Teori padang sabana—disebut pula "hipotesis warisan evolusi" dan kadang "hipotesis ketidakcocokan"—menyatakan bahwa kita bereaksi terhadap keadaan sekeliling seperti halnya yang telah dilakukan nenek moyang kita, setelah secara psikologis berevolusi yang bertolak dari kebutuhan sehari-harinya nenek moyang kita ketika hidup di padang sabana.
Studi menganalisis data yang dikumpulkan dari wawancara yang dilakukan oleh National Longitudinal Study of Adolescent Health (Add Health) pada 2001 – 2002 di mana 15,197 individu berusia 18-28 tahun menjadi partisipan penelitian. Periset mencari korelasi antara tempat tinggal seseorang yang diwawancarai—di daerah rural atau urban—dan kepuasan menjalani hidup. Mereka tertarik untuk menilai bagaimana densitas penduduk dan pertemanan berpengaruh pada kebahagiaan.
Cara Kita Merasa di Tengah Populasi Besar Kelompok
- Membandingkan ukuran neokorteks kita dengan primata lain dan jumlah individu dalam suatu kelompok di mana mereka tinggal di tengahnya menunjukkan ukuran alamiah kelompok manusia adalah 150 orang (Dunbar, 1992).
- Simulasi komputeristik menunjukkan bahwa evolusi penghindaran risiko hanya terjadi dalam kelompok sekitar 150 orang (Hintze, Olson, Adami, & Hertwig, 2013).
- Ukuran rata-rata populasi suatu masyarakat pemburu-pengumpul modern adalah 148,4 orang (Dunbar, 1993).
- Desa-desa neolitik di Mesopotamia memiliki cacah populasi 150-200 orang (Oates, 1977)..
- Ketika suatu kelompok melebihi cacah 150-200 orang, itu cenderung akan terpecah menjadi dua untuk memfasilitasi terjadinya kerjasama dan hubungan timbal balik yang lebih besar di antara para anggotanya (Chagnon, 1979).
- Rata-rata jaringan relasional perorangan, sebagaimana terlihat dari jumlah kartupos liburan yang dikirim setiap orang per tahun, rata-rata adalah sebanyak 153,5 (Hill & Dunbar, 2003).
Artush, Shutterstock. |
Anda Bahagia dalam Banyak Pertemanan atau Sebaliknya
![]() |
| © Creativa Images, ShutterStock. |
Li dan Kanazawa merasa bahwa kita tak perlu menyelisik lebih jauh akan teori padang sabana tadi. Keduanya menyatakan bahwa pertemanan/bersekutu sangat penting untuk keberlangsungan hidup, sebab hal itu memfasilitasi adanya berburu secara kelompok dan berbagi makanan, bereproduksi, dan bahkan membesarkan anak-anak secara berkelompok.
Data yang mereka analisis mendukung asumsi bahwasanya pertemanan berkualitas—dan tentu ada beberapa bentuk pertemanan lebih berkualitas ketimbang banyak pertemanan yang ada di mana tidak lebih berkualitas—secara signifikan meningkatkan kepuasan hidup bagi kebanyakan orang.
Namun, pada orang yang sangat cerdas, temuannya berbanding terbalik: Orang cerdas merasa lebih bahagia menyendiri ketimbang ketika bersama orang lain, bahkan dengan sahabat-sahabatnya, berada di sekitarnya. Kehidupan sosial yang “sehat” sebenarnya membuat orang-orang yang sangat cerdas kurang mendapatkan kepuasan hidup. Apa karena keinginan mereka lebih aspiratif dan berorientasi pada tujuan—dan keberadaan orang lain mengganggu?
Namun begitu, untuk berjaga-jaga hasil temuan ini agar tidak diterima begitu saja, peneliti juga mendapati bahwa menghabiskan lebih banyak waktu bersosialisasi dengan teman sebenarnya juga indikator kecerdasan yang lebih tinggi! Adanya kontradiksi membingungkan ini setidaknya kontra-intuitif. Kecuali orang-orang cerdas tersebut tidak begitu bersosialisasi seperti halnya mereka yang berkecenderungan masokis.

