Langsung ke konten utama

4 Masalah Hubungan yang Dapat Dikaitkan dengan Masa Kanak-Kanak

“Pengalaman yang kuat dapat mengubah fungsi otak orang dewasa, tetapi pada anak-anak, peristiwa traumatis dapat mengubah seluruh kerangka otaknya."

Dr. Bruce Perry (Anggota Senior di Akademi Trauma Anak AS).

  • Takut ditinggalkan atau problem ingatan yang melekat lainnya bukan saja berasal dari rasa kehilangan di masa kanak-kanak, kematian orangtua misalnya, tetapi juga bisa berasal dari perlakuan buruk atau pengabaian emosional sebagai seorang anak.
  • Studi longitudinal menyuguhkan bukti bahwa ketidakcakapan anak dalam mempertahankan hubungan sehat secara signifikan di masa dewasanya bisa disebakan ketergangguan perasaan akan rasa tidak aman sebab ingatan yang melekat terhadap hubungan dengan pengasuhnya, terutama selama perkembangan dini.
  • Meski permasalahan hubungan secara umum mungkin berakar pada pengalaman di masa kanak-kanak, sebagai orang dewasa, kita dapat memutus siklus tersebut.
Pengamatan kepada dalam diri individu terkait masalah hubungan, umumnya bertalian dengan pengasuh. Permasalahan hubungan ini bisa berhubungan dengan masa kanak-kanaknya.

Akar Utama

Rasa trauma akan pengabaian atau ingatan yang melekat lainnya bisa berakar dari perasaan kehilangan di masa kanak-kanak (kematian orangtua, misalnya), tetapi juga bisa berasal dari perlakuan buruk atau pengabaian emosional sebagai anak. Studi longitudinal telah menyuguhkan bukti bahwa ketidakmampuan anak mempertahankan hubungan yang sehat secara signifikan bisa saja terganggu karena ingatan akan perasaan tidak aman yang melekat dalam pengasuhannya, terutama selama perkembangan di usia dini dirinya. Meski ini adalah masalah hubungan umum, yang mungkin berakar pada pengalaman di masa kanak-kanak, ketika sudah dewasa, kita dapat memutus siklusnya.

Ketakutan akan pengabaian dapat saja berakar dari kehilangan di masa kanak-kanak—kematian orangtua atau orang disayangi—tetapi juga dapat berakar dari penganiayaan selama masa kanak-kanak. Perasaan terniaya atau perasaan diabaikan sebagai seorang anak sulit ditentukan, terutama jika penganiayaan itu tidak bersifat fisik, melainkan lebih bersifat emosional.

Perkembangan otak, menurut studi the Child Welfare Information Gateway, sebenarnya merupakan proses menciptakan, memperkuat, dan menyingkirkan koneksi di antara neuron yang kita bawa sejak lahir.

Koneksi-koneksi ini dinamakan sinapsis dan bertugas mengatur otak dengan cara membentuk jalur saraf yang menghubungkan berbagai bagian otak, yang mengatur hal apa saja yang kita lakukan.

Pertumbuhan setiap daerah otak sangat bergantung pada rangsangan yang diterima bagi daerah itu—anggap saja mirip otot yang perlu dilatih agar tumbuh semakin kuat dan berguna. Membiarkan otot tadi tanpa pengawasan, tidak memberinya gerakan dan kekuatan, pada akhirnya akan menyebabkan atrofi, sehingga menghambat seluruh tubuh anda berfungsi baik.

Begitulah cara kerja penganiayaan terhadap otak. Untuk mengatasi masalah ini dalam hubungan anda, berusahalah untuk melatih "ketersalinghubungan otot-otot" itu, membiarkan diri anda menjadi lebih rentan dan terbuka dengan pasangan anda.

Studi tahun 2016  yang dilakukan oleh Winston dan Chicot menyuguhkan bukti teori longitudinal tadi bahwa ketidakkonsistenan orangtua dan kurangnya kasih sayang bisa menyebabkan problem kesehatan mental jangka panjang serta melemahkan potensi dan kebahagiaan secara keseluruhan di kemudian hari.

Otak manusia tersusun dari100 miliar lebih sel otak di mana masing-masingnya terhubung ke lebih dari 7000 sel otak lain. Otak adalah sistem yang begitu kompleks. Namun pada usia 3 tahun, otak anak telah mencapai lebih dari 90% ukuran otak dewasanya.

Shutterstock.
Pengalaman di tiga tahun awal kehidupan anak menjadi dasar bagaimana jalur-jalur di otaknya terhubung dengan baik hingga dewasanya. Walau bukan mustahil bagi kita untuk "mempelajari kembali" hal-hal sebagai orang dewasa dan mengubah pola kerja otak kita ini—ada banyak kepentingan dalam suatu hubungan, juga hubungan yang dimiliki seorang anak usia dini dengan pengasuhnya.

Studi longitudinal telah membuktikan jika ketidakcakapan seorang anak dalam menciptakan dan mempertahankan hubungan sehat dalam rentanh hidupnya secara signifikan bisa disebabkan ingatan yang melekat terkait perasaan tidak aman akan pengasuhan dirinya di masa lalu, terutama selama tahun-tahun awal perkembangan.

Untuk mengatasi masalah hubungan umum ini, pertimbangkanlah bagaimana anda memandang sebuah ikatan, dedikasi, dan kesetiaan dalam hubungan—bisa jadi anda telah begitu menaruh berkomitmen ke pasangan, tetapi hanya saja ada rasa takut pada "label" yang terciota dari suatu hubungan.

Perasaan berhak (entlitement), yang didefinisikan sebagai harapan yang tidak realistis, untuk menerima hal layak, atau tidak seharusnya menerima kondisi kehidupan yang tidak menyenangkan dan menerima perlakuan tertentu oleh orang lain, juga bisa berakar dari pengalaman yang kita terima semasa kanak-kanak. Untuk memperbaiki masalah ini dalam suatu hubungan bisa sangat sulit, karena perasaan berhak adalah kualitas yang pada dasarnya egois.

Menurut Better Help, ada dua alasan utama mengapa orang merasa berhak dalam hubungan: mereka terlalu banyak mengkompensasi karena tidak pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan atau sudah terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan sehingga mereka bahkan tidak bisa memikirkan kemungkinan untuk tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. ingin.

Mengompensasi diri secara berlebihan atas kesalahan masa lalu, misalmya menjadi anak yang tumbuh berkembang tanpa mainan, waktu bermainan, dan baju yang dipunyai seperti teman sebayanya bisa menumbuhkan keyakinan diri bahsanya mereka berhak atas apa yang telah mereka lewatkan.

Kebiasaan mendapatkan apa yang mereka inginkan setiap kali, contohnya menjadi anak yang mendapat apa saja yang mereka pinta tanpa adanya alasan untuk mendapatkan itu, yang pada akhirnya membentuk keyakinan mereka bahwa mereka harus selalu mendapatkan apa saja yang mereka pinta walau itu tidak realistis.

Pengabaian emosional di masa kanak-kanak adalah keinginan yang mendalam dan bertahan lama dan tidak mudah dideteksi. Bahkan, seringkali perasaan tidak berharga dan merasa rendah diri yang dirasakan anak ini yang disebabkan oleh orangtua tidak dimaksudkan untuk merugikan pihak si anak.

Menurut Good Therapy, ada empat jenis gaya pengasuhan yang bisa menyebabkan anak merasa tidak berharga atau merasa rendah diri.

Orangtua otoriter: mereka ingin anak-anaknya mengikuti aturan, tetapi tidak menyediakan waktu atau terbersit keinginan untuk mendengarkan perasaan atau kebutuhan si anak.

Orangtua permisif: mereka memiliki sikap yang sangat santai dalam membesarkan anak, mungkin saking santainya membiarkan anak-anak melakukan apa yang mereka inginkan dan “menjaga diri mereka sendiri.” Ini dapat menyebabkan anak-anak merasa seolah-olah mereka “tidak layak untuk mendapatkan waktu dari orangtua mereka” dan di masa depan mereka mungkin juga perasaan tidak layak memoeroleh waktu dari pasangan intimasinya.

Orangtua narsis: mereka merasa seakan-akan dunia (dan anak-anaknya) adalah miliknya, mendahulukan kebutuhan dan keinginan mereka sendiri di atas kebutuhan dan keinginan si anak. Orang yang telah dibesarkan oleh orangtua narsis semacam ini ketika dewasa mungkin selalu mendahulukan kebutuhan pasangannya dan mengabaikan kebutuhannya sendiri, seolah merasa mereka tidak layak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Orangtua perfeksionis: mereka selalu percaya bahwa anak-anaknya perlu melakukan apa saja lebih baik, yang busa menjadi pemicu bagi anak-anak mereka meyakinj dirinya tidak memadai, sekalipun telah mencapai sesuatu yang baik. Orang dewasa yang dibesarkan oleh orangtua yang perfeksionis mungkin juga meyakini bahwa dirinya tidak pernah "kufu" bagi pasangannya, beranggapan dirinya lebih rendah, menyebabkan ketidakseimbangan dalam hubungan.

Mengatasi masalah bahwa diri berharga sering kali melibatkan terapi, program self-help, dan dibutuhkan banyak waktu untuk menyembuhkan dan melatih kembali otak anda dalam hal cara anda memandang diri sendiri.

“Otak kita dibentuk oleh pengalaman awal kita. Penganiayaan adalah pahat yang membentuk otak dalam menghadapi perselisihan, tetapi dengan mengorbankan luka yang dalam dan bertahan lama.” Teicher (2000).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...