Langsung ke konten utama

Apa Itu yang Dimaksud Pencerahan oleh Buddhis?

Banyak orang telah mendengar jika Sang Buddha telah tercerahkan dan para Buddhis mencari pencerahan pula. Memangnya apa itu Pencerahan yang dimaksud Buddhis? Umumnya kita mendengar istilah tersebut akan mengasosiasikan dengan pencerahan (enlightenment) Eropa. Dalam kosakata Inggris, istilah tersebut bisa merujuk ke beberapa hal. Di Barat, Zaman Pencerahan (Age of Enlightenment) adalah gerakan filosofis abad ke-17 hingga ke-18 yang mempromosikan sains dan akalbudi dalam upaya melawan mitos dan takhayul, sehingga dalam budaya Barat pencerahan acapkali dikaitkan dengan kepintaran dan pengetahuan. Namun pencerahan dalam Buddhisme tidak demikian.

Pencerahan dan Satori

Jan Kopřiva, unsplash.com

Lebih menambah kebingungan lagi, enlightenment digunakan sebagai terjemahan bagi beberapa kosakata bahasa Asia ini, padahal tidak memiliki kesebangunan maksud. Misalnya, beberapa dekade lalu penutur bahasa Inggris mengalami perjumpaan dengan Buddhisme melalui tulisan-tulisan D.T. Suzuki (1870-1966), seorang cendekiawan Jepang yang pernah hidup sebagai bikkhu Rinzai Zen. Suzuki menggunakan "enlightenment" untuk padanan kata Jepang satori, yang berasal dari kata kerja satoru, 'mengetahui'.

Terjemahan tersebut tak sepenuhnya pas. Namun dalam penggunaannya, satori biasanya mengacu pada pengalaman langsung (insight) akan realitas alamiah yang sejati. Hal tersebut sering diibaratkan membuka pintu, tetapi membuka pintu masih terdapat keterpisahan antara apa yang ada di dalam dan di luar pintu. Sebagian besar dipengaruhi oleh Suzuki, gagasan pencerahan spiritual sebagai pengalaman transformatif yang tiada terduga-duga dan terencanakan, mendamaikan, telah tertanam dalam budaya Barat. 
Bagaimanapun penerjemahan tersebut mengaburkan.
Meski Suzuki dan beberapa master Zen angkatan pertama di Barat menjelaskan bahwa pencerahan sebagai pengalaman yang dapat dirasakan seseorang pada momen seketika dalam momen itu, sebagian besar master Zen dan manuskrip Zen memberi tahu kita bahwa pencerahan bukanlah suatu pengalaman tetapi suatu kondisi bukan terkondisi. Bahkan satori bukanlah pencerahan itu sendiri. Pada titik ini, Zen sejalan dengan bagaimana pencerahan dipandang oleh aliran-aliran lain dalam Buddhisme.


Pencerahan dan Bodhi (Theravada)

Bodhi, berasal dari kata Sansekerta dan Pali yang berarti 'terbangun', juga sering dipadankan dengan 'pencerahan'.

Dalam Buddhisme Theravada, bodhi dikaitkan dengan telah terang sempurnanya pandangan sesuai Empat Kebenaran Mulia, yang mengakhiri dukkha (penderitaan, tertekan/stres, ketidakpuasan, depresi). Orang yang telah terang sempurna pandangannya meninggalkan semua kotoran batim ialah arahat, orang yang telah terbebas dari siklus samsara atau tumimbal lahir tiada ujung. Saat hidup, ia memasuki katakanlah semacam nibbana terkondisi dan pada saat matinya, ia menikmati kedamaian nibbana sepenuhnya dan terbebas dari siklus tumimbal lahir.

Di Sutta Atthinukhopariyaayo dalam Tipitaka Pali (Samyutta Nikaya 35.153), Sang Buddha berkata:
Adakah metode penjelasan, para bhikkhu, yang dengannya seorang bhikkhu—terlepas dari keyakinan, terlepas dari preferensi pribadi, terlepas dari tradisi lisan, terlepas dari logika, terlepas dari penerimaan pandangan setelah merenungkannya—dapat menyatakan pengetahuan akhir sebagai berikut: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi penjelmaan dalam kondisi makhluk apa pun. 


Pencerahan dan Bodhi (Mahayana)

Dalam Buddhisme Mahayana, bodhi dikaitkan dengan sempurnanya kebijaksanaan, atau Sunyata. Ini adalah ajaran bahwa semua fenomena kosong dari esensi-diri.

Sebagian besar dari kita menganggap hal-hal dan kemengadaan adalah terpisah berdiri sendiri-sendiri dan permanen. Namun anggapan semacam ini adalah proyeksi pikiran. Sebaliknya, dunia fenomena adalah hubungan sebab-akibat dan suatu kondisi yang terus menerus berubah, atau Asal Muasal Kemengadaan yang Interdependen. Benda-benda dan kemengadaan (baca: benda-benda yang muncul anggapan "aku ada") tiada esensi-diri, tidak nyata sekaligus bukan-nyata: doktrin Dua Kebenaran

Menangkap Sunyata sepenuhnya melelehkan belenggu kemelekatan akan diri, yang menjadi sebab ketidakbahagiaan kita. Dualisme dalam membedakan antara diri dengan yang di luar diri tergantikan cara pandangan non-dualisme permanen di mana keseluruhan hal-hal adalah saling terkait.

Dalam Buddhisme Mahayana, gagasan mengenai praktik adalah gagasan bodhisattva, makhluk tercerahkan yang tetap berada di dunia fenomenal untuk membawa semua menuju pencerahan. Cita-cita bodhisattva lebih dari sekadar altruisme; juga merefleksikan kenyataan bahwa tidak satupun dari kita terpisah satu sama lain. "Pencerahan individu" adalah oksimoron.


Pencerahan dalam Vajrayana 

Aliran Tantra dalam Buddhisme Vajrayana, merupakan percabangan dari Buddhisme Mahayana, percaya bahwa pencerahan bisa datang sekaligus dalam momen transformatif. Hal ini sejalan dengan keyakinan dalam Vajrayana bahwa berbagai hasrat/nafsu (passions) dan rintangan dalam hidup, alih-alih menjadi hambatan, dapat menjadi bahan bakar untuk transformasi menuju pencerahan yang dapat terjadi dalam seketika, atau setidaknya dalam kehidupan ini. Kunci dari praktik ini adalah keyakinan pada Sifat Kebuddhaan yang melekat, kesempurnaan bawaan dari sifat batin kita yang sekedar menunggu kita untuk mengenalinya. Namun keyakinan akan kemampuan untuk mencapai pencerahan secara tiba-tiba ini tidak sama dengan fenomena Satori. Bagi Vajrayana Buddhis, pencerahan bukanlah anggapan sesederhana berkenaan melewati masuk pintu, tetapi suatu kondisi yang tetap.


Pencerahan dan Kebuddhaan-Alamiah

Menurut legenda, ketika Sang Buddha mencapai pencerahan, beliau mengatakan sesuatu demikian, "Bukankah itu luar biasa! Semua kreasi tercerahkan!" Keadaan inilah yang dikenal sebagai Sifat alamiah Kebuddhaan segala sesuatu, yang merupakan bagian inti dari praktik Buddhis di beberapa cabang. Dalam Buddhisme Mahayana, Sifat dari Kebuddhaan-alamiah adalah, Kebuddhaan ada pada semua materi. Karena tiap materi alamiahnya telah pada Kebuddhaan, tugasnya bukanlah untuk mencapai pencerahan, tetapi untuk merealisasinya.

Master Huineng (638-713) dari Tiongkok, Patriark Ke-6 Ch'an (Zen), mengumpamakan Kebuddhaan dengan bulan yang tertutup awan. Awan melambangkan kebodohan-diri an gelapnya kesadaran. Ketika awan disingkirkan, bulan menyembul, tampak.


Mengalami Langsung Seketika (Insight)

Bagaimana dengan pengalaman langsung seketika (insight), yang membahagiakan, dan transformatif itu? Anda mungkin pernah mengalami momen demikian dan merasa bahwa Anda secara spiritual sedang mengalami sesuatu yang mendalam. Pengalaman semacam ini, meski menenangkan dan terkadang disertai dengan terangnya pandangan dan sejati, sebagaimana adanya, itu bukanlah pencerahan. Bagi sebagian besar praktisi, pengalaman spiritual yang membahagiakan yang tidak didasarkan pada praktik Jalan Berunsur Delapan untuk mencapai pencerahan kemungkinannya tidak akan bersifat transformatif. Mengejar kondisi bahagia itu sendiri bisa menjadi bentuk keinginan dan kemelekatan. Padahal jalan menuju pencerahan adalah dengan melepaskan kemelekatan dan keinginan.

Master Zen Barry Magid bercerita tentang Master Hakuin, tentang "Tidak Ada yang Tersembunyi":

Latihan pasca-satori bagi Hakuin berarti, pada akhirnya berhenti disibukkan dengan kondisi dan pencapaian pribadi dan mengabdikan diri dan latihan untuk membantu dan mengajari orang lain. Pada akhirnya, pada titik terjauh, ia menyadari bahwa pencerahan sejati adalah soal latihan tiada akhir. dan bangkitnya rasa welas asih, bukan sesuatu yang terjadi sekali dan menyeluruh dalam sekali momen besar di atas bantal.

Master dan bikkhu Shunryu Suzuki (1904-1971) membabarkan tentang pencerahan: 

Semacam misteri dalam diri seseorang yang belum mengalami pengalaman tercerahkan, pencerahan adalah sesuatu yang luar biasa. Tetapi jika telah mencapainya, itu bukan sesuatu. Tapi itu artinya juga sesuatu. Apakah anda paham? Bagi ibu yang memiliki anak, memiliki anak bukanlah sesuatu yang istimewa. Itulah zazen. Jadi, jika anda melanjutkan latihan ini, semakin banyak anda akan memperoleh sesuatu—tidak ada yang istimewa, tetapi bagaimanapun itu sesuatu. Anda boleh katakan 'alam semesta' atau 'sifat alamiah Kebuddhaan' atau 'pencerahan.' Anda mungkin menyebutnya dengan ragam penamaan, tetapi bagi orang yang memilikinya, itu bukan sesuatu, dan itu adalah sesuatu.
Baik legenda ataupun bukti-bukti yang terdokumentasi menghamparkan jika praktisi yang terampil dan kemengadaan yang tercerahkan mungkin memiliki kualitas mental luar biasa, bahkan mungkin supranatural. Namun, keterampilan semacam itu bukanlah bukti telah tercerahkan, juga tidak penting bagi pencerahan. Di sini juga, kita diingatkan untuk tidak mengejar keterampilan mental seperti itu karena berisiko salah kira jika jari menunjuk bulan sebagai bulan itu sendiri.

Jika Anda penasaran apakah anda telah tercerahkan, hampir pasti anda belum. Satu-satunya cara untuk menguji insight seseorang adalah dengan melungguhkannya di depan guru dhamma. Jangan kecewa jika prestasi Anda masihlah berantakan di bawah bimbingan seorang guru. Permulaan yang salah dan keliru adalah bagian tiada yerposahkan dari suayu proses, dan jika dan ketika Anda mencapai pencerahan, itu layaknya berdiri di atas fondasi kokoh dan Anda tidak akan keliru.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...