Kosmologi
Agama Dogon memiliki narasi mitologis bagaimana Amma menciptakan alam semesta. Juga bagaimana ia memulai menciptakan proses reproduksial mahluk-mahluk biologis di Bumi. Kosmologinya terbungkus dalam banyak tema dan simbol arketipikal yang khas mitologi kuno—telur kosmogonik, gulungan spiral, pot tanah liat, hewan bertanduk, dan ular yang banyak ditemukan dalam mitologi budaya-budaya paling kuno kelompok masyarakat lainnya. Tak beda itu, mitologi agama Dogon menggambarkan mahluk hidup tercipta dari air dan alam semesta tersusun dari empat elemen berbeda: air, api, angin, dan tanah.
Narasi penciptaan alam semesta agama orang Dogon dibuka dari kisah Telur Amma yang digambarkan berbentuk spiral dan tempat mula-mula semua benih potensial dari semesta dan kehidupan ini. Menurut para pemuka agama Dogon, karena suatu dorongan yang entah dari mana menyebabkan telur terbuka, muncullah semacam angin puting beliung berputar memilin dan menyebabkan benih material alam semesta dalam Telur Amma berhamburan ke pelbagai penjuru. Bintang-bintang, matahari, dan planet-planet terlempar keluar.
Adapun pekerjaan Amma untuk menciptakan materi segala sesuatu didasarkan pada elemen utama yang disebut po dan materi yang sudah terbentuk kemudian unsur-unsurnya semakin bertambah dan berkembang secara simultan.
Dalam mitologi agama Dogon, usaha Amma untuk menciptakan kehidupan di Bumi pada mulanya menemui kebuntuan. Upaya yang gagal ini menyebabkan munculnya satu makhluk, yaitu serigala. Karenanya, hewan ini menjadi simbolisasi ketidakjelasan konsep dan rintangan-rintangan yang dihadapi Amma. Pada akhirnya Amma melewati hambatan-hambatan dan berhasil menyuburkan Bumi. Buah keteraturan konsep tadi adalah munculnya Nommo.
Mengutip dari Griaule, seperti halnya agama-agama lainnya, tujuan dari penciptaan narasi esoterisme dalam agama Dogon adalah untuk memberi gambaran pemahaman naratif awal penciptaan dan kemuculan setiap materi.
Nommo (Kata atau Firman)
Seperti halnya banyak kebudayaan non-modern lainnya yang dibangun dan dikembangkan di sekitar pertanyaan dan narasinya tentang bagaimana alam semesta ini ada dan kemudian disusul gagasan akan kekuatan ilahiah, gagasan orang Dogon juga bertumpu dan dikembangkan di atas narasi serupa. Pada mulanya adalah Amma dan kemudian Ia ber-Kata, Nommo, maka semua menjadi ada. Tidak ada yang menjadi ada dan terjadi tanpa Nommo. Dalam gagasan yang dikembang orang Dogon, alam semesta ada karena Nommo.
Karena Amma adalah sumber dari semua Kata, bagaimanapun Nommo pada awalnya adalah "tunggal dalam Sang Pencipta." Dengan demikian, begitu manusia mengungkapkan kata yang diucapkan, mereka sedang mengoperasikan energi ilahiah. Dalam keseharian kita, istilah Kata semacam ini sering digunakan istilah Firman.
Berbicara dengan penuh kekuatan intonatif adalah usaha kreatif dan transformatif untuk mengarahkan kehidupan bersama kelompok.
Sepintas mirip sihir. Tetapi, hal ini tidaklah ganjil bagi alam pikir orang Dogon. Sebab, semua yang disebut sihir pada hakikatnya adalah Kata yang dalam dirinya (diyakini) mengandung keajaiban. Kata mewujud dalam rapalan mantra, pemberian berkat, atau bahkan kutukan.
Alur pikir orang Dogon adalah: Jika Kata tidak ada, maka semua tiada bisa ada dan tiada terjadi penciptaan. Karenanya, tidak akan ada kehidupan. Selanjutnya, orang Dogon juga percaya bahwa manusia memiliki kekuatan untuk mengerahkan dan mengarahkan Kata, Nommo, tadi.
Meskipun gagasan mengenai Nommo identik dengan kepercayaan orang Dogon, tapi gagasan yang diusung dapat ditelusuri pula dalam teks-teks klasik kepercayaan yang ada di Afrika lainnya. Gagasan tentang Nommo juga memiliki kesamaan dengan gagasan orang Mesir kuno, Hu-sia. Apa yang diusung dua gagasan ini, Nommo dan Hu-sia, sebenarnya terkait bagaimana menciptakan prinsip etika di masyarakat, Maat (kebenaran, keadilan, ketertiban, harmoni, keseimbangan, dan hubungan antarindividu di kelompok tersebut). Maat memberi landasan sistem nilai hidup bersama bagi orang-orang Mesir kuno.
Melalui ceramah imam keagamaan Mesir kuno, misteri dibabar kepada masyarakat. Orang Mesir kuno percaya bahwa Hu-sia adalah pembawa pemahaman dan pencerahan. Hu-sia adalah gagasan yang lebih dahulu ada daripada gagasan Nommo dalam sistem keagamaan yang dikembangkan orang-orang Dogon, yang menjadi alas pengembangan budayanya pula. Pada akhirnya pengucapan kata adalah dekat dengan keseharian dan menjangkar dalam hidup manusia. Kata adalah media untuk menggapai harmoni, begitu alam pikir orang Dogon akan dunianya. Juga, menurut filsuf Dogon, apa yang tidak ada, karena diciptakannya kata bisa dibayangkan ada.