Pencerahan dan Satori
![]() |
Jan Kopřiva, unsplash.com |
Lebih menambah kebingungan lagi, enlightenment digunakan sebagai terjemahan bagi beberapa kosakata bahasa Asia ini, padahal tidak memiliki kesebangunan maksud. Misalnya, beberapa dekade lalu penutur bahasa Inggris mengalami perjumpaan dengan Buddhisme melalui tulisan-tulisan D.T. Suzuki (1870-1966), seorang cendekiawan Jepang yang pernah hidup sebagai bikkhu Rinzai Zen. Suzuki menggunakan "enlightenment" untuk padanan kata Jepang satori, yang berasal dari kata kerja satoru, 'mengetahui'.
Meski Suzuki dan beberapa master Zen angkatan pertama di Barat menjelaskan bahwa pencerahan sebagai pengalaman yang dapat dirasakan seseorang pada momen seketika dalam momen itu, sebagian besar master Zen dan manuskrip Zen memberi tahu kita bahwa pencerahan bukanlah suatu pengalaman tetapi suatu kondisi bukan terkondisi. Bahkan satori bukanlah pencerahan itu sendiri. Pada titik ini, Zen sejalan dengan bagaimana pencerahan dipandang oleh aliran-aliran lain dalam Buddhisme.
Pencerahan dan Bodhi (Theravada)
Dalam Buddhisme Theravada, bodhi dikaitkan dengan telah terang sempurnanya pandangan sesuai Empat Kebenaran Mulia, yang mengakhiri dukkha (penderitaan, tertekan/stres, ketidakpuasan, depresi). Orang yang telah terang sempurna pandangannya meninggalkan semua kotoran batim ialah arahat, orang yang telah terbebas dari siklus samsara atau tumimbal lahir tiada ujung. Saat hidup, ia memasuki katakanlah semacam nibbana terkondisi dan pada saat matinya, ia menikmati kedamaian nibbana sepenuhnya dan terbebas dari siklus tumimbal lahir.
Adakah metode penjelasan, para bhikkhu, yang dengannya seorang bhikkhu—terlepas dari keyakinan, terlepas dari preferensi pribadi, terlepas dari tradisi lisan, terlepas dari logika, terlepas dari penerimaan pandangan setelah merenungkannya—dapat menyatakan pengetahuan akhir sebagai berikut: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi penjelmaan dalam kondisi makhluk apa pun.
Pencerahan dan Bodhi (Mahayana)
Dalam Buddhisme Mahayana, bodhi dikaitkan dengan sempurnanya kebijaksanaan, atau Sunyata. Ini adalah ajaran bahwa semua fenomena kosong dari esensi-diri.
Sebagian besar dari kita menganggap hal-hal dan kemengadaan adalah terpisah berdiri sendiri-sendiri dan permanen. Namun anggapan semacam ini adalah proyeksi pikiran. Sebaliknya, dunia fenomena adalah hubungan sebab-akibat dan suatu kondisi yang terus menerus berubah, atau Asal Muasal Kemengadaan yang Interdependen. Benda-benda dan kemengadaan (baca: benda-benda yang muncul anggapan "aku ada") tiada esensi-diri, tidak nyata sekaligus bukan-nyata: doktrin Dua Kebenaran.
Menangkap Sunyata sepenuhnya melelehkan belenggu kemelekatan akan diri, yang menjadi sebab ketidakbahagiaan kita. Dualisme dalam membedakan antara diri dengan yang di luar diri tergantikan cara pandangan non-dualisme permanen di mana keseluruhan hal-hal adalah saling terkait.
Dalam Buddhisme Mahayana, gagasan mengenai praktik adalah gagasan bodhisattva, makhluk tercerahkan yang tetap berada di dunia fenomenal untuk membawa semua menuju pencerahan. Cita-cita bodhisattva lebih dari sekadar altruisme; juga merefleksikan kenyataan bahwa tidak satupun dari kita terpisah satu sama lain. "Pencerahan individu" adalah oksimoron.
Pencerahan dalam Vajrayana
Aliran Tantra dalam Buddhisme Vajrayana, merupakan percabangan dari Buddhisme Mahayana, percaya bahwa pencerahan bisa datang sekaligus dalam momen transformatif. Hal ini sejalan dengan keyakinan dalam Vajrayana bahwa berbagai hasrat/nafsu (passions) dan rintangan dalam hidup, alih-alih menjadi hambatan, dapat menjadi bahan bakar untuk transformasi menuju pencerahan yang dapat terjadi dalam seketika, atau setidaknya dalam kehidupan ini. Kunci dari praktik ini adalah keyakinan pada Sifat Kebuddhaan yang melekat, kesempurnaan bawaan dari sifat batin kita yang sekedar menunggu kita untuk mengenalinya. Namun keyakinan akan kemampuan untuk mencapai pencerahan secara tiba-tiba ini tidak sama dengan fenomena Satori. Bagi Vajrayana Buddhis, pencerahan bukanlah anggapan sesederhana berkenaan melewati masuk pintu, tetapi suatu kondisi yang tetap.Pencerahan dan Kebuddhaan-Alamiah
Menurut legenda, ketika Sang Buddha mencapai pencerahan, beliau mengatakan sesuatu demikian, "Bukankah itu luar biasa! Semua kreasi tercerahkan!" Keadaan inilah yang dikenal sebagai Sifat alamiah Kebuddhaan segala sesuatu, yang merupakan bagian inti dari praktik Buddhis di beberapa cabang. Dalam Buddhisme Mahayana, Sifat dari Kebuddhaan-alamiah adalah, Kebuddhaan ada pada semua materi. Karena tiap materi alamiahnya telah pada Kebuddhaan, tugasnya bukanlah untuk mencapai pencerahan, tetapi untuk merealisasinya.
Master Huineng (638-713) dari Tiongkok, Patriark Ke-6 Ch'an (Zen), mengumpamakan Kebuddhaan dengan bulan yang tertutup awan. Awan melambangkan kebodohan-diri an gelapnya kesadaran. Ketika awan disingkirkan, bulan menyembul, tampak.
Mengalami Langsung Seketika (Insight)
Bagaimana dengan pengalaman langsung seketika (insight), yang membahagiakan, dan transformatif itu? Anda mungkin pernah mengalami momen demikian dan merasa bahwa Anda secara spiritual sedang mengalami sesuatu yang mendalam. Pengalaman semacam ini, meski menenangkan dan terkadang disertai dengan terangnya pandangan dan sejati, sebagaimana adanya, itu bukanlah pencerahan. Bagi sebagian besar praktisi, pengalaman spiritual yang membahagiakan yang tidak didasarkan pada praktik Jalan Berunsur Delapan untuk mencapai pencerahan kemungkinannya tidak akan bersifat transformatif. Mengejar kondisi bahagia itu sendiri bisa menjadi bentuk keinginan dan kemelekatan. Padahal jalan menuju pencerahan adalah dengan melepaskan kemelekatan dan keinginan.
Master Zen Barry Magid bercerita tentang Master Hakuin, tentang "Tidak Ada yang Tersembunyi":
Latihan pasca-satori bagi Hakuin berarti, pada akhirnya berhenti disibukkan dengan kondisi dan pencapaian pribadi dan mengabdikan diri dan latihan untuk membantu dan mengajari orang lain. Pada akhirnya, pada titik terjauh, ia menyadari bahwa pencerahan sejati adalah soal latihan tiada akhir. dan bangkitnya rasa welas asih, bukan sesuatu yang terjadi sekali dan menyeluruh dalam sekali momen besar di atas bantal.
Master dan bikkhu Shunryu Suzuki (1904-1971) membabarkan tentang pencerahan:
Semacam misteri dalam diri seseorang yang belum mengalami pengalaman tercerahkan, pencerahan adalah sesuatu yang luar biasa. Tetapi jika telah mencapainya, itu bukan sesuatu. Tapi itu artinya juga sesuatu. Apakah anda paham? Bagi ibu yang memiliki anak, memiliki anak bukanlah sesuatu yang istimewa. Itulah zazen. Jadi, jika anda melanjutkan latihan ini, semakin banyak anda akan memperoleh sesuatu—tidak ada yang istimewa, tetapi bagaimanapun itu sesuatu. Anda boleh katakan 'alam semesta' atau 'sifat alamiah Kebuddhaan' atau 'pencerahan.' Anda mungkin menyebutnya dengan ragam penamaan, tetapi bagi orang yang memilikinya, itu bukan sesuatu, dan itu adalah sesuatu.
Jika Anda penasaran apakah anda telah tercerahkan, hampir pasti anda belum. Satu-satunya cara untuk menguji insight seseorang adalah dengan melungguhkannya di depan guru dhamma. Jangan kecewa jika prestasi Anda masihlah berantakan di bawah bimbingan seorang guru. Permulaan yang salah dan keliru adalah bagian tiada yerposahkan dari suayu proses, dan jika dan ketika Anda mencapai pencerahan, itu layaknya berdiri di atas fondasi kokoh dan Anda tidak akan keliru.

