori lain yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan orang Mesir kuno. Setelah tinggal di wilayah Libya, mereka diyakini kemudian bermigrasi ke suatu wilayah di Burkina Faso, Guinea, atau Mauritania. Sekitar 1490 Masehi, mereka bermigrasi ke tebing Bandiagara di Mali tengah, karena menghindari penjajahan dan/atau kekeringan.

Kuil Binu di wilayah perbukitan Bandiagara.
Orang Dogon adalah etnis terisolasi yang kebanyakannya mendiami Distrik Bandiagara dan Douentza, Mali, negara yang terletak di Afrika barat.

Studi paling awal tentang Dogon dilakukan oleh Louis Desplagnes pada 1903, seorang berpangkat letnan kolonial Prancis. Adapun saintis pertama yang mengunjungi dan mempelajari etnis Dogon adalah antropolog Prancis Marcel Griaule dan Germaine Dieterlen, yang melakukan kontak pertama dengan Dogon pada 1931 dan meneliti mereka secara intensif dan mendetil selama tiga dekade. Griaule dan Dieterlen melakukan penyelidikan ritual dan simbolisme Dogon yang kompleks dan gagasan kosmologis yang menjadi dasar ekspresi budaya. Dua karya terpenting Griaule adalah Masques Dogons (1938) dan Dien d'Eau (1948). Karya terakhir diterbitkan dalam bahasa Inggris pada tahun 1965 dengan judul Conversations with Ogotemmeli: An Introduction to Dogon Religious Ideas.

Kosmologi

Agama Dogon memiliki narasi mitologis bagaimana Amma menciptakan alam semesta. Juga bagaimana ia memulai menciptakan proses reproduksial mahluk-mahluk biologis di Bumi. Kosmologinya terbungkus dalam banyak tema dan simbol arketipikal yang khas mitologi kuno—telur kosmogonik, gulungan spiral, pot tanah liat, hewan bertanduk, dan ular yang banyak ditemukan dalam mitologi budaya-budaya paling kuno kelompok masyarakat lainnya. Tak beda itu, mitologi agama Dogon menggambarkan mahluk hidup tercipta dari air dan alam semesta tersusun dari empat elemen berbeda: air, api, angin, dan tanah.

Narasi penciptaan alam semesta agama orang Dogon dibuka dari kisah Telur Amma yang digambarkan berbentuk spiral dan tempat mula-mula semua benih potensial dari semesta dan kehidupan ini. Menurut para pemuka agama Dogon, karena suatu dorongan yang entah dari mana menyebabkan telur terbuka, muncullah semacam angin puting beliung berputar memilin dan menyebabkan benih material alam semesta dalam Telur Amma berhamburan ke pelbagai penjuru. Bintang-bintang, matahari, dan planet-planet terlempar keluar.

Adapun pekerjaan Amma untuk menciptakan materi segala sesuatu didasarkan pada elemen utama yang disebut po dan materi yang sudah terbentuk kemudian unsur-unsurnya semakin bertambah dan berkembang secara simultan.

Dalam mitologi agama Dogon, usaha Amma untuk menciptakan kehidupan di Bumi pada mulanya menemui kebuntuan. Upaya yang gagal ini menyebabkan munculnya satu makhluk, yaitu serigala. Karenanya, hewan ini menjadi simbolisasi ketidakjelasan konsep dan rintangan-rintangan yang dihadapi Amma. Pada akhirnya Amma melewati hambatan-hambatan dan berhasil menyuburkan Bumi. Buah keteraturan konsep tadi adalah munculnya Nommo.

Mengutip dari Griaule, seperti halnya agama-agama lainnya, tujuan dari penciptaan narasi esoterisme dalam agama Dogon adalah untuk memberi gambaran pemahaman naratif awal penciptaan dan kemuculan setiap materi.

Nommo (Kata atau Firman)

Seperti halnya banyak kebudayaan non-modern lainnya yang dibangun dan dikembangkan di sekitar pertanyaan dan narasinya tentang bagaimana alam semesta ini ada dan kemudian disusul gagasan akan kekuatan ilahiah, gagasan orang Dogon juga bertumpu dan dikembangkan di atas narasi serupa. Pada mulanya adalah Amma dan kemudian Ia ber-Kata, Nommo, maka semua menjadi ada. Tidak ada yang menjadi ada dan terjadi tanpa Nommo. Dalam gagasan yang dikembang orang Dogon, alam semesta ada karena Nommo.

Karena Amma adalah sumber dari semua Kata, bagaimanapun Nommo pada awalnya adalah "tunggal dalam Sang Pencipta." Dengan demikian, begitu manusia mengungkapkan kata yang diucapkan, mereka sedang mengoperasikan energi ilahiah. Dalam keseharian kita, istilah Kata semacam ini sering digunakan istilah Firman.

Berbicara dengan penuh kekuatan intonatif adalah usaha kreatif dan transformatif untuk mengarahkan kehidupan bersama kelompok. 

Sepintas mirip sihir. Tetapi, hal ini tidaklah ganjil bagi alam pikir orang Dogon. Sebab, semua yang disebut sihir pada hakikatnya adalah Kata yang dalam dirinya (diyakini) mengandung keajaiban. Kata mewujud dalam rapalan mantra, pemberian berkat, atau bahkan kutukan.

Alur pikir orang Dogon adalah: Jika Kata tidak ada, maka semua tiada bisa ada dan tiada terjadi penciptaan. Karenanya, tidak akan ada kehidupan. Selanjutnya, orang Dogon juga percaya bahwa manusia memiliki kekuatan untuk mengerahkan dan mengarahkan Kata, Nommo, tadi.

Meskipun gagasan mengenai Nommo identik dengan kepercayaan orang Dogon, tapi gagasan yang diusung dapat ditelusuri pula dalam teks-teks klasik kepercayaan yang ada di Afrika lainnya. Gagasan tentang Nommo juga memiliki kesamaan dengan gagasan orang Mesir kuno, Hu-sia. Apa yang diusung dua gagasan ini, Nommo dan Hu-sia, sebenarnya terkait bagaimana menciptakan prinsip etika di masyarakat, Maat (kebenaran, keadilan, ketertiban, harmoni, keseimbangan, dan hubungan antarindividu di kelompok tersebut). Maat memberi landasan sistem nilai hidup bersama bagi orang-orang Mesir kuno.

Melalui ceramah imam keagamaan Mesir kuno, misteri dibabar kepada masyarakat. Orang Mesir kuno percaya bahwa Hu-sia adalah pembawa pemahaman dan pencerahan. Hu-sia adalah gagasan yang lebih dahulu ada daripada gagasan Nommo dalam sistem keagamaan yang dikembangkan orang-orang Dogon, yang menjadi alas pengembangan budayanya pula. Pada akhirnya pengucapan kata adalah dekat dengan keseharian dan menjangkar dalam hidup manusia. Kata adalah media untuk menggapai harmoni, begitu alam pikir orang Dogon akan dunianya. Juga, menurut filsuf Dogon, apa yang tidak ada, karena diciptakannya kata bisa dibayangkan ada.

Konsepsi Dasar dan Ritual Keagamaan

Patung figur leluhur Dogon, Mali,
biasanya dipajang ketika ritual dan perayaan
penghormtan leluhur.

Menurut Griaule dan Dieterlen, ada tiga kultus utama dan inti agama Dogon. Pertama, kultus yang ditujukan kepada entitas supernatural tertinggi yang disebut Amma, yang diimani telah menciptakan alam semesta. Kedua, yang ditujukan ke entitas supernatural, yaitu Nommo, yang diciptakan Amma. Ketiga, yang ditujukan kepada leluhur orang Dogon.

Kepercayaan dan praktik keagamaan orang Dogon mirip dengan yang dipercayai dan dipraktikkan suku-suku tetangganya, diantaranya Bozo dan Bambara. 

Inti kosmologi dan penciptaan dalam alam pikir orang Dogon dan narasinya terletak pada pengucapan kata (Nommo). Ini artinya memiliki kemiripan kuat dengan dasar bangun yang ditemukan dalam hieroglif orang Mesir kuno, yaitu sama-sama menekankan pada kata-kata dan pemaknaan yang dikaitkan dwngan kosmologi. Misalnya, sebutan festival keagamaan penting orang Dogon yang disebut sigui, bisa jadi berhubungan dengan kata Mesir kuno skhai, yang berarti ”merayakan festival”.

Karenanya, ritual keagamaan orang Dogon merupakan salah satu bentuk ekspresi kompleks mengenai kosmologi tadi, yang bisa dipahami mengapa hal itu pada ujungnya melingkupi aspek-aspek kehidupan orang Dogon. Griaule dan Dieterlen mendapati perilaku keseharian orang-orang Dogon merupakan bentuk simbolisme kosmologis. 

Sebagai contoh, metode penangalan yang digunakan orang Dogon saat menenun kain atau saat membajak sawah, siatem penanggalan perayaan-perayaan ritualistik tahunan, bahkan bagaimana cara suara itu digemakan saat keluar dari mulut orang Dogon. Aspek simbolis dari kehidupan sehari-hari ini mendukung dan memperkuat apa yang dilihat Griaule dan Dieterlen sebagai tradisi kosmologis yang diwariskan secara oral dan dikembangkan di atas semacam sistem mnemonik masyarakatnya.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...