Karena sebagian besarnya hanya membisu serta menyimpannya untuk diri sendiri dan karena sifatnya tak kasat indera, pengabaian emosional masa kanak-kanak secara umum adalah fenomena yang terpinggirkan dalam psikologi. Tidak seperti halnya penganiayaan atau kekerasan fisik, di mana ada tanda bekas nyata semisal memar, atau seperti halnya anak-anak yang datang ke ruang kelas kurang makan, pengabaian emosional sulit diidentifikasi sebab seringnya tidak ada tanda-tanda yang dapat diamati. Lebih penting lagi, umumnya pengabaian emosional tidak bisa dikenali oleh diri si anak sampai gejala mulai tampak di usia dewasanya.
| Dicuplik dari hellosehat.com |
Pengabaian emosional bisa dalam ragam bentuk, mulai dari adanya harapan dari orangtua yang tinggi dan tidak realistis atau si anak tidak mendapat perhatian secara layak dalam interaksi, hingga memunculkan pengalaman emosional si anak menjadi menfalami invaliditas, sehingga mulai muncul keraguan akan diri sendiri. Ketika terjadi ketidakselarasan antara orangtua dengan si anak secara emosional, tidak tersedia ctemoat bercermin bagi si anak, tidak ada refleksi positif yang dipetik oleh diri si anak, yaitu dalam mengembangkan perasaan-perasaan diri secara positif, kemudian menjadikannya lebih menggugah bagi anak.
Simtom-simtom dari Pengalaman Emosional
Sebagaimana diuraikan Dr. Jonice Webb dalam Running on Empty: Overcome Your Childhood Emotional Neglect gejala pengabaian emosional masa kanak-kanak yang muncul pada orang dewasa mungkin di antaranya, tetapi tidak terbatas, pada:
- Numbing out atau tidak mampu mengenali perasaannya sendiri
- Merasakan seperti ada sesuatu yang hilang, tetapi tidak yakin betul apa itu
- Merasa hampa dalam diri
- Menjadi mudah letih batin atau putus asa
- Rasa percaya diri rendah
- Perfeksionis
- Sensitivitas ucapan ketika melakukan penolakan
- Ketidakmampuan menangkap harapan orang lain dan harapan sendiri.
Meskipun memiliki gejala-gejala ini tidak selalu berarti terabaikan secara emosional, jika sekiranya kamu mengidentifikasi dirimu adanya lebih dari satu gejala, mungkin sebaiknya membicarakannya dengan terapis akan kemungkinan tersebut.
Orangtua Sepeti Apa yang Cenderung Mengabaikan Emosional si Anak?
Pertama, izinkan diri mengatakan bahwa sebagian besar orangtua sebenarnya bermaksud baik dan umumnya melakukan apa yang terbaik yang mereka bisa. Beberapa dari mereka mungkin pernah mengalami pengabaian emosional sebagai anak di masa lalunya. Karenanya, kemungkinannya mereka juga tidak memiliki banyak hal untuk diberikan secara emosional ke anaknya. Bagaimanapun juga, ada beberapa gaya dan karakteristik pengasuhan yang menyebabkan pengabaian emosional.
Orangtua yang otoriter ingin anak-anaknya menaati aturan, juga memiliki sedikit waktu luang atau kecenderungan untuk mengabaikan perasaan dan kebutuhan si anak. Sebagai orang dewasa, anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua yang otoritatif dapat memberontak, melawan otoritas atau mungkin pula menjadi penurut.
Orangtua yang permisif memiliki sikap laissez-faire dalam membesarkan anak dan mungkin membiarkan mereka berjuang sendiri. Anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua yang permisif ini mungkin mengalami kesulitan dalam menetapkan batasan-batasan dan batasan untuk dirinya sendiri di masa dewasa.
Orangtua yang narsistik menganggap dunia berputar berporos pada dirinya. Biasanya titik berat pola pengasuhan lebih ke kebutuhan orangtua, bukan kebutuhan si anak. Kala menjadi orang dewasa, anak-anak yang dibesarkan seperti ini kemungkinannya mengalami kesulitan mengidentifikasi kebutuhan diri sendiri dan memastikan terpenuhinya kebutuhan itu Bahkan, bisa saja muncul peerasaan bahwasanya kebutuhannya tidak layak terpenuhi.
Orangtua yang perfeksionis cenderung percaya jika anak-anaknya selalu bisa melakukan hal-hal lebih banyak atau lebih baik lagi. Ini adalah tipikal orangtua yang mungkin mengeluh ketika anaknya membawa pulang rapor dengan semua A dan satu B. Anak-anak dari orangtua seperti ini dapat tumbuh menjadi perfeksionis, dan memancang harapan tinggi yang tidak realistis untuk diri sendiri, yang mengakibatkan munculnya rasa cemas karena terbersit perasaan tidak pernah menjadi cukup baik.
Orangtua yang tidak hadir dalam diri si anak, bisa saja hilang dari kehidupan si anak karena satu dan lain sebab, semisal meninggal, menderita penyakit, bercerai, jam kerjanya yang panjang, atau sering bepergian demi keperluan kerja. Anak-anak dari orangtua yang tidak hadir bagi si anak, pada akhirnya si anak membesarkan dirinya sendiri dalam sebagian besar waktu tumbuh berkembangnya, dan jika ia selaku bungsu juga dapat membesarkan adik-adiknya. Anak-anak yang tumbuh kembang seperti ini pikirannya cenderung tersibukkan akan rasa tanggung jawab, yang mungkin terbawa ke dalam masa kehidupan dewasanya. Sebagai bocah, mereka terlihat seperti si dewasa prematur, dibebani kekhawatiran akan keluarga.
Tips Pulih dari Pengalaman Emosional
Jadi, apa yang bisa kamu lakukan jikalau kamu terpikir bahwa kamu kemungkinannya telah terabaikan secara emosional sebagai seorang anak di masa lau? Berikut beberapa tipsnya:
1. Belajarlah untuk menyadari baik munculnya emosi positif dan negatif ketika merasakannya.
Jika kamu telah menghabiskan masa dewasamu dengan mengalami rasa kehampaan, langkah pertama adalah belajar cara mengidentifikasi baik emosi positif dan negatif yang kamu rasakan. Merupakan hal penting untuk menyadari baik itu perasaan nyaman dan tidak nyaman dalam memulai membangun kesadaran ini.
Setelah menguasainya, kamu dapat fokus untuk mencatat setiap suasana-suasana batinmu yang lebih halus. Kamu mungkin tidak memiliki kata-kata untuk yang kamu rasakan, itu sangatlah wajar jika kamu tidak tumbuh di rumah di mana orang-orang membicarakan perasaan di antara mereka satu sama lain.
2. Kenali kebutuhanmu, dan ambil langkah untuk memenuhinya.
Banyak orang dewasa yang mengalami pengabaian emosional di kala sebagai anak sering tidak menyadari apa yang mereka butuhkan dan biasanya muncul perasaan bahwa kebutuhan-kebutuhan emosionalnya tidak layak dipenuhi. Kembangkan wawasanmu berkenaan emosional dengan melakukan penelitian sederhana perihal emosi dan kebutuhan diri secara daring atau pergi ke perpustakaan. Setelah kamu tahu apa yang dirimu butuhkan, saatnya untuk mengambil tindakan.
3. Jika kamu meyakini bahwa kamu tidak layak untuk memenuhi kebutuhan dirimu, akui saja adanya keyakinan itu dan sadari itu sekedar keyakinanmu, bukan fakta.
Akan sangat membantu dalam memulai mendekonstruksi keyakinan lama yang selama ini bersemayam dalam dirimu, yang mungkin sudah tidak lagi berlaku. Sama seperti semua manusia di muka planet ini, kamu juga memiliki kebutuhan yang layak kamu penuhi, tidak peduli apa yang telah kamu alami di masa kecil.
4. Bersikaplah lembut dan jaga dirimu dengan baik, mulailah dari langkah kecil.
Orang dewasa yang mengalami pengabaian emosional di masa kanak-kanak sering kesulitan dalam merawat diri. Tidak menyadari perasaan dan kebutuhannya, seringkali tidak tahu harus memulai dari mana. Cobalah perlakukan dirimu dengan penuh perhatian dan lembut, sama seperti haknya yang kamu bisa berikan ke seorang anak yang tidak dapat merawat dirinya sendiri. Bersikaplah lembut dan penuh kasih sayang pada dirimu sendiri, terutama ketika kamu cenderung mengkritik pribadimu sendiri atau menghakimi dirimu sendiri.
Ingat, Roma tidak dibangun dalam sehari! Itu adalah sebuah proses. Saat lututmu robek, kamu perlu membersihkan lukanya dan memaparkannya di bawah sinar matahari; hal yang sama berlaku pula untuk luka emosional/batin. Berani memampangkan luka dari tempat sembunyinya, membiarkannya terekspos sedikit cahaya dan udara, dan dirimu akan berada di jalur menuju penyembuhan batin.[*]
