Langsung ke konten utama

Mengapa Orang Cerdas Lebih Bahagia Menyendiri

Pada tahun 2016, ada sebuah jurnal studi dipublikasi oleh the British Psychological Society  (unduhan gratis di sini) melaporkan mengenai kaitan bagaimana cara nenek moyang kita memenuhi kebutuhan sehari-harinya di masa lalu memengaruhi cara merasa kita yang hidup di zaman modern, para peneliti menemukan sesuatu yang akan mengejutkan bahwa beberapa individu di antara nenek moyang kita sangat cerdas. Bila umumnya orang lebih bahagia ketika mereka di tengah banyak teman, sementara orang-orang cerdas sebaliknya.
Sangat mengejutkan, temuan dari penelitian terkait mengapa orang sangat cerdas memiliki pengalaman merasakan kepuasan rendah ketika lebih sering bersosialisasi dengan kawan-kawannya dan lingkungan sosialnya. Temuan dari penelitian melaporkan bahwa evolusi kecerdasan berkaitan dengan kemampuan unik individu dalam memecahkan dan menyelesaikan tantangan. Semakin memiliki kualitas kemampuan penyelesaian masalahnya sendiri, seseorang yang merupakan bagian suatu kelompok, semakin kurang begitu bergantung pada kawanan dan lingkungan untuk pemecahan masalah-masalah yang mereka hadapi. Untuk alasan ini pula, mengapa individu yang kurang cerdas lebih merasa bahagia di tengah sosial perkawanan, yang selain adanya pengalaman diri merasa lebih berharga, juga terkait problem solving.

Periset, Norman P. Li dan Satoshi Kanazawa, yang mana keduanya dari Singapore Management University, Singapura dan London School of Economics and Political Science, Inggris, meneliti “teori padang sabana” dalam kaitannya dengan kebahagiaan.

Teori padang sabana—disebut pula "hipotesis warisan evolusi" dan kadang "hipotesis ketidakcocokan"—menyatakan bahwa kita bereaksi terhadap keadaan sekeliling seperti halnya yang telah dilakukan nenek moyang kita, setelah secara psikologis berevolusi yang bertolak dari kebutuhan sehari-harinya nenek moyang kita ketika hidup di padang sabana.

Studi menganalisis data yang dikumpulkan dari wawancara yang dilakukan oleh National Longitudinal Study of Adolescent Health (Add Health) pada 2001 – 2002 di mana 15,197 individu berusia 18-28 tahun menjadi partisipan penelitian. Periset mencari korelasi antara tempat tinggal seseorang yang diwawancarai—di daerah rural atau urban—dan kepuasan menjalani hidup. Mereka tertarik untuk menilai bagaimana densitas penduduk dan pertemanan berpengaruh pada kebahagiaan.


Cara Kita Merasa di Tengah Populasi Besar Kelompok

Secara garis besar, studi mendapati jika orang merasa kurang bahagia tinggal di daerah dengan densitas populasi yang lebih besar. Laporan penelitian memandang temuan itu sebagai yang mendukung teori padang sabana karena kita secara naluriah akan merasa tidak nyaman dalam kelompok yang lebih besar karena—seperti bukti yang telah mereka kutip—evolusi otak kita untuk fungsi kelompok sosial yang cacahnya sekitar 150 orang:
  • Membandingkan ukuran neokorteks kita dengan primata lain dan jumlah individu dalam suatu kelompok di mana mereka tinggal di tengahnya menunjukkan ukuran alamiah kelompok manusia adalah 150 orang (Dunbar, 1992).
  • Simulasi komputeristik menunjukkan bahwa evolusi penghindaran risiko hanya terjadi dalam kelompok sekitar 150 orang (Hintze, Olson, Adami, & Hertwig, 2013).
  • Ukuran rata-rata populasi suatu masyarakat pemburu-pengumpul modern adalah 148,4 orang (Dunbar, 1993).
  • Desa-desa neolitik di Mesopotamia memiliki cacah populasi 150-200 orang (Oates, 1977)..
  • Ketika suatu kelompok melebihi cacah 150-200 orang, itu cenderung akan terpecah menjadi dua untuk memfasilitasi terjadinya kerjasama dan hubungan timbal balik yang lebih besar di antara para anggotanya (Chagnon, 1979).
  • Rata-rata jaringan relasional perorangan, sebagaimana terlihat dari jumlah kartupos liburan yang dikirim setiap orang per tahun, rata-rata adalah sebanyak 153,5 (Hill & Dunbar, 2003).

Artush, Shutterstock.
Walau begitu, studi juga mendapati adanya perasaan negatif (baca: tidak nyaman) berada di tengah banyak orang bagi individu-individu dengan kecerdasan rata-rata. Terkait hal ini, periset menyatakan jika dahulu nenek moyang kita yang paling cerdas adalah yang lebih mampu beradaptasi dengan kelompok yang lebih besar di padang sabana karena keuntungan fleksibilitas strategis yang lebih besar dan kecerdikan bawaan, sehingga keturunan-keturunannya merasa tidak begitu tertekan di tengah lingkungan urban saat ini.

Anda Bahagia dalam Banyak Pertemanan atau Sebaliknya

Walau tak terbantahkan bahwa memiliki pertemanan dam bersosial yang berkualitas dengan mereka meningkatkan kepuasan hidup bagi kebanyakan orang, secara mengejutkan Li, Satoshi, dan Kanazawa mencatat, bahwa hanya ada satu alasan mengapa hal itu terjadi dan menyimpulkan bahwa pertemanan memberi rasa puas bagi kebutuhan psikologis. Misalnya rasa keterikatan, kebutuhan untuk dibutuhkan pihak lain, dan sebagai kanal berbagi pengalaman. Namun, alasan mengapa orang memiliki kebutuhan psikologis tersebut tetap belum terpecahkan.

© Creativa Images, ShutterStock.

Li dan Kanazawa merasa bahwa kita tak perlu menyelisik lebih jauh akan teori padang sabana tadi. Keduanya menyatakan bahwa pertemanan/bersekutu sangat penting untuk keberlangsungan hidup, sebab hal itu memfasilitasi adanya berburu secara kelompok  dan berbagi makanan, bereproduksi, dan bahkan membesarkan anak-anak secara berkelompok.

Data yang mereka analisis mendukung asumsi bahwasanya pertemanan berkualitas—dan tentu ada beberapa bentuk pertemanan lebih berkualitas ketimbang banyak pertemanan yang ada di mana tidak lebih berkualitas—secara signifikan meningkatkan kepuasan hidup bagi kebanyakan orang.

Namun, pada orang yang sangat cerdas, temuannya berbanding terbalik: Orang cerdas merasa lebih bahagia menyendiri ketimbang ketika bersama  orang lain, bahkan dengan sahabat-sahabatnya, berada di sekitarnya. Kehidupan sosial yang “sehat” sebenarnya membuat orang-orang yang sangat cerdas kurang mendapatkan kepuasan hidup. Apa karena keinginan mereka lebih aspiratif dan berorientasi pada tujuan—dan keberadaan orang lain mengganggu?

Namun begitu, untuk berjaga-jaga hasil temuan ini agar tidak diterima begitu saja, peneliti juga mendapati bahwa menghabiskan lebih banyak waktu bersosialisasi dengan teman sebenarnya juga indikator kecerdasan yang lebih tinggi! Adanya kontradiksi membingungkan ini setidaknya kontra-intuitif. Kecuali orang-orang cerdas tersebut tidak begitu bersosialisasi seperti halnya mereka yang berkecenderungan masokis.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...