“Pengalaman yang kuat dapat mengubah fungsi otak orang dewasa, tetapi pada anak-anak, peristiwa traumatis dapat mengubah seluruh kerangka otaknya."
—Dr. Bruce Perry (Anggota Senior di Akademi Trauma Anak AS).
- Takut ditinggalkan atau problem ingatan yang melekat lainnya bukan saja berasal dari rasa kehilangan di masa kanak-kanak, kematian orangtua misalnya, tetapi juga bisa berasal dari perlakuan buruk atau pengabaian emosional sebagai seorang anak.
- Studi longitudinal menyuguhkan bukti bahwa ketidakcakapan anak dalam mempertahankan hubungan sehat secara signifikan di masa dewasanya bisa disebakan ketergangguan perasaan akan rasa tidak aman sebab ingatan yang melekat terhadap hubungan dengan pengasuhnya, terutama selama perkembangan dini.
- Meski permasalahan hubungan secara umum mungkin berakar pada pengalaman di masa kanak-kanak, sebagai orang dewasa, kita dapat memutus siklus tersebut.
Pengamatan kepada dalam diri individu terkait masalah hubungan, umumnya bertalian dengan pengasuh. Permasalahan hubungan ini bisa berhubungan dengan masa kanak-kanaknya.
Akar Utama
Rasa trauma akan pengabaian atau ingatan yang melekat lainnya bisa berakar dari perasaan kehilangan di masa kanak-kanak (kematian orangtua, misalnya), tetapi juga bisa berasal dari perlakuan buruk atau pengabaian emosional sebagai anak. Studi longitudinal telah menyuguhkan bukti bahwa ketidakmampuan anak mempertahankan hubungan yang sehat secara signifikan bisa saja terganggu karena ingatan akan perasaan tidak aman yang melekat dalam pengasuhannya, terutama selama perkembangan di usia dini dirinya. Meski ini adalah masalah hubungan umum, yang mungkin berakar pada pengalaman di masa kanak-kanak, ketika sudah dewasa, kita dapat memutus siklusnya.
Ketakutan akan pengabaian dapat saja berakar dari kehilangan di masa kanak-kanak—kematian orangtua atau orang disayangi—tetapi juga dapat berakar dari penganiayaan selama masa kanak-kanak. Perasaan terniaya atau perasaan diabaikan sebagai seorang anak sulit ditentukan, terutama jika penganiayaan itu tidak bersifat fisik, melainkan lebih bersifat emosional.
Perkembangan otak, menurut studi the Child Welfare Information Gateway, sebenarnya merupakan proses menciptakan, memperkuat, dan menyingkirkan koneksi di antara neuron yang kita bawa sejak lahir.
Koneksi-koneksi ini dinamakan sinapsis dan bertugas mengatur otak dengan cara membentuk jalur saraf yang menghubungkan berbagai bagian otak, yang mengatur hal apa saja yang kita lakukan.
Pertumbuhan setiap daerah otak sangat bergantung pada rangsangan yang diterima bagi daerah itu—anggap saja mirip otot yang perlu dilatih agar tumbuh semakin kuat dan berguna. Membiarkan otot tadi tanpa pengawasan, tidak memberinya gerakan dan kekuatan, pada akhirnya akan menyebabkan atrofi, sehingga menghambat seluruh tubuh anda berfungsi baik.
Begitulah cara kerja penganiayaan terhadap otak. Untuk mengatasi masalah ini dalam hubungan anda, berusahalah untuk melatih "ketersalinghubungan otot-otot" itu, membiarkan diri anda menjadi lebih rentan dan terbuka dengan pasangan anda.
Studi tahun 2016 yang dilakukan oleh Winston dan Chicot menyuguhkan bukti teori longitudinal tadi bahwa ketidakkonsistenan orangtua dan kurangnya kasih sayang bisa menyebabkan problem kesehatan mental jangka panjang serta melemahkan potensi dan kebahagiaan secara keseluruhan di kemudian hari.
Otak manusia tersusun dari100 miliar lebih sel otak di mana masing-masingnya terhubung ke lebih dari 7000 sel otak lain. Otak adalah sistem yang begitu kompleks. Namun pada usia 3 tahun, otak anak telah mencapai lebih dari 90% ukuran otak dewasanya.
![]() |
| Shutterstock. |
Pengalaman di tiga tahun awal kehidupan anak menjadi dasar bagaimana jalur-jalur di otaknya terhubung dengan baik hingga dewasanya. Walau bukan mustahil bagi kita untuk "mempelajari kembali" hal-hal sebagai orang dewasa dan mengubah pola kerja otak kita ini—ada banyak kepentingan dalam suatu hubungan, juga hubungan yang dimiliki seorang anak usia dini dengan pengasuhnya.
Studi longitudinal telah membuktikan jika ketidakcakapan seorang anak dalam menciptakan dan mempertahankan hubungan sehat dalam rentanh hidupnya secara signifikan bisa disebabkan ingatan yang melekat terkait perasaan tidak aman akan pengasuhan dirinya di masa lalu, terutama selama tahun-tahun awal perkembangan.
Untuk mengatasi masalah hubungan umum ini, pertimbangkanlah bagaimana anda memandang sebuah ikatan, dedikasi, dan kesetiaan dalam hubungan—bisa jadi anda telah begitu menaruh berkomitmen ke pasangan, tetapi hanya saja ada rasa takut pada "label" yang terciota dari suatu hubungan.
Perasaan berhak (entlitement), yang didefinisikan sebagai harapan yang tidak realistis, untuk menerima hal layak, atau tidak seharusnya menerima kondisi kehidupan yang tidak menyenangkan dan menerima perlakuan tertentu oleh orang lain, juga bisa berakar dari pengalaman yang kita terima semasa kanak-kanak. Untuk memperbaiki masalah ini dalam suatu hubungan bisa sangat sulit, karena perasaan berhak adalah kualitas yang pada dasarnya egois.
Menurut Better Help, ada dua alasan utama mengapa orang merasa berhak dalam hubungan: mereka terlalu banyak mengkompensasi karena tidak pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan atau sudah terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan sehingga mereka bahkan tidak bisa memikirkan kemungkinan untuk tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. ingin.
Mengompensasi diri secara berlebihan atas kesalahan masa lalu, misalmya menjadi anak yang tumbuh berkembang tanpa mainan, waktu bermainan, dan baju yang dipunyai seperti teman sebayanya bisa menumbuhkan keyakinan diri bahsanya mereka berhak atas apa yang telah mereka lewatkan.
Kebiasaan mendapatkan apa yang mereka inginkan setiap kali, contohnya menjadi anak yang mendapat apa saja yang mereka pinta tanpa adanya alasan untuk mendapatkan itu, yang pada akhirnya membentuk keyakinan mereka bahwa mereka harus selalu mendapatkan apa saja yang mereka pinta walau itu tidak realistis.
Pengabaian emosional di masa kanak-kanak adalah keinginan yang mendalam dan bertahan lama dan tidak mudah dideteksi. Bahkan, seringkali perasaan tidak berharga dan merasa rendah diri yang dirasakan anak ini yang disebabkan oleh orangtua tidak dimaksudkan untuk merugikan pihak si anak.
Menurut Good Therapy, ada empat jenis gaya pengasuhan yang bisa menyebabkan anak merasa tidak berharga atau merasa rendah diri.
Orangtua otoriter: mereka ingin anak-anaknya mengikuti aturan, tetapi tidak menyediakan waktu atau terbersit keinginan untuk mendengarkan perasaan atau kebutuhan si anak.
Orangtua permisif: mereka memiliki sikap yang sangat santai dalam membesarkan anak, mungkin saking santainya membiarkan anak-anak melakukan apa yang mereka inginkan dan “menjaga diri mereka sendiri.” Ini dapat menyebabkan anak-anak merasa seolah-olah mereka “tidak layak untuk mendapatkan waktu dari orangtua mereka” dan di masa depan mereka mungkin juga perasaan tidak layak memoeroleh waktu dari pasangan intimasinya.
Orangtua narsis: mereka merasa seakan-akan dunia (dan anak-anaknya) adalah miliknya, mendahulukan kebutuhan dan keinginan mereka sendiri di atas kebutuhan dan keinginan si anak. Orang yang telah dibesarkan oleh orangtua narsis semacam ini ketika dewasa mungkin selalu mendahulukan kebutuhan pasangannya dan mengabaikan kebutuhannya sendiri, seolah merasa mereka tidak layak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Orangtua perfeksionis: mereka selalu percaya bahwa anak-anaknya perlu melakukan apa saja lebih baik, yang busa menjadi pemicu bagi anak-anak mereka meyakinj dirinya tidak memadai, sekalipun telah mencapai sesuatu yang baik. Orang dewasa yang dibesarkan oleh orangtua yang perfeksionis mungkin juga meyakini bahwa dirinya tidak pernah "kufu" bagi pasangannya, beranggapan dirinya lebih rendah, menyebabkan ketidakseimbangan dalam hubungan.
Mengatasi masalah bahwa diri berharga sering kali melibatkan terapi, program self-help, dan dibutuhkan banyak waktu untuk menyembuhkan dan melatih kembali otak anda dalam hal cara anda memandang diri sendiri.
“Otak kita dibentuk oleh pengalaman awal kita. Penganiayaan adalah pahat yang membentuk otak dalam menghadapi perselisihan, tetapi dengan mengorbankan luka yang dalam dan bertahan lama.” Teicher (2000).


Komentar