Saya akui mengalami kesulitan merumuskan pengartian yang layak. Ketika teman bertanya apa itu pencerahan, saya memikirkannya beberapa saat. Saya tidak yakin apakah saya akan memberikan pengartian yang layak untuknya. Nah, sekarang saya punya waktu luang untuk mernungkannya.
Pertama, saya akan katakan bahwa kita sering menggunakan beberapa pengartian berlainan dalam menggambarkan konsep pencerahan. Pencerahan di sini meliputi ketergugahan dan berkembangnya spirit, perhatian sadar sepenuhnya, dll. Saya yakin anda mungkin bisa menemukan beberapa pengertian lain lagi.

Intinya, saya menggambarkannya sebagai proses realisasi diri. Artinya, kita mencoba untuk mencapai titik sadar akan munculnya siapa atau apa sejatinya yang selama ini dianggap aku—apa pun itu. Karena sebagian besar dari kita tidak tahu apa yang selama ini dianggap "aku", ini adalah perjalanan ke the unknown.
Beberapa orang yang telah mengalami pencerahan cukup beruntung untuk menyadari seketika kesejatian-nya, melalui pengalaman spiritual mendalam. Meski begitu, apa yang mereka sadari dipengaruhi oleh kepercayaan spiritual sebelumnya. Saya menyaksikan banyak orang berjuang untuk menyadari negasi apa-yang-nyata dari apa-itu-kepercayaan. Di sinilah saya pikir jika latihan meditasi kesadaran membantu. Latihan membantu kita melepas kemelekatan kita pada cara pandang lama, demi pengamatan objektif, dan kemudian sadar.
Pencerahan sebagai Proses Tahap demi Tahap
Definisi pencerahan terbaik yang saya temukan saat ini, adalah meningkatnnya kemampuan dalam memandang dunia sebagaimana adanya. Ada jenis kesadaran lain, yaitu jenis yang dengannya itu kita selama ini memandang dunia. Sebagian besarnya adalah pikiran bawah sadar kita. Bagaimanapun, pikiran bawah sadar kita dapat memproses lebih banyak informasi daripada pikiran sadar kita, tanpa kita sadari sepenuhnya. Namun hal tersebut juga lebih dari sekedar itu.
Selama masa-masa meningkatnya kemawasan kesadaran ini, saya merasakan bahwa kita dalam tataran terdalam saling terhubung, senyatanya tiada terpisah, dan anggapan kita akan diri yang terpisah di dunia realitas ini sekedar hasil dari ketidakmampuan memandang melampaui manifestasi wujud fisis kita. Namun begitu, bukanlah mustahil kita memandang melampaui ilusi ini, memandang kemenyeluruhan dunia sebagaimana adanya, dan mulai membuat keputusan yang lebih baik. Artinya, kita dapat memandang bagaimana kerja dunia dan bertindak seselaras mungkin dengannya dan inilah yang mengarahkan pada lenyapnya penderitaan.
Saya renung-renungkan, pencerahan adalah pergeseran tahap demi tahap kesadaran manusia dalam memandang diri dengan apapun di sekitaran yang eksis. Berkenaan pengembangan lebih lanjut dari kualitas bawaan lahir manusia ini, juga tidak menutup kemungkinan bisa disadari oleh kehidupan secara umum lainnya, seperti halnya kita lambat laun bisa berjalan tegak atau mengembangkan lima jari di tangan. Pencerahan rasanya merupakan kebangkitan spirit baru nan segar yang mana dengan itu kita menyadari realitas dunia.
Sekarang, setelah kita tahap demi tahap memiliki perkembangan cara pandang, bahwasanya ada lebih banyak hal terkait apa itu menjadi manusia daripada sekadar terbatasi perwujudan fisik kita, kita menemukan jalan dalam mempercepat proses tahap demi tahap ini. Meditasi adalah sarana ampuh untuk membantu kita menyadari Sifat Kesejatian. Tentu saja, cukup sulit untuk mencapai pencerahan sepenuhnya, jikalaupun hal seperti itu memang ada, dalam hidup kita.
Jadi, pertanyaannya, apa yang terjadi pada kita setelah mati? Akankah spirit kita melanjutkan perjalanan kembali? Saya tidak tahu. Dan bahkan jika saya melakukannya, saya tidak akan bisa membuktikannya ke orang lain. Ini mirip tantangan bagi kita yang hendak menunjukkan ke orang lain kepada jalan pencerahan.
Pertanyaan Ilmiah vs. Spiritual
Dalam penelitian ilmiah, kita biasanya mencoba menunjukkan kepada orang lain temuan yang telah kita kerjakan, melalui data dan analisis logis. Dalam pengembangan spiritual, kita membantu subjek mengembangkan kemampuannya untuk memandang realitas dunia secara objektif, sehingga dapat melihat sifat sejatinya apa diri dalam kemengadaannya. Inilah mengapa sangat sulit untuk mengetahui apa yang terjadi ketika kita mati, atau ketika kita mengalami ketergugahan spiritual kita.
Ketika seseorang bertanya kepada saya apakah saya khawatir tentang kematian, saya memberi tahu bahwa saya tidak terlalu khawatir. Saya belum sepenuhnya yakin apa yang akan terjadi pada saya, tetapi dari apa yang saya tahu, ada dua kemungkinan: 1) Kesadaran saya akan terus ada tanpa tubuh fisik saya, atau 2) Baik tubuh dan kesadaran saya sam-sama tiada kekal.
Alternatif mana pun tidak masalah. Jika kesadaran saya berlanjut tanpa tubuhnya, sumber dari semua rasa sakit dan penderitaan saya, itu akan menjadi hal luar biasa menderitakan. Jika tubuh dan kesadaran saya tiada lagi, maka saya tidak perlu mengalami apa-apa lagi. Yang kedua adalah yang paling menguntungkan!