Bidang neuroteologi terus berkembang yang awalnya mulai muncul di beberapa dekade yang lalu. Menurut definisi paling sederhana, neuroteologi merujuk pada bidang keilmuan yang berusaha memahami hubungan antara otak dengan religiusitas atau spiritualitas dalam diri kita. Ujar Andrew Newberg, seorang neurosaintis, penting untuk mempertimbangkan kedua lingkup neuroteologi tadi secara meluas. Dengan begitu, lingkup "neuro" meliputi pencitraan otak, psikologi, neurologi, kedokteran, dan bahkan antropologi. Adapun sisi “teologi” tidak sekedar meliputi teologi itu sendiri, tetapi juga berbagai aspek yang bertalian dengan keyakinan, sikap, praktik berperilaku, dan pengalaman keagamaan.
Bermanfaat bagi Kesehatan Mental dan Spiritualitas
Neuroteologi juga berkisar seputar konsep yang sangat esoteris, meliputi pertanyaan seputar kehendak bebas, kesadaran (consciousness), dan jiwa/roh, hingga konsep yang sangat praktis seperti halnya memahami bagaimana otak berfungsi dan hubungan antara spiritualitas dengan kesehatan fisik serta kesehatan mental. Subjek yang terakhir ini disebut "neuroteologi terapan." Oleh karena itu, neuroteologi terapan berusaha memahami aspek-aspek kesehatan yang berkaitan dengan otak kita dan spirit diri kita. Secara khusus, kita dapat mencoba memahami bagaimana menjadi religiusitas atau spiritualitas, atau melakukan berbagai praktik-praktiknya, dapat bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan kita secara keseluruhan. Dalam buku berjudul Brain Weaver: Creating the Fabric for Healthy Mind through Integrative Medicine, membahas hal penting akan kesehatan otak manusia.

Bahkan bagi siapa saja yang tidak percaya dalam menjalankan praktik semisal meditasi atau merapal kata-kata doa dapat pula memberi manfaat dalam meringankan stres dan kecemasan.Semakin banyak penelitian memperlihatkan bagaimana spiritualitas dan kesehatan mental itu bertalian. Hal pentingnya, penelitian telah menunjukkan bahwa mereka yang religius ataupun spiritualis, level depresi, kecemasan, dan bunuh diri kelompok ini lebih rendah. Ini berlaku di semua rentang usia, merujuk pada penelitian akan para remaja menunjukkan bahwa pencarian agama. Pum spiritualisme adalah pelindung terhadap masalah kesehatan mental. Dan banyak orang dewasa menyebut keyakinan riligius ataupun laku spiritual sebagai hal penting untuk mengatasi berbagai tekanan hidup.
Cara Kerja Tak Langsung
 |
Pemercaya Islam berkumpul untuk berdoa merayakan momen keagamaan (indiatoday.com).
|
Jika ada hubungan positif antara spiritualitas dengan kesehatan mental, kita mungkin bertanya tebtang bagaimana cara kerjanya. Buku tadi membagi cara kerjanya menjadi cara kerja tidak langsung dan langsung. Mekanisme tidak langsung berkaitan dengan aspek-aspek tertentu dari tradisi keagamaan tertentu yang pada akhirnya memiliki manfaat untuk tambahan bagi kesehatan mental. Misalnya, pergi ke gereja atau acara sosial lainnya yang merupakan bagian dari tradisi keagamaan dapat bermanfaat karena dukungan sosial itu sendiri bermanfaat bagi kesehatan mental kita. Semakin banyak orang yang kita miliki dalam jaringan pendukung gerak sosial kita. Semakin baik kita dalam mengatasi berbagai tekanan hidup, termasuk problem pekerjaan, hubungan, ataupun kesehatan fisik. |
Perempuan pemercaya Katolik melakukan doa pada Devosi di katedral (ilustrasi dari CNN Inodnesia).
|
Sebagian besar agama juga mengajarkan ke pemercayanya menghindari banyak perilaku-perilaku sangat berisiko yang dapat sangat merusak kesehatan dan kesejahteraan mental. Contoh, sebagian besar religion mengajarkan penganut untuk menghindari alkohol dan zat-zat adiktif, untuk tidak menjadi pribadi terlalu pemilih-milih, dan mendorong untuk mengembangkan sikap dan perilaku welas asih (simpati dan empati) dan untuk gemar berderma kepada sesama. Dengan mengikuti ajaran-ajaran ini, orang secara alami akan terhindar dari masalah kesehatan mental seperti penyalahgunaan zat dan secara spirit, atau dalam dirinya itu, cenderung lebih mampu mengembangkan optimisme dan secara relatif tidak begitu tertekan.
Walau begitu, ketika menjalankan hal-hal tadi tidak ada kaitannya tingkat kereligiusan atau tingkat menjalankan ritual-ritual yang dibebankan oleh perintah agama masing-masing orang itu. Dan, bila seseorang itu memilih menindakkan atau tidaknya perbuatan-perbuatan tadi karena cenderung berkaitan kemampuan mengembangkan sifat-sifat dalam diri, berangkat dari mempertimbangkan adanya dorongan dari nasihat agama-agamanya itu.
 |
Ilustrasi. Pemercaya Hindu di Banyumas di Jawa Tengah Berdoa dalam perayaan Galungan |
Cara kerja tidak langsung lainnya yang menarik terkait dengan agama berkaitan dengan diet dan nutrisi. Diet dan nutrisi sering diabaikan dalam hal untuk adanya kesehatan mental yang baik, meski penelitian semakin menunjukkan bahwa relgiusitas maupun spiritualitas sangat penting. Banyak tradisi meminta—dan ada yang mewajibkan—individu penganut untuk mengikuti pedoman dietary tertentu. Misal, penganut Hinduisme cenderung mempraktikkan diet vegetarian, dan sebagian besar penelitian hingga saat ini menunjukkan bahwa mengonsumsi lebih banyak makanan jenis nabati yang rendah inflamasi itu baik bukan saja untuk tubuh tetapi juga untuk otak kita.
Cara Kerja Langsung
Cara kerja langsungnya berkaitan praktik spiritual tertentu dan bahkan perasaan spiritualitas pribadi seseorang itu sendiri. Sebagian besar penelitian yang penulis buku lakukan di selama 30 tahunnya adalah mempelajari bagaimana kerja otak orang-orang yang terlibat dalam berbagai praktik keagamaan atau laku spiritual, seperti meditasi atau merapalkan kata-kata doa. Sebutnya, teramati adanya perubahan otal manakala menjalankan praktik spiritual yang unik seperti berbicara dalam bahasa roh atau keadaan trance (hilangnya sebagian kesadaran merespon hal-hal di liuar diri, mirip efek sakau). Efek otak yang terkait dengan praktik ini cukup luar biasa dan beragam. Tentu saja tidak mengejutkan, praktik-praktik ini memengaruhi sikap dan perilaku orang di berbagai tingkatan, seperti pola pikirnya, cara merasa, dan bersinggungan dengan dunia di sekitar mereka. Jadi, penulis merasa perlunya mengamati perbedaan fisiologis di bagian-bagian otak orang-orang yang terlibat dengan praktik tersebut.
 |
Ilustrasi. Westearn Buddhist bermeditasi (Sumber foto dari halaman facebook The Land of Buddha).
|
Contoh, meditasi dan merapal kata-kata doa mengaktifkan bagian lobus frontal otak serta area otak yang memungkinkan kita mampu berbahasa sebagaimana kita ucapkan. Penelitian menunjukkan bahwa hal itu terjadi tidak hanya saat aktivitas ritualistik keagamaan atau laku spiritual dilakukan, tetapi juga terjadi dalam jangka lama. Studi tentang meditasi Kirtan Kriya menunjukkan adanya peningkatan sekitar 10 hingga 15 persen dalam kognisi serta reduksi stres, kecemasan, dan depresi. Ini karena terjadinya perubahan mendasar pada fungsi lobus frontal otak. Bagian ini yang mengatur proses kognitif dan modulasi respons emosional.Penelitian terbaru melakukan eksplorasi efek dari praktik ini pada jaringan otak yang lebih besar, dan yang lebih penting, sistem neurotransmitter secara spesifik. Sebut penulis sebagaimana hasil penelitiannya, program retret menunjukkan perubahan signifikan pada area otak yang bertugas melepaskan hormon dopamin dan serotonin. Ini adalah area yang diketahui terlibat dalam kognisi dan kesehatan emosional. Semakin banyak studi klinis yang telah mendokumentasikan nilai kemanfaatan dari berbagai praktik spiritual atau terapi didasarkan keagamaan dalam membantu orang mengelola berbagai kondisi kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan, dan ADHD (Attention-deficit hyperactivity disorder/Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiper-aktivitas) serta kondisi neurologis seperti alzheimer, dan gangguan tremor.
Pada akhirnya, perasaan spiritualitas personal subjektif dapat melindungi diri seseorang itu. Ketika orang merasa terhubung dengan seluruh umat manusia, terhubung pada kekuatan yang dipercayai lebih tinggi, atau melebur dengan seluruh alam semesta. Pengalaman-pengalaman ini secara perasaan memberi makna dan tujuan dalam hidup dan perspektif optimis akan ketidakpastian masa depan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa memiliki keyakinan semacam itu bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental seseorang.
Meningkatkan Kesehatan Otak dengan Neuroteologi Terapan
Neuroteologi terapan bisa memberi tahu kita ada nilai kemanfaatan ketika mengeksplorasi sisi religiusitas dan spiritualitas, sebagai cara untuk meningkatkan individu merawat dan menjaga kesehatan dan kesejahteraan mental kita. Bahkan bagi mereka yang irreligius sekalipun, melakukan praktik seperti meditasi dan doa, sekalipun sebagai agnostik dan ateis, dapat memberi manfaat dalam mengurangi stres dan kecemasan. Terhubung dengan dunia yang lebih luas—misalnya dengan berjalan-jalan di alam, bersosialisasi dengan teman dan keluarga, atau mencoba membuat lingkunganmu menjadi tempat yang lebih baik dengan membantu orang lain—mengarahkan pada pengembangan sifat welas asih yang lebih besar, emosi positif yang akan membuat otak kita lebih sehat.