Langsung ke konten utama

Apa Itu Kecerahan?

Baru-baru ini saya terlibat dalam dua diskusi berbeda mengenai arti pencerahan. Kita yang menapaki jalan spiritual memiliki beberapa pemahaman tentang apa arti istilah tersebut, tetapi ketika kita ditempatkan di momen lain tertentu agar mengutarakan definisi yang jernih, kita mendapati diri menjadi berlidah kelu.

Saya akui mengalami kesulitan merumuskan pengartian yang layak. Ketika teman bertanya apa itu pencerahan, saya memikirkannya beberapa saat. Saya tidak yakin apakah saya akan memberikan pengartian yang layak untuknya. Nah, sekarang saya punya waktu luang untuk mernungkannya.

Pertama, saya akan katakan bahwa kita sering menggunakan beberapa pengartian berlainan dalam menggambarkan konsep pencerahan. Pencerahan di sini meliputi ketergugahan dan berkembangnya spirit, perhatian sadar sepenuhnya, dll. Saya yakin anda mungkin bisa menemukan beberapa pengertian lain lagi.

Intinya, saya menggambarkannya sebagai proses realisasi diri. Artinya, kita mencoba untuk mencapai titik sadar akan munculnya siapa atau apa sejatinya yang selama ini dianggap aku—apa pun itu. Karena sebagian besar dari kita tidak tahu apa yang selama ini dianggap "aku", ini adalah perjalanan ke the unknown.

Beberapa orang yang telah mengalami pencerahan cukup beruntung untuk menyadari seketika kesejatian-nya, melalui pengalaman spiritual mendalam. Meski begitu, apa yang mereka sadari dipengaruhi oleh kepercayaan spiritual sebelumnya. Saya menyaksikan banyak orang berjuang untuk menyadari negasi apa-yang-nyata dari apa-itu-kepercayaan. Di sinilah saya pikir jika latihan meditasi kesadaran membantu. Latihan membantu kita melepas kemelekatan kita pada cara pandang lama, demi pengamatan objektif, dan kemudian sadar.


Pencerahan sebagai Proses Tahap demi Tahap

Definisi pencerahan terbaik yang saya temukan saat ini, adalah meningkatnnya kemampuan dalam memandang dunia sebagaimana adanya. Ada jenis kesadaran lain, yaitu jenis yang dengannya itu kita selama ini memandang dunia. Sebagian besarnya adalah pikiran bawah sadar kita. Bagaimanapun, pikiran bawah sadar kita dapat memproses lebih banyak informasi daripada pikiran sadar kita, tanpa kita sadari sepenuhnya. Namun hal tersebut juga lebih dari sekedar itu.

Selama masa-masa meningkatnya kemawasan kesadaran ini, saya merasakan bahwa kita dalam tataran terdalam saling terhubung, senyatanya tiada terpisah, dan anggapan kita akan diri yang terpisah di dunia realitas ini sekedar hasil dari ketidakmampuan memandang melampaui manifestasi wujud fisis kita. Namun begitu, bukanlah mustahil kita memandang melampaui ilusi ini, memandang kemenyeluruhan dunia sebagaimana adanya, dan mulai membuat keputusan yang lebih baik. Artinya, kita dapat memandang bagaimana kerja dunia dan bertindak seselaras mungkin dengannya dan inilah yang mengarahkan pada lenyapnya penderitaan.

Saya renung-renungkan, pencerahan adalah pergeseran tahap demi tahap kesadaran manusia dalam memandang diri dengan apapun di sekitaran yang eksis. Berkenaan pengembangan lebih lanjut dari kualitas bawaan lahir manusia ini, juga tidak menutup kemungkinan bisa disadari oleh kehidupan secara umum lainnya, seperti halnya kita lambat laun bisa berjalan tegak atau mengembangkan lima jari di tangan. Pencerahan rasanya merupakan kebangkitan spirit baru nan segar yang mana dengan itu kita menyadari realitas dunia.

Sekarang, setelah kita tahap demi tahap memiliki perkembangan cara pandang, bahwasanya ada lebih banyak hal terkait apa itu menjadi manusia daripada sekadar terbatasi perwujudan fisik kita, kita menemukan jalan dalam mempercepat proses tahap demi tahap ini. Meditasi adalah sarana ampuh untuk membantu kita menyadari Sifat Kesejatian. Tentu saja, cukup sulit untuk mencapai pencerahan sepenuhnya, jikalaupun hal seperti itu memang ada, dalam hidup kita.

Jadi, pertanyaannya, apa yang terjadi pada kita setelah mati? Akankah spirit kita melanjutkan perjalanan kembali? Saya tidak tahu. Dan bahkan jika saya melakukannya, saya tidak akan bisa membuktikannya ke orang lain. Ini mirip tantangan bagi kita yang hendak menunjukkan ke orang lain kepada jalan pencerahan.


Pertanyaan Ilmiah vs. Spiritual

Banyak orang dengan latar belakang akademis mengalami kesulitan dan masalah spiritualitas. Dengan penyelidikan ilmiah, kita dapat melakukan pengukuran aktivitas dan menarik kesimpulan demi menunjukkan hubungan sebab-akibat di dunia ini. Berkenaan spiritualitas, kita belum memiliki instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur kesadaran sampai pada tarafnya yang tertinggi. Kita umumnya dapat mengukur aktivitas otak, tetapi tak bisa mengukur apa yang sebenarnya dirasakan subjek.

Dalam penelitian ilmiah, kita biasanya mencoba menunjukkan kepada orang lain temuan yang telah kita kerjakan, melalui data dan analisis logis. Dalam pengembangan spiritual, kita membantu subjek mengembangkan kemampuannya untuk memandang realitas dunia secara objektif, sehingga dapat melihat sifat sejatinya apa diri dalam kemengadaannya. Inilah mengapa sangat sulit untuk mengetahui apa yang terjadi ketika kita mati, atau ketika kita mengalami ketergugahan spiritual kita.

Ketika seseorang bertanya kepada saya apakah saya khawatir tentang kematian, saya memberi tahu bahwa saya tidak terlalu khawatir. Saya belum sepenuhnya yakin apa yang akan terjadi pada saya, tetapi dari apa yang saya tahu, ada dua kemungkinan: 1) Kesadaran saya akan terus ada tanpa tubuh fisik saya, atau 2) Baik tubuh dan kesadaran saya sam-sama tiada kekal.
Alternatif mana pun tidak masalah. Jika kesadaran saya berlanjut tanpa tubuhnya, sumber dari semua rasa sakit dan penderitaan saya, itu akan menjadi hal luar biasa menderitakan. Jika tubuh dan kesadaran saya tiada lagi, maka saya tidak perlu mengalami apa-apa lagi. Yang kedua adalah yang paling menguntungkan!

Jadi, pencerahan tampaknya merupakan realisasi sesadar-sadarnya tetang apa kita sebenarnya. Saya tidak yakin apa ini pengartian yang sangat mudah ditangkap, tetapi saya pikir hal ini adalah pengartian yang cukup baik yang dapat saya pergunakan untuk sekarang. Mungkin ketika saya lebih tercerahkan, saya akan menemukan yang lebih baik.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...