Langsung ke konten utama

Petunjuk Praktik Berbahagia ala Aristoteles

Banyak dari kita bertanya "Apa yang harus aku lakukan dalam hidup?" Ketika merenungkan apa itu etika, banyak filsuf mendekatinya dengan merumuskan pertanyaan "Aku seharusnya menjadi manusia yang seperti apa?" Para filsuf sering memilih menempatkan dirinya dalam etika kebajikan dalam merumuskan jawaban tersebut. Aristoteles, salah satu filsuf paling kondang sepanjang masa, mengembangkan suatu sistem komprehensif etika kebajikan yang bisa kita pelajari hingga hari ini.

Mengapa harus Berbudi Pekerti Luhur dan Bajik?

Dalam naskah Etika Nikomakea, Aristoteles menulis bahwa manusia adalah hewan sosial dan hewan rasional (tukisan yang kemudian disadur secara bebas Algazali dan memadankannya dengan hayawan an-natiq yang juga menjadi judul naskah tipisnya) yang berusaha untuk "hidup dengan baik". Ia merancang suatu sistem etika untuk menjadi pedoman orang-orang mencapai eudaimonia, istilah Yunani yang kira-kira berarti menjalani hidup dengan baik atau hidup yang berkembang.

Eudaimonia dicapai dengan mempraktikkan kepatutan mengarungi kehidupan ini dan mengembangkan sifat-sifat tertentu sampai taraf di mana kita bahkan tidak perlu berpikir rasional atau menggunakan pertimbangan akal atas pilihan mana yang tepat ketika menjatuhkan pilihan dan bertindak. Sebuah usaha untuk melatih dan menekankan intuisi. Kebahagiaan hanya mungkin dalam tataran intuitif. Orang dengan kualitas ini akan mengalami kepuasan atau kepenuhan batin atau rasa syujur sebenarnya. Suatu kualitas tertentu dalam menjalani hidup yang sepenuhnya dan hidup swlaras kenyataan dikibati.

Adapaun Aristoteles memandang kebajikan sebagai karakter dan kecenderungan untuk bertindak dengan cara tertentu. Kita memperolehnya melalui latihan praktik dan dengan menauladani "teladan moral" sampai kita berhasil menginternalisasi kebajikan ke dalam diri kita sendiri. Kita mempraktikkan bertarak atau menghindari sesuatu, berkarakter pemberani karena telah menginternalisasi keberanian, dan seterusnya. Pada akhirnya, kebajikan adalah habits. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa setiap kebajikan adalah "permatanya hakikat" yang terletak antara sifat buruk berlebihan dan batin yang selalu merasa kurang. Dengan analogi bertarak yang disuguhkan Aristoteles, jika kita memiliki sifat buruk berupa rasa kurang begitu besar yang diibaratkan haus, kita akan bertindak melampaui batas, kita akan meminum sebanyak mungkin. Namun adalah sifat buruk pula jika kita berlebihan dalam bertarak yaitu untuk tidak meminum sama sekali. Aristoteles melihat kedua sifat yang di sudut bertentangan itu sebagai ketidakpatutan. Orang yang berbudi pekerti luhur, karena dalam diri telah terlatih, tahu seberapa banyak ia sepatutnya meminum tanpa perlu terlalu banyak minum.

Apa itu Kebajikan ala Aristoteles?
Ajaran tentang kebajikan yang Aristoteles tuangkan dalam Etika Nikomakea adalah sebagai berikut.

Keberanian, yaitu titik sumbu antara watak pengecut dan ceroboh, orang yang berani adalah orang yang sadar akan bahaya yang sekiranya akan dihadapi ketika memutuskan hendak maju melakukan sesuatu, tetapi tetap pergi menerjang dengan cara apa pun.

Kesederhanaan, yaitu kebajikan yang berdiri di antara memanjakan diri berlebihan dan ketidakpekaan. Aristoteles memandang orang yang tidak pernah minum sama kerasnya dengan orang yang kebanyakan minum.

Kebebasan, yaitu terkait keutamaan berderma, ini adalah titik tengah antara kikir dan memberi di luar batas kemampuan.

Keluhuran, yaitu kemewahan hidup paling utama yang letak posisinya di antara kikir dan brah-breh. Aristoteles tidak menyarankan untuk menjadi pertapa, tetapi juga memperingatkan agar tidak mencolok atau berlebihan.

Dermawan, ini berkaitan dengan menjaga karakter diri untuk tidak melecehkan diri sendiri. Karakter ini posisinya di tengah antara tidak memberi sanjungan atau apresiasi sama sekal ke diri sendiri dan ilusi akan keagungan diri. Sudah pasti anda juga harus bertindak berdasarkan perasaan akan harga diri anda dan berjuang demi keluhuran itu.

Kesabaran, yaitu kebajikan yang menjadi kendali emosi anda yang libarat kuda. Orang sabar tidak seyogyanya mudah mengumbar amarah atau tidak marah sama sekali ketima seharusnya memang marah dibutuhkan.

Kejatidirian, Aristoteles menempatkan keutamaan jujur berada di tengah-tengah antara sifat buruk kebiasaan berbohong dan ketidakbijaksanaan atau pongah.

Selera humor, berada pada titik tengah antara membadut, ini adalah keutamaan dari selera humor yang baik.

Keramahan. Meski bersikap ramah mungkin tidak tampak sebagai kebajikan moral, Aristoteles mengklaim bahwa menjalin persahabatan adalah bagian penting dalam menjalani kehidupan yang baik. Kebajikan ini terletak antara acuh dan terlalu ramah terhadap begitu banyak orang.

Rada malu, yang mana posisinya sifat ini di antara terlalu pemalu dan tidak tahu malu. Orang yang memiliki kadar rasa malu yang pas akan mengerti ketika dirinya telah melakukan kesalahan secara sosial atau moral, tetapi tidak akan terlalu takut untuk tidak mengambil risiko.

Keadilan, ini adalah kebajikan berkaitan berlaku adil dengan orang lain. Sifat ini terletak di antara keegoisan dan ketidakegoisan. Kebajikan ini juga dapat diterapkan dalam situasi yang berbeda dan pada seluruh aspek kehidupan, dengan berbagai bentuknya yang disesuaikan kondisi.

Kesimpulan Akhir

Aristoteles melihat etika lebih sebagai seni hidup ketimbang sebagai pengetahuan. Juga, penjelasannya kurang begitu spesifik. Kita harus belajar pendekatan yang tepat untuk suatu situasi tertentu sebagai bagian dari mengembangkan moralitas kita. Hanya karena seseorang jujur, misalnya, tidak berarti ia tidak boleh berbohong saat diperlukan pada situasi yang kiranya ditimbang bijaknya memang harus melakukannya. Meski dengan mengimprovisasinya, kita bisa mengambil hikmat-hikmat, ia juga tidak bermaksud mengatakan bahwa kita tidak boleh melanggar peraturan. Ini membuat etika kebajikan lebih fleksibel daripada sistem etika deontologis. Namun juga lebih rumit untuk diterapkan karena kita harus menentukan kapan kita harus berbohong, marah, atau berbangga diri sendiri.

Perlu diingat pula bahwa daftar kualitas-kualitas yang diajukan oleh Aristoteles ditujukan untuk orang-orang kelas atas Yunani yang memiliki pendidikan layak dan cukup beruntung. Keagungan kebajikan, misalnya, tidak mungkin dipraktikkan oleh orang yang memiliki penunjang material hidup terbatas. Kita semua pasti menghadapi bahaya pada suatu saat. Jad, kita harus bertanya bagaimana caranya menjadi pemberani. Kita semua harus berurusan dan bersinggungan dengan orang lain, jadi kita harus bertanya bagaimana caranya bersikap ramah dan juga pemberani. Kita semua pernah muncul kemarahan, jadi kita harus menentukan cara bagaimana memadamkan letupan kemarahan dalam diri.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...