“Meminta anak-anak untuk memenuhi target standar ujian seperti membuat mereka memenuhi kuota penjualan. Anak-anak kita bukan komoditas.” — K.L. Nielsen
Sekarang ini banyak negara di dunia sedang terjadi pergulatan antara dua paradigma yang sangat berbeda dalam mendidik anak. Sistem yang dominan telah ada selama lebih dari seratus tahun. Kadang-kadang disebut "model pabrik". Sekolah didirikan untuk mengelola "pengetahuan penting" bagi sebagian besar anak-anak usia sebaya secara bersamaan. Setelah pengajaran selesai, anak-anak diuji guna mengetahui seberapa banyak pengetahuan yang mereka pahami dan ingat.
Sistem model pabrik ini didasarkan pada cara pabrik dan eksperimen ilmiah dirancang di awal abad lalu. Ketika sepintas lalu pendekatan ini tampaknya mengenai pentransmisian "pengetahuan" ke anak-anak, terdapat juga "kurikulum tersembunyi" yang diajarkan. Sebagaimana John Taylor Gatto tulis, sekolah semacam itu mengajarkan remaja untuk mematuhi otoritas, mematuhi perintah, bersedia ikut ambil bagian dalam aktivitas sukar yang seringkali tidak berguna, dan setuju jika masyarakat terdiri dari orang-orang dengan tingkat bakat dan status sosial berbeda.
Selama dekade terakhir penelitian dalam pendidikan dan perkembangan anak menunjukkan bahwa model pabrik yang didasarkan pada beberapa asumsi adalah salah. Mengasumsikan bahwa pembelajaran dapat diukur dengan standarisasi ujian, dan semua anak akan belajar dengan kecepatan dan cara yang sama. Tidak benar. Faktanya anak-anak paling baik belajar ketika ada sesuatu yang bermakna, menyenangkan, dan menarik bagi mereka. Pentingnya belajar sebagai bagian kelompok komunitas dan belajar dari anak yang sedikit lebih tua dari mereka juga tidak dianggap relevan.
Seperti yang dijelaskan Ken Robinson dalam ceramah TED-nya, Changing Education Paradigm (dengan lebih dari 12 juta penayangan), model pendidikan industri adalah bentuk rekayasa sosial yang telah menciptakan banyak permasalahan di dunia kita. Tidak sesuai dengan cara alamiah anak-anak belajar. Model pabrikan tidak menghargai kreativitas, inovasi, kemandirian, kasih sayang, intuisi, kepercayaan diri, kerjasama, dan banyak kekuatan karakter penting lainnya. Sebaliknya, hal tersebut mendorong disfungsi sosial, keterasingan, dan (untuk banyak orang selama seratus tahun terakhir) rasa kegagalan dan rasa ketidakmampuan diri.
Dengan cara yang agak subversif, kecintaan belajar dan keingintahuan alami yang dibawa anak-anak ke dunia ini diprogram ulang, sehingga mereka bisa diajari untuk bekerja keras demi menyenangkan orang lain dan melakukan sesuatu untuk alasan kegunaan diri, untuk memeroleh penghargaan dan status eksternal, bukan kebahagiaan intrinsik.
Sekolah dengan pendekatan model pabrik dirancang untuk memisahkan anak-anak ke dalam kelompok pemenang dan pecundang, yang pada akhirnya menciptakan sosial "kelas bawah” dari pelajar yang memiliki potensi cerdas. Mereka menjadi tidak termotivasi dan tidak terampil. Mereka yang memiliki keterampilan, status, dan harga diri yang rendah kemudian tertarik pada kegiatan yang negatif, seperti geng, kejahatan, dan obat-obatan terlarang. Sama merepotkannya, obat-obatan "yang disetujui" sekarang ini diberikan kepada anak-anak untuk memaksakan kepatuhan dan perhatian mereka di sekolah, yang konsekuensinya di masa depan tidak diketahui.
Hal tersebut adalah model pendidikan yang kentara sekali dalam novel 1984 karya George Orwell atau Aldous Huxley's Brave New World, yang dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja yang patuh pada ekonomi industri modern abad terakhir. Akibatnya, pendidikan semacam ity lebih seperti cara menciptakan robot pekerja masa depan daripada untuk memelihara kreativitas, kemandirian, keterampilan, dan pembelajaran sebenarnya.
Menariknya, di samping penciptaan pendidikan model pabrik, ada juga paradigma pendidikan yang berbeda sama sekali. Kadang disebut pendidikan yang berpusat pada peserta didik, atau model penguasaan. Sekolah Maria Montessori didirikan dengan cara ini, dimulai dengan asumsi bahwa anak-anak harus mengendalikan pembelajaran mereka sendiri, dan bahwa kebahagiaan anak adalah tanda bahwa pendidikan itu efektif. Orang dewasa membentuk lingkungan belajar, tetapi dengan cara yang mendorong eksplorasi, keingintahuan, kreativitas, otonomi, dan penguasaan keterampilan.
Pendekatan serupa itu telah muncul beberapa dekade terakhir, membuktikan metodenya berhasil dengan pelajar yang sebelumnya tidak termotivasi. Sejak akhir 1980-an, Sekolah Akselerasi Stanford Prof. Hank Levin menerapkan model yang berpusat pada peserta didik. Ada pula Project Zero, yang dikembangkan oleh Howard Gardner di Harvard, dan Program Pengembangan Sekolah-nya Dr. James Comer dari Yale, yang telah terbukti keefektifannya sejak akhir 1960-an. Yang paling terkenal, keberhasilan paradigma yang berpusat pada peserta didik adalah Finlandia, negara yang dihormati oleh para pendidik di seluruh dunia.
Pertanyaan yang muncul kemudian, jika model yang berpusat pada peserta didik terbukti sangat efektif, dan pendekatan standarisasi melalui pengujian berisiko tinggi, mengapa model tersebut masih dominan di banyak negara "terkemuka" di muka Bumi? Mengapa begitu banyak pemimpin bisnis dan pemerintahan di negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Korea terobsesi dengan nilai ujian dan peringkat internasional? Apakah mereka tidak menyadari konsekuensi sosial dari pendekatan ini?
Sebagai pendidik yang telah lama tinggal di Jepang, saya telah melihat efek secara langsung model pabrik. Siswa di Asia berhasil dengan sangat baik pada tes standar, tetapi berapa biayanya? Seperti yang dijelaskan dosen Yale Se-Woong Koo di NY Times, di Korea Selatan, ada tingkat bunuh diri yang tinggi, penyakit fisik, dan depresi yang terkait dengan tekanan pendidikan. Di Tiongkok, (lihat video berita CNN di tautan ini), beberapa siswa diberikan infus medis di ruang kelas mereka, agar membantu mereka belajar sepanjang hari tanpa pingsan.
Di sini, di Jepang, putra-putra saya dan teman-temannya pergi ke sekolah yang menjejalkan hafalan tentang banyak "fakta", kemudian untuk melupakan sebagian besar informasi dalam waktu sekitar satu tahun tadi. Bahkan di sekolah tingkat menengah atas, para peserta didik diharapkan untuk menjejalkan tatabahasa dan kosa kata bahasa Inggris ke dalam kepala mereka, tanpa diberi kesempatan untuk benar-benar mengembangkan keterampilan komunikasi yang memungkinkan mereka gunakan.
Ketika ditanya mengapa sekolah terus mengajarkan bahasa Inggris dengan cara begitu, jawaban yang diberikan oleh guru Jepang selalu sama, “Tidak ada waktu untuk melatih komunikasi yang sebenarnya dengan bahasa tersebut, mereka perlu mempelajarinya untuk ujian.”
Sembari tetap mengamati model pembalajaran tadi selama dua puluh tahun terakhir, saya juga telah menerapkan model yang berpusat pada peserta didik baik di kelas saya maupun di rumah bersama putra-putra saya. Saya kira kebanyakan orangtua sudah akrab dengan pendekatan ini, karena dengan cara inilah kami mendorong anak-anak kami untuk menguasai keterampilan di luar sekolah. Meskipun mereka mengikuti sistem pendidikan Jepang, kedua putra kami bilingual karena kami memberi mereka kesempatan untuk berlatih dan menikmati bahasa selama perjalanan ke luar negeri ke Amerika Serikat, dengan menonton film bersama, membaca buku, mendengarkan musik, dan berkomunikasi dengan saya di rumah.
Pengarahan diri, kolaborasi dengan orang lain, dan rasa zenang adalah kunci pendidikan yang berpusat pada peserta didik dan penguasaan keterampilan. Anak-anak harus tertarik dengan apa yang mereka pelajari dan memiliki banyak kesempatan untuk berlatih dan menerapkan suatu bidang pengetahuan untuk memahami secara mendalam apa yang mereka pelajari dan mengembangkan keterampilan serta kompetensi yang sebenarnya.
Saya pikir kita semua telah melihat pendidikan berpusat peserta didik dalam olahraga, kerajinan, hobi, dan bentuk seni yang oleh kita dan anak-anak kita telah kuasai. Tes tidak ada hubungannya dengan kesuksesan, melainkan kegemaran belajar dan keinginan untuk menguasai sesuatu yang mendorong kita untuk mengembangkan keterampilan kita
Menekankan pendekatan pembelajaran yang berhasil di rumah dan sistem tidak efektif di sekolah adalah bodoh. Bukti penelitiannya ada. Kita mafhum pada apa yang kita semua amati dalam hidup kita sendiri. Kita telah melihat keberhasilan sekolah Montessori, pendekatan Finlandia, program para pemimpin pendidikan seperti James Comer, Hank Levin, Howard Gardner, dan lainnya.
Lalu apa masalahnya? Untuk melanjutkan pengujian berisiko tinggi dan pendekatan yang nengarahkan disfungsional sosial dari model pabrik beririsan batas dengan malpraktik pendidikan, menurut hemat saya. Manakala para pemimpin perusahaan, perusahaan pembuat tes, dan pemimpin pemerintah ingin memperbarui dan mempertahankan model ini, sebagian besar orangtua dan guru lebih tahu.
Dengan penekanan otoriternya untuk menciotakan kepatuhan, kompetisi, dan pengujian, model pabrik sudah kuno, tidak demokratis, dan tidak manusiawi. Ini adalah peninggalan masa lalu kita, yang perlu dibongkar dan dipensiunkan saat kita memasuki abad ke-21.(*)
***
Sumber: Christopher Chase, "Educational Malpractice – The Child Manufacturing Process", Creativity by Nature.
Komentar
Posting Komentar