Langsung ke konten utama

Asal-usul Yoruba & Agama Tradisionalnya

Yoruba adalah kelompok etnolinguistik terbesar di benua Afrika dan mayoritas di Nigeria, juga paling populer. Populasinya diperkirakan 25 hingga 40 juta. Mereka utamanya dapat ditemui di wilayah Nigeria barat daya. Mereka menyebut tanah yang didiaminya sebagai Ile Yooba. Berbatasan dan berbagi gagasan kebudayaan dengan kelompok etnis di Nigeria lainnya. Misalnya Nupe, Ibariba, Igbirra, dan Igala, yang mendiami sebelah timurnya. Di sebelah utaranya bertetangga dengan etnis Itsekiri, Esan, dan Edo yang mana ketiganya bermukim di sekitar Delta Niger. Di sebelah barat lautnya, Yoruba bertetangga dengan Egun, Fon, Mahi (masuk wilayah Benin), dan Ewe, serta orang-orang berbahasa Gbe lainnya di Togo dan Benin, dan Ga di Ghana.

Sebelum datangnya bangsa kolonial Eropa, Yoruba berkonflik dengan etnis Fulani. Mereka merangsek ke wilayah Yoruba dan semakin mendesaknya ke selatan. Pada akhir 1800-an, Yoruba membuat perjanjian damai dengan Fulani. Karena permusuhan mereka dengan etnis Fulani yang merupakan pemercaya dan penyebar Islam, insting permusuhan itu membuat orang Yoruba memilih mempertahankan agama leluhurnya. Hingga kemudian datang Inggris p
ada 1901 yang, selain menjajah, secara bertahap mengonversi mereka menjadi Kristen. Terkait diaspora, di beberapa wilayah di Karibia dan Amerika Selatan, terjadi sinkretisme antara agama tradisional Yoruba dengan Katolik.

Etnis Yoruba di Nigeria mementaskan musik tradisional.
Komunitas diaspora Yoruba dibanding komunitas diaspora Afrika lainnya adalah terbesar. Secara umum, munculmya diaspora karena praktik perdagangan budak oleh bangsa Eropa di masa lalu. Kebanyakan budak yang dibawa paksa ke Eropa dan benua Amerika mayoritas diambil dari pantai barat Afrika dan kebanyakannya adalah etnis Yoruba. 

Ada laporan mencatat bahwa diperkirakan lebih dari 50% orang Afrika yang diperdagangkan berasal dari barat daya Nigeria. Ini merujuk pada tanah yang didiami orang Yoruba. Awal abad ke-16 hingga abad ke-19, daerah tersebut dikenal dengan sebutan "pantai budak" dan dahulu adalah wilayah dengan populasi terpadat di benua Afrika. 

Saat ini  jumlah terbesar keturunan Yoruba terdapat di negara Brasil, estimasinya sekitar 5 juta. Di tanah Kuba terdapat sekitar 1 juta, sepertiga pekerja di Kuba yang saat itu jajahan Spanyol adalah orang Afrika yang diperbudak dan mayoritasnya adalah Yoruba. Di Puerto Riko, Trinidad, dan Karibia terdapat populasi Yoruba sekitar setengah juta. Di Amerika Serikat dan Kanada diperkirakan ada 3 juta. Jumlah yang sama terdapat di Inggris dan seluruh Eropa. Diperkirakan ada beberapa ratus ribu diaspora Yoruba yang tinggal di berbagai bagian wilayah di Asia. Yoruba adalah diaspora yang hampir ada di seluruh muka bumi.


Asal-Usul

Tidak diketahui secara jelas asal-usul orang Yoruba. Ada tiga narasi yang jelas-jelas bertentangan satu sama lain. Pertama, asal-usulnya dilandaskan pada narasi mitologis awal penciptaan bumi atau semesta, cara pandang akan diri dan kosmos, yang polanya ada di setiap kelompok kebudayaan yang dari rahimnya itu lahir apa yang disebut agama.

Seperti umumnya agama di dunia, narasi penciptaan dalam agama tradisional Yoruba tidak bisa dilepaskan dari narasi awal penciptaan. Olorun, atau Tuhan Langit atau Tuhan Yang Maha Esa atau Tuhan Tertinggi, menurunkan rantai di Ilé Ifè. Oduduwa menuruni rantai itu. Ia adalah leluhur orang Yoruba dan tentu saja leluhur semua manusia. Ia membawa ayam jago, sebagian tanah, dan biji palem. Oduduwa melemparkan Bumi ke dalam air dan ayam jago mencakarnya, jadilah tanah. Darinya, tumbuh pohon palem dengan 16 pelepah, representasi 16 kerajaan asal orang Yoruba. Ada versi mitologi lainnya sebagaimana dalam "Narasi Penciptaan" di bawah. Demikian juga dengan setiap kota, garis keturunan, serta sebutan dan silsilah tuhan-tuhan orang Yoruba berbeda-beda. Namun dari berbagai ragam mitos yang menjadi bagian tradisi oral itu, Ilé-Ife secara spiritual dianggap puncak dari lahirnya leluhur semua orang Yoruba.

Kedua, dituturkan bahwa orang Yoruba adalah keturunan dari Lamurudu, atau Namrud/Nimrod dari legenda Alkitab dan berasal Timur Dekat, yang telah dibuang dan diasingkan. Akhirnya menetap di tanah Yoruba sebagaimana saat ini. Karenanya, beberapa pihak melacak kebenaran hipotesis asal-usul Yoruba ini sampai ke Uruk atau Babilonia, Mesopotamia kuno (Iraq modern).

Ketiga, narasi berdasar temuan arkeologis. Berdasar temuan, orang Yoruba mendiami wilayah tersebut sejak awal 10.000 SM. Menurut Robert S. Smith dalam bukunya Kingdoms of the Yoruba, penggalian arkeologis telah mengkonfirmasi keberadaan populasi manusia di daerah Idanre sejak zaman prasejarah, wilayah yang didiami orang Yoruba saat ini.


Narasi Penciptaan

Ada banyak dewa atau tuhan lebih rendah di sekitar Olorun dan siap membantu apapun dititahkan—mirip konsep malaikat yang jumlahnya dikatakan ribuan untuk membantu pekerjaan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam konsep teologi monoteisme Semitik. Namun begitu, Olorun memilih Orisha Nla untuk menciptakan Bumi, menurut kepercayaan agama Yoruba. Dituturkan bahwa pada awalnya tidak ada apa-apa, cuma ada gurun berawa tanpa ada bumi atau air. Olorun memberi Orisha Nla beberapa hadiah untuk melaksanakan titah Tuhan Tertinggi itu, termasuk semacam cangkang yang diisi dengan Bumi yang telah dicampuri dengan semacam energi khusus, seekor ayam berjari lima, dan seekor merpati. Pemberian hadiah ini dimaksudkan untuk menemani Orisha Nla dalam tugas yang sulit, yaitu menertibkan kekacauan bukanlah hal mudah.

Figur arca Orisha Eshu yang biasa menghiasi tempat ibadat,
diyakini sebagai penghantar pesan dan persembahan
dari manusia ke langit vice versa (Art Resources).

Orisha Nla melemparkan bumi ke tanah berawa, juga ayam dan merpati yang mulai menyeker-nyekernya berulang kali hingga laut dan daratan terpisah. Tentu saja, tempat pertama yang dibuat adalah Ilé-Ifè, rumah-Surga, kota paling suci bagi Yoruba. Orisha Nla bekerja lembur siang-malam tanpa henti selama 4 hari untuk menciptakan bumi dan kemudian pada hari kelima ia beristirahat. Begitu Orisha Nla menyelesaikan tugas menertibkan kekacauan dan untuk menciptakan tanah, ia diperintahkan oleh Tuhan Tertinggi untuk menanam pohon di bumi. Segera Orisha Nla menanam benih yang tumbuh menjadi pohon dan membuat hutan besar. Dia mengirim hujan agar hutan menjadi lestari. Pada akhirnya, manusia harus dibuat dan Olorun menciptakan orang pertama di rumah-Surga. Orisha Nla mengikuti model Olorun dan menciptakan manusia di bumi sesuai dengan pola yang ditunjukkan oleh Olorun. Begitu manusia telah diciptakan di bumi, Olorun memberi mereka nafas kehidupan dan takdir. 


Ritual Keagamaan dan Kitab Suci

Seperti orang Afrika lainnya, orang Yoruba sangat religius. Bagi mereka, segala sesuatu adalah sakral dan suci. Entitas-entitas keilahian mereka tidak kalah kompleksitasnya jika disandingkan dengan agama yang dari rahim kebudayaan dan peradaban besar manapun dalam sejarah umat manusia.

Spiritualitas orang Yoruba juga dipandu oleh kidung puitis suci Ifa, berisi arahan dalam bertindak dan berperilaku etis dalam setiap hal tertentu. Misalnya, Bab 219 dari korpus Ifa menekankan kekuatan akan kebenaran. Odu ini menasihati perlunya hidup jujur ​​dan berbuat adil sebagai satu-satunya cara menjalani hidup dengan baik di antara orang-orang Yoruba.

Orang Yoruba akan meminta petunjuk Ifa sebelum melakukan hal-hal besar dalam hidup. Dengan melakukan ritual khusus dan pengorbanan yang sesuai kepada entitas ilahiah mana yang dimaksud demi hasil yang sesuai dan berkah, melalui babalawo, yaitu tokoh ritual agama tradisional Yoruba atau semacam pendeta atau kyai. Untuk menjadi babalawo sendiri agar memiliki otoritas berkomunikasi dengan Ifa, seseorang harus menjalani pelatihan dan proses inisiasi yang ketat yang dipandu oleh seorang ahli Ifa yang dikenal sebagai oluwo (penguasa pengetahuan esoteris). Pembelajaran ini dapat berlangsung dari 8 hingga 15 tahun. 

Victor Omolofaoro Betancourt, bobolowo Santeria,
berpose di depan pintu altar di kediamannya di Havana, Kuba
pada 19 January 2002 (Getty Image).
Istilah Ifa sendiri sering pula dipertukarkan konsepnya dengan Orunmila, Dewa Kebijaksanaan yang menurut mitologi Yoruba sebagai satu-satunya yang hadir menyaksikan dimulainya penciptaan oleh Olorun. Orunmila, yang secara harfiah berarti “hanya tuhan yang tahu di mana garis takdir dititahkan,” adalah penjaga rahasia Tuhan. Dalam silsilah konsep deitisme Yoruba, Ifa sendiri adalah putra Orunmila, ini dapat dimemgerti jika ia juga akan mengetahui rahasia-Nya. Ifa adalah landasan utama keagamaan Yoruba  bangunan konsep metafisika, dan spiritual. Ifa kadang dipahami sebagai kalam-kalam Olorun, Tuhan Maha Kuasa atau Tuhan Langit atau Tuhan Tertinggi. Merujuk pada apa yang tersirat dalam teks Odus Ifa, kitab suci agama tradisional Yoruba.

Meskipun orang Yoruba seperti kebanyakan orang Afrika lainnya, berada di bawah tekanan dan pengaruh agama yang menjadi bagian kekuatan ekspansionis lainnya di abad-abad itu, yang sebagian besar dilatarbelakangi perbudakan dan penjajahan, mereka telah mulai mengadopsi teologi berbasis kanon. Odus Ifa, sebagai teks suci, layaknya skrip suci keagamaan lain, menjadi objek interpretasi dan wacana eksegetis akan dunia dan realitas tertinggi. Ifa, seperti dalam semua agama, eskatologis, apokaliptik, dan kosmologis. Walau begitu orang Yoruba tidak meninggalkan sistem kepercayaan agama leluhurnya, yang merupakan percampuran antara identitas budaya dan etos-etos. 

Bagi orang Yoruba, Ifa adalah kompas moral dan memberi arah tujuan untuk hidup melalui penginterpretasian odus (atau bab esoteris, mirip surah dalam skriptur suci Islam) secara berkesonambungan. Secara sosial, Ifa memberi kepada orang-orang Yoruba fondasi budaya dan etika yang penting dalam identitas mereka seperti yang diungkapkan melalui kumpulan mitos, legenda, dan kisah-kisah moralitas melalui sastra.


Diaspora dan Perkembangan Agama

Ilustrasi. Pemercaya Candomblé Brasil melakukan ibadat
pemujaan Orisha di pada Januari 2022 (pulse.ng).
Diaspora Yoruba tampaknya masih memelihara akar tradisinya dibanding diaspora dari Afrika lainnya. Hampir semua agama Afrika-Karibia dan agama yang dipraktikkan warga Afrika-Brasil memiliki ciri-ciri, jejak, dan praktik ritual berakar pada tradisi keagamaan Yoruba, yang berpusat pada idolasi Orisha dan penghormatan leluhur. 
Dalam komunitas diaspora Yoruba, agama dan praktik ritualnya tampaknya juga terpelihara dibanding komunitas diaspora keturunan Afrika lainnya.

Hampir semua agama Afrika-Karibia dan Afrika-Brasil dicirikan ritual dan praktik dari tradisi keagamaan Yoruba, yang berinti pada pemujaan orisha dan pemujaan dan persembahan kepada para leluhur. Misalnya, agama Candomblé yang merupakan diderivasi dan sinkretisasi dari beberapa agama tradisional Afrika: orang Yoruba, Fon, dan Buntu. dapat ditemui di negara-negara Amerika Latin lain, seperti ArgentinaUruguayParaguay, dan Venezuela. Setidaknya ada dua juta penganut. Ada pula Santeria yang merupakan sinkretisasi antara agama, budaya, dan praktik ritual agama tradisional Yoruba dengan Katolik Roma. Agama turunan atau derivasi dari agama ytadisional Yoruba dan telah mengalami perkembangan dan sinkretisasi adalah Voodoo (Vadau/Vadun) yang banyak dipraktikkan di Haiti, yang acap kali sering disalahpahami umum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...