Kemarahan atau rasa marah, rasa jengkel, naik pitam, dilanda emosi, atau apapun sebutannya, kita semua pernah mengalami, termasuk para pempraktik laku ajaran Buddhisme sekalipun. Walaupun Buddhisme sebenarnya begitu menghargai dan menempatkan rasa welas asih baik ke diri dan ke semua sebagai mulia, para Buddhis tetaplah manusia, yang tak luput dari rasa marah dalam diri.
Selain kemarahan yang meliputi semua bentuk rasa benci dan varian sebutannya, hal lain yang merusak kualitas alamiah atau kesejatian pikiran—atau kadang disebut batin—di dalam ajaran Guru Gautama adalah loba dan kebodohan-diri. Semuanya itu merupakan penyebab utama dari samsara.
Lantas, apa sih yang Buddhisme ajarkan dan bisa kita semua praktikkan untuk mengelola amarah dan menetralisirnya?
Akui Kamu sedang Marah dan Kenali Sumbernya
Siapa di antara kita yang tidak pernah marah? Sering kali kita menjumpai orang-orang yang jelas-jelas sedang diselimuti rasa marah, atau amarah. Bahkan kita pun pernah marah, dari yang agak terkontrol hingga meledak-ledak. Marah, gampangnya, adalah fenomena manusia. Mungkin terbersit apalah gunanya pertanyaan dan pengakuan hal begini. Rasa marah dan sejenis itu adalah kerja impuls-impuls otak kita.
Dalam banyak kasus, kita menyangkal ke diri kita sendiri bahwa kita sedang marah, dengan menghimpun banyak dalih. Penyangkalan terjadi ketika kita belum terlatih mengelola gerak ayun pikiran kita, bergeser dari kondisi sejatinya. Kita tidak akan bisa menangani sesuatu yang tidak kita akui terlebih dulu, bahwa "Ya, pikiranku sedang mengalami hal ini", marah. Akui saja dulu.
Buddhisme mengajarkan ke kita untuk melatih vipassana atau, sebut saja, pikiran hadir ke apa-apa di saat-kini, termasuk pada yang saat kini kita rasakan. Ketika emosi atau pikiran yang tidak menyenangkan muncul, tidak perlu menyangkal, menolaknya, atau mengusir dan lari darinya. Sebaliknya, akui sepenuhnya dan mulai belajar mengamatinya. Butuh keberanian dan kejujuran kepada diri sendiri dalam mengamati diri kita sendiri, itu merupakan hal penting dalam Buddhisme.
Penting pula dipahami, kemarahan sering dan selalu diciptakan justru dan sepenuhnya oleh diri kita sendiri, pikiran kita sendiri. Munculnya respon auto karena belum mengenali diri kita sepenuhnya dan terampil mengelola setiap pikiran yang mengayun. Munculnya rasa marah bukan ibarat racun yang kita tenggak ataupun zat-zat dari luar yang disuntikkan ke diri kita. Kita selama ini meyakini jika munculnya kemarahan disebabkan oleh sesuatu dari luar diri, semisal sikap atau perilaku orang lain atau peristiwa-peristiwa luaran-lah sebagai penyebab frustasi dan rasa marah. Kemarahan adalah kerja impuls-impuls otak, yang karena otak kita tidak terlatih memilih respon atas apa-apa yang silih berganti datang dari luar diri dalam keseharian kita.
Buddhisme memberi tahu kita bahwa rasa marah—layaknya semua kondisi pikiran atau mental lainnya yang pernah kita alami, seperti sedih, senang, perasaan kosong, kesepian, putus asa, dendam, dll.—bersumber di pikiran dan diciptakan oleh pikiran, atau otak kita sendiri.
Ketika kita sudah bisa menemukan dari mana sumber kemarahan itu. Kemudian kita harus mengamatinya lebih mendalam dan lebih dekat. Kemarahan menantang kita untuk memeriksa lebih jauh ke dalam diri. Dalam banyak momen, kemarahan adalah upaya memuaskan "batin berlubang" karena yang di luar diri berjalan tidak sesuai harapan atau keinginan/hasrat kita. Ini ternasuk dukkha. Munculnya kondisi pikiran bergejolak ini disebabkan ada yang belum selesai dalam mengenali diri kita sendiri atau kebodohan-diri (avijja), atau ketika tombol ego ditekan. Kemarahan hampir selalu bertalian dengan upaya peneguhan atau penegasan diri yang sedari mula sejatinya tidak "nyata" apa adanya.
Murid-murid Guru Gautama digugah untuk menyadari bahwa ego, rasa cemas, dan rasa marah tidak ada manfaatnya dan temporer dari pikiran yang berayun dari kondisi sejati atau alamiahnya. Temporer dalam arti sekedar satu kondisi mental tertentu yang juga akan berlalu dan berayun ke kondisi lainnya. Dalam ungkapan metaforis, kemarahan layaknya hantu. Membiarkan kemarahan mengendalikan interior pikiran dan tindakan kita sama halnya diperintah oleh hantu.
Kemarahan Bermula dari Kebodohan-Diri
Melampiaskan kemarahan untuk sementara waktu menghadirkan kepuasan, untuk beberapa saat memberi rasa senang, dan selalu menggoda untuk diikuti. Dan, banyak hal tidak menyenangkan segera mengikuti dari pelampiasan irrasional itu setelahnya. Pelampiasan sama saja memberi nutrisi pada kemarahan dalam diri kita dan menjadikannya tumbuh kuat. Ajaran Sang Buddha mengajarkan ke kita bahwa kemarahan tidaklah dapat dibenarkan. Bukan termasuk Jalan Tengah.
Dalam Buddhisme, kita dilatih untuk mengembangkan Metta, kualitas pikiran atau mental atau batin yang welas asih terhadap apa saja dan terbebas dari kungkungan ego, yaitu cara pandang diri yang sempit, "tubuhku, ini aku", untuk melampauinya. Termasuk "apa saja" adalah orang yang baru saja memalak anda di jalan, rekan kerja yang mengapresiasi kinerja anda, hewan yang terkapar sengsara di aspal, memberi hunian kucing dan anjing agar merasakan aman dan tidak terancam, dan bahkan ke sahabat dekat yang berkhianat.
Untuk alasan itu, ketika muncul rasa marah, kita harus berhati-hati agar tidak bertindak menyakiti orang lain—dan apa pun yang dalam susunannya itu muncul rasa terancam, tertindas, dan takut. Kita juga harus berhati-hati untuk tidak mememlihara kemarahan kita dan memberinya kandang untuk hidup dan tumbuh membesar dalam interior pikiran kita. Kemarahan tidak memberi kita ketenangan bagi diri kita sendiri. Solusi terbaik adalah melepasnya.
Menjadi Tuan atas Semua Suasana Pikiran Kita
Kita telah mengakui kemarahan dalam diri kita, dan kita telah menelisik ke dalam diri sendiri untuk memahami apa yang penyebab kemarahan bisa muncul. Padahal kamu masih marah. Apa selanjutnya?
Mungkin kita telah membaca beberapa artikel dan buku-buku nasihat Buddhisme dalam mengelola emosi, terlebih telah atau sedang mengikuti kelas meditasi. Sudah saatnya ketika rasa marah muncul untuk mempraktikkannya. Duduklah sejenak dan serileks mungkin, meski diri dipenuhi ketegangan dan gelombang kemarahan. Mengajak ngobrol ke pikiran kita sendiri. Tiada perlu disangkal kemarahan dalam diri itu, akui saja kita sedang marah. Masuk dan tengok ke dalam diri kita sepenuhnya. Dekati dan rangkul semua amarah dalam diri yang berkecamuk—bukan mengusirnya—dengan sabar dan mengembangkan rasa welas ke diri kita dan sendiri, yang jika "dian" berpijar semakin terang dan terang, pada akhirnya menjadi terangnya dian welas asih ke semua.
Layaknya semua suasana pikiran yang berayun, kemarahan bersifat temporer dan juga akan hilang dan berganti suasana lain dengan sendirinya. Penyangkalan terhadap kemarahan yang sedang terjadi dalam diri sering-seringnya menjadi pemicu rentetan gejolak lainnya yang menderitakan pikiran kita sendiri.
Sulit memang untuk tidak melampiaskan, untuk tetap memilih tenang, tetap tenang, dan memerhatikan kemarahan kita itu selayaknya welas asih seorang ayah yang bijak merangkul untuk menenangkan amarah anaknya. Sulit memang rasanya ketika suasana pikiran kita sedang berayun ke suasana pikiran yang sedang diliputi gejolak emosional dan berteriak ke kita untuk melakukan sesuatu dan melampiaskannya. Kemarahan memenuhi diri kita dengan ketegangan, nafas rapat tersengal tak beraturan, dan membuat kita ingin melakukan sesuatu.
Psikologi populer memberitahu kita untuk mengepalkan tangan dan meninju-ninju ke bantal atau berteriak keras ke dinding untuk "melepaskan" energi kemarahan kita. Master Zen Thich Nhat Hanh tidak setuju:
Ketika anda mengekspresikan kemarahan anda, anda berpikir bahwa anda mengeluarkan kemarahan dari sistem anda, tapi itu tidak benar.
Lanjutnya, ketika kita melampiaskan kemarahan itu, baik secara verbal atau dengan melakukan kekerasan fisik, kita menyirami benih kemarahan dan hal itu menjadikan semakin tumbuh besar dan kuat dalam diri. Hanya pengertian dan rasa welas asih ke diri kita yang dapat meredam dan menatralisir kemarahan: Munculnya rasa marah paling awal dibuatnya menderita paling pertama adalah diri sendiri.
Welas Asih, Mulailah ke Diri Kita
Kebanyakan kita bingung membedakan antara apa itu kekuatan dengan kuasa bertindak, dan antara bersikap tetap tenang (pasif) dengan ketakberdayaan. Ajaran Guru Gautama memberi tahu kita bahwa justru sebaliknyalah yang benar.
Dikendalikan oleh kerja impuls-impuls otak, kita bereaksi marah, membiarkan kemarahan menyeret kita dan membuat diri kita terbenam ke dalamnya adalah kelemahan. Di sisi lain, butuh kekuatan untuk mengakui munculnya kecemasan, kebencian, kemarahan, dan dimana semua itu di pikran kita-lah berjangkar. Juga, perlu latihan meditasi dan hidup meditatif yang istikamah untuk memadamkannya. Dhammapada (Koddha Vagga: 223) berbunyi:
Kalahkan kemarahan dengan welas asih. Kalahkan kejahatan dengan kebaikan. Kalahkan kekikiran dengan kedermawanan. Kalahkan kebohongan dengan kejujuran.
Welas asih ke diri kita sendiri adalah bersikap dan bertindak kooperatif dengan semua yang pikiran kita rasakan. Menerapkan dan mempraktikkannya dalam hidup kita adalah apa yang Sang Buddha tunjukkan berkenaan Jalan Laku, untuk kita lalui sendiri. Sebab, ajaran Buddha bukanlah sistem dogma atau ajaran yang berkutat pada pelaksanaan ritual-ritual yang telah dibebankan, meski juga tidak menolak tradisi yang mengitarinya. Ajaran Sang Buddha adalah mengajak para murid untuk menolong dirinya sendiri, tiada lain penolong. Atta hi attano natho.




Komentar
Posting Komentar